Andara membawa satu tas besar berisi beberapa potong baju beserta beberapa perlengkapan lain, setelah dirinya sekarang telah berada di dalam mobil mewah milik Maria. Banyak hal yang ditinggalkan di rumah itu, karena selain sulit membawanya, Andara merasa benda-benda miliknya tidak cocok dibawa masuk ke dalam rumah megah milik si lintah darat ini.
Selepas dirinya menyetujui tawaran Maria. Perempuan berambut emas itu langsung menyuruhnya berkemas hari ini juga. Sedikit speechless, tetapi apa boleh buat? Meski belum menyiapkan mental karena harus berhadapan dengan Ernest secepat ia membuang napas.
Selama perjalanan, Andara beberapa kali mengembuskan napas pelan dan teratur, sebisa mungkin suara napas itu jangan sampai didengar oleh sepasang telinga yang sedang duduk manis di kursi dekat supir.
Jujur saja, perasaannya bercampur aduk sekarang, antara takut dan gelisah, semuanya bersatu padu menggangu pikiran. Bahkan dalam kepalanya juga sudah menerka-nerka bagaimana kehidupannya nanti setelah benar-benar menjadi pelayan Tuan muda tersebut. Hah ... semoga hidupnya baik-baik saja dan tetap waras.
Sebetulnya ada sebongkah pertanyaan yang membeku sebab belum berani mempertanyakan.
Yakni;sudah berapa banyak pelayan yang bekerja pada Ernest? Apakah semua yang keluar dari sana tidak dalam kondisi memprihatinkan?
Tanpa sadar, kedua sorot tajam melirik ke arah kaca spion dan menatap Andara yang sibuk termangu di bangku belakang. Lama kelamaan, kedua netra itu menyipit, menandakan bahwa empunya sedang menarik kedua sudut bibirnya ke atas.
Setelah menempuh perjalanan kurang lebih satu jam lamanya, akhirnya mereka tiba di rumah besar milik Ernest. Rumah dengan bergaya modern dan arsitektur elegan. Bangunan yang berdiri kokoh di atas tanah itu, selain memiliki lantai yang banyak, ukurannya juga sangat luas. Dalam pikirannya kembali memperhitungkan, berapa banyak asisten rumah tangga yang diperlukan untuk mengatasi kebersihan rumah ini?
"Jangan hanya melamun, ayo masuk!" Tepukan di bahunya, membuat lamunan Andara terjeda. Kepalanya menoleh ke samping lalu mengangguk sopan.
Gadis itu mulai bergerak mengikuti langkah Maria dibelakangnya, memasuki pintu utama dengan gaya double swing.
Melihat pintu terbuka otomatis setelah mereka hendak masuk pun membuat Andara memekik tanpa sengaja, Maria yang semula sibuk menatap lurus ke depan tiba-tiba menoleh ke belakang seraya menggeleng pelan.
"Maaf, saya tidak sengaja," ucapnya sedikit malu atas aksi spontanitasnya. Baiklah, menggeser sejenak kesedihannya lantaran sibuk mengagumi seisi rumah besar ini, hingga tak terasa beberapa pelayan datang menghampiri.
"Selamat pagi, Nyonya?" sapa mereka secara bersamaan.
"Ya, pagi. Apa Ernest ada di dalam?"
"Ada, kebetulan baru selesai minum obat, tapi, beliau sedang–eum..." Dahi Maria mengerut untuk beberapa saat sebelum akhirnya memudar perlahan.
"Oh, ya sudah, tidak usah dilanjutkan! Saya udah tahu apa jawabannya. Sekarang, kalian kembali ke perkejaan masing-masing. Dan kamu, Rin. Buatkan minum untuk tamu saya."
"Baik, Nyonya." Ketiganya secara kompak berbalik badan dan pergi dari sana, jangan salah! Semenjak tadi sepasang mata Andara memerhatikan cara-cara para pelayan di sini. Mereka benar-benar terlatih dengan baik.
"Ernest, kenapa kamu masih saja? Hah ..." gerutuan Maria, terdengar begitu jelas di telinga Andara. Tetapi, ia tidak dapat memahami apa maksud dari ucapan tersebut.
"Dara!"
"Ya?"
"Saya mempercayakan kamu sebagai perawat Ernest. Urus dia dengan sebaik mungkin. Pokoknya tanggung jawab atas dirinya saya serahkan penuh sama kamu."
"Baik, Madam."
"Oh, satu lagi. Jangan sampai saya melihat dia membawa wanita ke dalam rumah ini!"
"Membawa wanita ke dalam rumah ini? Untuk apa?"
Pertanyaan yang cukup menggelitik, tetapi tak ayal membuat Maria tertawa, karena di sini ia harus tetap memperlihatkan kewibawaan.
"Untuk bermain, memangnya apalagi?"
"Tapi, Tuan Ernest sedang lump–upss." Buru-buru Andara menutup rapat bibirnya ketika Maria memberikan tatapan tajam seakan siap menghunus.
"Eum maksud saya kakinya sedang tidak berfungsi sementara. Lantas, bagaimana bisa ,dia membawa wanita masuk ke dalam rumah ini?"
"Kamu ini polos atau memang bodoh? Kamu tidak lihat sejak tadi banyak orang yang diperkerjakan oleh Ernest? Sudahlah, jangan lagi kamu mengajukan pertanyaan."
****
Ernest menatap tidak suka sosok Andara yang berada tak jauh darinya. Ekor mata setajam elang itu sedari tadi sibuk memindai penampilan gadis yang baru menginjak dewasa tersebut ari ujung kaki hingga kepala, dalam kebisuan yang merajai sekitarnya.
Manusia macam apa yang dibawa kemari, Ya Tuhan.
Hingga keheningan itu pecah oleh suara Maria, menjamah telinga Andara pun Ernest di sini.
"Namanya Andara, dia yang akan menjadi pelayanmu selanjutnya. Tolong jangan buat ulah lagi dan berakhir seperti pelayanmu sebelumnya lari tunggang langgang."
Ernest memutar jengah bola mata, merasa ucapan Maria merusak harga dirinya sebagai seorang pria dewasa yang bersahaja, seharusnya nasihat seperti itu lebih cocok untuk anak-anak, bukan dia.
"Saya tidak suka. Bawa dia pergi dari sini." Tanpa mempedulikan bagaimana perasaan Andara karena diusir secara tidak hormat, Ernest tetap melakukannya. Laki-laki berusia nyaris tiga puluh tahun itu tidak pandai dan tidak suka bersikap manipulatif. Maria buru-buru menyanggah, tentu saja perempuan yang telah merawat Ernest sedari kecil itu, tidak bisa mengabulkan perintah Ernest yang terkesan seenak jidat
"Tapi, Mama suka Andara, Ernest. Percayalah, dia adalah sosok yang terampil."
"Lalu?"
"Dia bisa mengurusmu dengan baik. Mama jamin itu."
"Setidaknya berpenampilan sedikit manusiawi, tidak cupu dan udik seperti ini." Ernest secara terang-terangan menunjuk dagunya pada Andara.
"Penampilan bukan tolak ukur untuk memastikan isi hati manusia, Ernest. Seharusnya kamu belajar dari pengalaman." Telinga Andara melebar sempurna, sedikit takjub mendengar jika penuturan Maria tidak hanya sebatas marah-marah saja.
Ernest berdecak, kedua tangannya mendorong menjauhkan kursi roda dari keberadaan dua perempuan berbeda generasi yang sejak tadi membuatnya sakit mata.
Melihat Ernest tampak menyerah dan pasrah, Maria tersenyum puas. Meski statusnya merupakan ibu sambung, tetapi kasih sayang Maria pada laki-laki yang dianggapnya anak kandung itu begitu besar. Ia mencurahkan segala kasih sayang tanpa terkecuali dan tanpa minta balas budi.
"Wataknya memang keras, kamu harus bersabar. Ingat! Tugas kamu tidak hanya mengurus dia dengan sebaik mungkin, tetapi juga mengubah kebiasaan buruknya."
"Tapi–"
"Saya yakin kamu bisa, Dara." Meski meragu tak yakin atas kehebatan dirinya, Andara mengangguk dua kali.
Bagaimana caranya? Sementara pada Maria saja, ia cukup bisa menggambarkan situasi hubungan antara ibu dan anak sambung itu. Ya, seperti pada umumnya yang dilihat pada sekitarnya, mereka tidak akur.
"Boleh saya bertanya, Madam?"
"Apa?"
"Seberapa lama saya harus menjadi pelayan Tuan Ernest sebagai ganti hutang saya?"
"Sampai Ernest sembuh."
Dan Ernest takkan pernah sembuh kecuali ada keajaiban.