Sore ini Linggar menaruh ponsel di holder tripod, di ketinggian yang diaturnya sejajar dengan kepala.
Usai menyentuh red dot, Linggar mundur menjarak. Dan ia mulai bicara dalam rekaman video tersebut.
"Jadi gini, guys," ucap Linggar sambil mundur untuk menunjukkan latar belakang nisan-nisan tua dan tiga anak SMA. "Kalingga akhirnya nyerah ya. Diserahkan oleh Raden Nanggala ke si Kembar."
"Ling, nggak usah pake narator. Belakangan aja. Kita langsung maen kayak biasa!"
"Iya, bentar," sahut Linggar melirik ke arah Deni dan dua siswi kembar. "Perban di kepala gue adalah bandana dari si penanggung jawab. Anggap si Kalingga udah dipasangin peredam kesaktian."
Kamera ponsel menangkap salah seorang siswi menghampiri Linggar dari arah satu makam yang ditunggui.
"Kau tentu bertanya, mengapa kami harus membunuhmu, Kalingga."
Linggar berubah ekpresi, badannya ditegapkan, kedua tangannya disembunyikan ke belakang seperti seorang yang sedang diborgol.
Linggar masih menghadap ke kamera ponsel, abai dengan kacak pinggang siswi di sebelahnya.
"Apa permintaan terakhirnu?" ucap siswi rambut pendek ini. "Kami harus menjauh dari sekolah Merah?"
Linggar diam, tatapannya masih mengarah ke tanah.
Yang ditanya lalu menghela napas dalam, udara sore yang lembap terasa menempel di tenggorokannya.
"Permintaan terakhirku..." suaranya pecah, dan untuk sesaat kamera menangkap bagaimana jari-jarinya gemetar di belakang punggung.
Tapi kemudian dia mengangkat wajah, dan sorot matanya berubah—tiba-tiba tajam, seperti pisau yang baru diasah.
"Aku minta kalian semua rekam ini sampai habis."
Twing..
Kepala Linggar didorong singkat oleh lawan bicara.
"Aku minta dikuburkan di sini! Ulang.."
"Aku minta kalian melupakan sekolah Biru, tak hanya sekolah Merah," jawab Linggar tegas, tak lagi melirik lawan bicaranya.
"Sekolah Biru memulai kekacauan yang mereka minta sendiri ke sekolah Putih. Mengapa kami harus melupakan mereka dan mengapa kami harus berhenti di kematianmu hari ini, Kalingga?"
"Dengar, Paste. Kau tak tahu--"
Dukh..!
Sebuah tendangan membuat kedua kaki Linggar menekuk.
Bregh.!! Linggar jatuh berlutut.
"Popi..! Jangan gegabah," pinta siswi ini pada saudarinya yang tiba-tiba datang menendang Linggar. "Jika sekolah Biru tahu Kalingga di tangan kita, kau bereskan sendiri amukan mereka!"
Popi mendengus, tendangan sepatunya masih mengayun di udara seperti anak panah yang baru dilepaskan.
"Tapi dia ngomongin Sekolah Biru, Tsun! Mereka yang mulai semua ini!"
Kulit putih Popi memerah, urat di pelipisnya berdenyut-denyut.
Linggar menahan napas, secara efek film ada darah dari bibirnya yang pecah-pecah menusuk hidungnya.
Linggar merasakan rasa besi di lidahnya sebelum akhirnya meludahkannya ke tanah.
Fuhh..!
"Habisi aku! Pergilah kalian dari City setelah ini. Kalian tak tahu apa-apa tentang sekolah Biru!"
Dezigh..!!
Popi menjitak Linggar. Secara film mungkin siswi berseragam putih abu ini menghantam tengkuk Linggar. "Aakh..!!"
Linggar mengerang.
"Popi! Hentikan..!"
"Tsun.. jangan lama-lama di sini," bisik Deni tiba-tiba muncul dari balik nisan, tangannya mencengkeram lengan Popi yang sedang terangkat untuk memukul lagi.
Deni melirik ke arah jalan setapak di antara makam-makam tua. "Ada yang datang."
---
Linggar berdiri untuk menepuk-nepuk celana sekolahnya. "Oke. Guys.. Cut. Mantap.."
"Hhh.. Lo nggak konsis sama skrip, Ling," komentar Paste. "Kalimat 'habisi aku' tuh telat. Dan seharusnya lo bilang 'aku minta dikuburkan di sini' sejak awal. Gitu.."
"Kalo bilang gitu nggak seru, mana masih pendek durasinya," balas Linggar sambil mengusap bibirnya yang masih terasa perih.
Deni sudah mengambil ponsel dari tripod, memeriksa rekaman yang baru saja mereka buat.
"Kita ulang dari adegan Popi nendang. Kali ini gue bakal lebih dramatis, gue mau jatoh ke samping, terus berguling sambil ngerintih," putus Linggar.
"Ling, ada chat masuk nih," asong Deni, memberikan ponsel yang langsung Linggar raih.
"Miss call juga nih," kata Linggar, sudah sibuk menatap layar di pegangannya.
"Pasti dari bokin lo, ya?" tanya Paste. "Dari siapa tuh pesannya? Ehem.."
Linggar masih membaca dengan alis berkerut. Jari-jarinya membeku di atas keyboard virtual.
Deni mengintip dari balik bahunya, lalu menyeringai. "Waduh, dari Si Jangkung, ya?"
"Wiwin Soraya kan, Den?" Paste alias Tsun bertanya lagi sambil mengusap lengannya yang mulai merinding.
Udara sore di antara makam-makam tua itu tiba-tiba terasa lebih dingin dari yang seharusnya.
"Hii.. iiy.. Dingin banget sih dari tadi," keluh Popi meraba-raba tengkuknya. "Udah beres belum sih take-nya. Kalo udah, gue mau pulang sekarang."
Linggar menatap layar ponsel dengan pupil yang tiba-tiba melebar. Jarinya menggenggam erat perangkat itu, hingga buku-bukunya memutih.
Deni, yang masih berdiri di sampingnya, melihat perubahan ekspresi itu dan langkahnya mendekat tanpa sadar ternyata Linggar sedang nonton rekaman bukan baca chat.
"Ling..?? Lo nggak kenapa-napa kan? Lagi nggak bertengkar sama Wiwin kan?" tanya Deni perlahan sambil mencoba melihat layar ponsel yang masih dipegang Linggar.
Sebelum sempat membaca, Deni tanpa sengaja menyentuh tombol putar ulang rekaman terakhir.
Deni menjerit kecil ketika layar ponsel tiba-tiba menampilkan rekaman terakhir yang mereka buat. Jarinya gemetar saat gambar bergerak itu memperlihatkan Linggar terjatuh setelah tendangan Popi—tapi bukan itu yang membuat darahnya berhenti mengalir.
Di sudut kiri layar, tepat di balik nisan tinggi berukir tulisan Jawa kuno, ada bayangan seorang anak perempuan berdiri diam.
Seragam putih sosok itu kontras dengan latar belakang makam, tapi yang paling mengerikan: wajahnya tidak terlihat, hanya potongan rambut hitam lurus, objek halus yang mungkin muncul dari makam tersebut.
"Hh, udah ah.. gue duluan. Udah mau magrib," pamit Popi sambil ngeloyor pergi.
Deni dan Paste sejenak mengamati makam yang terekam, abai dengan keluhan Popi. Keduanya menonton adegan lagi dengan rasa penasaran.
"Insting lo bener soal TPU ini Ling. Kita bakal viral lagi kayaknya," paste mengamati sedikit lama rambut hitam lurus yang terekam, lalu melihat ke makam TKP untuk memastikan dengan matanya sendiri.
Tempat yang Paste lihat masih sunyi tak ada kejanggalan serupa.
"Jangan caption apa-apa. Biar aja netizen yang sadar sendiri sama nih objek."
Deni beranjak pergi mengikuti jalur yang dilalui Popi.
---
Towet..! Towet..!!
Ponsel bergetar, nama Wiwin muncul di layar bersama dering panggilan ke nomer Linggar.
Drrt..!! Drtt..!
Linggar tersadar dan mengerjap mata sambil menggelengkan kepala. Tapi jarinya masih membeku di atas layar, tak berani menyentuh ikon horn accept call.
Di balik dering itu, ada sesuatu yang membuat tengkuk Linggar merinding, bukan karena udara TPU-nya dingin, tapi karena Wiwin seharusnya tidak mungkin menelepon.
"Jawab bego. Dari tadi bokin lo nelpon. Siapa tau emang darurat Ling."
Paste bicara sambil tetap mengawasi makam yang dicurigai.
"Ha-halo.. Iya, Win?" bata Linggar, menyuarakan sambungan dengan eksternal speaker.
"Kalian di mana, gue udah di makam nih. Kok nggak ada siapa-siapa sih di sini?"
"Win...?" Linggar berbisik, matanya melotot ke arah Paste yang tiba-tiba pucat.
Suara Wiwin terdengar jelas di eksternal speaker ponsel.
"Lo lagi di TPU mana? Kebon Jati?"
"Haa? Gue di makam Sirih, kalian biasanya syuting di makam dekat pasar Sirih ini kan?"
"Hhh.." lemas Linggar.
"Hadeh.. Syukur deh."
"Eh, kok ada suara cewek, sih.. Ling?"
---