Begitu pintu kamar Mas Dewa tertutup rapat, aku berdiri mematung di depan pintu itu. Jantungku berdebar kencang, bukan karena takut lihat dia marah, tapi lebih ke perasaan antara gemas dan senang. “Aku beneran gila,” gumamku sambil tersenyum smirk. “Tapi kalau aku nggak gila, mana bisa aku deket sama cowok kulkas macam dia.”
Suara langkah Ibu dari arah dapur menyadarkan aku. Aku segera menarik napas panjang dan berusaha menormalkan ekspresi lalu berjalan ke arah dapur. Yah, lebih baik aku membantu ibu aja.
“Ada yang bisa aku bantu, Bu?” tanyaku cepat, menahan nada suara agar terdengar ceria.
"Oh, Selina!" Ibu menoleh, senyumnya hangat. "Beneran mau bantu Ibu masak? Emangnya kamu nggak capek?”
Aku menggeleng cepat. “Enggak kok, Bu. Aku malah senang bisa bantuin Ibu. Tapi, aku nggak tahu bisa bantuin apa karena sebenarnya kalau di rumah, aku nggak pernah bantu-bantu urusan dapur.”
"Pasti keluargamu punya ART." Ibu tertawa. “Gimana kalau kamu belajar motongin sayur sama nanti belajar ngulek sambal?”
"Siap." Aku langsung mengambil celemek yang tergantung di dekat pintu kulkas, lalu berdiri di sebelah Ibu.
Ternyata suasana dapur kecil ini terasa menyenangkan bagiku — ada suara wajan yang mendesis, aroma bawang goreng yang gurih, dan angin dari jendela yang mengibaskan tirai pelan-pelan.
Sesekali Ibu menatapku sambil tersenyum. “Kamu ini manis banget, ya, Selina. Jarang-jarang ada anak muda sopan, rajin, dan mau bantu orang tua.”
Pujian itu bikin pipiku panas.
Aku hanya tertawa pelan. “Makasih, Bu. Aku emang pengin deket sama Ibu biar Mas Dewa jadi cinta sama aku.”
Ibu tampak senang mendengarnya. “Loh, bukannya kalian pacaran? Kok bisa Sadewa enggak cinta sama kamu?"
"Cintaku bertepuk sebelah tangan, Bu." Aku memasang wajah sedih agar Ibu iba. "Katanya aku cewek gila gara-gara jujur nyatain cinta ke dia."
"Serius?" Ibu refleks menatapku dan geleng-geleng kepala. "Cewek secantik kamu ini ditolak sama dia? Astaga!"
"Faktanya begitu." Aku menatap Ibu dan tersenyum lebar memperlihatkan gigiku. "Tapi meski aku udah ditolak, aku nggak akan nyerah kok. Aku bakalan tetep sering ke sini biar Mas Dewa lama-lama jatuh cinta sama aku. Aku boleh sering-sering main ke sini kan, Bu?"
"Iya, boleh." Ibu mengangguk. "Sering-sering aja main aja ke sini. Pintu rumah ini akan selalu terbuka lebar untukmu, Selina."
Setelah semua makanan matang, aku membantu Ibu menata lauk di piring. Tangan Ibu yang sudah mulai keriput itu bekerja cepat dan terampil. Ada sesuatu yang hangat di dadaku ketika melihatnya — entah kenapa, suasana dapur kecil ini terasa seperti rumah yang sebenarnya aku harapkan.
Lalu, tak lama kemudian terdengar suara pintu kamar yang terbuka. Aku berpura-pura sibuk menata piring, padahal mataku diam-diam menatap dari ujung mata. Mas Dewa muncul dengan rambut yang masih sedikit basah, pakai kaus abu-abu dan celana training. Simpel, tapi, astaga, kenapa dia bisa kelihatan seseksi itu sih? Kan aku jadi pengen peluk-peluk dia lagi.
Aku buru-buru memalingkan pandangan sebelum ketahuan.
Aku duduk di meja makan dengan perasaan campur aduk antara gugup dan bahagia. Meja kayu itu sederhana, aroma sayur asem dan ikan goreng memenuhi ruangan. Ibunya Mas Dewa duduk di sebelahku, sementara Bapaknya yang baru saja pulang kerja duduk di ujung meja, membaca doa sebelum makan. Dan Mas Sewa duduk di seberangku, dia menunduk, seperti berusaha menghindar dari tatapanku.
“Silakan dimakan, Selina,” ucap Ibu tersenyum menatapku. “Terimakasih ya ... tadi kamu udah bantuin Ibu masak di dapur, jadi kamu makannya harus banyak!”
"Iya, Bu." Aku melirik ke arah Mas Dewa sebentar, lalu menatap Ibu. “Padahal sebenernya aku nggak bantu banyak, aku cuma motong-motong sayur sama ngulek sambal aja.”
“Oh ... jadi sambal ini diulek sama Selina, ya. Pantes rasanya enak banget,” timpal Bapak, tertawa kecil. “Rasanya mirip buatan Ibu waktu masih muda dulu. Waktu Bapak masih pacaran sama Ibu.”
Ibu mencubit lengan Bapak pelan sambil tertawa malu, dan aku ikut tertawa juga.
Tapi Mas Dewa? Dia tetap diam. Sejak tadi, pandangannya hanya tertuju ke piring. Menyebalkan memang, tapi aku pura-pura nggak peduli, padahal jujur, rasanya aku pengin lempar sendok ke mukanya yang ganteng itu.
“Sadewa, kok kamu malah diam aja sih?” ucap Ibu pada akhirnya, menatap anaknya. "Lagi ada Selina loh ... cobalah ajak ngobrol!"
“Aku lagi capek, Bu,” jawab Mas Dewa, tatapannya masih tertuju ke piring.
“Capek kerja, apa capek liat aku, Mas?” godaku spontan sambil tersenyum.
Bapak dan Ibu tertawa.
Tapi Mas Dewa hanya menatapku sebentar — tatapan yang tajam, seperti mau menelan aku hidup-hidup — lalu kembali menunduk.
Aku pura-pura nggak terpengaruh.
Terserah dia aja lah. Mau dia marah, kesel, atau benci aku, yang penting aku bisa duduk di sini, makan bareng sama dia dan keluarganya.
Lalu, setelah makan malam selesai, aku membantu Ibu beresin piring. Tapi Ibu menolak dan aku tetap bersikeras membantunya. Sementara Mas Dewa hanya berdiri di dekat pintu dapur, melipat tangan, memperhatikan aku dan Ibu tanpa ekspresi.
“Udah, Selina ... kamu pulanglah, nanti keburu larut malam." Ibu menatap ke arah anaknya. "Sadewa, tolong anter Selina sampai ke depan!”
"Iya, Bu. Aku pamit, ya. Selamat malam. Titip salam buat Bapak." Aku meraih tangan Ibu dan mencium punggung tangannya kemudian berjalan mendekati Mas Dewa.
"Ayo, Mas." Jantungku berdebar kencang saat aku berjalan berdekatan dengan Mas Dewa ke arah mobilku yang terparkir di bawah lampu halaman.
Sesampainya di depan mobil, aku berbalik, mendongak menatap Mas Dewa. “Makasih ya, Mas. Kamu udah mau anterin aku sampai di sini.”
"Iya ...." Mas Dewa mengangguk. “Udah, pulang sana!”
Aku tersenyum. "Mas, besok aku boleh main ke sini lagi, kan?"
“Nggak boleh!”
"Kok gitu?" Aku mengernyit. "Tadi Ibu bilang aku boleh sering-sering main ke sini, loh.”
“Nggak boleh! Pokoknya nggak boleh! Kamu jangan pernah muncul di hadapanku lagi!”
Aku mengembungkan pipi, menatapnya kesal. “Kenapa sih, Mas? Kamu benci sama aku?”
“Iya. Benci banget,” jawabnya datar.
Aku menatap wajahnya lama-lama.
"Apa lihat-lihat? Pergi sana!"
Aku mendengus, menunduk sebentar, lalu menatapnya lagi sambil tersenyum kecil. “Sekarang kamu boleh benci sama aku. Nggak apa-apa, nggak masalah bagi aku. Tapi, aku yakin banget kalau besok Mas Dewa bakal cinta banget sama aku.”
Sebelum dia sempat bereaksi, aku melangkah cepat maju, melingkarkan tanganku di pinggangnya dan memeluk tubuhnya erat-erat. Tubuh Mas Dewa sepertinya kaku karena terkejut. Aku bisa dengar detak jantungnya yang cepat, bisa ngerasain panas tubuhnya menembus bajuku.
Aku berjinjit, mencium cepat bibirnya, sekilas aja sih, tapi cukup untuk membuat seluruh tubuhku bergetar. Lalu aku mundur cepat, membuka pintu mobil, dan tersenyum nakal. “I love you. Selamat malam, Mas Dewaku, Sayang.”
Aku buru-buru masuk ke dalam mobil, menyalakan mesin, dan menginjak pedal gas.
Sepanjang perjalanan, senyum di bibirku nggak juga hilang.
Aku tahu dia pasti marah banget.
Aku tahu dia emang nggak suka sama aku.
Tapi aku nggak peduli, yang penting aku bisa dekat sama dia dan keluarganya, memeluk tubuhnya yang kokoh dan kekar itu, plus mencuri ciuman dari bibir seksinya.