Mengenali sosok Tuannya

1010 Words
"Untuk tugas pertamamu, antar makanan ini pada Tuan Ernest." Pelayan bernama Ririn yang bertugas memasak untuk Ernest, menyerahkan troli stainless berisi makanan lengkap memenuhi taraf empat sehat lima sempurna. Yang pada masing-masing wadahnya sudah ditutup oleh cling wrap. Persis seperti di rumah sakit. Andara tertegun beberapa saat, diperhatikan secara mendetail makanan apa saja yang tersaji di sana. "Jam makan siang sebentar lagi tiba. Jangan sampai terlambat mengantarnya. Nanti Tuan muda bisa mengamuk." Andara menoleh ke arah Ririn, ia mengerutkan kedua alis pertanda butuh sebuah penjelasan secara spesifik. Hal itu membuat Ririn mendesah pelan sebelum akhirnya berbagi informasi tentang Ernest, karena walau bagaimanapun Andara perlu tahu bagaimana sikap majikannya. "Semenjak sakit, beliau memiliki tingkat emosional yang tidak stabil. Banyak hal yang dipermasalahkan padahal kami merasa apa yang kami lakukan sudah benar. Makanya perlu kamu perhatikan hal sekecil apa pun itu Jangan sampai membuat moodnya rusak dan membuat kami semua terkena imbas karena kemarahannya. Beliau sedikit mengerikan. Sudah banyak yang keluar tidak betah menghadapi sikap beliau." Andara mengangguk, ia mengerti sekarang. Tangannya terulur mengambil alih gagang troli dan bergegas pergi memasuki lift menuju lantai dua. Di dalam benda berukuran persegi itu, Andara berusaha membuang napas berkali-kali, semoga saja Andara tiba di kamar Ernest tepat waktu sehingga tidak ada alasan bagi pria itu mengoceh padanya. Ting! Hanya perlu waktu dua detik, lift tiba di lantai dua. Dan keberadaan lift itu rupanya tepat di dalam kamar Ernest. Andara menarik kesimpulan jika lift ini adalah alternatif yang digunakan secara khusus oleh Ernest. "Selamat malam, Tuan," sapanya, mendekat sembari mendorong troli ke arah ranjang. Di sana Ernest sedang membaca buku tebal yang diyakini adalah buku filsafat. "Makan malam Anda sudah siap, silakan dinikmati!" Andara menyerahkan sepasang alat makan, tetapi sebelum digunakan, ia membersihkan terlebih dahulu alat makan itu menggunakan tisu basah. "Ini." Andara menyodorkan benda itu tepat di depan wajah Ernest, membuat Ernest yang semula fokus membaca kini menghentikan aktivitasnya dan bergegas menutup buku itu rapat-rapat. Menyimpannya di atas pangkuan kemudian melepas kaca mata baca dan menyimpan tepat di atas buku. Kedua netra coklatnya mengarah tajam pada Andara di hadapannya. "Apa yang kamu lakukan? Apa Ririn tidak memberi tahumu bagaimana cara memberi saya makan?" Pertanyaan bernada dingin itu membuat perasaan Andara tiba-tiba tidak enak. Ia kembali menurunkan benda di genggamannya kemudian menjauhkan tangannya dari Ernest. "Sudah. Saya sudah diajarkan banyak hal tentang tata cara merawat Anda. Termasuk tentang mengantar makanan lalu menyiapkan sendok dan garpu untuk Anda. Saya sudah menerapkannya," sahut Andara santai. Membuat darah Ernest mendadak mendidih. Ini baru pertama kali mereka berinteraksi, tetapi Ernest sudah dibuat meradang oleh tingkah gadis ini. Sebetulnya tidak ada yang salah atas ucapan Andara, tetapi entah mengapa, sikap yang ditunjukkan oleh gadis itu terlihat menyebalkan di mata Ernest. Berbeda dengan pelayan yang lain, Andara terkesan meremehkannya. Dan Ernest benci diperlakukan seperti itu. "Suapi saya!" "Hah? Su-suapi?" Andara mendadak linglung. "Ya, selain hanya mengantar makanan, kamu juga perlu menyuapi ke dalam mulut saya. Paham!" Andara sedikit bingung, sebab Ririn tidak mengatakan jika harus turut menyuapi Ernest ketika makan. "Kenapa hanya diam? Lakukan sekarang! Kamu sudah membuang dua menit waktu makan siang saya. Kalau tidak niat berkerja lebih baik pulang! Dasar tidak becus." "Oh, iya, maaf." Dengan cekatan, Andara mulai mencampurkan sayur dan lauk pada nasi yang tersaji, lalu mulai melakukan tugasnya yaitu menyuapi Ernest. Usut punya usut nasi yang hendak di konsumsi ini lebih dulu ditimbang, tidak boleh kurang dari 350gr pun lebih. Astaga ... ternyata selain killer, laki-laki di depannya ini juga ribet setengah mati. "Berhenti berisik!" Andara terhenyak, menatap Ernest dengan raut keheranan. Berisik? Perasaan dia tidak bicara sama sekali dari tadi? "Ya?" "Fokus urus saya, berhenti berpikir macam-macam. Mengerti!" "Baik, Tuan." Andara memilih melakukan perintah dari Ernest, dia berhenti berpikir, menyimpan sebentar benang-benang pikiran yang berserabut. Dan menyuapi pria itu dengan cukup telaten. Jangan anggap ia baik-baik saja berada dalam posisi seperti ini, jantungnya bertabuh riuh tak menentu. Ingin segera mengakhiri kegiatan ini dan hengkang dari kamar ini. **** "Bagiamana? Sudah selesai?" Andara menatap satu persatu wajah para manusia yang kompak menyambutnya di depan pintu lift, termasuk Ririn sendiri. Ekspresi mereka selaras, sama-sama cemas. Jujur ia merasa heran dengan situasi ini. Ada apa? "Sudah, kalian ... sedang apa di sini?" "Kami semua ingin memastikan kamu baik-baik saja. Sebab dari tadi kamu tidak turun-turun." "Oh, astaga ... kupikir ada apa?" Andara terkekeh pelan, menutup bibirnya dengan sebelah tangan. Kendatipun begitu, tawa itu tidak menular pada mereka yang masih tampak khawatir. "Aku baik-baik saja kok, Bi. Tenang saja. Jangan cemas lagi, ya." Usai mengatakan hal demikian, mereka yang semula merasakan ketegangan luar biasa lantas mengendurkan otot-otot saraf masing-masing. "Sekarang kalian bubar. Selesaikan pekerjaan yang belum dituntaskan." Terhitung ada delapan pelayan yang membubarkan diri terkecuali Ririn. Selepas kepergian mereka, Ririn merapat pada Andara. "Kamu benar baik-baik saja kan?" Masih belum puas dengan jawaban yang diberikan Andara, Ririn kembali mengudarakan tanya yang sama "Iya, Bi. Bisa Bibi lihat keadaanku. Tidak ada kurangnya kan?" Ririn mengangguk lega, kemudian tersenyum tipis. "Syukurlah, tapi kenapa kamu lama sekali? Seharusnya begitu mengantar makanan, kamu langsung turun dan kembali naik setelah mendapat aba-aba dari Tuan melalui mikrofon." "Bukannya setelah mengantar makanan, kita harus menemani tuan demi memastikan makanan yang dimakan habis?" "Hah? Aturan siapa itu? Jangan mengubah peraturan sembarangan." Ririn mulai ketar-ketir, ia takut jika Andara melakukan kesalahan, menyimpang dari prosedur yang sudah diajarkan sebelumnya tadi. "Bukan aku. Tapi, Tuan. Tuan sendiri yang bilang," sahutnya polos. "Tu-tuan bilang begitu?Yang benar?" Ririn terlihat sangat shock. Selama bekerja di rumah mewah ini sampai dia diangkat menjadi kepala pelayan, tidak pernah sekali saja Ernest mengubah peraturan yang sudah ditetapkannya sejak dulu. Tetapi ini apa? "Hmm, kenapa, Bi? Apa ada yang salah? Kenapa muka bibi jadi terlihat aneh?" "O-oh, tidak. Ya sudah bawa troli ini ke dapur dan peralatan makan beliau langsung kamu sterilkan. Untuk cairan cuci piring yang dipakai, sudah saya siapkan di bagian wastafel khusus. Jangan lupa, bilas sampai bersih, pastikan tidak ada bau yang melekat." Andara mengangguk patuh, berlalu begitu saja meninggalkan Ririn yang masih dalam keadaan terkejut parah. Apa tujuan Tuan Ernest? Kenapa perasaanku mendadak tidak enak pada gadis ini. Ya Tuhan ...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD