Alyssa Anindita Pradana

1031 Words
Awan masih menatap langit kamar. Pikirannya melayang pada Dita yang berkali-kali menanyakan kabarnya. Adik kecilnya yang ketika gadis selalu cerewet, mengomentari segala hal, kini telah menjadi perempuan yang penuh perhatian. Dia ingat, setiap pulang libur kuliah, Dita akan menuntut ini itu darinya dan Elang. Gadis itu memerintah dan bicara semaunya, ingin ditemani belanja atau nongkrong, memaksa kakak kembarnya mengikuti kemauannya. Awan tahu, dan dia yakin Elang pun menyadarinya, semua itu Dita lakukan karena ingin mengisi waktu-waktu yang kosong tanpa mereka. Adiknya itu rajin protes, banyak hal dikomentari karena sesungguhnya dia khawatir dan ingin memastikan saudaranya baik-baik saja selama kuliah di luar negeri. Ketika Awan dan Elang akan kembali berangkat sering kali Dita menjadi lebih cerewet dari sang Mama. Dia ingin memastikan kakak-kakaknya berangkat dalam keadaan baik, fisik dan mental. “Gimana bisa baik sih, kalau bekal mau belajar cerewet nggak habisnya gini?” Elang pernah menyela, tetapi adiknya tidak peduli dan sama sekali tidak berubah. Jika sudah begitu, Awan hanya tersenyum geli karena bisa saja Elang menghidupkan tombol yang salah, membuat Dita mengomelinya karena tidak bersyukur sudah diperhatikan sebegitu baiknya. Meskipun cerewetnya masih sama, kini Awan melihat jelas kekhawatiran dan kepedulian besar dalam mata dan raut wajahnya itu tidak lagi mengandung keegoisan. Dia tidak menuntut apapun, hanya ingin memastikan bahwa kakaknya baik-baik saja. Selama beberapa menit, Awan terus menatap langit kamar dalam diam. Ketika kalut tak juga pergi, dia mengambil ponsel. Awan mencari nama Yoko dan iseng meneleponnya. Setelah tiga deringan berbunyi, Awan berniat menutup panggilan tersebut. Namun, ketika dia mulai menjauhkan ponsel dari telinga, terdengar suara dari sambungan. “Sori, Ko, kalau ganggu.” “Nggak, Pak. saya tadi sedang mandi. Bapak ada perlu apa?” Awan menanyakan pada Yoko apakah obrolannya saat makan malam terdengar olehnya. Dia berharap Yoko berkata iya. Sayangnya, jarak dua meja beserta riuh rendah suara pengunjung, mengaburkan hal tersebut. Awan mendesah berat, mulai menceritakan kejadian tadi sore juga percakapan berulang di restoran kala Dita mengkhawatirkannya. “Dia terus nanya, padahal aku udah di depan mata. Aku jadi merasa bersalah,” jelas Awan. “Mama juga tadi nyebut-nyebut perasaan nggak nyaman karena udah menyembunyikan tentang Elang sama Dita.” Awan memijat alilsnya. Wajah dan nada resah dalam kalimat Dita terus terbayang. Dia merasa dihantui perasaan sang adik. “Menurut kamu gimana, Ko? Apa aku kasi tahu aja Dita kalau aku bukan Elang? Tappi, jujur, aku ragu dia bakal nyimpen ini baik-baik. Bukan nggak percaya gimana. Aku yakin dia bisa diam di hadapan umum. Tapi aku yakin ini pasti akan sampai ke Nolan.” Pria di ujung sambungan tidak mengeluarkan sepatah kata pun selama Awan mengeluarkan unek-uneknya. Dengan sabar Yoko mendengarkan semua keraguan yang Awan muntahkan, memberinya keleluasaan sampai semua kalut menguap. “Kalau kamu, bakal gimana di posisi ini, Ko?” Awan mengulangi pertanyaannya. “Karena saya tidak terlibat emosi sedalam itu sama Bu Dita, dalam pandangan saya jelas kalau ini tidak perlu diceritakan sama Bu Dita, Pak. Memang, dia adalah keluarga. Tapi, mengingat dia selalu menceritakan apapun pada suaminya, kita tidak bisa mengambil risiko tersebut. Sampai saat ini kita belum menemukan petunjuk yang menjurus pada pelaku. Akan terlalu berbahaya jika Bu Dita menceritakannya pada Nolan.” Awan mendengarkan dengan saksama. Meskipun setuju pada pendapat Yoko, matanya masih menyiratkan keraguan. “Aku jadi serba salah, Ko. Dita itu adikku. Seperti kata Mama, tidak baik menyembunyikan ini dari dia yang bukan main khawatir. Tapi kamu juga benar. Jika informasi sampai pada Nolan, bisa saja dia keceplosan bicara entah pada siapa, lalu informasi tersebut sampai ke telinga pelaku.” “Iya, Pak. Nanti, yang ada, pelaku malah mundur teratur dan kita semakin sulit menemukannya,” imbuh Yoko. Kepala Awan terasa berat. Otak dan hatinya sedang bertarung, masing-masing berusaha membenarkan diri. Bayang wajah Dita, suaranya, gesturnya, membuat hati Awan ingin sesegera mungkin berkata jujur. Namun, otaknya menolak. Pikirannya sadar betul bagaimana Dita akan bersikap jika mengetahui keberadaan Elang yang sesungguhnya. Gadis itu akan memaksakan dirinya terbang ke Singapura untuk mengecek keadaan Elang. Dia juga akan berbicara panjang lebar dengan suaminya, memuntahkan semua keresahan dan meminta dukungan. Adiknya itu juga akan memaksa ikut andil untuk menyelesaikan masalah ini. Belum lagi bonusnya, Dita bisa saja akan marah besar pada Awan karena menyembunyikan Elang darinya. “Pak, mohon maaf jika harus bicara begini. Saya harap Bapak tidak menganggap saya tidak sopan.” Kalimat Yoko memberikan jeda pada pertarungan batin Elang. “Dari pandangan saya sebagai orang luar, tidak ada untungnya jujur pada Bu Dita untuk saat ini. Justru sebaliknya, membiarkannya tahu malah bisa menjadi risiko besar. Meskipun Bapak memintanya tidak memberitahukan hal ini pada siapapun, kita tidak tahu berapa lama dia menyimpannya dari Pak Nolan.” Yoko memberikan analisis detail mengenai perkembangan kasus sejauh ini, menghubungkan dengan kemungkinan Dita mengetahuinya. Perlahan, otak Awan memenangkan pertarungan karena semakin banyak mendengar kata-kata Yoko hatinya menyadari keputusan yang diambil saat ini sudah tepat. “Terima kasih, Ko. Saya senang dan merasa sangat tepat sudah menghubungi kamu. Hampir saja saya membuat keputusan salah.” Keruh yang tadinya mendominasi mimik Awan sudah terlihat lebih baik. Ombak besar yang bergulung, kini kembali tenang. “Btw, Ko, perkembangan kasus gimana? Dari sore sama keluarga, aku belum sempat nanya.” “Tadi di restoran Dex menghubungi saya. Bapak mau kita bahas sekarang?” Awan bangkit. Matanya mencari jam dinding yang digantung di atas set TV di sebelah kasurnya. Sudah pukul sepuluh malam. “Nggak usahlah, Ko, besok aja. Tolong di-print inforasi-informasi penting yang perlu dibahas sebelum ketemu saya besok.” Awan juga meminta Yoko mengisi kembali kulkas dengan jeruk karena stok sudah menipis. “Aku turun dari rumah Mama besok.” Ucapan singkat Awan langsung dipahami Yoko bahwa dia tidak perlu mendatangi apartemen pagi-pagi membawakannya sarapan. Namun, pria itu tetap berencana akan ke sana membawa jeruk. “Baiklah. Saya rasa nggak ada lagi yang diperlukan. Terima kasih, Ko, sudah mau berdiskusi dengan saya malam ini.” Ucapan terima kasih dari sambungan terdengar. Awan menutup ketika ucapan selamat malamnya sudah berbalas. Dia meletakkan ponsel di meja TV, kembali melihat jam bulat monokrom dengan plat berwarna hitam yang bergantung dalam sunyi. Setelah beberapa saat menatap jam, dia mengambil kembali ponselnya. Malam sudah larut, tetapi hatinya tiba-tiba merasa sangat rindu dengan sosok perempuan berambut setengkuk yang kini entah sedang apa di kota kelahirannya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD