Chapter 7. Suara Hati Sadewa 3B

1323 Words
POV SADEWA Tanganku gemetar waktu kuangkat lagi ponsel di meja. Layar masih menyala, berita itu masih di situ, dan entah kenapa mataku nggak bisa berhenti menatap tulisan “pengemudi perempuan tidak sadarkan diri.” Sial, ini nggak bisa dibiarkan. Tanpa pikir panjang, aku langsung buka kontak, cari nama Lucien. Begitu ketemu, kutekan tombol panggil. Nada sambung berdenting beberapa kali sebelum akhirnya suara cowok itu terdengar santai di seberang. "Halo, Wa? Ada apa?" "Lucien, denger baik-baik!" Suaraku berat dan cepat. "Adekmu ada di rumah nggak?" "Eh, maksudnya Meimei?" Nada bicaranya seperti biasa, kalem. "Bukan Meimei, tapi Selina!" tegasku, merasa sedikit frustasi. Lucien malah tertawa kecil. “Ya, aku manggil Selina itu Meimei, Wa.” Aku mengusap wajah kasar. “Owh gitu, ya udah. Sekarang cepat jawab! Dia ada di rumah nggak?” “Bentar, aku cek ke kamarnya dulu deh. Biasanya jam segini dia udah rebahan nonton drakor.” Suara langkah kaki terdengar dari seberang sana. Aku menggenggam ponsel lebih erat. “Jangan ditutup ya, Lucien!” “Iya ... iya ... nggak aku tutup, kok.” Terdengar bunyi ketukan pintu dan suara lembut Lucien. "Mei … Meimei?" Nggak ada sahutan. “Loh, kok tumben nggak dijawab?” gumam Lucien pelan di seberang. “Coba kamu langsung buka aja pintunya!” Suaraku mulai meninggi, gugup bercampur cemas. Kudengar suara daun pintu berderit, lalu hening sejenak, dan setelah itu, suara Lucien terdengar bingung. “Loh ... kok kamarnya kosong?” Darahku seakan berhenti mengalir. “Kosong? Halo, Lucien?! Lucien!” “Ya, halo, Wa? Meimei nggak ada di kamarnya dan aku nggak tahu dia ada di mana.” “Astaga ....” Aku mengusap wajahku, dadaku terasa semakin sesak. “Kenapa, Wa? Kenapa kamu cari adikku malem-malem begini?” tanya Lucien makin penasaran. “Ceritanya panjang,” jawabku terburu-buru. “Sekarang kirim nomor Selina ke aku, cepat!” “Oke, bentar.” Sambungan terputus. Beberapa detik kemudian, notifikasi WA masuk. Nomor Selina. Tanpa buang waktu, aku menekan call. Nada sambung pertama tidak diangkat. Nada sambung kedua masih tidak diangkat. Nada sambung ketiga, tetap sama, tidak diangkat juga. Aku berjalan mondar-mandir di kamar kayak orang gila. “Angkat, Selina! Ayolah!” seruku frustasi. Kutekan lagi panggilan. Dan nada sambung ketujuh baru terdengar klik pelan di seberang. "Halo?" Tapi suara yang menjawab bukan suara Selina. Itu suara seorang pria. Alisku berkerut. “Ini siapa? Ini bener kan nomornya Selina?” “Sepertinya benar ini nomor Nona Selina,” jawab suara itu sopan tapi serius. Aku mulai panik. “Lalu, di mana Selina sekarang? Dan kamu siapa?” “Saya dari kepolisian, Pak. Nona Selina saat ini berada di rumah sakit. Dia—” Aku nggak mau dengar kelanjutannya. Tanganku refleks langsung matiin panggilan. Jantungku berdentam kencang, seolah mau meledak. Tanpa pikir panjang, aku ambil jaket, dompet, dan kunci motor. Suara mesin meraung begitu kukontak motor. Malam udah larut, udara terasa dingin menusuk tulangku, tapi aku nggak peduli, karena yang ada di kepalaku cuma satu, yaitu Selina. “Jangan-jangan beneran dia ...?” gumamku di tengah suara angin yang menggigit. Aku ngebut menembus jalan kota yang sepi. Lampu jalan berkelebat satu per satu, bayangan Selina terus muncul di benakku, senyum genit nan tengilnya, rasa lembut bibirnya yang mencium bibirku, dan kata-kata yang masih terngiang jelas, “Mas boleh benci sama aku, tapi aku nggak peduli. Suatu saat Mas bakalan bucin sama aku.” Aku menggertakkan gigi, menekan gas makin dalam. “Selina, semoga kamu selamat.” Begitu sampai di depan RS yang disebut di berita, aku buru-buru melompat turun tanpa sempat mematikan motor dengan benar. Satpam di pos sampai kaget waktu aku nyelonong masuk. “Mas, Mas! Mau ke mana?!” seru mereka, tapi aku nggak berhenti berlari. Aku bergegas menuju meja resepsionis, dengan napas ngos-ngosan aku bertanya, “Pasien kecelakaan di tol arah B—, perempuan, yang dibawa barusan! Di mana dia sekarang?!” Petugas di meja menatapku cepat, lalu cek data di layar komputer. “Pasien perempuan, kecelakaan tunggal, dibawa sekitar jam delapan lewat. Sekarang sedang di ruang operasi, lantai dua.” "Terimakasih." Aku berlari lagi. Tangga kulewati, napas tersengal tapi aku nggak berhenti sampai di ujung koridor lantai dua. Suasana di sana terasa tegang, dan di depan pintu besar itu bertuliskan Ruang Operasi, ada beberapa orang yang tampak duduk menunggu dengan expresi gelisah. Langkahku otomatis melambat dan Jantungku berdetak semakin kencang. Tapi kemudian ... aku melihatnya. Dia Selina. Duduk di ujung kursi panjang, wajahnya pucat, rambut berantakan, tapi matanya terbuka. Dia hidup. Dia nyata. Dia bukan yang ada di ruang operasi itu. Aku nggak pikir panjang, kakiku refleks melangkah cepat ke arahnya. “Selina!” Gadis itu mendongak kaget, mata lebarnya langsung menatapku dan dia berdiri. “Mas Dewa? Kok kamu bisa ada di sini?” Aku segera menarik tubuhnya ke pelukanku. Tanpa sadar, aku dekap dia erat-erat, seolah baru aja menemukan separuh jiwaku yang hilang. "Syukurlah kamu nggak apa-apa." Aku juga mencium puncak kepalanya. "Kamu tahu nggak? Aku tadi khawatir sampai hampir gila!" Tubuh Selina sempat kaku di pelukanku beberapa detik sebelum akhirnya dia pelan-pelan angkat tangannya, membalas pelukanku dengan gemetar. “Mas … Mas kok tahu aku di sini?” Suaranya serak, dia mendongak menatapku. Aku melepaskan pelukannya sedikit, menunduk, menatap wajahnya lekat-lekat. “Aku liat berita di sosmed. Mobil putih, mini dress pink, rambut panjang, cewek cantik cindo itu semua mengarah ke kamu Selina.” Selina mengerjap pelan, matanya berkaca-kaca. “Tapi tadi yang kecelakaan itu saudaraku, Mas. Tipe dan warna mobil kita memang sama. Aku tadi sempat kejebak macet pas menuju ke tol, terus lihat ada mobil rusak di jalur cepat. Nah, pas kulihat platnya, aku langsung tahu itu mobil dia.” Aku memandangi gadis itu lama. Sial, jadi barusan aku nyetir kayak orang kesurupan cuma karena takut kehilangan cewek yang katanya aku benci. Tapi sekarang, aku berdiri di depannya dengan napas sesak, aku bahkan memeluknya. “Jadi aku langsung minggir, Mas. Aku deketin petugas dan bilang kalau aku saudaranya. Aku minta ikut nemenin dia ke rumah sakit. Tapi ....” dia menarik napas dalam-dalam, matanya terpejam. “Bodohnya aku ... aku malah lupa ambil tasku di mobil. HP-ku di situ, jadi nggak bisa hubungi keluargaku.” “Selina ...,” bisikku pelan. “Lain kali jangan pernah lupa sama handphone dan dompet. Sedarurat apapun kamu harus ingat dia benda itu, oke!” Dia menatapku, matanya berkaca-kaca, tapi senyum tipis muncul di bibirnya yang penuh, mungil dan merah muda itu. “Mas khawatir sama keselamatan aku, ya?” Aku mendengus, setengah kesal setengah malu. “Ya jelas khawatir lah! Kamu kan habis dari rumah aku. Tadi bahkan aku telpon Lucien buat mastiin apa kamu ada di rumah apa enggak, tapi kamu nggak ada di rumah.” Selina menunduk, tapi aku bisa lihat pipinya memerah. “Tuh kan ... kayaknya Mas udah mulai jatuh cinta sama aku.” Aku mendengus lagi, tapi kali ini suaraku lebih lembut. “Jangan mimpi!” Dia kembali mengangkat wajahnya, menatapku dengan senyum manisnya. “Tapi Mas Dewa rela datang ke RS malam-malam begini karena khawatir sama aku. Itu artinya Mas udah mulai jatuh cinta sama aku, loh.” Aku menatap matanya lama. Sial! Aku menghela napas panjang, lalu menatap ke arah pintu ruang operasi. Lampu indikator masih menyala merah. “Terus, gimana keadaan saudaramu sekarang? Apanya yang sakit, kenapa dia sampai dioperasi?” tanyaku untuk mengalihkan pembicaraan. Selina menelan ludah sebelum menjawab, suaranya lirih tapi bergetar. “Namanya Crystal, waktu kecelakaan, kata dokter, kemungkinan kepalanya kebentur setir. Terus pecahan kaca nembus di bagian pelipis sampai darahnya nggak berhenti ngalir. Pas aku datang, kepalanya penuh darah, dan dia nggak sadar.” Aku melirik sebentar ke arah pintu ruang operasi. "Semoga operasinya lancar dan dia selamat. Kamu jangan sedih, ya! Nanti kita hubungi Lucien biar dia yang ngabarin keluarga inti Crystal." Lalu, aku memeluknya lagi erat-erat dan mencium puncak kepalanya. Padahal tadi sore, aku udah bersumpah sama diri sendiri nggak mau lihat wajah dia lagi. "Jangan-jangan aku beneran udah jatuh cinta sama cewek gila ini?" batinku menjerit.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD