Aku baru pulang kerja, badanku terasa lengket, kepala panas, dan motor yang rasanya udah mau mogok gara-gara macet parah di jalan. Begitu sampai depan rumah, rencanaku aku mau langsung mandi, makan, terus rebahan. Tapi semua rencana itu mendadak buyar begitu mataku menangkap mobil putih yang terparkir di halaman.
“Itu ... mobil Selina, kan?” gumamku dengan kening berkerut.
Aku turun dari motor buru-buru, melangkah cepat, dan entah kenapa detak jantungku malah semakin kencang. Begitu aku buka pintu rumah, suara tawa kecil menyambut dari ruang tamu.
Dan benar saja.
Ada Selina duduk santai di sofa dengan senyum mengembang, rambut dikuncir kuda, mata tampak berbinar saat melihat ke arahku. Di depannya, ada ibuku yang duduk sambil memandangi gadis itu dengan tatapan hangat.
“Assalamualaikum,” sapaku kaku.
“Waalaikumsalam,” jawab Ibu sambil berdiri. “Syukurlah kamu udah pulang. Kamu gantian temenin Selina, ya. Ibu mau siapin makan malam dulu. Lihat tuh, Selina bawa banyak banget oleh-oleh buat Ibu. Ada sayuran, lauk, buah-buahan, pokoknya lengkap banget.”
Aku masih berdiri di ambang pintu, mataku berpindah dari Ibu ke Selina, lalu ke kantong belanjaan di meja.
Bukannya senang, aku malah kesal. “Iya, Bu.” jawabku pada akhirnya.
Begitu Ibu berlalu ke dapur, aku segera menghampiri Selina. Suaraku kutahan serendah mungkin supaya Ibu nggak dengar. “Kamu apa-apaan sih? Kamu beneran gila ya?”
Selina cuma nyengir, kepala dimiringin sedikit, seperti anak kecil yang baru ketahuan nakal. “Aku emang gila, kenapa? Kan aku udah bilang kalau aku cinta banget sama Mas Dewa.”
"Hey ...!" Aku nyaris kehilangan kesabaran. “Kamu nggak lihat i********: aku? Aku udah punya pacar. Aku udah upload fotoku sama pacarku kemarin. Tapi kenapa kamu malah ke sini lagi?”
“Gimana mau lihat, Mas Dewa kan blokir i********: aku.”
Aku mengusap wajah dengan kasar. “Jangan pura-pura bego, Selina. Aku tahu kamu pasti punya akun kedua buat stalking-in aku.”
Dia malah tertawa, matanya tampak berkilat. “Emang bener. Tapi buat aku, selama Mas Dewa belum nikah, ya nggak masalah. Pacar doang, kan? Belum juga jadi istri.”
Aku menatap gadis itu tajam. “Sel, please deh! Kamu beneran nekat banget!”
Dia menatap tajam balik tanpa rasa takut, dan malah tersenyum seolah menantang. “Aku bukan nekat, tapi aku cinta banget sama Mas Dewa.”
Aku rasanya mau meledak. Udah capek kerja, sekarang harus ngadepin cewek sinting yang kayaknya lagi hidup di dunia halunya sendiri. Dan akhirnya aku menjatuhkan diri di sofa, sambil menghela napas berat.
Tapi, sebelum aku sempat ngomong lagi, Selina malah duduk di pangkuanku sambil berbisik, “Mas Dewa ganteng banget kalau dilihat dari dekat. Duh gawat, aku jadi makin cinta.”
Tubuhku refleks menegang. “Sel ... minggir!”
“Nggak mau,” katanya manja, lalu menyandarkan kepala di dadaku.
Darahku langsung naik ke ubun-ubun.
Aku berdiri cepat, mendorong pelan tubuhnya menjauh. “Udah, cukup! Minggir, Selina! Aku nggak mau Ibu lihat kita pangku-pangkuan!”
Aku berbalik, langkahku cepat menuju kamar. Rasanya kalau aku tetap di ruang tamu satu detik lagi, aku bisa benar-benar marah besar.
Begitu pintu kamar tertutup, aku menyandarkan punggung di sana, menarik napas panjang. “Ya Tuhan. Kenapa cewek gila itu datang lagi?”
Aku membuka mata. Kepala dan badanku sudah tidak tertolong lagi lengketnya. Konflik dengan Selina membuat kepalaku makin pening. Satu-satunya jalan keluar adalah mandi.
Di kamarku memang ada kamar mandi dalam, jadi aku tidak perlu keluar lagi dan berisiko bertemu Selina di ruang tamu. Aku melepaskan pakaian kerjaku dan masuk ke kamar mandi.
Gemericik air yang dingin terasa menenangkan. Aku menyiram tubuhku lama, berusaha membersihkan bukan hanya keringat, tetapi juga semua ketegangan dan amarah yang menumpuk.
Hampir sepuluh menit berlalu, aku memutuskan untuk selesai. Aku mengambil handuk, mengeringkan diri, lalu melilitkannya di pinggang. Rambutku masih basah dan meneteskan air, dan aku membuka pintu kamar mandi.
Tapi, di saat itulah jantungku rasanya berhenti berdetak.
Aku melihat Selina duduk di pinggir ranjangku.
Dia tidak melakukan apa-apa, hanya duduk tenang, matanya menyapu dari wajahku yang basah, lalu turun ke bahu, d**a, hingga handuk di pinggangku. “Wow, badan Mas Dewa bagus banget,” komentarnya santai, seolah dia sedang menilai sebuah patung.
Aku refleks menyilangkan tangan di depan d**a, berusaha menutupi bagian atas tubuhku yang telanjang. "Kok kamu bisa masuk?"
"Kan tinggal masuk aja, salah sendiri enggak dikunci," jawab Selina santai tersenyum lebar.
"Astaga, Sel! Kamu beneran keterlaluan. Pergi sana!" Suaraku tertahan, hampir seperti geraman.
Selina menggeleng. "Nggak mau."
"Aku teriak nih, biar ibu datang ke sini terus marahin kamu." Aku tersenyum smirk mencoba menakutinya.
"Teriak aja!" Ekspresinya penuh kepuasan. "Nanti aku bisa bilang ke ibumu kalau Mas yang nyuruh aku masuk ke kamarmu. Kita lihat, ibumu lebih percaya sama siapa, sama anaknya atau aku yang kata beliau punya wajah imut, cantik, dan menggemaskan ini."
Aku frustasi.
Aku menjambak rambutku yang basah, air menetes dari ujung jari. Sial! Ibu pasti lebih percaya kalau aku yang nyuruh dia masuk.
Sementara aku masih berperang dengan pikiranku, Selina berdiri, melangkah maju perlahan mendekatiku, expresinya seperti predator yang mendekati mangsa. "Kenapa, Mas? Kok enggak jadi teriak? Ayolah, teriak aja!"
"Jangan deketin aku, Sel! Pergi sana!" Suaraku pelan, karena aku takut Ibu mendengar.
"Nggak mau." Selina berhenti tepat di depanku. Jarak kami begitu dekat hingga aku bisa mencium aroma parfum dari tubuhnya yang bercampur dengan aroma sabunku yang baru saja kubawa keluar dari kamar mandi.
Dia mendongak, menatapku, kemudian, tangannya yang nakal menyentuh pipiku, mengelus, turun ke leher, terus ke d**a, dan akhirnya mendarat di perutku yang masih basah.
Elusan Selina terasa lembut, tiba-tiba mematikan semua amarahku. Sensasi sentuhan itu begitu aneh, membuatku merasa gatal sekaligus merinding. Hingga aku refleks memejamkan mata dan mendesah pelan.
Hal itu jelas membuat Selina senang. Senyumnya melebar. "Enak, Mas? Kalau mau aku bisa kasih yang lebih enak."
"Sial!" Wajahku merah padam, karena aku malu dan marah pada diriku sendiri.
Bagaimana bisa aku terpengaruh? Aku mencengkram lengan Selina, mendorongnya dengan tenaga penuh hingga dia terhuyung dan jatuh di ranjang.
Aku menunduk, mataku menatap tajam, berusaha menguasai diriku yang mulai kacau. "Kamu yang mancing aku, Sel. Kamu yang bangunin sisi liarku, jadi sesuai perkataanmu tadi, kamu harus kasih aku sesuatu yang lebih nikmat itu!"
Aku menunduk, mencium bibir Selina secara liar. Ciuman itu bukan lagi tentang amarah atau paksaan, melainkan ledakan gairah yang tak tertahankan. Selina membalas tak kalah lincahnya, lidahnya menyambut lidahku dalam sebuah tarian panas yang memabukkan, merampas semua akal sehat yang tersisa.
Dengan cepat, aku merobek dress yang dikenakan Selina. Suara kain yang sobek seolah menjadi genderang penyambut bagi kehancuran diri yang manis. Handuk yang tadinya menjadi satu-satunya penghalang juga aku lepaskan.
Rasanya, kewarasanku sudah menghilang, digantikan oleh kabut tebal hasrat yang membakar. Mataku hanya bisa melihat Selina, tanganku dengan nakal meraba tubuh Selina, dan pikiranku hanya dipenuhi Selina.
Sementara Selina juga tak melawan, dia malah terlihat semakin senang. Matanya memancarkan kegembiraan dan kemenangan. "Nikmati aku, Mas! Aku milikmu," bisiknya manja nan menggoda.
Di antara desahan dan napas yang memburu, akhirnya inti kami bersatu, kami mencari kenikmatan dalam alunan ritme kuno dan primal. Waktu seakan membeku. Dua tubuh kami yang semula diselimuti konflik kini melebur dalam satu titik temu. Ada gejolak, ada desakan, ada gelombang pasang yang menuntun kami.
Setiap sentuhan adalah sumpah, setiap gesekan adalah mantra. Aku bergerak dalam irama yang brutal tapi juga memuja, sementara Selina seperti sebuah persembahan yang paling nikmat. Kami adalah api dan kayu bakar, takdir yang saling menghancurkan dan menciptakan gairah. Puncak kenikmatan itu datang, bagai petir yang menyambar, menarik segala kesadaran ke titik nol.
Aku klimaks.
Tepat setelah ledakan itu mereda, saat napasku masih memburu dan jantungku berdentam kencang ....
Terdengar ketukan di pintu.
Aku membuka mata, rasa lelah dan puas bercampur aduk. Lalu menoleh ke pintu, tapi yang membuat aku terkejut adalah posisiku.
Aku tidak sedang menindih Selina. Aku tidak telanjang. Aku masih memakai baju lengkap. Kemeja kerjaku yang basah oleh keringat bahkan masih menempel di badanku, dan aku sedang berbaring di atas bantal, menghadap langit.
Selina tidak ada.
Dari pintu, terdengar ketukan lagi, diikuti suara Ibu. "Sadewa, keluar, makan malam sudah siap!"
Aku segera duduk tegak, kesadaranku kembali sepenuhnya.
Dan aku memukul keningku dengan telapak tangan. "Jadi tadi habis nutup pintu aku bukannya pergi ke kamar mandi, tapi aku rebahan dan ketiduran, sampai ... sampai aku mimpi basah?"
Aku mengusap wajahku dengan kasar. "Sial! Mimpi basah sama gadis gila itu pula!" gumamku di antara rasa jijik dan frustrasi.
Meskipun itu hanya mimpi, sensasi panas yang baru saja aku rasakan terasa begitu nyata. Aku menatap celana kerjaku untuk memastikan, lalu menghela napas panjang.
Beneran basah!
Ternyata, Selina tidak perlu memanjat ranjang untuk membangkitkan sisi liarku. Cukup dengan menempelkan kepala di dadaku saja dan hal itu membuat aku semakin membenci gadis gila itu.