Bab 3

1047 Words
Linggar sampai di pasar Sirih. Dari tenda parkir, dia berjalan melewati beberapa gerobak berjejer di pinggir jalan, lampu LED menerangi arena dagang yang mulai hidup. Wiwin duduk di salah satu lapak bakso, sibuk menggulir layar ponsel sambil ngemil keripik dari plastik kecil di sampingnya. "Lama banget lo," tegur Wiwin tanpa menoleh. "Gue pesenin, basonya udah dingin nih." Linggar duduk di depan, menarik mangkok bakso yang sudah tak mengepul. Kuah bakso sudah hilang tinggal panas di mangkuk saja, pentol-pentol mengendap di dasar. "Sori. Tadi beresin alat dulu, Win," jawab Linggar sambil mengambil sendok. "Kembar, bablas syutingnya." "Sundari sama Sintari ya, si kembarnya?" Wiwin menyuap camilannya lagi, kriuk terdengar renyah di antara kesibukannya menggulir layar ponsel. Sesekali Wiwin berhenti, mengetik cepat, lalu melanjutkan gulir-geser feed medsos. Linggar makan pelan. Matanya mengamati Wiwin, tapi tidak sebaliknya. Siswi itu benar-benar fokus, dahi berkerut tipis membaca sesuatu, bibir mengerucut menemukan hal yang mungkin mengganggu pikiran Wiwin. "Lo gak makan, Win?" tanya Linggar akhirnya. "Gue udah tadi." "Makan beling doang?" "Ada cokelat juga." Wiwin mengangkat kantong plastik kecil berisi camilan lain, tanpa mengalihkan pandangan. "Udah. Lo.. makan aja dulu. Nanti keburu malem." Linggar menghela napas, lalu menyendok bakso ke mulutnya. Wiwin langsung sibuk dengan ponselnya, terdengar suara video pendek dengan musik cempreng, kadang suara notifikasi bertubi-tubi. Dua puluh menit berlalu. Linggar menghabiskan bakso sendirian. Sepanjang Linggar menyantap, Wiwin hanya sesekali mengambil minuman es teh yang sudah mencair. "Udah." Wiwin akhirnya menoleh ke mangkuk Linggar, matanya sayu karena terlalu lama menatap layar. "Lo kenyang?" "Euu.." jawab Linggar usai meneguk air dan menyimpan gelasnya lagi. "Udah nih.. Eu!!" "Ya udah. Bayar." Linggar mengerjap. "Bayar? Bukannya.. Lo yang traktir?" "Iya. Gue yang traktir, tapi masa sih.. gue yang bayar? Hadeh, dasar lo pelit." Wiwin memanggil penjual bakso dengan lambaian tangan. "Pak, hitung dua mangkok sama es teh dua, ya." Linggar tersenyum kecil, diam memperhatikan Wiwin mengambil dompet dari dalam tas sekolah di pangkuan. Selembar lima puluh ribu Wiwin serahkan, lalu menerima kembalian tanpa dihitung. "Oh ya Ling. Tadi pas gue nelpon, lo lagi ma siapa, ya?" tanya Wiwin, berdiri sambil memasukkan dua snack dan dompetnya ke tas. "Si Paste. Sundari. Kami nyaris error kalo.. um, lo nggak ke mari." Linggar tak bicara banyak. Wiwin pasang tas ke punggung. Linggar ikut berdiri, merapikan celana panjangnya yang kotor sebab dipakai ngonten di TPU, perban benjolnya masih melilit di kepala. --- "Aku sudah peringatkan kau. Berhati-hatilah dengan orang asing yang mencoba mendekatimu!" Dalam speaker helm, Deni mengeraskan suara sambil menunjuk ke d**a Linggar di halaman depan gapura TPU Kebon Jati ini. Mungkin perselisihan ini membuat Linggar datang terlambat ke pasar Sirih. Dari dekat, Paste memegang ponsel yang diarahkan pada mereka, mengabadikan kejadian. Popi di sebelah Linggar dan berhelm sama dengan helm yang sedang Deni kenakan. "Tapi, seharusnya kalian tak ke mari," Linggar bersuara pelan. "Sekarang kamu sudah tahu siapa Raden Nanggala, bukan?" tanya Popi di balik helm ranger. "Dia yang kami buru. Bukan kamu..!!" Nada Popi protes karena Linggar salah mengerti dengan kedatangan mereka. "Peredam ini bisa kalian hancurkan bersamaku. Powerlock sudah tak bisa dilepaskan lagi dari kepala." "Kau bicara apa? Siapa yang akan memimpin sekolah Merah bila kau mati, hah?" geram Deni. "Dua tengil itu benar-benar licik. Sungguh licik. Waktuku jadi terhambat," kata Popi bicara sambil termenung, lalu melirik ke arah Deni. "Berus, bawa Kalingga ke rumah ayahku. Aku harus teruskan pengejaran ini bersama yang lain. Raden Nanggala.. mungkin sedang menantikan tantanganku." "Kau berhati-hatilah dengan jurus Tritera-nya, Betiya. Nanggala memiliki kekuatanmu, tak hanya tahu kelemahanmu." Paste masih merekam, matanya tak lepas dari Deni yang kini mengeluarkan sebilah pisau dari balik pinggang. Di luar kamera, Deni sedang pegang botol plastik kosong. Pisau itu melengkung seperti bulan sabit, berkilau biru. "Betiya, tunggu—" Deni mencoba menahan Popi. Tapi sudah terlambat, Popi sudah keluar dari sorotan kamera, sementara Deni mendongak ke atas padahal Popi pergi sambil merunduk. Popi melesat, meninggalkan jejak debu. Pisau bulan sabit memantulkan kilatan biru elektrik di tangan Deni. Deni mengutuk dalam hati. Botol plastik kosong di tangannya berderak saat digenggam terlalu keras. Tapi tidak demikian dengan sajam di versi film. Kre..tak..! kretak..! Remas Deni pada benda di genggaman. Tiba-tiba.. Towet .! Towet! Drrt.. Drrt..! "Ehh.. Bunyi apa tuh, di saku elo Ling?" tanya Paste beralih fokus dari layar rekam ke sisi celana Linggar. "Ngedonlod di mana sih itu dering?" --- Linggar dan Wiwin berjalan menuju parkir motor pasar, melewati deretan gerobak. "Lo naik apa?" tanya Linggar. "Ojol," jawab Wiwin singkat, jarinya sudah sibuk membuka aplikasi di ponsel. "Gue bonceng aja, sekalian. Rumah lo kan jauh dari sini." Wiwin tak menjawab. Matanya tetap tertuju ke layar, jempolnya bergerak cepat memilih opsi order. Beberapa detik kemudian, suara notifikasi muncul, driver sudah menemukan. "Gue udah pesen," ucap Wiwin. "Lo pulang aja. Nggak usah repot-repot." Linggar berdiri di sampingnya, tangan di saku celana, menatap Wiwin yang masih sibuk dengan ponsel. Tak ada kata protes atau negosiasi. "Oke," jawab Linggar akhirnya, suaranya datar. "Hati-hati di jalan." "Iya. Lo juga." Tiin. Tin..! Linggar dan Wiwin melirik ke arah klakson dekat pos parkir. Mereka lanjut berjalan. Lampu-lampu mulai menyala, suara warga di satu dua mesjid sudah menggemakan puji-pujian jelang magrib dari pengeras suara. Motor ojol datang duluan dan berhenti. Wiwin segera duduk di jok belakang tanpa basa-basi, hanya melambaikan tangan ke arah Linggar. "Dah." "Iya. Dah too.. Win." Motor ojek melaju, meninggalkan Linggar yang masih berhenti di pinggir jalan. Angin sore membelai rambutnya yang diikat kasa. Linggar melangkah ke lahan parkir setelah Wiwin tak terlihat lagi. --- Di rumah, sebelum masuk ke kamar, Linggar membuka ponsel. Ada pesan masuk dari Deni. Deni: Gue minta video yang di kelas tadi. Plus ocehan gue soal cewek. Balasan dari Linggar singkat: Oke. Lalu dia mengetik lagi: Tolong forward ke grup, kasih ke si kembar dialog Raden dan Kalingga di kelas tadi buat dilihat. Deni membalas dengan emot acungan jempol. Linggar melepas sepatu, menjatuhkan diri ke kasur. Layar ponsel masih menyala, galeri terbuka dengan dua video yang loading tengah dikirim, satu file rekaman yang di kelas, satu file persepektif Deni yang berlangsung di lorong. Linggar memutar ulang video TPU, berhenti tepat di detik di mana bayangan rambut hitam lurus itu muncul dari balik nisan. Linggar memperbesar gambar, memperhatikan detail. Tapi tak lama, dia menutup aplikasi. Matanya menatap langit-langit kamar. "Aneh," bisiknya pada dirinya sendiri. "Tadi gue kram banget nonton ginian." Di luar, azan menggema dari kejauhan. ---
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD