"Silahkan makanannya, Tuan." Andara yang baru saja memasuki pintu berbahan dasar kayu jati ukir dengan tekstur cat yang sangat halus dan pekat, kemudian menyimpan kotak bekal berwarna cream di atas meja kaca, tepat di depan Ernest yang baru saja berpindah posisi. Dengan sangat hati-hati, ia membuka kotak tersebut dan menyiapkan sendok dan garpu khusus yang biasa digunakan oleh Ernest. Aroma bumbu menguar, membuat hidung-hidung mereka menghidu nikmat arima tersebut. Selagi melakukan pekerjaan, tatap mata Ernest tidak diam saja di satu titik, laki-laki itu meliarkan pandangan, memindai sosok di depannya. Dalam pikirannya sedikit memberikan komentar pada penampilan Andara, tidakkah perempuan itu berkeinginan mengubah sedikit cara berpakaian? Di sudut kota yang sangat gersang ini, Andara jutsru memakai pakaian tertutup.
"Mari, Tuan. Saya suapi." Sebelum ia membuka mulut menerima makanan yang disodorkan oleh tangan Andara. Ernest sempat mengajukan pertanyaan.
"Siapa yang memasak?" tanya Ernest sembari memandang sengit sosok di depannya. Andara kembali menyimpan sendok, tangannya merambat naik guna menyelipkan sekumpulan rambut panjangnya di belakang telinga. Ia lupa mengikat rambut sebab terburu-buru datang ke kantor, tetapi sepertinya, Ernest tidak mempermasalahkan hal tersebut. Baiklah, sedikit aman soal rambut yang tergerai indah itu.
"Yang masak adalah Bibi Ririn." Tanpa merasa terbebani, bibir kecil itu menjawab pertanyaan Ernest. Andara kembali mengudarakan sendok. Tetapi, jutsru didorong menjauh agar tak mengenai bibirnya.
"Bi Ririn?"
"Iya, Tuan. Beliau yang memasak, sebab saya sudah mencoba memasak makanan ini sebelumnya hingga beberapa kali, tetapi selalu tidak berhasil, saya putus asa. Sementara detik-detik waktu–"
"Stop! Cukup!" Ernest mengibas tangan, seraya berkata, "Panjang sekali jawaban kamu?"
"Maaf, saya hanya sedang berusaha memberikan jawaban terperinci. Supaya lebih jelas."
"Tidak usah, lagi pula saya tidak mau dengar alasan apa pun itu. Dasar kamu saja tidak becus. Saya kasih paham, di sini yang bertugas menjadi pelayan saya itu kamu, bukan Bi Ririn."
Alih-alih mengkeret mendapatkan omelan demikian, dua bola mata Andara justru berotasi secara terang-terangan.
"Ya ... ya... ya, saya tahu itu."
"Kalau sudah tahu, kenapa justru kamu membiarkan tugas memasak makanan siang saya diambil alih orang lain?"
Andara membuang napas, pertanyaan itu bukannya sudah jelas jawabannya? Ah, sudahlah, Ernest memang paling pandai membuat darah orang naik secara drastis.
Di ambang batas kesabaran yang setipis tisu, Andara berusaha menelan kata-kata kotor yang hendak dilontarkan begitu saja. Hingga pada akhirnya, ia mencoba memilah kata yang pantas untuk didengar pria lumpuh itu.
"Tuan Ernest Atmajaya, yang baik hati. Saya dikirim ke mari hanya bertugas melayani anda , bukan termasuk bagian memasak, menyuapi, atau memandikan. Lagi pula, terdengar aneh karena tugas-tugas seperti itu hanya terjadi pada saya, tidak dengan pelayan sebelum ini,"sahut Andara
"Jika semua yang kamu sebutkan tadi tidak termasuk tugasmu, lantas melayani bagian mana yang kamu maksud? Hmm? Coba jelaskan! Dua ratus juta Andara." Dua jari panjang Ernest terangkat ke udara.
"Orang gila mana yang menggaji sebesar dua ratus juta pada pelayan yang mengaku sebagai pelayan, sementara tidak untuk melakukan tugas apa pun."
Andara membasahi bibir bawahnya. Ucapannya ternyata dijawab hingga kalah telak. Ernest terlalu pandai mengolah dan memainkan kata. Seharusnya ia berpikir dua kali sebelum mengatakan rentetan kalimat tadi kan?
"Bawa pulang makanan ini, saya tidak mau memakannya."
"Ta-tapi, Tuan..."
"Sampai kamu berhasil memasaknya dengan baik dan benar." Seketika itu, Andara merasa seluruh persendiannya lemah lunglai, keadaan kedua kakinya serasa tidak dapat menopang tubuh dengan baik.
Tatapannya beralih pada sekotak makanan yang dimasak oleh Ririn dengan susah payah. Jika begitu, mau dibawa ke mana makanan ini? Andara menelan saliva getir, semasa hidup, ia kerapkali merasa kelaparan karena kurang makan, tetapi laki-laki di hadapannya ini, seenak jidat menyuruhnya membawa pergi makanan lezat dan masih utuh ini? Padahal bahan-bahan mentahnya saja sangat mahal sekali. Apakah laki-laki itu tidak sama sekali sayang harus membiarkan makanan ini terabaikan?
"Kenapa? Kenapa hanya diam dan menatapnya begitu?" Sentakan dari Ernest membuat Andara terhenyak, ia kembali memindahkan atensi dari apa yang dilihatnya tadi.
"Tuan ..."
"Bawa pergi, Andara! Saya hanya mau makanan yang dimasak oleh kamu langsung, bukan dari tangan orang lain. Dan seharusnya kamu paham atas perintah itu! Jangan seenaknya mengubah apa yang saya perintah."
Andara membuang napasnya, kedua tangan yang semula mengepal di sisi tubuh masing-masing, bergerak cepat menyambar kotak bekal itu dan membawanya bergegas.
"Saya permisi!"
Sepanjang perjalanan, Andara melamun sembari menatap hamparan gedung yang berjajar di sana. Rasanya ia sangat kesal pada Ernest. Selain kesal karena pada akhirnya makan siang ini berakhir mubazir, ia juga kesal karena gagal berziarah ke makam ayahnya. Seandianya saja ia bisa mengadukan ini pada Maria, tentu saja ia akan mengadukannya.
Tetapi, apakah pengaduan ini akan didengar baik oleh perempuan paruh baya itu? Andara membuang napasnya kasar, sekali lagi.
"Sudah, jangan terlalu dipikirkan. Makanannya kamu simpan saja."
"Disimpan? Yang benar saja, Pak. Basi nanti."
"Dari pada kamu makan atau kamu berikan pada orang lain, nanti jadi masalah besar lagi." Andara terdiam mendapati ucapan supir pribadi yang dipekerjakan Ernest.
"Mimpi apa aku harus terjebak seperti ini," gumaman Andara berhasil membuat kedua sudut bibir sang supir terangkat.
Kemudian kembali menimpali.
"Semua sudah jalan takdirnya, Dara. Jangan kamu sesali karena mana tahu saja di mana depan kamu mendapatkan kebahagiaan setelah mengalami proses derita yang panjang ini."
"Iya, Pak. Tapi, ini terlalu berat untuk kulalui, perangai Tuan Ernest jauh lebih buruk dari yang aku pikirkan."
Sementara di dalam ruangan besar, Ernest mendengar semua percakapan antara Andara dengan supir yang ditugaskan untuk mengantar gadis itu, dan mendengar keluhan Andara, alih-alih marah, Ernest justru terkekeh. Baru kali ini, pelayan sangat berani menjelek-jelekkan dirinya. Tidak tahu tempat pula.
Benar-benar.