Sikap aneh Andara

846 Words
Ernest menghela napas mendengar perdebatan di antara kedua wanita itu, kendati demikian, Andara langsung mengalah. Ia membawa pergi kotak makan ke dapur dan mengakhiri segalanya. Mungkin Andara lelah atau bahkan takut jika kehilangan pekerjaan? Padahal sekalipun mereka terlibat perkelahian hebat, Ernest tidak akan membuat keputusan bodoh dengan memecat Andara dari sini. Karena Ernest tahu, kedudukan Andara lebih tinggi karena perempuan itu adalah bawaan dari Maria. Ernest membuka earphone dan menyimpannya di nakas berikut benda berbentuk pipih di tangannya. Tatap matanya beralih pada Andara yang tertidur di ujung sana, Ernest menghela napas panjang. Sementara di tempat berbeda, Miko mengamati foto-foto Andara di layar ponselnya, dalam pekat dan dinginnya angin malam, ia berjibaku dengan benda pipih di tangannya. Mengenang momentum siang tadi ketika bersama dengan perempuan yang berhasil mencuri sedikit perhatiannya. Ia tersenyum sembari mengigit bibir bawahnya, melewati beberapa waktu bersama Andara adalah hal menyenangkan, tetapi pilihan untuk bersama apakah itu mungkin? Miko memutar beberapa kejadian di waktu-waktu dekat ini. Ia pernah mendapati Ernest yang seperti sedang kesal padanya ketika terlibat interaksi dengan Andara, laki-laki itu bahkan mendiami lebih dari setengah hari hanya karena paginya dirusak oleh keberadaannya dengan Andara di dapur. Mojo menyimpan kembali ponselnya, ia mengerucutkan bibir sembari melipat tangan di depan d**a. Jika pikirannya menduga-duga apabila Ernest memiliki perasaan pada Andara, itu adalah hal impossible, masalahnya Andara sangat jauh dari standart gadis kriteria Ernest. Miko menggeleng pelan, mengenyahkan pikiran yang masih berupa asumsi, jika memang dia ditakdirkan memiliki Andara, semesta pasti akan memiliki banyak cara menyatukan mereka. Jadi, Miko tidak dingin terburu-buru, membiarkan semuanya berjalan sebagai mana mestinya. Toh, dia bersyukur karena beberapa hari belakangan ini komunikasi mereka kian dekat. Miko beranjak dari posisinya, pergi ke kamar untuk beristirahat. Besok ia harus datang lebih awal karena sederet jadwal Ernest sudah menunggu di note. Melepas sandalnya kemudian merangkak menaiki kasur dan tidur pulas di sana. Esok harinya "Ringan sekali senyummu pagi ini?" Sarkasme itu terdengar menggelitik telinga Miko. Ia yakin, Ernest mengetahui apa yang terjadi di meja makan siang kemarin. Tidak mungkin tidak, Ernest tipe orang yang suka sekali memeriksa bagian-bagian rumahnya di sepanjang hari, memantau kegiatan semua orang di rumah, memastikan bahwa mereka benar-benar bekerja dengan benar sesuai perintahnya. "Saya tidur tepat waktu semalam, jadi tidak lesu." "Karena kemarin mendapat asupan?" Miko tidak menimpali, ia kembali mengembangkan senyum tanda setuju dengan perkataan Ernest. "Semakin ke sini, saya lihat kamu semakin ugal-ugalan mengejar Andara," tukasnya sembari mengambil sebatang bulpoin di meja dan membuka tutupnya. "Saya tidak berharap banyak, Tuan. Jika berjodoh ya saya bersyukur." "Bagaimana kalau tidak?" Ernest mengangkat tatapan, mengarahkan kedua bola mata tajamnya pada pria yang berdiri tegap di seberang meja. "Saya tidak bersedih, karena sejak awal memang tidak pernah berharap lebih untuk itu." Ernest mengangguk, menusuk-nusuk pipi bagian dalam menggunakan ujung lidahnya, kembali menekuni berkas-berkas di hadapannya. "Tapi, saya tidak suka dengan apa yang kalian lakukan di rumah saya." Sembari membubuhkan tanda tangan di salah satu berkas, ia pun berujar dengan kalimat menohok. Sebetulnya apa yang dilakukan Miko dan Andara dalam batas wajar, makan berdua di meja makan. Hal lazim seperti itu jelas saja tidak melanggar norma. Namun, entah mengapa di sudut pandang Ernest hal tersebut adalah perbuatan tidak dibenarkan? Miko tidak menyahut, hanya diam membiarkan Ernest terus berargumen. "Kalau semisal ada yang melihat kalian, apa kata para pelayan? Bagaimana jika ada gosip miring tentang kalian?" "Saya minta maaf, Tuan. Lain kali saya tidak akan mengulangi hal tersebut." **** "Saya tidak suka melihat ekspresi wajahmu itu," tukas Ernest langsung memberondong Andara dengan kalimat eksplisit. "Kalau ada masalah bilang saja, jangan seperti ini! Kamu pikir bagus bersikap begini pada bos?" Andara yang baru saja menyimpan sepatu milik Ernest berbalik badan dan kembali menghampiri pria di kursi roda. "Lalu, Anda mau saya bersikap seperti apa? Sok akrab, centil, cari perhatian? Maaf, itu bukan saya sama sekali." "Dara!" Dnegan segenap kesadaran penuh, Tangan Ernest menekan pergelangan tangan Andara, hingga perempuan itu urung beranjak. "Saya harus menyiapkan air mandi Anda." "Diam dan dengarkan saya bicara!" Andara menghela napas, apalagi ini? Kenapa banyak sekali masalah yang harus dia dapatkan? Terkadang, ia ingin sekali menyelesaikan misi itu dengan cepat, agar lebih ringkas lagi menetap di rumah ini, tetapi terkadang, ia begitu skeptis dengan misi ini–apakah semua akan berhasil atau tidak? Sehingga membuatnya ogah-ogahan melanjutkan apa yang diperintahkan Maria. "Naya, apa yang dikatakan Naya, tidak usah kamu masukkan ke dalam hati." Andara yang semula memalingkan wajah ke arah lain, lantas menoleh kasar ke arah Ernest, cukup tertarik dengan apa yang tiba-tiba pria itu bicarakan padanya. "Apa menurut Tuan ini semuanya tentang Naya?" sahut Andara ketus. "Memang apalagi? Bukannya sejak kedatangan Naya kemari kamu berubah sikap sama saya?" "Saya tidak beranggapan kalau sikap saya berubah, sejak awal saya begini pada Anda." "Oh ya?" Andara tidak berani terlalu lama membalas tatapan Ernest yang tajam, dari pada perdebatan ini berlanjut, lebih baik ia buru-buru pergi dari sana. Kembali pada kegiatan yang seharusnya dia kerjakan sedari tadi. "Saya belum selesai, Dara!" "Saya harus berkerja, Tuan. Biarkan pembicaraan kita ini selesai, tolong tidak perlu mempermasalahkan sesuatu yang seharusnya tidak perlu." Kembali diayunkan kaki itu, benar-benar meninggalkan Ernest dalam keadaan dongkol. "Dara!" "Dara!"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD