Makan Malam Keluarga (2)

2103 Words
“Mana ada Mas Awan di sini, Ma,” celetuk Dita lalu terkekeh. Awan sengaja tidak mau menoleh, tetapi sudut matanya menangkap kegelisahan sang ibu. Dia menanggapi kalimat Dita dengan sekilas senyum. “Mama kangen kita kumpul rame-rame.” Gantari beralasan. Dia meletakkan tangan di atas paha Awan, yang disambut dengan genggaman di bawah meja, menenangkannya. “Kita video call Mas Awan gimana?” usul Dita. Sontak, Awan menggeleng. “Buat apaan?” “Ya, buat ngusir kangen, lah, Mas. Sama kembaran sendiri kok sewot.” Awan berpikir sejenak untuk mencari alasan. “Bukan sewot. Kita lagi di restoran. Jangan norak.” Dita bersungut-sungut. Namun, dia setuju pada pendapat kakaknya. Ditambah, Nolan juga mengiyakan ucapan Awan, menawarkan melakukan telepon video di rumah. “Besok-besok aja. Hari ini Mama pasti masih capek,” tolak Awan. Dita menatap Gantari. Awalnya, perempuan itu masih berkeras ingin menelepon setelah makan malam. Dia bahkan menawarkan diri menginap jika Mamanya menginzinkan. “Mau ya, Sayang, nginap di rumah Mama malam ini? Anggap aja kita kumpul virtual.” Nolan mengangguk sembari tersenyum lembut. Ketika Awan mendelik, memberikan tatapan tidak setuju, dia buru-buru menambahkan, “Tapi kayaknya nggak malam ini deh, Sayang. Mama baru beberapa jam yang lalu sampai Indo.” Setelah dibujuk oleh Awan dan Nolan, Dita pun mengurungkan niatnya. Apalagi, ketika sang Mama berkata ingin langsung pulang. “Iya, deh. Mama istirahat aja malam ini. Besok-besok kita video call Mas Awan.” Dita menyerah. “Mas Elang nanti pulang ke rumah apa ke apartemen?” “Rumah. Aku temani Mama.” Dita mengangguk mantap, tetapi kemudian malah protes, “Kenapa nggak tinggal di rumah aja sih? Daripada bolak-balik, kan lebih gampang. Kasihan Mama selama nggak ada Papa, sendirian terus.” “Cerewet!” “Habisnya … Masa aku mesti minta Mas Awan yang pulang. kan nggak mungkin?” Awan tidak menanggapi lebih lanjut. Banyak bicara bukan kebiasaan Elang, bahkan terhadap adik perempuan mereka satu-satunya. Untuk itu, dia hanya menatap diam pasangan suami-istri iru. Dita yang terlihat cantik dalam balutan gaun off shoulder putih balas menatap sinis. Perempuan itu menyempatkan mencebik ketika ditatap, membuat Awan melotot. Sementara Nolan yang mengenakan kemeja polos senada, menunduk saat ditatap abang iparnya, seperti terintimidiasi. Awan tersenyum geli. Nolan pasti takut pada Elang, pikirnya. Di antara obrolan ringan, makanan disajikan. Sushi platter beserta tambahan sushi roll buat sang bunda, chicken dan salmon teriyaki buat pasangan yang selalu terlihat dimabuk cinta, dan menu ala bento untuk Awan. Dita juga memesan sundae untuk sang kakak serta koktail untuk dia dan Nolan yang dimintanya diantar setelah mereka selesai makan. “Kebanyakan ini buat Mama,” kata Gantari. “Justru kita harus banyak makan kalau lagi banyak pikiran. Mama makan yang banyak, ya.” Dita meraih tangan Gantari. “Tapi, kalau nggak habis, bisa kasi Mas Elang. Dia kan selalu makan banyak,” lanjutnya sembari mengerling pria yang duduk di samping sang Mama. “Sudah, Sayang. Ayo, kita makan,” sergah Nolan ketika melihat istrinya masih ingin merecoki sang kakak. Dan memang, sushi yang Dita pesankan untuk Gantari tidak termakan sampai habis. Awan memakan beberapa setelah menghabiskan bentonya. Melihat kejadian tersebut, Dita berbangga diri karena perhitungannya pas. Perempuan dengan rambut disanggul sebagian itu kemudian menyesap minuman berwarna seperti s**u stroberi ketika piring-piring makanan utama mereka sudah diangkat. Minuman mengandung sake dan sirup stroberi itu menggelitik kerongkongannya, terasa panas sekaligus manis. Nolan ikut menyesap koktailnya yang berwarna seperti sirup leci pekat, memiliki khas rasa sirsak dengan campuran sochu. Di saat Dita dan Nolan menikmati perpaduan buah dan rasa getir minuman mereka, Awan berjengit menatap es krim berwarna hijau dan putih yang diberi sirup gula, saus cokelat, juga kacang di atasnya. Perpaduan sirup gula dan saus cokelat yang sudah terbayang manisnya membuat gigi Awan ngilu. Dia menawarkan sang Mama untuk berbagi, menggeser piring sundae agar berada di antara mereka berdua. Gantari yang hapal betul kebiasaan anak-anaknya memakan es krim yang Awan tawarkan. Wanita itu mengais bagian yang banyak tersiram sirup gula dan saus cokelat. Melihat Awan lebih banyak memakan es krim berwarna hijau yang memiliki rasa pahit dari matcha, Gantari menyendok es krim yang berperisa vanila. “Romantis banget deh Mama sama Mas Elang, makan berdua. Tahu gitu, tadi Dita pesan dua. Mama kan, biasanya nggak makan yang dingin-dingin.” “Mama lagi kepengin aja, kelihatannya es krim Mas-mu enak.” “Dita pesankan lagi ya?” Tangan Dita sudah setengah terangkat saat Gantari menahannya. “Mama cuma makan dikit aja, kok. Nggak perlu pesan lagi. Kamu aja pesan kalau kepengin ikut romantisan sama Nolan.” Godaan Gantari berbalas senyum sipu Dita dan Nolan. Dita memandangi ibu dan saudaranya. Pemandangan Mama yang memakan bagian-bagian paling manis dari sundae tidak luput dari perhatiannya. Namun, dia tidak berpikir macam-macam. Mamanya selalu menyendok makanan tersebut lebih dulu, sengaja memilah bagian manis. Sang Kakak akan menyendok apapun setelahnya. Dia pikir, kakaknya sedang mengalah pada Mamanya karena wanita itu tiba-tiba ingin memakan penganan dingin itu. “Mama udah,” ucap Gantari setelah dia menghabiskan sirup gula dan saus cokelat, mendorong kembali piring sundae ke hadapan Awan. “Gigi Mama ngilu, nggak biasa makan dingin banyak-banyak.” Dita memperhatikan kakaknya yang tersenyum aneh. Awan mendekatkan piring sundae ke dirinya, menyendok sedikit es krim vanila, lalu menyendok agak banyak es krim matcha, baru memakannya. Perempuan itu menopang wajah dengan sebelah tangan, menatap sang kakak. “Pengin?” Awan menyodorkan piring sundae kala menyadari Dita memperhatikannya. Adiknya menggeleng. “Tumben nyendoknya dikit-dikit. Di rumah aja, cari sendok paling besar kalau makan es krim. Nyendoknya penuh-penuh lagi.” “Lagi sakit gigi,” jawab Awan asal. “Ya, kalau sakit gigi jangan makan.” “Kamu udah pesenin. Sayang.” “Lebih sayang es krim kayaknya daripada tunangan,” celetuk Dita. “Apa hubungannya Kei sama es krim?” Dita mengedikkan bahu. “Mas,” panggilnya tiba-tiba. “Kamu serius udah baikan?” Awan meletakkan sendok dan duduk bersandar. “Mau berapa kali nanya begini?” “Ya, kan, aku khawatir Mas. Aku tuh, syok waktu denger Mas kecelakaan. Waktu ke rumah sakit, Mama sampai nangis karena Mas nggak bangun-bangun.” Dita tidak berbohong. Wajahnya memang menunjukkan kekhawatiran saat menceritakan bagaimana dia mendengar kabar tersebut dan berusaha segera ke rumah sakit begitu pekerjaannya usai. “Kamu juga sih, Sayang,” tunjuknya ke arah Nolan. “Coba hari itu nggak ninggalin Mas Elang sendirian.” “Kamu kayaknya lebih sayang Mas ketimbang suami,” kelakar Awan. Kali ini, dia tidak bisa menahan diri menggoda Dita. “Bukan gitu … Kalau ada Nolan kan, bisa aja kalian jadi banyak ngobrol terus agak lama pulangnya, jadi nggak pulang pas jam banyak truk lewat.” “Namanya kecelakaan, bisa jadi kapan aja, ke siapa aja,” balas Awan. Nolan yang tadi senyam-senyum karena istrinya terus digoda tiba-tiba berwajah keruh. Sudut bibirnya terangkat, tetapi terlihat tidak nyaman. “Aku minta maaf, Mas. Kalau aja hari itu aku ada di sana …” Nolan membiarkan kalimatnya menggantung. “Ini kenapa jadi pada berlebihan begini sih? Aku di sini kan sekarang?” “Heran deh, orang khawatir bukannya senang, malah sewot.” “Ini berlebihan, Ta. Lagian, udah jelas gini aku baik-baik aja.” “Waktu Mas nggak sadar tuh, aku sama Mama yang ada di sana. Kita yang panik, resah.” “Iya, iya. Tapi aku baik-baik aja. Jadi, jangan khawatir. Oke?” Awan tersenyum ceria. Sayangnya, senyum itu tidak menghilangkan keruh dari wajah Dita dan suaminya. Nolan terlihat sangat gugup. Lelaki itu kemudian mengambil slokinya, menenggak semua isinya. “Pelan-pelan dong, Sayang,” tegur Dita, disambut senyum hambar oleh Nolan. Pria dalam balutan kemeja putih itu membetulkan letak kacamatanya. Dia menatap Awan, menunduk, melirik Dita. Gelagatnya berulang berkali-kali, membuat Awan merasa bersalah. “I’m fine. Really.” Awan berusaha mencairkan suasana. “Haduh, es krimku jadi cair.” Awan pura-pura bersedih. “Mau kupesankan lagi, Mas?” tanya Dita cekatan. Awan segera menggeleng. “Nggak usah. Kasihan Mama, masih capek. Kita pulang aja.” Awan dan Gantari melepas kepergian Dita dan Nolan, baru mereka masuk mobil. Awan meminta izin pada Mamanya menelepon Yoko, menjelaskan sekilas jika tadi asisten Elang itu juga ada di sana. Setelah selesai memberi instruksi melalui telepon, Awan menghidupkan mesin mobil dan pulang. “Maafkan Mama ya, Wan. Tadi sempat keceplos.” Awan menoleh sebentar sambil tersenyum lembut. “It’s okay, Ma. Pasti sulit menganggap aku Elang.” Awan kembali menatap ke depan. “Dulu, waktu kami sering bertukar tempat, Mama bisa bedakan aku dan Elang dengan mudah. Sekarang tahu aku pura-pura jadi Elang, pasti susah pura-pura nggak tahu. Dita aja tuh yang selama ini bisa ketipu.” “Mama merasa bersalah juga sama Dita.” “Maaf ya, Ma, jadi harus mengikuti permainanku. Aku juga nggak tega lihat Dita khawatir kayak gitu, tapi berisiko juga kalau kita ngomong ke dia sekarang.” Gantari mengembuskan napas berat. Benaknya merasa dia tidak memperlakukan anak-anaknya dengan adil. Meskipun benar yang Awan katakan, tetapi Dita juga anaknya. Sebagai keluarga, harusnya mereka saling bahu membahu, duduk semeja dan berkomunias untuk menemukan jalan keluar, bukannya merahasiakannya. “Nggak usah dipikirkan, Ma,” tukas Awan yang merasakan kekhawatiran ibunda. “Biar aku aja yang pikirin semua. Dita juga bakalan aku kasi tahu kalau udah waktunya. Aku akan pastikan Dita tahu hal ini dari kita, bukan orang lain. Udah cukup Mama pikiran Papa sama Elang. Jadi, jangan ditambah lagi.” Tangan kiri Awan mencari jemari sang Mama, lalu menggenggamnya. Tangan bebas Gantari menepuk-nepuk tangan Awan. “Berat ya, Wan? Istirahat sejenak kalau berat.” Awan tersenyum tipis, tidak menanggapi banyak karena ingin berkonsentrasi mengemudi. Gantari memahami gestur anaknya. Dia pun kembali menatap ke depan, melihat malam yang berhiaskan lampu jalan. Teringat Awan yang berkata akan menginap, Gantari mengambil ponsel. Dia menghubungi rumah, meminta pelayan segera membersihkan kamar anak kembarnya. “Nggak apa kan kamu tidur di situ? Kamar kamu kalau datang sama Lili bisa dipakai sih kalau mau.” “Nggak usah, Ma. Aku kan nginap sebagai Elang. Malah jadi aneh kalau tidur di sana.” Sesampainya di rumah, Awan mengantar Gantari hingga ke depan kamar. “Mama jangan banyak pikiran, ya, nanti malah Mama yang sakit.” “Kamu ini.” Gantari menggeleng pelan melihat tingkah Awan. “Selamat istirahat, Ma.” Awan mengecup kening Mamanya pelan. “Ini salah satu yang bikin Mama gampang baca kalian. Kamu itu nggak pernah sungkan nunjukin sayang sama orang. Beda sama Elang yang sering kali harus diminta dulu.” Gantari berucap sambil tersenyum. Awan tertawa menanggapi kalimat sang Mama. “Susah ya, Ma, punya anak kaku kayak Elang,” kelakarnya. “Hush! Orang lagi sakit itu didoian, bukan malah dikata-katain.” Mama mencubit pinggang anaknya. Awan meringis, lalu menggosok bekas cubitan Gantari. “Aku jadi kangen Lili. Kalau ada dia, ada yang belain, paling nggak manjain aku kalau di-bully.” “Kamu itu.” Gantari ingin mencubit sekali lagi, tetapi Awan menjauh. Dengan wajah jenaka dia pamit dari hadapan ibunya. Awan menaiki tangga menuju kamarnya dan Elang saat remaja. Di sana, barang-barang miliknya masih tertata rapi. Kamar berukuran 4 x 6 meter itu berisi dua buah kasur single yang terletak di tepi, terpisah oleh meja belajar milik Elang dan set TV. Meja belajar Awan berada di bawah kaki jika dia berbaring di kasurnya. Di dekat meja belajarnya, berderet dua buah lemari pakaian. warna hitam milik Elang dan warna cokelat miliknya. Awan membuka lemari pakaian Elang, mengambil piyama tidur. Dia berganti pakaian dan memasukkan pakaian kotor di dalam keranjang laundry yang terletak di antara pintu masuk dan lemari Elang. Pakaian tersebut bersih dan wangi, menandakan Elang sering ke mari dan memakainya. Awan berbaring di kasurnya, memandangi langit kamar berwarna biru langit, senada dengan keempat sisi dinding. Berada di sana, membawanya kembali pada kenangan bersama saudara kembarnya. Kamar ini sudah mereka tempati sejak kelas 4 SD. Awalnya, mereka berada di kamar bawah yang terletak persis di samping kamar tidur utama. Dita dulunya tidur sekamar dengan Gantari dan Wirya. Ketika menginjak bangku SD, Dita meminta kamar sendiri karena selalu diusir Elang jika berlama-lama di kamar mereka. Merasa anak perempuannya membutuhkan privasi serta ruang untuk belajar, Wirya menyetujuinya. Awan dan Elang pindah ke kamar atas karena ukurannya lebih besar, juga karena Wirya masih belum benar-benar ikhlas berpisah dari anak gadis satu-satunya. Dengan berada di kamar sebelahnya, Wirya memiliki lebih banyaik kesempatan menengok atau sekadar lewat. Selain itu, jarak tersebut memudahkan Dita jika sesekali merasa takut atau tidak nyaman tidur sendiri pada awal-awal kepindahannya. Sampai sekarang, kamar tersebut masih menyimpan banyak barang Dita sewaktu gadis. Tidak ada yang berubah selain kasur yang kini lebih besar semenjak Dita menikah. Awan menatap langit-langit kamar dengan pikiran yang melayang-layang pada masa lalu. Tidak lama, dia tertidur setelah berdoa agar masalah ini segera menemukan jalan terang.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD