Dalam perjalanan pulang, Awan memijat kepala. Tidak disangka, pertemuan dengan seorang perempuan bisa membuat pusing. Karakter Keina yang terus terang dan spontan sungguh tidak terprediksi untuk seorang Awan yang tebiasa dengan profil lembut seperti Liana. Memang, Liana juga tidak selalu lemah lembut. Ada masanya sang istri menjadi cerewet karena terlalu cemas. Namun, Keina terkadang manja tetapi lincah dan percaya diri sangat tidak terbaca oleh seorang Awan.
“Ko, kalau Elang ketemu Keina, kamu seringa da di tempat?”
“Tidak, Pak. Seringnya seperti tadi, kecuali kalau mereka makan siang di restoran bawah. Biasanya, Pak Elang meminta saya makan siang di meja yang tidak terlalu jauh dari mereka.”
“Baiklah. Habis antar saya kamu bawa saja mobil. Jika nanti ada kabar dari Dex, segera temui saya.”
“Mau cari makan dulu, Pak?” tanya Yoko setelah mengangguk.
“Nggak usah. Nanti saya delivery saja.”
Sesampainya di parkiran apartemen, Yoko membukakan pintu belakang mobil dan bemaksud mengantar Awan, tetapi ditampik. Awan menyuruhnya segera pulang karena dia tidak tahu kapan akan membutuhkan bantuan pria itu. Mereka sedang menunggu kabar dari Dex dan Awan bisa saja membutuhkan teman diskusi kelak.
Yoko ternyata tidak segampang itu menyerah. Dia memaksa untuk menemani sampai depan pintu. Pria dengan potongan rambut belah tengah itu merasa bersalah telah meninggalkan Elang pada hari kecelakaan.
“Sudahlah, Ko. Kamu itu asisten pribadi, bukan bodyguard. Kalau ada apa-apa, saya akan segera kabari kamu.” Awan menepuk pundaknya. “Lagipula, akan terlalu mencurigakan jika sampai terjadi dua kali kecelakaan terhadap orang yang sama dalama waktu dekat. Siapapun pelakunya, dia pasti akan lebih berhati-hati sekarang.”
Awan masuk ke gedung apartemen setelah berhasil meyakinkan Yoko untuk tidak mengikutinya. Sesungguhnya, Awan sendiri tidak yakin dengan kalimat yang baru saja diucapkan. Untuk saat ini, dia bisa terluka kapan saja dan di mana pun. Tidak ada jaminan dia akan selamat sampai Elang sembuh.
Otak lelahnya tiba-tiba menginginkan bubur ayam. Awan pun memesan menu tersebut melalui aplikasi pesan antar. Dalam waktu satu jam, bel pintunya berbunyi. Security membeikan makannan tersebut.
Awan menelepon Liana ketika makan malam, membuat sang istri mengomel pada pilihan menu makan malamnya.
“Makan bubur malama-malam, memangnya kenyang? Kalau nanti lapar lagi, gimana?” tanya Liana khawatir.
“Aku pesan dua porsi, kok. Satunya kumasukin ke kulkas.”
“Kak, jangan bikin aku khawtir, dong.”
“Aku lagi butuh penyemangat. Karena nggak ada kamu, jadinya ini aja.”
Liana menggeleng pelan. Meskipun paham, dia tetap mengkhawatirkan pola makan Awan. “Ya sudah. Yang penting Kakak sehat. Jangan sampai sakit,” ujarnya setelah Awan meyakikannya bahwa dia tidak akan kelaparan karena banyak tempat makan yang buka dua puluh empat jam di Jakarta.
“Keadaan kembaranmu gimana, Kak?” tanya Liana kemudian.
Awan mendesah pelan. “Belum ada perkembangan berarti. Kayaknya, aku masih akan lama di sini.”
“Nggak apa-apa. Take your time. Keluarga sedang butuh kamu.” Liana memberikan senyum manisnya. “Aku di sini baik-baik saja. Semuanya aman terkendali.”
“Maaf, ya. Kupikir nggak akan serumit ini kemarin.”
Liana menemani Awan hingga dia menyelesaikan makan malamnya. Sebelum menutup sambungan, wanita itu kembali berpesan agar Awan selalu menjaga kesehatan. “Jangan bikin aku khawatir selama di sana,” ucapnya.
“Aku mau deh, sakit. Siapa tahu kamu jadi nyusul ke mari kalau tahu aku sakit,” kelakarnya, menggoda sang istri.
Setelah merasa lebih baik usai bericara dengan Liana dan menghabiskan seporsi bubur ayam, pria itu menghubungi Yoko, berharap sudah ada info lebih banyak dari Dex.
“Sepertinya, kita harus menunggu sebentar lagi, Pak.”
Sembari menunggu kabar dari Dex, Awan membuka kembali foto-foto yang Yoko berikan di kantor. Dia mencoba mempelajari karakter berdasarkan foto-foto tersebut. Ada wanita pemilik mata tajam yang terlihat ambisius, menduduki posisi Manajer Keuangan. Ada juga pria pemilik senyum kikuk, Manajer Kepatuhan dan Legal.
Sebenarnya, tidak banyak wajah-wajah asing dalam bagan anggota dewan PT Mahantari Group. Mamanya merupakan Presiden Komisiaris, didampingi dua komisaris yang merupakan saudaranya juga suami. Dewan direksi diduduki oleh Ayah mereka, Elang, Dita, juga Pak Wangsa. Manajer Personalia diisi oleh adik Wiryawan Pradana, lalu ada Nolan yang menduduki posisi Manajer Pemasaran dan Pabrik, serta Seno, sang sepupu dari pihak sang Ayah, yang menjabat sebagai Manajer Komunikasi dan Relasi.
Bunyi bel kembali terdengar sekitar pukul sembilan. Yoko berada di depan pintu ketika Awan membuka daunnya. “Kukira Elang dapat tamu dadakan,” canda Awan pada Yoko yang biasanya masuk melalui kartu akses yang ada padanya.
Yoko meletakkan sebuah file di hadapan Awan. Ketika Awan bertanya, apakah dia sudah menmbacanya, Yoko menggeleng. “Saya menunggu isntruksi dari Bapak,” jawabnya ketika Awan menanyakan alasannya.
“Baiklah. Duduk, Ko,” perintah Awan karena Yoko terus berdiri di dekatnya.
Yoko terlihat sungkan. Pria berperawakan kurus itu tidak terbiasa duduk dan berdiskusi dengan atasannya.
“Anggap saja kalau saya teman yang sedang butuh saran. Jadi, kamu santai saja, jangan terlalu tegang gitu.”
Awan menyodorkan berkas yang tadi dia terima setelah selesai membacanya. “Kamu yang lebih kenal orang-orang di sekitar Elang, karena itu saya butuh analisis kamu terkait itu.”
Yoko mengangguk kala menyambut berkas dari tangan Awan. Di sana, terdapat data mengenai Senopati Prawira Pradana beserta rekap kegiatannya selama sebulan terakhir. Dalam file tersebut juga dijelaskan bahwa nama Seno bisa saja muncul sebagai kandidat Direktur Utama selain Elang.
“Analisi kamu, Ko?” Awan bertanya setelah Yoko selesai membaca informasi dari Dex.
“Saya pribadi merasa Pak Seno tidak mungkin menjadi direktur. Kinerjanya tidak buruk, tetapi tidak juga membuatnya dianggap mampu menduduki posisi tersebut. Profilnya juga kurang kuat, belum bisa mewakilkan wajah perusahaan menurut saya.”
Awan manggut-manggut seperti mahasiswa yang mendapatkan pemahaman baru dalam kelas.
“Ada hal mencurigakan terkait kegiatannya?”
Yoko membaca ulang informasi yang diterima lalu menggeleng. “Pak Seno memang sering menghabiskan waktu di bar sepulang kantor. Semua kegiatan ini memang rutinitasnya. Tidak ada yang perlu dicurigai.”
Yoko masih berada di sana hingga pukul sepuluh. Awan menanyakan banyak hal yang belum dia ketahui terkait informasi-informasi yang baru saja mereka dapatkan. Mengenai Seno dan ayahnya, pria itu berencana menanyakan hal tersebut pada Gantari. Dia yakin akan mendapat masukan dari sang Mama, atau setidaknya tambahan informasi berharga.
“Sepertinya, aku juga perlu informasi dari Dita. Tapi, gimana caranya?” gumam Awan pada diri sendiri ketika sudah berada di kamar dan bersiap tidur.