POV SADEWA
Begitu pintu tertutup, aku jatuh duduk di kursi ruang tamu, keningku kutekan kuat-kuat. “Dasar gadis gila!”
Aku menarik napas panjang, mencoba menenangkan degup jantung yang masih berantakan. Baru kali ini aku merasa takut, iya takut memiliki banyak penggemar gila seperti dia.
Kupandangi pintu yang barusan menelan sosoknya, aku masih ingat sekali fisik gadis gila itu. Rambut hitamnya yang lurus dan panjang terurai, dress pendek di atas lutut dan tanpa lengan berwarna merah, dan senyum manis yang bagiku malah terlihat menyeramkan.
Astaga!
Aku mengusap wajahku kasar. “Bodoh ... kenapa aku bisa kepancing kasih alamat ke dia, sih?”
Kupencet ponsel, kubuka DM i********:, dan scroll percakapan kami.
Chat yang awalnya ringan, membahas tentang tulisanku, tentang tokoh dan plot yang dia suka, kemudian pelan-pelan berubah menjadi obrolan pribadi. Aku juga masih ingat waktu dia bilang mau kirim hadiah buatku.
Aku cuma jawab : "Boleh, asal tidak merepotkan kamu, Selina."
Dan aku nggak nyangka hadiahnya beneran datang sepaket sama orangnya yang mau ngasih.
Aku merinding.
Serius, ini nggak lucu, rasanya kayak punya stalker beneran.
Padahal, ya ... jujur saja ku akui, dia itu cantik.
Cantik banget malah.
Kulitnya putih mulus, matanya sipit, bibirnya penuh tapi mungil. Bodynya juga super seksi, pas banget dipeluk ... beneran deh, dia itu kayak artis yang ....
"Argh!" Aku mendengus kesal sambil menjambak rambut karena frustasi. "Tapi tetap aja, Dewa! Dia lancang datang ke rumahmu. Meski dia cantik dan seksi, tapi dia itu terlalu gampangan. Pasti dia mau tuh kalau aku ajak indehoy kayak di novelku.”
Tanganku refleks menampar pelan pipi sendiri. “t***l, kamu mikir apa sih!”
Aku bangkit, berjalan mondar-mandir di ruang tamu.
Aku harus blokir dia.
Iya, aku harus hapus semua foto-foto wajahku di medsos.
Aku nggak mau lagi didatangi cewek-cewek gila macam Selina.
Tapi ...
Langkahku berhenti. Jari-jariku justru membuka ponsel dan menekan aplikasi i********: lagi.
Entah kenapa, aku malah mengetik namanya: @selina_123
Timeline-nya penuh dengan foto-foto estetik.
Selina tampak seperti gadis yang hidup di dunia sempurna, dia duduk di kafe dengan cangkir di tangannya, berpose di antara hamparan bunga tulip di luar negeri, atau berdiri di balkon hotel dengan pemandangan laut biru di belakangnya. Semuanya terlihat rapi, terencana, dan memesona.
Tapi satu hal membuat mataku terpaku, di antara deretan foto liburan yang nyaris sempurna itu, ada satu gambar yang berbeda. Selina berdiri di samping seorang pria yang sudah sangat kukenal.
Lucien.
Aku nyipitkan mata.
Jangan bilang ....
Aku buru-buru buka kontak dan menekan nomor Lucien.
Nada sambung hanya dua kali sebelum suara santainya terdengar. “Halo, Wa? Kenapa? Ada apa? Kok tumben kamu telpon aku?”
“Lucien, kamu kenal Selina?”
“Iya, kenal. Kenapa?”
“Dia pacarmu?” tanyaku cepat.
Lucien tertawa renyah. “Bukan, dia itu adek aku. Kenapa emangnya? Kamu suka dia?”
“Nggak gitu. Bukan ....” aku menelan ludah. “Dia ... dia kirim inbox ke aku. Katanya dia penggemar.”
“Owh iya. Aku lupa cerita soal itu. Dia sempet nanya-nanya tentang kamu ke aku, terus katanya dia itu baca semua novelmu, baik yang novel cetak maupun yang ada di platform novel online.”
“Apa nama akunnya kalau dia baca novel di platform online? Kamu tahu nggak?”
“Little Cat.”
Aku memejamkan mata. “Ah, iya ... itu. Aku ingat ada akun itu, akun yang sering nyawer aku hadiah premium.”
Lucien kembali tertawa, kali ini tawanya terdengar lebih lepas. “Dasar adek sialan! Novel Kakaknya nggak pernah dibaca, tapi dia malah nyawer novel orang lain.”
Aku hanya bisa menghela napas. “Ya udah deh, maaf udah ganggu kamu.”
“It’s okay. Tapi kok suaramu kayak panik gitu?”
“Enggak. Nggak apa-apa.”
Aku buru-buru mematikan panggilan.
Dan hening.
Aku menatap meja di depanku, lebih tepatnya menatap bingkisan yang tadi dia tinggalkan.
Untuk sesaat, aku ragu untuk membukanya. Tapi rasa penasaranku lebih kuat.
Perlahan, aku buka kotak itu.
Di dalamnya ada sebuah jam tangan.
Ada juga kartu tulisan bertuliskan tangan :
Untuk Dewangga Aksara, penulis favoritku. Dari penggemar yang mencintaimu tanpa syarat.
—Selina.
“Dia ... beneran ngasih aku ini?” bisikku lirih.
Aku menatap jam itu lama, hampir nggak percaya.
"Serius ...? Ini kan harganya mahal banget."
Baru saja aku hendak menaruh kembali kotak itu ke meja, ponselku berdering.
Layar menampilkan satu pesan masuk.
Kinara : Mas, kita jadi makan malam bareng, kan?
Semua rasa tegang dan kekesalan barusan seakan larut begitu saja.
Tanganku cepat membalas : Iya, jadi, Sayang. Mas otw sebentar lagi.
Kinara adalah satu-satunya orang yang bisa bikin pikiranku tenang dan membuatku tersenyum. Kami sudah pacaran dua tahun. Dia bukan tipe cewek yang agresif. Penampilannya selalu tertutup dan sederhana, memiliki senyum manis, dan tutur kata yang lembut. Sampai sekarang pun, kami bahkan belum pernah berciuman. Aku sendiri yang membatasi, bukan karena dia menolak, tapi karena aku memang ingin menjaga kesuciannya.
Aku ingin hubungan kami bersih.
Beda dari semua kisah cinta yang sering kutulis di novel-novelku.
Aku bangkit menuju kamar. Aku butuh mandi, untuk membuang semua sisa kekesalan dan kebingungan yang masih menempel di kepala.
Air dingin yang mengalir di tubuh sedikit membantu menenangkan pikiranku. Tapi, wajah Selina masih berputar di kepala. Tatapan mata senyum, dan kata-kata yang dia ucapkan dengan nada lembut dan genit
“Kan aku cinta sama Mas Dewa.”
Aku menggeleng keras. "Nggak, Dewa! Lupakan dia! Fokus ke Kinara!"
***
Restoran tempat kami makan malam ada di sudut kecil di lantai dua sebuah kafe tua yang temaram.
Kinara sudah datang lebih dulu, dia duduk di dekat jendela, wajahnya diterangi cahaya lampu kuning.
Begitu melihatku datang, dia tersenyum manis. “Halo, Mas.”
Aku menarik kursi dan duduk di depannya. “Maaf ya, kalau aku agak telat.”
“Gapapa. Aku juga baru pesan minum,” ujarnya sambil merapikan ujung jilbabnya.
Tatapannya jernih, tenang. Berbeda 180 derajat dari sorot mata gadis yang tadi menyatakan cinta padaku. Kami makan malam, mengobrolkan topik ringan dan rencana akhir pekan. Tapi di sela-sela itu, pikiranku masih melayang pada kejadian tadi.
Sampai-sampai aku kehilangan fokus ketika Kinara bertanya, “Mas, kenapa? Lagi bed mood, ya? Apa ada sesuatu yang menganggu kamu?”
“Nggak apa-apa, Sayang." Aku tersenyum. "Cuma ... aku agak pusing dikit.”
“Gara-gara kerjaan?”
“Bukan kok. Tapi ada hal kecil yang untungnya udah bisa aku selesaikan.”
Kinara menyentuh punggung tangan kiriku. “Jangan terlalu difikirin, ya! Kamu tuh suka gitu, mikirin sesuatu hal yang sebenarnya nggak penting banget sampai-sampai kamu stress sendiri.”
"Iya, Sayang." Aku mengangkat tangan kananku dan menggenggam tangannya yang ada di atas punggung tangan kiriku.
Dan setelah makan malam usai, kami berjalan berdua ke parkiran.
Kinara menautkan tangannya ke lenganku sambil berkata, “Mas, minggu depan kita nonton, yuk!”
“Boleh.”
“Janji ya, jangan tiba-tiba sibuk!”
"Iya, Sayang." Aku tersenyum. “Aku janji.”
Sampai di dekat motorku, dia menarik tanganku, mendongak, dan menatapku cukup lama. “Mas kayaknya kamu beneran lagi mikirin sesuatu deh. Kamu mikirin apa, sih?”
Aku menggaruk tengkukku yang tidak gatal. “Aku cuma ... cuma kepikiran buat posting foto kita berdua dia Instagramku. Boleh, kan?”
Kinara tampak bingung. “Upload foto di i********:?”
“Iya, biar orang-orang tahu kalau aku udah punya pacar. Biar nggak ada lagi yang suka kirim pesan nggak jelas di inbox instagraku.”
"Astaga. Jadi itu." Kirana tertawa. “Jadi ada pembaca novelmu yang gangguin kamu, ya? Makanya dari tadi kamu keliatan nggak bisa fokus pas ngobrol sama aku.”
“Iya, maafin aku ya, Sayang.” Aku mengangguk. "Maaf, ya ... maaf kalau aku bikin makan malam ini jadi kurang nyaman."
"Iya aku maafin." Kinara tersenyum lembut. “Mulai sekarang, kamu bebas upload foto kita berdua di Instagrammu tanpa harus izin ke aku.”