Bab 4 - Intrik Segitiga

1120 Words
Pagi ini di sekolah, Linggar sedang duduk di kasur ruang medical. Deni membuka perban yang melilit di kening Linggar. "Ini sudah selasai. Aku hanya perlu teknik brute force untuk meretas sandi Powerlock," kata Deni, di bawah hidung ada coretan pulpen, kumis palsu. "Jadi setelah bebas dari peredam ini, apa kau akan membunuh lagi, anak muda?" "Aku ingin berhenti dari lingkaran ini, Prof. Sekolah Biru tak pernah membunuh murid dari sekolahku. Sekolah Merah. Yang membunuh kami adalah sekolah Putih." "Ya. Ya. Anak muda. Aku mengerti. Kau ingin perdamaian di provinsi City meski harus bertaruh nyawa. Namun puteriku, Betiya, sungguh keras kepala." Linggar tak bicara. Deni menghela napas panjang, membetulkan kumis palsunya yang mulai melorot. "Betiya masih percaya bahwa Sekolah Putih perlu dihancurkan sepenuhnya. Tidak ada jalan tengah untuknya." Suara Deni terdengar lelah, seorang yang terlalu sering menyaksikan sejarah berulang. Linggar menatap lantai. Bau obat menguar di ruang UKS. "Prof," pelan Linggar. "Aku pernah melihat Betiya menangis di belakang Sekolah Biru seminggu lalu." Deni berhenti bergerak. "Betiya menangis menatap foto lama," lanjut Linggar, mata masih tertuju pada lantai. "Foto itu... ada tiga anak kecil. Kau, wanita yang mirip Betiya, dan seorang yang dicoret tinta merah." "Ah, ya. Aku dari sekolah Merah. Istriku dari sekolah Biru. Dan seorang lagi adalah teman kami. Dia dari sekolah Putih." Linggar menatap Profesor saat menyimak. "Aku sudah katakan pada Betiya tentang Nanggala. Agar dia berhenti mengejarnya. Nama itu tak ada orangnya. Tak ada yang bersalah atas kematian istriku." "Tapi.. Aku ditangkap oleh orang yang dapat berganti wajah. Dia Raden Nanggala." Plukh..! Deni menjatuhkan pinset yang dipegang. Logam itu berdentang di lantai, bunyinya memantul di dinding UKS. Dalam film, kumis palsu pria itu benar-benar lepas, jatuh ke lantai di antara kaki seperti ada yang tak bisa disangkal lagi. Deni terduduk di sebelah Linggar. "Aku pikir... Betiya sudah membakar foto itu, anak muda." Linggar mengangkat wajahnya perlahan, mendapati Profesor diam tak bicara lebih lanjut. Ia kembali melihat kumis palsu di lantai, yang sudah seperti mayat kecil. "Prof... itu bukan foto biasa, kan?" tanya Linggar. Deni mengusap wajah dengan kedua tangan, mencoba menghapus suatu yang lebih dalam dari sekadar kumis palsu yang terlepas. "Foto itu satu-satunya bukti bahwa kami bertiga pernah bersahabat," serak Deni. "Sebelum Segitiga Perang dimulai.. sebelum mereka menembak istriku di depan gerbang Sekolah Biru." Linggar menghela nafas dan nyengir. "Sip. Ntar edit.. Kumis lo itu jatuh, yang sisi kiri. Kasih efek visual." Linggar turun dari kasur sambil mengusap kepala Deni. "Ha.. udahan?" tanya anak PMR saat merekam percakapan itu dengan ponsel di tangannya. "Dikit banget adegannya?" --- "Pinjem, Sas. Sini. Hape punya Linggar kan?" "Eh, haduh.. Kaget," panik siswi ini, ketawa. Wiwin datang ke ruangan, tiba-tiba mengambil ponsel syuting dari anak sekretariat itu. Wajah sendu Deni berubah melihatnya. "Win. Lo ini kenapa sih.. aneh terus?" tanya Deni. "Sekarang gue mau ngomong sama kalian berdua. Bukan cuma ke elo, Den." "Ngomong apaan? Kemaren kan gue udah minta maaf. Lo masih nggak terima, gue olokin?" Suara Deni sedikit naik. Wiwin melengos pergi meninggalkan UKS. Linggar jalan lebih dulu, ponselnya dibawa gadis itu, ada bahan konten yang berisi adegan penting. Wiwin dikuti kedua temannya. Jarak mereka 2 rentang tangan, lebih depan hingga Wiwin berhenti dekat mading, ruang OSIS yang penghuninya belum datang satu orang pun. "Ling, Den.. Kalian mikirin PR nggak sih, pagi-pagi sibuk eskul teater kek gini? Kenapa nggak pindah aja sih, ke Smansa? Si kembar kan ada di sono." "Hhh.. Ck..!" lemas Deni, menggaruk sambil berdecak malas. "Jelasin Ling. Gue ke kelas dulu." Linggar tak langsung bicara. Wiwin melirik arah belakang di mana Deni sedang menjauh, siswa gabut itu menapaki koridor. Lorong sudah mulai ditongkrong beberapa murid lain. "Win.. kalo rekam orang, itu ngelanggar privasi. Jadi kami bikin cerita sendiri. Kampus kita emang nggak ada eskul teater. Tapi ini.. bukan halangan buat kreatif." "Anak Soedirman V kontennya drama sampah?" "Gue bawa edukasi juga, Win. Bukan cuma hobi." "Gue iri kalian berdua deket terus. Gue udah kayak kambing congek liat kalian mesra ngonten sampah." Wiwin meraih tangan Linggar dan menaruh ponsel di telapak pemilik barang. "Tolong bales cepat kalo gue nge-chat atau nelepon elo." Wiwin berbalik pergi. Ternyata siswi ini sekedar mencurahkan isi hati pada tujuan. Linggar tak berkomentar selain menatap lama punggung Wiwin. Empatinya sedang dituntut, agar perhatian pada siswi itu. --- Malam ini notifikasi akun tim bertubi-tubi. Linggar sedang tiduran, mengenakan kaos, ponsel di d**a. Dia hendak menutup mata ketika layar menyala berkali-kali dalam hitungan detik. Linggar angkat ponsel, squint. --- [ GRUP: VLOG - XLOG] Sintari: LINGGG Sintari: LING LING LING Deni: woy bangun Sintari: video TPU kita naik views gila banget [Sintari mengirim tangkapan layar] Sundari: serius ini 40 ribu dalam 3 jam Deni: HAAAA Deni: gue kira bakal mati kayak biasa Sintari: ada yang nemu objeknya ling Sintari: di kolom komentar udah rame banget Sundari: orang-orang pada repost juga ini [Sundari mengirim tautan] Deni: ini viral nih anjirr Linggar duduk. Matanya sudah tidak mengantuk. Dia buka aplikasi, cari konten yang dikirim Sundari. Tangan kirinya menahan napas tanpa disadari. Views: 41.203. Komentar: 1.847. Dan terus naik. --- Linggar: oke gue bangun Deni: AKHIRNYA Sintari: Ling objeknya udah pada tau belum ini siapa Linggar: belum gue baca Sundari: ada yang bilang itu hantu sekolah sekitar TPU Sundari: ada yang bilang itu salah satu dari kita pake kostum Deni: kostum apaan gue aja nggak tau ada yang berdiri di situ Sintari: nah itu Sintari: Ling lo tau nggak waktu di TPU kemarin ada orang lain? Linggar: enggak Linggar: serius enggak [Deni bereaksi 👀 pada pesan Linggar] Deni: gue juga nggak nyadar Sundari: kita perlu bilang apa di caption apa nggak nih Linggar: jangan dulu Linggar: biarkan aja. komentar yang nulis sendiri itu lebih organik Sintari: setuju Deni: setuju juga tapi gue serem sendiri Deni: soalnya gue yang paling deket sama nisan itu waktu itu [Sintari mengirim stiker tertawa] Deni: ketawa aja lo Sin Sundari: udah gue screenshoot komentar-komentar yang bagus Sundari: buat arsip Linggar: oke. besok kita voice meet jam 4 sore, bahas konten lanjutan Sintari: siapp Deni: siap bos Sundari: oke --- Linggar tutup grup. Dia buka aplikasi medsos, membuka link akun tim, scroll komentar satu per satu. Ada yang bilang bayangan itu perempuan. Ada yang bilang itu efek kamera. Ada beberapa yang tagging akun lain, minta dianalisis. Satu akun riset urban legend kota langsung repost dengan tambahan caption panjang tentang sejarah TPU Kebon Jati. Linggar screenshot yang terakhir itu. Matanya tahan di satu komentar yang baru tiga menit lalu masuk: bro ini bukan efek.. rambut itu gerak di detik 1:47 coba pause Linggar putar ulang video. Berhenti di detik 1:47. Perbesaran. Dia diam cukup lama. Lalu dia tutup aplikasi, meletakkan ponsel di sisi kasur, dan menatap langit-langit seperti kemarin. "Besok aja mikir ini," ucapnya sendiri. Tapi Linggar tidak terpejam sampai lewat pukul dua belas. ---
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD