Sebuah Rindu Berwujud Liana Enre

1020 Words
Awan mengirimkan pesan pada Liana, menanyakan apakah dia masih bangun. Dalam semenit jawaban sudah masuk ke aplikasi percakapan. Mendapati sang istri masih merespons, Awan langsung melakukan panggilan video. “Kenapa belum tidur?” tanya Awan pada Liana. “Baru selesai ngecek desain. Ini mau tidur, kok.” Hening menggantung. Liana menunggu suaminya berbicara lebih lanjut sementara Awan masih diam. “Kenapa, Kak?” tanya Liana akhirnya. “Kangen aja, kok.” Dari senyum suaminya, Liana melihat kegalauan. Dia tersenyum lembut pada Awan. “Aku masih belum ngantuk. Kakak mau cerita apa?” ucapnya penuh pengertian. Awan tersenyum getir. “Seandainya bisa menembus layar … Aku pengin masuk hp biar bisa peluk kamu.” Liana tertawa renyah, membuat keinginan untuk merengkuh sang istri semakin kuat. “Jangan menggodaku.” Liana kembali tertawa. Awan berkelakar, berkata akan mengambil pesawat tercepat jika dia terus tertawa dan membuatnya semakin rindu. Liana berusaha menahan tawa meski akhirnya gagal. “Sudahlah. Bagaimanapun, aku pasti rindu,” ujar Awan akhirnya. “Kakak sedang kesulitan ya?” Awan menyugar rambut. “Rambut agak pendek, nggak seru ya, nyisirnya.” Mereka tertawa bersama. Liana membiarkan Awan bicara berputar-putar, mengisahkan hal-hal yang memancing tawa. Dia tahu, jika sudah begitu, suaminya sedang kesulitan. Perempuan itu tidak mau memaksa. Saat merasa lelah atau perlu berbagi, Awan pasti akan menceritakannya. “Toko sama kantor gimana? Nggak masalah? Kamu nggak kecapekan kan?” “Udah dari tadi ngomong ini itu, baru tanya sekarang.” Respons Liana sama sekali tidak memberikan jawaban yang Awan mau. Awan meminta maaf, disambut cengiran Liana yang menjelaskan bahwa dia hanya bergurau. “Onel makin bagus kerjanya. Kayaknya, nggak ada Kakak, dia jadi memaksa dirinya berkembang. Ada bagusnya juga.” “Ini maksudnya bagus aku nggak pulang?” Awan pura-pura merajuk. Wajah merajuk sang suami malah membuat gelak tawa Liana semakin nyaring. “Bagus buat Onel, Kak. Gitu aja ngambek.” Awan memicingkan mata, menatap wajah istrinya di layar kotak yang sedang tersenyum geli. Dia kemudian semringah ketika Liana menghibur dan mengumbar kata rindu yang jarang diucapkan. Menurut Awan, istrinya itu unik. Kebanyakan perempuan yang dia temui merupakan perempuan bersikap manis yang senang bicara dan penuh keyakinan akan diri sendiri, seperti Keina dan Dita. Atau jika tidak, dia akan menemukan perempuan yang pendiam dan jarang bicara. Namun Liana, berada di antaranya. Dia bukan tipe blak-blakan, tetapi akan jujur dan terbuka jika diperlukan. Dia tidak selalu percaya diri, tetapi memiliki kekuatan untuk bertahan dalam segala situasi. Bahkan saat khawatir, dia tidak akan secerewet Dita. Namun, kata-katanya yang lembut dan terbilang irit untuk ukuran perempuan membuat Awan merasa spesial dan benar-benar diperhatikan. Yang paling membuatnya salut, Liana selalu bisa tahu apa yang ada dalam benaknya walaupun dia tidak bicara. Dalam sekali tatap, istrinya akan menyadari apa yang Awan rasakan. Sungguh demikian, perempuan itu tidak pernah memaksa Awan untuk bercerita, yang akhirnya malah membuatnya ingin bicara banyak. “Tadi aku makan malam sama Mama dan Dita, juga suaminya,” ungkap Awan. “Gara-gara Mama bilang kangen, eh, Dita jadi mau nelepon kita.” Awan menjelaskan kronologis kejadian kala makan yang membuat Dita kepikiran untuk menelepon. “Syukurnya, masih bisa dibujuk. Nolan ikut bujukin supaya dia nggak nelepon.” Liana menanggapi dengan seulas senyum. Dalam hati, dia sebenarnya merasa was-was juga jika itu terjadi. Kecerewetan adik iparnya itu terkadang berbahaya, membuat orang merasa terintimidasi hingga akhirnya jujur menceritakan apa yang ingin dia ketahui. “Kalau sewaktu-waktu Dita nelepon, angkat aja nggak apa-apa. Yang penting, jangan sampai dia tahu aku di sini.” “Iya, Kak.” “Kalau kapan-kapan ada yang cari aku juga ya, kasi info apa aja selain aku di sini. Memang rasanya nggak mungkin kalau sampai ada yang ke sana, tapi siapa tahu,” tambah Awan. Liana mengangguk. “Onel sempat nanyain kemarin. Kubilang aja Kakak lagi ke tempat teman kuliah Kakak dulu, Emilio.” Benar juga, pikir Awan. Dia malah sama sekali tidak ingat dengan hal itu karena sudah bertahun-tahun tidak ke sana. Emilio Fernandez adalah sahabatnya ketika kuliah. Temannya itu merupakan keturunan keluarga pengrajin kayu, jadi mereka punya bengkel sendiri. Di saat mereka tidak mengejakan tugas di studio kampus, Emilio akan mengajaknya ke sana untuk menyelesaikan tugas. “Bisa-bisanya kamu ingat Emil. Aku malah nggak kepikiran ke sana.” “Beberapa hari lalu aku buka album foto kita. Ada foto kamu sama Emil di sana.” Liana menceritakan bahawa sehari setelah dia membuka album foto, Onel bertanya tentang keberadaan Awan. Dia heran karena kakak iparnya belum pulang-pulang. Karena teringat foto tersebut, Liana jadikan alasan kepergian suaminya. “Aku gurauin aja, bilang kamu lagi studi banding.” Awan tergelak. “Gaya juga aku, pakai studi banding segala. Tapi makasih, ya. kamu kepikiran aja,” pujinya pada sang istri. “Onel kangen sama aku apa gimana?” tanya Awan kemudian. “Dia aneh aja Kakak pergi lama.” Aneh memang. Onel mengenalnya sebagai pria yang tidak bisa jauh dari istri. Sehari saja sibuk di bengkel, Awan akan berusaha mencari keberadaan sang istri begitu selesai dari bengkel. Itu jugalah yang menjadi alasannya membangun studio di kantor, agar lebih ringkas. Dia bisa langsung mandi dan berganti pakaian lalau mencari Liana yang keseringan akan berada di kantor pada jam kerja. Apabila tidak terlalu sibuk. Liana sesekali turun menunggui toko, membantu pelanggan yang kebingungan memiih perabot. “Kerasa banget ya aku nggak di sana?” ucapnya kemudian. “Sayangnya, kerasanya bukan karena aku unsur penting di toko atau bengkel, tapi karena tahan sudah berhari-hari jauh dari Kakaknya. Udah hampir seminggu kayaknya aku di sini ya?” Liana kembali mengangguk. “Maaf ya, kalau aku harus lebih lama dari yang direncanakan. Begitu urusan beres, aku pasti pulang.” “Nggak apa-apa, Kak. Aku sama sekali nggak keberatan, Kok” “Aku yang keberatan. Keberatan menahan rindu ketemu kamu.” Awan bahagia melihat semu merah di wajah Liana. Meskipun tidak mengucapkannya, dia tahu dia pun sedang dirindukan oleh makhluk cantik yang membuatnya tidak sabar ingin pulang. “Li,” panggilnya kemudian. “I miss you much.” Sekali lagi semu merah menghiasi wajah Liana kala dia tersenyum menanggapi kalimat Awan. “Doakan masalah ini bisa segera selesai.” Dan Awan bersungguh-sungguh ketika berharap masalah Elang segera selesai.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD