POV SELINA
Mas Dewa mengambil handphone dari saku, dan aku melihat dia menekan kontak bernama Lucien. "Halo, Luc. Selina lagi sama aku di rumah sakit. Jadi ceritanya di—"
"Apa? Dia kenapa, Wa? Meimei kenapa?" Terdengar suara panik Ko Lucien.
Aku merebut handphone Mas Dewa dan menempelkan handphone itu ke telingaku. “Tenang, Ko. Aku baik-baik aja, kok. Sekarang aku emang lagi di RS, tapi aku lagi nemenin Crystal karena dia yang kecelakaan tunggal. Tolong cepat kasih tahu Om dan Tante ya, Ko. Tapi bilang ke mereka nggak usah panik karena ada aku yang nemenin Crystal di sini.”
Di seberang, suara Ko Lucien terdengar lega sekaligus kesal. “Astaga ... jantungku hampir copot pas Dewa bilang kalau kamu lagi sama dia di rumah sakit. Emangnya handphone kamu ke mana sih, Mei? Terus gimana ceritanya, kok kamu bisa sama Dewa?”
"Ceritanya panjang, Ko." Aku meringis mendongak menatap Mas Dewa. "Yang penting sekarang Koko segera bawa Om dan Tante ke rumah sakit ini. Aku tunggu kedatangan kalian."
"Iya." Terdengar suara helaan panjang Ko Lucien. “Aku pergi ke rumah Om dan Tante sekarang.”
“Oke, Ko. Hati-hati di jalan, ya!”
Begitu telepon ditutup, aku mengembalikan handphone itu ke Mas Dewa. “Ko Lucien mau otw ke rumah orang tua Crystal dulu, terus lanjut ke sini, Mas.”
Mas Dewa memasukan handphonenya kembali ke saku celana. "Ayo sekarang kita duduk!"
"Iya." Aku duduk di kursi sebelahnya.
Diam-diam, aku mencuri pandang ke wajahnya. Dia memiliki rahang tegas, hidung mancung, dan garis bibir yang kaku tapi memikat. Entah kenapa, aku merasa, malam ini, tatapannya nggak semenakutkan seperti kemarin dan tadi sore.
“Mas ... dingin banget,” gumamku pelan sambil memeluk tubuhku sendiri.
Mas Dewa melirik ke arahku. “Ya iyalah, kamu pake baju kurang bahan begitu.”
Aku mengerucutkan bibir. “Ih ... Mas Dewa nakal deh. Gimana kalau aku mati membeku di sini?”
Dia menghela napas panjang, berdiri, lalu membuka jaketnya dan nyampirkan jaket itu ke pundakku. “Pakai ini!”
Mataku mengerjap beberapa kali. Tak menyangka dia akan memberikan jaketnya padaku. "Terimakasih, Mas."
"Sama-sama," balasnya lalu kembali duduk di sampingku.
Aku menghirup kuat-kuat wangi jaket Mas Dewa. Aromanya haru banget, perpaduan antara parfum, sabun, dan mungkin aroma khas dari tubuhnya sendiri yang entah kenapa bikin nyaman banget.
“Mas Dewa …?” panggilku pelan.
“Hm?” jawabnya tanpa menoleh ke arahku.
“Kalau jaket ini bisa ngomong, pasti dia akan bilang, kalau dia seneng banget karena bisa meluk tubuh aku yang cantik, mulus dan seksi ini.”
Mas Dewa mendengus dan akhirnya kembali menatap ke arahku. “Selina ...?”
“Iya, Mas Dewa?”
“Diam atau aku cium!”
"Aku pilih cium." Aku tertawa dan menyandarkan kepalaku di lengan tangannya. “Tapi ciumnya jangan di sini. Malu, Mas ... ada banyak orang yang liatin kita dari tadi.”
Dia diam tak membalas ucapanku, dia cuma menyandarkan punggungnya ke kursi dan menutup mata. Tapi aku tahu, dari cara rahangnya yang mengencang itu, dia lagi nahan senyum.
Aku pun akhirnya diam dan memejamkan mata karena aku lagi sibuk menikmati detik-detik langka ini. Dia, pria yang kucintai ada di sebelahku. Aku juga lagi pakai jaketnya. Dan yang paling penting, kepalaku bersandar di pundaknya yang kokoh.
Setelah menunggu dengan cemas, pintu ruang operasi akhirnya terbuka. Seorang dokter keluar, menatap sekeliling dengan wajah serius. “Keluarga pasien atas nama Crystal?” tanyanya.
Aku dan Mas refleks berdiri. "Saya, Dok," ucapku sambil berjalan mendekati dokter itu. “Gimana keadaan Crystal, Dok? Dia selamat, kan, Dok?” tanyaku cepat.
“Operasinya berjalan lancar. Tapi pasien masih perlu diobservasi dulu. Semoga kondisinya tetap stabil. Sekarang, sebaiknya kalian mulai mengurus kamar rawat inap, ya.”
"Baik, Dok. Akan kami urus." Aku mengangguk lega. “Terima kasih, Dok.”
Begitu dokter pergi, aku refleks memeluk Mas Dewa lagi. “Aku seneng banget Crystal akhirnya selamat, Mas!”
Mas Dewa sempat terdiam sesaat sebelum akhirnya tangannya terangkat dan membalas pelukanku. “Syukurlah.”
Setelah beberapa menit, akhirnya Mas Dewa menepuk punggungku dan berkata, “Selina ... sudah dong meluknya. Ayo, kita urus kamar rawat inap buat Crystal!”
"Eh iya." Aku terkekeh dan melepaskan pelukanku. “Ayo, Mas.”
Kami berjalan menuju bagian administrasi. Aku sibuk menanyakan soal ketersediaan kamar, sementara Mas Dewa di sampingku mengurus pembayaran awal. Tatapannya fokus, rahangnya mengencang, dan aura tegasnya kembali terasa. Di mataku dia terlihat keren dan semakin tampan.
Setelah itu, kami pun menunggu di depan lift sambil menunggu petugas menunjukkan kamar rawat yang sudah disiapkan untuk Crystal. Saat lift terbuka, aku dan Mas Dewa melangkah masuk, berdiri bersebelahan. Aku sempat menatap pantulan kami di cermin lift — aku terlihat kecil di sampingnya, tapi senang banget bisa ada di situ.
Sesaat setelah Crystal dipindahkan ke ranjang pasien pintu kamar terbuka lebar. “Meimei!” Suara yang sangat kukenal membuatku menoleh.
"Koko." Aku berlari ke arah Ko Lucien yang datang dengan wajah khawatir, diikuti oleh Papa dan Mama Crystal.
“Crystal selamat!” Aku memeluk Ko Lucien erat-erat. “Operasinya berjalan lancar.”
Tanteku menutupi mulutnya, nyaris menangis. “Puji Tuhan … Crystal selamat. Terimakasih ya, Sel. Untungnya ada kamu.”
Aku melepaskan pelukan Ko Lucian dan menatap wajah Tanteku. "Untung ada Mas Dewa, Tante. Dia yang nenangin aku dan bantu aku nungguin Crystal di depan ruang operasi. Sebelumnya panik banget, otakku jadi kayak nggak bisa berfungsi harus ngelakuin apa dan cuma bisa nangis, apalagi handphone aku malah ketinggalan di mobil."
Omku tersenyum haru, menepuk bahu Mas Dewa pelan. “Terima kasih banyak, Nak. Karena kamu sudah bantu jaga Selina dan Crystal.”
Mas Dewa mengangguk sopan dan membalas senyuman Omku. “Sama-sama, Pak.”
Begitu semuanya tenang, Mas Dewa tiba-tiba berkata, “Lucien, Selina. Gimana kalau kalian nginep di rumahku aja? Rumah kalian kan jauh.”
"Eh ... jadinya kita malah semakin ngerepotin kamu loh, Wa." Ko Lucien tersenyum ramah. “Terimakasih banget tawarannya. Tapi lebih baik aku sama Meimei cari hotel yang ada di dekat rumah sakit ini aja deh.”
"Aku nggak mau nginep di hotel, Ko." Aku memeluk tangan Mas Dewa. "Aku mau nginap di rumah Mas Dewa aja. Kalau Koko mau nginep di hotel ya, sana! Kamu bobo di sana sendirian aja!"
"Mei! Kamu kok kayak anak kecil, sih!" Ko Lucien melotot. "Nggak enak lah kalau kita ngerepotin Dewa lagi. Ayolah, Mei ... kita nginep di hotel aja!"
"Nggak mau." Aku menggeleng kuat-kuat, memeluk tangan Mas Dewa semakin erat. "Mas Dewa aja nggak merasa direpotkan. Iya kan, Mas?"
"Iya, Luc." Mas Dewa mengangguk. "Rumah aku cukup dekat dengan rumah sakit ini. Di rumahku juga ada kamar tamu. Dan aku enggak merasa direpotkan kok. Kita kan teman."
"Ayo lah, Ko. Please ...," imbuhku memasang puppy eyes agar Ko Lucien mengabulkan permintaanku.
Ko Lucien menghela napas panjang dan akhirnya mengangguk sambil berkata, "Ya udah, deh. Tapi kamu jangan ngeyel dan jangan banyak tingkah pas nginep di sana ya, Mei!"
"Enggak akan!" Begitu senangnya, aku sampai melompat-lompat kecil.