Senopati Prawira Pradana

1001 Words
Lagi-lagi, doa Awan terkabul cepat. Kali ini, dia tidak tahu apakah ini hal baik atau buruk. Ketika tiba di kantor, Dita sudah menunggu di ruangannya. Perempuan dalam balutan blazer hitam berkerah putih dan rok mini putih itu berdiri ketika pintu ruangan Awan terbuka. Dia menunggu Awan hingga duduk, kemudian menghampiri. “Sori, baru ke sini. Mas udah sehat?” tanyanya. Wajah Dita menyiratkan kekhawatiran, Jika muncul sebagai dirinya, Awan pasti sudah menunjukkan wajah semringah dan langsung memeluk sang adik. Karena sedang menjadi Elang yang dalam kesehariannya tidak bisa bersikap manis, dia hanya menatap dan mengangguk. “Serius, Mas? Kalau belum sehat, nggak apa-apa di rumah. Aku bisa handle sementara semua kerjaan kamu. “I’m good. Meskipun nggak ketemu kamu pasti tahu aku udah di kantor dari dua hari yang lalu.” Awan meminta sekretaris menyajikan teh tanpa gula, mengajak Dita duduk di sofa. Perempuan berambut gelombang di bagian bawah itu duduk di samping Awan. “Mas, beneran nggak apa-apa?” “I said, I’m good.” Awan meletakkan tangan di kepala Dita seperti yang biasa Elang lakukan. “Apaan sih, Mas? Udah gede juga.” Dita segera menurunkan tangan kakaknya. “Nanti rambut aku rusak.” Awan membiarkan Dita memeriksanya dari ujung kepala hingga kaki. Dita memaksanya berdiri, memperhatikan setiap bagian tubuh sang kakak dan memperbolehkannya duduk setelah puas dan yakin Awan benar-benar sehat. “Maaf ya, Mas. Kalau waktu itu Nolan nggak ninggalin kamu, mungkin nggak akan begini kejadiannya.” “Tapi bisa aja Nolan yang celaka. Mau?” Adiknya langsung cemberut. Awan ingin tergelak melihat ekspresi Dita, tetapi menahannya. Jiak dia tertawa saat ini, Dita akan segera tahu bahwa yang saaat ini duduk di sampingnya adalah Awan, bukan Elang. “Oya, Mas. Malam ini kita makan malam di rumah Mama, ya. Aku kangen sama Mama. Kayaknya terkahir ketemu waktu di rumah sakit deh lihat kamu.” Awan ingin menolak. Berada di rumah akan membuatnya merasa terlalu nyaman dan memperbesar risiko ketahuan. Namun, mengiyakan begitu saja juga terasa berat. Di mana pun mereka, jika berlama-lama bersama sang adik, risiko terbongkar penyamarannya akan sangat besar. “Bukannya Mama baru akan pulang siang ini?” tanya Awan. “Oh, iya. Mama jenguk Papa.” Dita menepuk jidatnya. “Tapi gimana? Malam ini aja aku sama Nolan free. Kakak tahu kan sok sibuknya dia.” Awan tersenyum sekilas, tertangkap oleh Dita. “Mas kok gitu mukanya begitu aku sebut nama Nolan?” Dita toba-tiba terlihat defenif. Dia meneliti wajah Awan, mencari jawaban dari Kakaknya yang masih diam. “Kalau ini karena kejadian kemarin …” Awan segera menggeleg. “Nggak. Aku pikir mau makan bertiga karena bilang kangen banget sama Mama,” pungkasnya cepat. “Maunya gitu. Tapi begitu tadi pagi kubilang mau ke rumah Mama, dia semangat banget mau ikut. Kan, nggak tega.” Dita cengar-cengir. Wajahnya yang memerah menunjukkan betapa dia mencintai sang suami, sampai saat ini masih tersipu ketika membahas pria tersebut, sama seperti pertama kali dia memperkenalkan Nolan pada keluarga. “Karena Mama pasti axpek baru habis jenguk Papa, malam ini kita makan di luar aja, ya,” ajak Awan, kembali membahas mengenai makan malam. Dita menimbang sesaat, lalu mengangguk semangat. “Kita ajak Mama ke restoran sushi tempo hari ya? Mama suka banget sushi di sana.” “Oke,” jawab Awan meskipun dia tidak tahu restoran mana yang dimaksud. “Nanti aku jemput Mama. Kamu sama Nolan langsung aja ke sana.” “Oke deh. Klau gitu, aku ke ruanganku dulu, ya, Mas. See you tonight.” “Dit, Mas nanya dikit boleh?” Dita yang sudah setengah berdiri ke,bali duduk. “Ada apa, Mas?” “Kamu sama Seno akrab?” “Akrablah, Mas, sama sepupu sendiri. Kamu tuh yang aneh, sama keluarga sendiri jaga jarak. Kalau Mas Awan juga tinggal di sini, dia pasti bakal lebih akrab lagi sama semuanya. Aku masih heran sampai sekarang, kalian kembar kenapa bertolak belakang begini sifatnya.” Awan tergoda ingin menjahili adik yang beberapa tahun tidak ditemuinya ini. Jika tidak memikirkan kondisi saat ini, tentu hal itu sudah Awan lakukan dari tadi. “Ketemu dan ngobrol akhir-akhir ini?” “Ketemu gitu-gitu aja, sih, bahas kerjaan. Kalau di luar kantor, akhir-akhir ini nggak.” “Mas dengar isu dia mau diajuin buat gantiin Papa.” Dita ingin bicara tetapi Awan menutup bibirnya. “Jangan heboh-heboh, ini rahasia.” “Mas Yoko memang boleh-boleh informannya,” simpul Dita. “Tapi nggak mungkinlah, Mas. Kalau dia jadi dirut, kita bakal bangkrut dalam waktu setahun. Urusan kerjaan aja masih sering tanya-tanya aku sampai sekarang.” Dita membeberkan pandangannya mengenai Seno, saudara sepupu yang dianggapnya sangat tidak kompeten menduduki jabatannya saat ini. Namun, Dita mengakui bahwa Seno sebenarnya pekerja keras. Meskipun berulang-ulang menanyainya banyak hal, sepupu mereka itu selalu berusaha melakukan yang terbaik. “Yah, namanya juga bukan bidangnya. Kuliah apa disuruh kerja apa, wajar. Tapi yang aku salut dia lumayan tahan banting juga. Kalau lagi hectic ditanyai macem-macem sama dia kadang aku sampai marah-marah, tapi tetap aja Mas Seno balik lagi besoknya. Dia itu, kadang kayak anak kecil polos, nggak pernah mikir negative gimana.” Awan mengangguk-angguk mendengar penjelasana Dita. Adiknya juga mengatakan kalau Seno termasuk salah satu favorit para karyawan. Sikap positif dan selalu ceria yang dia miliki membuat orang-orang nyaman bekerja dengannya. “Divisi dia itu divisi paling adem. Nggak pernah ada drama atasan-bawahan. Kalau anak buahnya bikin salah paling disenyumin terus dikasi tahu nggak usah diulangi.” Dita menyeruput tehnya. “Kalau aku, pasti udah kuomelin panjang lebar yang bikin salah. Apalgi kamu Mas, yang paling hobi kasi sanksi ke pegawai.” “Aku?” “Iyalah. Siapa lagi? Sejak kamu yang mimpin, pegawai jadi pada ketakutan. Semua juga tahu, angka pegawai terkena sanksi mendadak naik semenjak kamu yang mimpin. Ya … walaupun ada baiknya juga, sih. pegawai jadi makin tanggung jawab karena takut bayar denda.” Dita tertawa kecil, menghabiskan tehnya lalu pamit. “Reservasi restoran biar aku yang urus. Mas jemput aja Mama, jangan sampai lupa atau malah ketiduran,” ancamnya sebelum meinggalkan ruangan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD