POV SELINA
Tanganku masih gemetar waktu menutup pintu kamar. Langkahku goyah, mataku panas. Aku baru saja diusir dengan kata-kata yang nyakitin banget.
"Dasar gadis gila!"
Gila katanya? Apa segitu salahnya aku datang buat ketemu orang yang aku kagumi?
Aku duduk di tepi ranjang, air mataku jatuh tanpa bisa kutahan. Aku pikir Mas Dewa bakal senang tahu ada orang yang bener-bener ngefans sama dia, tapi dia malah marah-marah dan ngusir aku.
"Mas Dewa benci aku, ya?" bisikku pelan. Suaraku terdengar serak, dadaku sesak.
Tapi rasa penasaranku lebih besar daripada rasa sakit hatiku. Aku buru-buru membuka ponsel, masuk ke i********:, mencari nama akunnya dan yang terjadi adalah hatiku justru semakin hancur.
Anda telah diblokir.
Aku cuma bisa bengong.
Pandanganku kabur oleh air mata. “Dia ... Mas Dewaku beneran blokir aku?” Suaraku nyaris nggak keluar.
Hatiku sakit banget rasanya.
Seolah semua usahaku buat deket sama dia nggak berarti apa-apa.
Beberapa menit aku cuma diam, lalu aku ambil napas panjang, buka akun satuku lagi — akun fake yang biasanya kupakai buat stalking.
Dan di sana, di beranda akun dengan nama Dewangga Aksara, bertambah satu foto baru yang belum pernah aku lihat.
Dia sama seorang cewek berjilbab, wajahnya cantik, manis, dan keliatan kalem.
Caption-nya : Makan malam sederhana bersama seseorang yang selalu membuatku tersenyum.
Aku menatap layar ponselku lama.
Ada senyum di wajah Dewa yang lembut banget, dan anehnya, aku malah tersenyum. “Oh ... jadi begitu, ya.”
Aku menyeka air mata. “Ternyata Mas Dewa galak karena dia udah punya pacar.”
Napas lega keluar dari bibirku. “Jadi dia ngusir aku bukan karena dia benci sama aku. Tapi dia itu tipe cowok yang setia banget sama pacarnya.”
Senyumku justru semakin lebar. Ada sesuatu yang berputar di dadaku, rasa penasaran bercampur tantangan. “Kalau gitu, aku jadi makin tertarik, deh sama Mas Dewa.”
Tanganku menyentuh layar, menatap wajah tampan Mas Dewa berlama-lama. “Aku jadi penasaran, pengen banget tahu, seberapa setianya kamu sama pacar kamu itu.”
Mataku berkilat, bibirku melengkung licik.
“Kalau aku bisa bikin mereka putus, berarti ... Mas Dewa memang ditakdirin buat aku.”
Kupandangi layar ponsel yang masih menampilkan foto Mas Dewa dan pacarnya. Aku zoom ke wajah Mas Dewa, menelusuri garis senyumnya, caranya menatap cewek itu. Rasa iri menyengat seperti bara kecil di d**a.
“Aku juga bisa bikin kamu senyum kayak gitu, Mas!” Jari telunjukku menyentuh layar, tepat di bibir Mas Dewa pada foto itu. “Tunggu aja ... aku bakal bikin kalian putus.”
Aku meletakkan ponsel di ranjang, lalu berdiri menuju kamar mandi. Bayangan wajahku di cermin tampak berantakan, eyeliner luntur, maskara menodai pipi. Aku membuka keran, membiarkan air mengalir deras, dan menatap wajahku yang perlahan basah.
Air dingin menyentuh kulitku, menenangkan sisa amarah dan tangis yang masih tersisa. Aku menghapus riasan, satu per satu, foundation sampai lipstik, semuanya hilang. Yang tersisa cuma aku, Selina, tanpa topeng, tanpa pura-pura.
Tapi di balik wajah polos itu, aku mengelus pipiku perlahan, senyumku semakin lebar. “Cantik seperti ini, mana mungkin dia bisa menolak aku?”
Aku tersenyum tipis pada bayangan di cermin.
“Lihat, Mas Dewa! Aku akan datangi lagi rumah kamu. Untuk selanjutnya, aku jamin, kamu nggak akan mengusirku lagi.”
Baru saja aku selesai cuci muka dan mau rebahan, tiba-tiba suara Mami memanggil dari luar kamar.
“Selina! Turun, sayang! Papi mau ngomong.”
Aku menghela napas. "Duh, apalagi sih ...?"
Begitu aku keluar kamar, langkahku langsung berhenti di anak tangga terakhir. Dari sana kulihat mereka sudah berkumpul di ruang keluarga.
Papi duduk di kursi besar yang biasa jadi “tahta”-nya, dengan ekspresi serius dan tangan terlipat di d**a. Di sampingnya, ada Mami yang duduk anggun di sofa panjang, memegang cangkir teh hangat, seperti berusaha menenangkan suasana yang tampak tegang. Sementara itu, Ko Lucien duduk agak menyender di ujung sofa seberang, kaki disilangkan santai, jemarinya sibuk men-scroll ponsel.
Begitu aku duduk, Papi langsung buka pembicaraan tanpa basa-basi. “Kalian berdua harus mulai memikirkan masa depan. Siapa di antara kalian yang akan jadi penerus perusahaan keluarga kita?.”
Aku dan Lucien spontan saling pandang.
“Ya jelas Koko lah, Pi,” jawabku cepat, tanpa mikir. “Dia kan anak pertama, cowok lagi.”
Lucien menurunkan ponsel, wajahnya langsung manyun. “Nggak bisa, dong! Aku nggak mau! Meimei aja, lah.”
Aku melotot. “Loh, kenapa? Harusnya emang kamu yang ngurus perusahaan keluarga.”
Lucien mengangkat alis, nada suaranya naik. “Kalau aku sibuk ngurus perusahaan, aku nggak bisa fokus nulis, Meimei! Dunia tulis menulis itu hidupku!”
"Apaan sih, Ko!" Aku mendengus. “Kamu egois, kamu hanya memikirkan perasaan kamu sendiri. Perusahaan Papi itu butuh kamu!”
“Meimei!” seru Lucien, nada protesnya seperti anak kecil. “Kamu kira gampang apa ninggalin sesuatu yang udah sangat aku cintai?”
“Nggak peduli! Aku juga nggak mau ngurus perusahaan Papi. Aku ini kan ce—.”
"Sudah, sudah ...." Mami akhirnya memotong dengan nada halus tapi tajam. “Kalian berdua jangan ribut di depan Papi.”
Tapi kami tetap saja saling adu suara suara sampai akhirnya ....
“Cukup!!!”
Suara bentakan Papi menggema di ruang tamu. Aku langsung diam, begitu juga Ko Lucien.
Papi menatap kami satu per satu dengan sorot mata keras. “Setelah kalian lulus kuliah, kalian berdua wajib bekerja di kantor Papi. Titik!”
Aku tercekat. “Tapi, Pi—”
“Tidak ada tapi!” potongnya tegas. “Dan kamu, Lucien ....”
Tatapan Papi beralih ke Ko Lucien, tajam seperti belati. “Berhentilah menulis! Berhentilah mengarang indah! Hiduplah di dunia nyata!”
Ko Lucien terdiam.
Aku bisa lihat matanya mulai memerah.
Aku menelan ludah, jantungku berdebar. Suasana yang tadinya hanya debat kecil berubah jadi dingin. Aku tahu, buat Ko Lucien, kata “berhenti menulis” itu sama aja kayak disuruh berhenti bernapas. Sementara aku hanya bisa duduk di sana takut banget sama Papi.
Aku menunduk, jari-jariku memainkan ujung rambutku yang jatuh di bahu. Aku pengen ngomong, pengen bilang kalau aku juga punya impian sendiri, bukan cuma jadi penerus bisnis keluarga. Tapi kata-kata itu rasanya mentok di tenggorokan, soalnya Papi serem kalau marah.
Lucien pelan-pelan menaruh ponsel di meja, wajahnya kosong. “Berhenti menulis?” gumamnya lirih, hampir nggak terdengar. “Ini hidupku, Pi! Aku seharusnya bebas melakukan apapun yang aku mau dan aku mau jadi penulis.”
“Lucien!” tegur Mami cepat.
Tapi kakakku itu sudah berdiri. “Nggak semua orang mau hidup dengan cara Papi! Aku bukan robot!” katanya sebelum berbalik dan melangkah pergi ke kamarnya dengan langkah berat.
Suara pintu kamarnya yang dibanting bikin aku refleks menutup mata.
Papi menghela napas panjang. “Anak itu keras kepala,” gumamnya pelan tapi penuh tekanan.
Aku cuma bisa duduk diam, menatap lantai.
Hati kecilku ikut perih. Aku tahu banget gimana rasanya dimarahi Papi, setiap kata-katanya seperti tusukan yang dalam.
Mami menatapku lembut. “Selina, kamu jangan bikin Papi marah, ya. Mami tahu, meski kamu adik, tapi kamu lebih dewasa daripada Kokomu.”
"Ya, Mami." Aku mengangguk pelan, tapi di dalam hati, aku tahu aku nggak akan bisa menurut sepenuhnya. Karena sama seperti Ko Lucien, aku juga punya keinginan dan impian sendiri — cuma bedanya, aku lebih pandai menyembunyikan perasaanku dan keinganku.
Begitu suasana mulai reda, aku pamit ke kamar. Langkahku pelan, tapi pikiranku berisik.
Masih terbayang wajah Mas Dewa di layar ponsel tadi, dan juga kata-kata Papi barusan. “Kayaknya semua orang di rumah ini cuma mikirin ambisi masing-masing.”
Senyum muncul di wajahku. “Ya udah ... kalau gitu, mulai sekarang, aku juga akan mikirin ambisiku sendiri, yaitu ... aku harus dapetin Mas Dewa.”