Semalam tinggal di sini, Andara merasa kualitas tidurnya jauh lebih baik, mungkin karena sekarang terlepas dari lilitan hutang, dan mendapatkan tempat tidur yang layak, jadi ia dapat melewati waktu istirahat dengan sangat tenang. Jam sudah menunjukkan angka empat, itu artinya Andara harus bersiap-siap membersihkan diri sebelum memulai pekerjaan. Meski Andara tidak terbiasa keramas pagi hari, tetapi demi sebuah pekerjaan dia akan melakukannya. Sebab, Ririn bilang, Ernest sangat menjaga kebersihan, baik itu dari rambut hingga ujung kaki. Jangan sampai tercium bau tidak enak yang membuat Ernest melimpahkan kemarahan.
Setelah beberapa kali meregangkan otot, Andara bergegas ke kamar mandi, tidak perlu lama-lama, yang penting badan bersih dan wangi.
Setelah itu, ia keringkan rambutnya menggunakan hairdryer yang tersedia di kamar dan mengikatnya rapi.
Ririn bilang, rambut harus terikat rapi, jangan sampai digerai karena hal itu bisa saja membuat pemiliknya terganggu dalam melakukan pekerjaan. Setelah mengganti pakaian dengan yang bersih dan menguncir rambut, Andara keluar kamar yang ditiduri, dan bergegas ke dapur.
Di sana, pada pelayan sudah berkumpul untuk siap-siap bekerja. Mereka mengenakan seragam dengan warna serupa, tak lupa rambut mereka digelung dan memakai harnet Benar-benar sangat disiplin, pikir Andara.
"Selamat pagi semua ..."
"Pagi, Dar. Bagaimana hari pertamamu menginap di sini?" Yuniar, mengajukan pertanyaan pada Andara.
"Syukurlah, aku bisa tidur dengan nyenyak."
"Syukurlah, kami senang mendengarnya. Semoga kamu betah kerja di sini, ya," timpal yang lain. Membuat Andara merasa hangat mendapatkan perhatian. Untung saja dari sembilan pelayan di rumah ini tidak satupun dari mereka yang memusuhinya, apa karena keberadaannya di sini karena di bawah naungan Maria? Entahlah, yang jelas, asal tidak ada perundungan semua akan baik-baik saja.
"Sarapan dulu, kamu sudah selesai barusan."
Andara mengangguk, mendekat pada meja makan dan mulai mengambil nasi. Makanan yang tersaji benar-benar beragam, makanan khas Nusantara yang membuatnya menelan liur berkali-kali.
"Untuk menghasilkan makanan sebanyak ini, jam berapa Bi Ririn hrus bangun?"
"Jam tiga. Dan aku dibantu oleh yang lain untuk menyelesaikannya."
Andara mengangguk, ia mengambil satu ekor ikan mujair dan menyimpannya di atas piring.
"Aku makan dulu, ya."
"Oke. Usahakan setelah makan cucu mulut dan tangan yang bersih, jangan sampai ada bau amis ketika berinternet dengan Tuan."
"Baiklah. Aku akan melakukannya."
****
Tepat pada pukul lima pagi, Andara sudah standby di kamar besar milik Ernest, dia sudah selesai menyiapkan setelan kerja yang sesuai catatan yang ada di note.
"Dara!"
"Ya, Tuan?" Andara menyimpan note berukuran kecil beserta pena di atas meja.
Menghampiri Ernest yang masih terlihat mengantuk jaten baru saja membuka mata.
"Mandikan saya sekarang!"
Kedua kali, Andara terkejut karena diminta untuk memandikan Ernest, dari sekian banyak jadwal yang dibawa di note. Tidak satupun ia temukan perintah untuk memandikan Ernest.
"Saya?" tanya Andara sedikit konyol sembari menunjuk diri sendiri.
"Iya, siapa lagi. Saya masih cukup waras bicara pada benda mati." Seketika itu juga, Andara menyesali ucapannya karena perubahan raut wajah Ernest langsung tidak bersahabat.
"Baiklah!"
Mau tidak mau, Andara yang belum pernah melakukan ini sebelumnya terpaksa menerima perintah itu. Sebab, ia tidak ingin dipecat dari pekerjaannya dan berakhir di penjara seperti ancaman Maria.
Perlahan tapi pasti, Andara mulai bergerak membantu Ernest, ketika tubuh mereka tak berjarak, saat itu juga Andara memejamkan mata, menghidu aroma tubuh Ernest yang begitu wangi, meski pria itu bangun tidur.
"Jangan sampai jatuh! Awas kalau sampai buat saya jatuh."
"Iya, Tuan," sahut Andara sembari memutar bola matanya.
Selama memandikan Ernest, Andara harus menahan napas, sebab gugup selalu melanda. Selain itu, aroma sabun yang dipakai oleh Ernest benar-benar memabukkan. Andara hanya takut terlena, itu saja.
Selama proses memandikan Ernest berlangsung, Andara sebisa mungkin tak banyak bicara dan tak banyak melakukan kontak mata meski tahu dia sedang mendapat tatapan tajam dari pria yang duduk diatas kloset itu.
Lima belas menit berlalu, Keduanya keluar dari kamar mandi, Andara sedikit basah karena seringnya terkena percikan air. Tetapi, hal itu diabaikannya, yang penting sekarang adalah, ia sudah selesai dengan tugas pertama di pagi ini.
Pukul 06.30 rentetan kegiatan sudah di lakukan, hanya perlu menunggu Miko–asisten pribadi Ernest–datang dan membawanya pergi ke kantor.
Andara belum pernah bertemu sebelumnya dengan Miko, hanya tahu nama dan statusnya saja ketika Ririn menyebutnya semalam.
"Selamat pagi, Tuan." Laki-laki yang baru saja keluar dari pintu lift langsung menyapa, membuat Andara yang sejak tadi berada di belakang Ernest seketika terkesima melihat sosok yang baru saja datang itu. Tak bisa dideskripsikan secara rinci yang jelas, pria itu berhasil membuat Andara kagum akan sosoknya
"Pelayan baru saya, namanya Andara."
Andara mengumbar senyum, mengulurkan tangan pada pria yang bahkan belum mengambil ancang-ancang.
Melihat apa yang dilakukan Andara membuatnya menggeleng pelan.
"Saya Miko."
"Saya Dara. Salam kenal, Tuan."
"Salam kenal juga." Terakhir sebelum pergi, Miko menyematkan seulas senyum pada Andara, membuat kedua bola mata gadis itu berubah menjadi love-love.
****
"Untuk apa kamu memasak? Apakah masakan buatan saya tidak cocok di lidah kamu?" Ririn heran karena tiba-tiba Andara mengekorinya sampai ke dapur. Posisi rumah sudah aman dari pemiliknya karena beberapa jam lalu, Ernest sudah pergi ke kantor.
"Bukan begitu, Bi. Bukan tentang aku, tapi, Tuan Ernest mengirim pesan, agar aku memasak makan siang untuknya."
Andara tidak berbohong, ia menunjukkan sebaris pesan yang dikirim oleh Ernest beberapa menit lalu.
Padahal Andara memiliki wacana hendak pergi ke makam ayahnya, tetapi sepertinya akan gagal. Dan, ia akan mengatur ulang jadwalnya. Semoga saja tidak ada lagi halangan seperti ini hari ini.
"Ini sangat aneh, Dara," gumam Ririn.
"Aneh?" ulang Andara sembari menukik sebelah alis.
"Ya, sejak kapan pelayan pribadi beliau diminta terjun memasak sendiri?" Ririn bener-bener merasa janggal dari apa yang Ernest ubah. Tidak hanya satu, tetapi ini sudah tiga. Menyuapi, memandikan, dan memasak.
"Aku juga tidak tahu, Bi. Dan makanan-makanan yang disebutkan ini terlalu rumit untuk bisa kumasak. Karena jujur, aku belum pernah makan makanan western apalagi memasaknya." Raut Andara tampak sedih, membuat Ririn merasa iba dengan hal buruk yang menimpa gadis itu.
Masih tertanam dalam benaknya apa tujuan Ernest melakukan ini semua? Apakah ingin membuat Andara mengundurkan diri karena merasa tidak betah? Atau ada lain yang tak bisa dijangkau dalam pikirannya?
"Saya akan membantumu memasaknya. Jangan khawatir!" Andara mengubah ekspresinya, ia tersenyum senang ketika Ririn berkenan membantunya.