Makan Malam Keluarga

1011 Words
Awan menyelesaikan pekerjaanya lebih cepat hari ini. Selain karena mengkhawatirkan Gantari, sang Mama, dia juga ingin punya lebih banyak waktu sebelum makan, tujuannya agar Gantari memiliki sedikit waktu untuk membiasakan diri memanggilnya Elang. “Ko, kamu ikut. Nanti ambil jarak beberapa meja supaya tetap bisa memperhatikan saya,” titah Awan. Mereka berangkat secara terpisah. Awan terlebih dahulu menemui sang Mama begitu semua pekerjaannya usai. Sementara Yoko langsung menuju restoran setelah mereka mendapatkan alamat dari Dita. Mengingat kejadian sebelumnya terjadi setelah makan siang, baik Awan maupun Yoko sependapat mereka tetap harus waspada meskipun berada di tempat umum. Awan melajukan mobil dalam kecepatan standar sambil berkoordinasi dengan Yoko selama perjalanan menuju rumah ibunya. Earpods terpasang selama perjalanan dan dia terus mengoceh sembari memperhatikan lalu lintas. Yoko memastikan bahwa situasi di retoran aman. Dia juga sudah mencari tahu tentang reservasi yang dibuat Dita, menyelidiki apakah ada orang yang berusaha mengakses informasi mengenai makan malam tersebut atau adanya usaha menyabotase makan malam. Awan menutup sambungan setelah mendengar semua laporan Yoko. Mobil pun sudah memasuki area pelataran rumah. Mama menyambut dengan senyum dan pelukan hangat ketika membukakan pintu. “Mama kayak udah lama nggak ketemu aku aja,” candanya. Gantari kembali tersenyum hangat. “Mama kan rindu sama anak-anak Mama.” Dari desahan yang terdengar, Awan bisa merasakan kesedihan sang Mama. Wanita yang baru beberapa jam tiba dari Singapura, menjenguk suami dan anaknya yang sakit, itu perasaannya pasti sedang tidak menentu. “Sudah dapat perkembangan, Wan?” “Itu kita bahas nanti ya, Ma. Ada hal yang lebih mendesak sekarang.” Wajah Gantari menyiratkan tanya. Awan membalas dengan senyum lembut. “Mama barusan masih manggil aku Awan.” “Karena kamu memang Awan. Gimana Mama bisa panggil kamu Elang?” Awan sadar, bukan hanya karena tidak terbiasa yang membuat keengganan terpancar dari raut wajah dan nada bicara Mamanya, melainkan karena harus membohongi Dita. Meskipun sudah membantunya menjadi Elang, selama ini Mama tidak punya andil lain selain tidak bicara. “Apa kita batalin aja makan malamnya, daripada Mama merasa bersalah kayak gini?” Mereka tahu itu bukan pilihan. Tiba-tiba membatalkan makan malam secara mendadak tentu akan membuat mereka semakin mencurigakan. “Gni aja deh. Kalau Mama nggak bisa sebut nama Elang, nggak disebut sekalian nama kami.” Awan meminta maaf pada sang Mama karena harus terlibat dalam permainan sandiwaranya. “Nanti aku juga akan minta maaf sama Dita kalau semuanya udah beres. Dita pasti ngerti kok, Ma.” Awan menyempatkan mandi dan berganti pakaian di rumah sang Mama. Di kamar mereka, Elang meninggalkan beberapa setel jas. Awan memilih asal salah satunya. Ketika Mama sudah siap, Dita mengirimi Awan pesan bahwa adiknya itu beserta sang suami sudah dalam perjalanan menuju restoran. Awan pun mengajak mamanya untuk segera berangkat. Sesampainya di restoran, Awan mencari keberadaan Yoko yang berjarak dua meja dari tempat yang dipesan Dita. Walaupun Yoko membelakangi mereka, Awan bisa mengenalinya ketika berjalan menuju mejanya. Dita yang sudah terlebih dulu sampai melambaikan tangan, menyambut Mama dengan pelukan juga ciuman di pipi kiri dan kanan. Perempuan itu juga mencium pipi kiri dan kanan Awan. Nolan tidak mau kalah. Dia langsung berdiri ketika ibu mertuanya mendekat, memeluknya lalu menyiapkan kursi untuk wanita itu. Awan langsung duduk tanpa berinteraksi dengan saudara iparnya. “Udah berapa minggu ya, Ma, kita nggak makan bareng. Akhirnya, kesampaian juga hari ini,” oceh Dita sambil membukakan buku menu untuk Gantari. Wanita itu menepis dengan lembut. “Kamu langsung pesan aja, kamu tahu kesukaan Mama kan?” Dita mengangguk-angguk lalu berkutat dengan menu yang dipegang. “Aku juga deh, Dit, sekalian aja kamu pesenin,” sambar Awan. “Manja banget sih,” cibit Dita. Awan membalas dengan seringai jenaka. “Biar nggak bingung pelayannya, satu orang aja yang ngomong.” “Alesan banget!” sungut Dita, kemudian menoleh ke arah Nolan. “Kamu mau sekalian aku pesenin?” Nolan yang sedang melihat-lihat menu mengangguk seraya menutup menu yang dipegang. Dengan cekatan Dita memanggil pelayan, menyebutkan beberapa menu yang sepertinya sudah di ingat di luar kepala. Pelayan lain datang menyajikan air mineral. Dita mengangguk dan mengucapkan terima kasih dengan manis. “Udah berapa minggu ya, Ma, kita nggak makan bareng? Maaf ya, aku belum main ke rumah. Aku sama Nolan sibuk belakangan ini.” Mama ternyum lembut seraya menggeleng. “Nggak apa-apa. Ini kita udah bisa makan bareng aja Mama udah bersyukur, kalian meluangkan waktu buat Mama.” “Kalimat Mama sedih banget,” timpal Awan. “Gimana nggak sedih kalau Papa masih sakit. Sensitif dikit kenapa sih?” omel Dita, mengundang tawa Awan. “Justru lagi bareng gini jangan dibawa-bawa sedihnya. Masa iya,, punya waktu ngumpul dipake buat sedih-sedihan?” Dita kembali mencibir. “Oh iya, Ma. Kabar Papa gimana?” “Masih sama. Terapi Papamu belum membuahkan hasil.” Desahan lolso bersamaan dari bibir Dita dan Awan. Sedangkan Nolan menatap penuh simpati sembari menepuk pelan tangan ibu mertuanya yang berada di atas meja. “Papa pasti bisa sembuh, Ma,” cetus Nolan. Gantari mengangguk seraya tersenyum yang sebenarnya dia tujukan untuk menguatkan diri sendiri. “Penyakit Papa memang sudah parah. Ditambah ada komplikasi, tentu tidak akan mudah penanganannya. Kita sama-sama berdoa ya, supaya Papa lekas sembuh.” Awan, Dita, dan Nolan mengangguk serempak. Awan yang duduk di samping Gantari langsung memeluk wanita itu. “Papa pasti segera sembuh dan bisa pulang. Mama jangan khawatir,” ujar Awan. “Iya, Ma. Papa pasti pulang sebentar lagi,” tambah Dita seraya mengulurkan tangan, menggenggam tangan sang Mama. “Kamu sendiri gimana Mas, beneran udah sehat?” Dita menanyakan kembali hal yang sudah dia tanyakan di kantor sore tadi. “Seriously? Kamu mau berapa kali nanya baru puas dan percaya kalau aku baik-baik aja?” balas Awan retoris. “Keberadaan aku di sini masih kurang?” Dita memonyongkan bibr. “Orang khawatir juga, masa iya aku diam-diam. Lihat deh, Ma, Mas Elang tuh, kapan sih nggak sinis sama aku? Besok-besok kalau Mas kenapa-kenapa bodo amat! Aku nggak mau tahu.” “Sudah, sudah. Kita ke sini bukan mau bertengkar. Iya kan, Wan?” Awan yang sedang minum air putih tersedak. Mata Dita dan Nolan membulat menatap sang Mama.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD