Sebuah Sisi Bernama Keina

2063 Words
Awan sedang menandatangani berkas terakhir ketika suara hak sepatu bergema semakin keras mendekati pintu ruangan. Ternyata, sekretarisnya datang untuk melaporkan rekap kegiatan hari ini sebelum pulang. “Pak, petugas lobi menyampaikan bahwa Ibu Keina sudah tiba,” tambahnya setelah selesai melapor. Awan meletakkan pena, menoleh ke arah perempuan yang berdiri di depan pintu. “Oke. Kalau sudah selesai yang lain, kamu boleh pulang.” Setelah mengangguk, sekretaris meninggalkan ruangan Awan. Lelaki itu melihat jam tangan, pukul tiga lebih beberapa menit. Tepat waktu juga tunangan Elang ini. Selang beberapa menit kemudian, pintu kembali terbuka. Kali ini, seorang gadis dengan rambut lurus diikat ekor kuda masuk. Bibir tipisnya langsung semringah begitu bertatapan dengan Awan. Bunyi pump heels setinggi sebelas senti meter membahana kala Keina berjalan menuju sofa tamu. Dia meletakkan belanjaan di meja, lalu menghempaskan tubuh di sofa. Lama Awan menatap gadis dalam balutan dress asimetris warna biru muda berbahu terbuka pada bagian kanan itu. Dia tidak tahu, sikap seperti apa yang biasanya Elang berikan pada Keina. “Kenapa bengong sih, Kak. Sini!” panggil Keina dengan suara ceria. “Atau perlu aku ke sana, gandeng Kakak buat ke mari?” Mendengar kata gandeng, serta Keina yang akan berdiri, Awan bergegas menghampiri gadis itu. Dia duduk berseberangan dengan Keina yang tersenyum saat dia duduk. “Kapan deh, Kakak nggak jaga jarak sama aku? Kayak baru kenal kemarin aja.” Awan sadar ada kekecewaan di sana. Namun, Keina mengucapkannya dalam nada ceria seolah itu hanya gurauan semata. Awan menatap makanan yang Keina letakkan di atas meja. Melihat arah pandangan Elang, Keina segera membuka kotak kue. “Aku bawain Kakak cheesecake sama chocolate froyo milkshake.” Awan menelan air liur menatap makanan juga minuman yang baru saja Keina keluarkan. Kini, dia tahu kenapa Yoko memperingatkannya untuk menyediakan banyak air mineral. “Kamu ke sini ada perlu apa?” tanyanya berusaha terlihat santai. Keina berhenti dari kesibukannya, memandangi Awan dengan tatapan bingung. “Perlu apa ya? Ketemu Kakak, lah. Apa lagi?” “Nggak, kupikir ada sesuatu,” dalih Awan. Dia merasa segan. “Apa aku perlu alsan khusus buat ketemu tunangan sendiri? Atau Kakak nggak suka aku datang? Apa lagi sibuk? Tapi katanya sore ini Kakak luangkan waktu buat aku.” Awan cepat-cepat menggeleng. Sesudahnya, dia memilih diam, tidak mau salah bersikap. Keina kembali tersenyum dan berkutat dengan penganan yang dibawa. Gadis itu membuka kotak kue, mengeluarkan milkshake dari cup holder, dan menusukkan sedotan ke tutupnya. Keina menatap sajian di meja, kemudian melihat ke salah satu pojok di belakang meja kerja Elang. Langkahnya terlihat ringan kala melangkah ke sudut yang tadi dipandanginya. Gadis itu membuka salah satu laci di rak sudut, mengambil piring dan sendok plastik dari sana. Hanya dari kejadian singkat itu, Awan menyadari bahwa Keina sudah sering dan sangat terbiasa dengan kantor ini. Dia jadi penasaran, seberapa sering gadis itu ke mari dan bagaimana sebenarnya hubungannya dengan Elang selama ini. “Dimakan, Kak,” ajak Keina setelah memindahkan kue ke piring-piring yang tadi diambilnya. Sekali lagi, Awan menelan liur. Dia menatap Keina yang sudah memasukkan suapan pertama kue tersebut. Dipandanginya gadis yang terlihat menikmati setiap kunyahan kue. “Kenapa nggak makan? Biasanya, Kakak nggak pernah nolak makanan manis.” “Masih agak kenyang,” kilah Awan. Keina meletakkan piringnya dan beringsut ke samping Awan. “Kalau gitu minum aja,” bujukmya seraya mendekatkan milkshake ke bibir Awan. Pria itu tidak bisa menolak. Dia menyeruput sedikit minuman yang dipegang Keina. Matanya menyipit. Manis dari minuman tersebut menyebar di seluruh lidah. Meskipun rasa khas yogurt cukup kental, tidak mampu menutupi manis yang mendominasi. “Kenapa? Kurang manis? Aku bawain sirup gula buat jaga-jaga.” Keina mengambil botol sirup dari dalam tas, memperlihatkan pada Awan dengan menggoyangkannya di udara. Dengan santai dia menekan botol hingga mengeluarkan banyak isinya. Gigi Awan ngilu melihat cairan kental yang kini berada di atas yogurt beku. Keina mengaduk semua komponen minuman sampai rata dan meminta Awan kembali meminumnya. Mau tidak mau Awan menyeruputnya sekali lagi karena ditunggui gadis berhidung bangir itu. Rasa dingin nan amat manis menyerang hingga ke kepala, membuat pria itu ingin kabur, tetapi tidak berkutik. Dia lantas berdiri, mengambil air mineral, meminumnya dalam tegukan besar. “Kok duduk di situ?” protes Keina ketika Awan tidak kembali ke sofa setelah minum, melainkan duduk di kursi kerja. Dengan percaya diri Keina menghampiri Awan, menggandeng tangan dan menariknya untuk kembali ke sofa. Setelah duduk, gadis itu masih tidak mau melepaskan gandengannya. “Nggak mau! Nanti Kakak kabur lagi,” tolaknya dengan nada merengek ketika Awan coba menampik. Ujung-ujungnya, Awan tidak punya pilihan selain membiarkan gadis itu bergelayut manja. Dia ingat ucapan Yoko, jika Elang tidak pernah menampik perlakuan manja Keina meskipun kembarannya tidak pernah bersikap manis atau membalas perlakuan gadis itu. “Jadi, bulan ini kita mau makan di mana? Minggu ini, ya?” todong Keina tanpa basa-basi. “Aku masih sibuk, ada proposal tender yang belum kelar. Sebentar lagi juga mau rapat direksi. Habis rapat ya?” “Nooo!” Keina histeris. “Rapat direksi itu udah ganti bulan, aku nggak mau. Harus bulan ini.” Awan tidak ingin banyak berinteraksi dengan Keina. Makan bersama bisa saja menjadi ajangnya mempertontonkan kebiasaan yang bukan milik saudara kembarnya. Pria itu tidak ingin tertangkap terlalu dini. Dia tidak bisa megnambil risiko membiarkan Keina menyadari kalau dirinya bukan Elang. “Bulan depan kita makan dua kali.” Tangan Awan membentuk huruf V. Sayangnya, gadis itu menggeleng. Wajahnya cemberut. “Aku nggak akan tertipu lagi. Bulan kapan Kakak juga pernah gini, janji dua kali makan bareng di bulan berikutnya karena sibuk. Nyatanya, cuma sekali. Aku nggak mau!” tegasnya. “Kalau gitu minggu depan.” Awan menatap penuh harap. Keina berpikir sesaat lalu mengangguk. “Oke deh. Minggu depan, ya. Janji?” Keina menyodorkan jari kelingking, dibalas Awan dengan menautkan kelingkingnya. Mata Keina membulat. Untuk beberapa saat dia mematung, menatap takjub pada jari mereka yang bertaut. Awan ingin menarik jarinya, tetapi ditahan. “Jangan dilepas!” Keina berteriak kecil. Gadis itu meraih tasnya tanpa melepaskan tautan. Dia terus mewanti-wanti agar Awan tidak berusaha melepaskannya. Keina kemudian menjepret momen tangan mereka yang bersatu dari berbagai sisi. Awan tersenyum kecil melihat tingkah tunangan Elang itu. Mendapati Awan tersenyum, Keina menelengkan kepala. “Tumben.” “Apanya?” “Ya ini, tumben. Biasanya, nggak pernah mau bikin pinky swear sama aku. Baru kali ini juga Kakak senyum gitu.” Mampus! Apa Keina sadar kalau gue bukan Elang? Awan cepat-cepat menetralkan wajah dan melepas tautan jari mereka. “Kakak hari ini beda, deh. Yakin udah benar-benar sehat?” Keina menatap khawatir. “Kalau belum sehat, mending jangan kerja dulu.” “I’m okay,” kilah Awan. Lama Keina menatap Awan, membuatnya kikuk, takut gadis itu akan menyadari lebih banyak keganjilan darinya. Dia mengambil piring kue Keina, menawarinya memakan lebih banyak. Tatapan gadis itu tiba-tiba berubah jahil. “Aku mau kalau Kakak yang suapin.” Keina mengerling sambil tersenyum manja. Awan meragu. Dia tidak tahu pasti respons apa yang akan Elang berikan pada situasi seperti ini. Jika ini Liana, sudah pasti dia akan langsung menyodorkan sesendok besar kue. Terkadang, dia malah menggodanya dengan mengoleskan krim ke pipi sang istri. Ketika Awan masih berpikir, dia dikagetkan dengan gerakan cepat dari Keina. Gadis itu mengambil tangannya, menuntun Awan mengambil kue dan menyuapkannya ke mulut. Tidak lupa Keina memotret momen tersebut dengan tangannya yang bebas. “Kelamaan nungguinnya,” Sosor Keina. “Kakak mikirin apa coba? Lagi ada aku, lho, di sini. Aku nggak pernah minta banyak waktu Kakak, jadi tolong pikirin aku aja kalau lagi berdua.” Keina ingin melanjutkan omelannya, tetapi Awan terlihat tidak mendengarkan, sibuk memikirkan hal lain. “Btw, Kei …” Awan menatap Keina. Keraguan sempat tebersit di mata. “Kamu lihat hal-hal aneh dan janggal nggak di sekitarku akhir-akhir ini? Sebulanan ini mungkin?” Keina yang asyik memakan kue berhenti mengunyah. Setelah beberapa saat, dia menatap Awan dan meggeleng. “Kamu yakin?” Kali ini, Keina mengangguk. “Kakak kenapa sih? Hari ini aneh banget,” tudingnya setelah lanjut mengunyah dan menelan kue. Awan cepat-cepat menggeleng, menyuruh Keina kembali melanjutkan makannya. Dia beranjak dari sisi Keina, mengambil ponsel di meja. Belum ada kabar dari Dex. Ketika ingin duduk di bangku kerja, Keina menatap tajam, membuat Awan akhirnya kembali duduk di sofa. Dia memilih tempat yang berseberangan dengan Keina. “Baru kali ini aku lihat Kakak gelisah begini.” Keina menaruh piring yang isinya sudah tandas. “Saingan tendernya berat ya?” Awan menganguk sekenanya. Dia bersandar di sofa sambil menyugar rambut, kemudian memejamkan mata. Pria itu merasakan gerakan di sebelahnya, tetapi tidak ingin menghindar. Sudah dua kali dia memilih tempat berseberangan, sebanyak itu pula tunangan Elang menempatkan diri di sampingnya. “Kak?” Suara Keina membuatnya tersadar dari lamunan. “Sori,” tukasnya pelan. “Kakak pasti capek. Baru habis kecelakaan, begitu keluar dari rumah sakit langsung kerja.” “Btw, kamu di mana waktu aku kecelakaan?” “Di dept. store dong, Kakak. Di mana lagi?” Awan tiba-tiba teringat bahwa pusat perbelanjaan yang dimaksudkan Keina adalah pusat perbelanjaan yang dikunjungi Bima pada hari Elang kecelakaan. Keina merupakan general manager di sana. “Kamu kenal Bima Adiwilaga dari Bimalaga kan? Saingan bisnisku. Hari aku kecelakaan, dia ada ke dept. store kamu. Kamu ada ketemu atau lihat dia?” Ekspresi wajah Keina tiba-tiba berubah. Dia seperti ingin menyampaikan sesuatu, tetapi kemudian malah menggigit bibir. “Kakak kenapa tanya-tanya soal Bima?” Kei bertanya balik, berusaha menghilangkan kegugupan. “Kakak nggak lagi nuduh aku selingkuh kan?” Sontak Awan tertawa lepas. Dia yang tadinya ragu bertanya karena takut gadis di sebelahnya curiga, tidak menyangka akan mendapat pertanyaan seperti itu. Keina membiarkan Awan puas tertawa, tetapi terus menatap bingung. “Kamu ada bikin salah ya, sama aku?” tembak Awan seusai tertawa lepas. Gadis di sampingnya tiba-tiba kikuk. Namun, dalam hitungan detik Keina kembali bersikap biasa. “Nggak! Aku nggak bikin salah, kok.” “Terus, kenapa tiba-tiba ngomong gitu?” “Habisnya … kakak nggak pernah nanya-nanya hal pribadi atau dengan siapa aku bergaul. Sekalinya nanya, malah soal cowok.” “Memangnya kamu ada hubungan sama Bima?” Keina menggeleng keras. “Kalau nggak ada apa-apa ya sudah. Aku nggak mencurigai apapun, kok,” imbuh Awan. “Kak,” panggil gadis itu pelan. Dia sempat tertunduk sebelum melanjutkan bicara. “Sebenarnya, ada yang mau aku sampaikan. Tapi …” Awan menunggu Keina bicara lebih lanjut. Wajah gadis itu terlihat serius. Namun, tiba-tiba dia tertawa. “Tapi nanti aja ceritanya, tunggu kita makan bareng,” godanya. Melihat Awan mengembuskan napas, Keina tersenyum puas. “Tumben-tumbenan aku bisa godain Kakak gini. Ternyata, lucu juga,” ujarnya bangga. “Aku nanyanya serius, Kei.” “Aku juga serius, kok. Ada yang aku bicarain, tapi nanti. Kalau kakak penasaran, luangkan waktu buat aku.” “Terserah, deh. Aku nggak penasaran.” “Bohong! Ngaku aja kalau penasaran.” “Nggak.” “Ya udah, aku ngalah. Kakak nggak penasaran. Emang selama ini juga nggak pernah penasaran tentang aku kan? Kalau aku nggak cerita, nggak pernah ditanya.” Keina tiba-tiba bangkit, membuat Awan merasa tak enak hati. Namun, dia mengurungkan niat untuk berkata banyak atau membujuk gadis itu. keina menatap Awan lalu tersenyum. “Tapi makasih ya, Kak. Hari ini aku senang, kakak udah mau nanya sesuatu sama aku. Kayaknya, hari ini hari kakak paling banyak ngomong sejak pertama kita kenal.” Keina mengecup sekilas pipi Awan lalu tersenyum manis. Gadis itu melambai sebelum dia menutup pintu, meninggalkan Awan dengan perasaan tidak nyaman karena merasa sudah mengkhianati Liana. Awan kembali ke kursi putar, berpikir sambil memainkan alis. Kembali bertemu Keina sepertinya bukan pilihan baik. Gadis itu bersikap sangat santai, tidak peduli dan sama sekali tidak terpengaruh dengan apapun yang Awan lakukan. Jika memang selama ini Elang bersikap dingin, Awan paham kenapa gadis itu bisa bertahan di sampingnya. Keina sama sekali tidak terlihat keberataan dengan semua perlakuan yang diterima. Entah itu optimis perasaannya akan berbalas atau memang dia sebenarnya tidak peduli, Awan masih belum bisa menebak. Bagaimanapun, menyatukan dua perusahaan besar melalui pernikahan akan memberikan banyak keuntungan. Awan tidak mau terlalu memikirkan hal tersebut, biarlah menjadi urusan Elang saja. Dia berada di sini sekarang hanya untuk menguak misteri di balik kecelakaan yang menimpa saudaranya. Namun, terkait Keina, Awan bisa memastikan menghindarinya adalah pilihan terbaik. Meskipun hanya sandiwara, dia merasa mengkhianati Liana juga Elang jika terus terjadi kontak fisik antara dirinya dan Keina. Lang, please, segera sadar. Harus lo yang makan bareng Keina.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD