bc

Gadis Pelayan Tuan Mafia

book_age18+
0
FOLLOW
1K
READ
contract marriage
HE
arrogant
heir/heiress
bxg
kicking
secrets
assistant
like
intro-logo
Blurb

Karena terlibat hutang dengan seorang rentenir, Andara Moris terjebak menjadi seorang pelayan untuk seorang Mafia– Ernest Atmajaya–Mafia yang memiliki sikap diktator yang keadaannya saat ini sedang mengalami kelumpuhan. Masuk ke dalam lingkar kehidupan Ernest, membuat kehidupan Andara menjadi berubah seratus delapan puluh derajat. Bagaimana kisah perjalanan Andara selama terjebak menjadi pelayan pria tersebut?

chap-preview
Free preview
Saya bersedia
"Sudah lewat satu Minggu, mana uang yang kamu janjikan?" Andara tertunduk lesu, tidak berani menatap sedikitpun iras wanita yang saat ini berada di depannya; menagih hutang. "Kenapa diam? Jangan bilang kamu belum ada uang! Saya tidak bisa mentolerir lagi, ya. Karena jujur saya lelah punya urusan sama kamu. Kamu terlalu ribet orangnya." Andara mendesah pelan, tak lama setelahnya ia memberanikan diri menatap Maria. Meski jauh dalam lubuk hati serasa gentar dipelototi sengit. Sedang mencoba peruntungan, mana tahu usahanya kali ini membuahkan hasil baik. "Maaf, Madam. Saya belum ada uang." "Lalu?" Alis perempuan berpenampilan parlente itu menukik tajam. "Bo-boleh saya minta tenggat waktu lagi?" Seusai mengatakan hal demikian, Andara mengigit bibir bawah. "Benar kan dugaan saya? Kamu pasti akan molor lagi. Astaga, yang benar saja!" Andara meringis miris, sepertinya usahanya berakhir sia-sia karena reaksi yang ditunjukkan oleh Maria tidak sesuai ekspektasi. "Tidak ada tenggat waktu. Saya tidak mau ahu. Kamu sendiri yang sanggup akan bayar tanggal sekian, dan sekarang tolong kooperatif untuk bayar." Jari telunjuk Maria, menekan-nekan permukaan meja kayu di depannya. Dipejamkan kedua mata mendapat desakan demikian. "Tapi, saya belum ada uang, Madam. Saya janji–" "Husss basi. Tidak usah janji-janji lagi. Karena saya muak sama janjimu! Pokoknya saya mau uang itu ada sekarang, titik!" Maria bersikeras ingin uangnya kembali saat itu juga, membuat Andara tercekik. Seandainya saja uang itu sudah disiapkan, Andara juga tidak mau menunda-nunda pembayaran, apalagi membuat Maria tarik urat begini. "Tunggu apa lagi?" "Saya benar-benar tidak punya uang, Madam. Saya serius. Maafkan saya ..." Andara tidak ada pilihan selain menundukkan kepalanya kembali. Memilin kelima jarinya karena mendadak diserang rasa takut dan gugup. "Hadeh! Saya bingung sama kamu, kalau tidak sanggup membayar, kenapa harus pinjam? Oh, ya ampun, benar-benar manusia satu ini." Tubuhnya bergeming mendengar ucapan sengit tersebut. Meminjam uang pada Maria seharusnya tidak masuk dalam opsional. Tetapi, karena situasinya cukup mendesak, mau tak mau dia memberanikan diri meminjam tanpa mempertimbangkan konsekuensi dari surat yang ditandatangani secara sadar dan bersifat sah di mata hukum. "Oke, saya kasih kesempatan untuk terakhir ini. Saya kasih waktu kamu satu hari untuk membayar lunas hutangmu sebesar dua ratus juta." "Sa-satu hari?" "Kenapa? Keberatan? Satu hari atau tidak sama sekali, Andara." Kepalanya terpaksa mengangguk meski dalam hati dan otaknya berseru kompak "tidak yakin." "Ingat baik-baik! Kalau besok uang itu masih belum ada, saya tidak segan lagi untuk menjebloskan kamu ke penjara. Paham!" Sembari bangkit dari kursi berbahan plastik di teras rumah, perempuan tua itu memberikan peringatan. Dan bergegas pergi setelahnya *** Andara duduk sembari menatap langit yang dihiasi oleh bintang-bintang. Menyandarkan sisi kepala pada pilar berukuran kecil di teras rumah. Pikirannya tidak pernah berhenti bekerja sejak sore tadi, memikirkan bagaimana cara membayar hutang pada Maria esok hari. Ia menghela napas panjang, seandainya saja ayahnya tidak meninggal dalam keadaan berhutang, mungkin Andara tidak akan berurusan dengan rentenir. Tapi, apa boleh buat? Dia adalah erempuan kelahiran Jakarta, 26 Februari dua puluh tiga tahun silam. Berperawakan tinggi dengan postur proporsional. Hidup dalam keluarga sederhana, tetapi cukup harmonis. Ayahnya seorang supir, sedang ibunya berstatus ibu rumah tangga biasa. Andara bahagia hidup dalam ruang lingkup keluarga tersebut, karena peran kedua orang tua yang saling melengkapi, ia tumbuh besar dengan psikis yang sehat. Tak berselang lama, nasib nahas menghampiri. Ketika usianya belum genap lima belas tahun, Andara terpaksa kehilangan sang ibu, lalu berapa tahun kemudian, setelah ia menginjak usia 22, ayahnya menyusul kepergian sang ibu dengan mewarisi banyak hutang. Hal paling ironis, bak jatuh tertimpa tangga, Andara benar-benar merasa dunianya telah berputar seratus delapan puluh derajat. *** "Dari mana saja? Saya sudah menunggu lumayan lama di sini. Bagaimana? Sudah dapat uangnya?" Baru saja tiba di teras rumah, Maria langsung memberondong pertanyaan padanya. Andara tidak bisa berbuat banyak selain hanya menghela napas. "Saya dari makam ayah. Dan soal uang itu ... sampai sekarang saya belum berhasil mendapatkannya, Madam. " "Astaga, Dara. Kamu ini bagaimana? Kentara sekali kamu tidak ada usaha. Dari sekian banyak debitur hanya kamu yang bebal. Padahal hutang mendiang ayahmu cuma dua ratus juta." Cuma dua ratus juta? Bagi orang kaya seperti Maria dua ratus juta teramat kecil, tetapi berbanding terbalik dengannya yang miskin ini. Andara tersenyum getir ketika ekor matanya menangkap sosok-sosok di sekelilingnya. Disaat ia benar-benar butuh pertolongan, semua tampak solid menutup rapat pintu kontrakan, tetapi begitu mendengar keributan tentang dirinya–yang ditagih hutang pagi ini–mereka semua tertarik menyaksikan tontonan gratis ini. "Saya sudah berusaha, Madam. Tetapi untuk jangka waktu sekian memang tidak mudah didapat mengingat nominalnya sangat besar." "Pintar sekali kamu bicara, itu semua salahmu yang tidak berniat mengumpulkan uang. Kamu bosan hidup bebas ya, minta dipenjara saja? Sangat mudah bagi saya menyeret kamu ke penjara saat ini juga." Maria memberikan ancaman sembari melipat tangan di d**a. Seketika itu Andara mulai merendahkan harga dirinya, lututnya tertekuk menyentuh tanah, menengadah untuk memohon pada wanita di hadapannya. "Jangan, Madam. Saya mohon! Jangan penjarakan saya. Tolong!" Andara jelas tidak mau menghabiskan masa depannya hanya dengan mendekam dalam penjara. Ayahnya di alam sana pasti kecewa jika tahu anak kebanggaan harus berakhir mengenaskan di balik jeruji. "Bayar hutang tidak mau, dipenjara pun tak mau. Saya tidak punya banyak waktu meladeni kamu, Dara. Berdiri dan kita selesaikan ini di kantor polisi." Maria bersikukuh, membuat Andara semakin mempererat genggaman itu. "Saya janji bersedia melakukan apa saja asal jangan dipenjara!" ucapnya penuh kesungguhan. Maria tidak langsung merespon, tetapi tersemat sesungging senyum yang tak terbaca begitu ia memindai keputusasaan Andara di bawah sana. "Kamu yakin dengan ucapan kamu?" Kepalanya mengangguk pasti. "Baiklah! Saya ada pilihan lain. Bekerjalah di rumah Ernest. Jadilah pelayan pribadinya. Bagaimana?" Andara menegang di tempat saat itu juga, berusaha menelan saliva meski harus susah payah. Menjadi pelayan untuk seorang pria diktator semacam Ernest? Meski tidak mengenal sosok itu secara langsung. Namun, Andara cukup tahu bagaimana sepak terjang pria itu. Ernest Atmajaya ... sangat buruk! Dia banyak mendengar rumor seperti itu dari mulut orang-orang, karena beberapa di antaranya pernah menjadi pelayan di rumah Ernest. "Bagaimana?" Maria bergegas kembali memastikan. "Baiklah, saya bersedia, Saya bersedia menjadi pelayan Tuan Ernest." Akhirnya, Andara masuk ke dalam jebakan Maria.

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
189.5K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
234.2K
bc

TERNODA

read
199.2K
bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
31.1K
bc

B̶u̶k̶a̶n̶ Pacar Pura-Pura

read
155.9K
bc

Setelah 10 Tahun Berpisah

read
68.6K
bc

My Secret Little Wife

read
132.3K

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook