Pagi terlalu indah untuk dilewatkan dengan kenangan tak menyenangkan yang diciptakan oleh Dino kemarin. Lisa bersikap baik-baik saja, seolah tak ada sesuatu yang terjadi padanya. Dia kembali seperti semula, itu adalah pilihan untuk sekadar mendapatkan kenyamanan yang semu, meski hanya sedikit, setidaknya mampu mengobati sebongkah hati yang kecewa.
Jadi karena itu, Lisa kembali berdiri di depan rumah Dino, dan menunggu remaja itu untuk berangkat ke sekolah bersama-sama seperti biasa.
Lisa menunggu selama beberapa menit di sana. Seulas senyuman bahagia pun tercipta ketika pemuda yang dia tunggu-tunggu kehadirannya, menampakkan eksistensinya pada si sulung Hogward. Lisa tersenyum manis dan mengucap selamat pagi.
Dan tak mendapat sahutan dari Dino.
Tanpa aba-aba, Lisa langsung menyodorkan handuk putih dan sebotol air minum yang sedari tadi dibawanya kepada Dino. Ia masih tersenyum manis pada pemuda dingin itu, meski sapaannya diabaikan. "Nanti kelasmu olahraga, jadi kau harus membawa ini, Dino-kun. Aku membawakan semua ini untukmu," ucap Lisa dengan tulus, wajah si sulung Hogward tersipu, pipinya merona.
Bola mata hitam milik seseorang di depan Lisa memperhatikan gadis itu selama beberapa saat, mendengkus kesal karena merasa perbuatan gadis di depannya ini terlalu berlebihan menurutnya, namun tangan kanannya menerima begitu saja handuk dan botol air yang Lisa berikan.
Lisa tersenyum lebar, merasa bangga karena perhatiannya tersampaikan dengan baik kepada sang pujaan. Dia segera menaiki boncengan sepeda Dino, mencengkeram jas hijau tua seragam sekolah pemuda itu, sekadar berpegangan agar tidak jatuh ke tanah, yang sayangnya ditepis langsung oleh lengan kokoh sang pemuda Leckner.
Lisa hanya tersenyum seperti biasa, sebagaimana perlakuan dingin Dino yang biasa ia dapatkan.
Perjalanan menuju sekolah dilalui mereka berdua seperti biasa, tak ada yang menyenangkan. Keheningan adalah teman baik mereka berdua. Hanya ada suara desir angin, suara jangkrik dari balik semak dan suara ayam jantan yang berkokok nyaring.
***
Dino menatap aneh pada Lisa yang membungkuk dengan kedua tangan terjulur rata dengan punggungnya, membuat sebuah amplop berisi surat berwarna biru muda tersodor tepat di hadapan Dino.
Pemuda itu tak mengerti, apa teman sejak kecilnya itu juga mempunyai perasaan padanya seperti gadis-gadis lain di sekolah mereka? Dino tak ingin seperti ini, dia ingin kabur dari tempat itu. Dia bisa saja dengan seenak hatinya menolak surat yang kemungkinan besar berisi pernyataan cinta itu. Kemudian setelah itu, dia akan mengisi waktunya dengan beristirahat di kantin seperti biasa. Bukannya malah berdiri berhadap-hadapan dengan teman masa kecilnya di atap sekolah seperti yang ia lakukan saat ini.
"Apa maksudmu, Lisa?" tanya Dino setengah berbisik. Sengaja menyebut nama sang gadis agar gadis itu bisa mendengar suaranya. Lisa bungkam, seakan terpaku di tempatnya berdiri, ia menunggu Dino mengambil amplop surat yang ia sodorkan kepada anak laki-laki itu.
"Lisa, jawab aku—"
"T-terima saja ini," ucap gadis itu dengan suara bergetar, menandakan kegugupan yang luar biasa telah hinggap di dalam hatinya. Manik sehitam malam milik Dino terbelalak sesaat, sampai bola matanya berputar bosan. Dino tak habis pikir, kenapa Lisa yang setahunya anak yang tak pandai bergaul dan tak menaruh hati padanya, malah mengungkapkan perasaannya lewat surat ini.
Ternyata Lisa sama saja dengan siswi-siswi lain di sekolahnya, dia sama dengan mereka yang mengejar-ngejar dan memintanya untuk menjadi kekasih.
Dino menghela napas kasar. Ini terlalu rumit baginya. Padahal, seharusnya sejak awal tak boleh ada cinta di hubungan pertemanan ini. Si bungsu Leckner itu mendengkus pelan. Masih sambil menatap Lisa, tangannya mengambil amplop biru muda yang gadis itu sodorkan, lalu menyimpannya asal ke dalam saku jas. "Kau bisa pergi, Lisa," bisiknya datar.
"Ta-tapi—"
"Ya, aku akan membacanya di rumah."
Meski, Dino sudah bisa menebak seperti apa isi dari surat itu, tapi gadis Hogward itu menurut terhadap apa yang Dino sampaikan. Lisa berbalik dan menjauh darinya dengan wajah bersemu merah muda. Gadis itu berlari, tak peduli jika dia sedang menuruni tangga menuju lantai tiga.
Dino tahu akan seperti apa ini semua berakhir.
Semua akan berjalan sesuai rencananya, dia akan membuang surat bersampul biru muda itu secara diam-diam begitu tiba di rumah nanti, lalu bersikap seolah tak ada sesuatu yang terjadi di depan Lisa. Dengan otak yang gadis itu miliki, pastilah dia akan tahu dengan sendirinya jika Dino telah menolak perasaannya. Mereka akan kembali seperti biasa, tanpa adanya hubungan yang lebih jauh dari sekadar pertemanan antar anak tetangga, tapi bahkan seorang cerdas seperti Dino pun tak terlalu bisa memprediksikan segala sesuatu yang akan terjadi padanya.
Seorang yang ahli sekalipun tentu tak bisa menebak dengan pasti masa depannya sendiri.
Tuhan jelas tak akan memberikan kemudahan terus-menerus pada si bungsu Leckner. Mungkin karena sifat si bungsu Leckner itu yang membuat Tuhan ingin terus mengujinya.
Cobaan diterima Dino saat ingatan yang terlupa membuatnya harus menyimpan lebih lama surat pemberian Lisa di dalam kantong celananya. Ia melupakan surat bersampul biru itu seolah tak pernah menerima surat itu sebelumnya, bahkan dia sudah menjalankan rencananya dan bersikap biasa saja di depan Lisa. Namun, kesialan datang menimpanya, saat dengan tak sengaja ibunya menemukan surat cinta manakala Gina Leckner hendak mencuci seragam putra bungsunya, Dino.
Dino tahu dengan jelas apa kata-kata yang akan terlontar oleh ibunya sesaat setelah menemukan surat pemberian dari Lisa itu.
"Kaa-san harap kau tak membuat Lisa-chan sakit hati, Dino-kun," bisik wanita itu sembari menggenggam surat cinta bersampul biru muda. "Berikan keputusan yang baik dan juga pasti bisa membuatnya bahagia. Jangan membuatnya kecewa dan berakhir membuatnya menangis. Lisa anak yang baik, dia sudah cukup menderita selama ini."
"Jadi, buatlah dia senang. Kau tahu maksud Ibumu ini, kan? Dino."
Dino jelas dongkol setengah mati, bukan ia yang membuat kehidupan Lisa menderita dan nelangsa, ia bahkan sudah mau bersusah payah menemani gadis yang sulit sekali bergaul dengan orang lain sejak percobaan bunuh diri ayahnya itu. Jadi, tak ada kewajiban khusus baginya untuk membuat Lisa bahagia lebih dari yang seharusnya, dia sudah memberi batas; hanya sebuah pertemanan. Tak lebih, apalagi seperti menjadi kekasih anak itu. Dia tak bisa.
Baginya, itu sudah melewati batas yang seharusnya dari sekadar memintanya berteman baik dengan gadis itu. Dan lagi, Dino tak punya utang budi apa-apa untuk hal ini karena Dino memang tak punya kewajiban atas kebahagiaan gadis itu. Dino bertatapan dengan mata yang sekilas mirip dengannya, tatapan yang sarat dengan permohonan, harapan dan kasih sayang seorang ibu.
Gina tahu jika keputusannya ini membuat anaknya tidak suka, ia lantas mendekati putra bungsunya yang masih saja diam di tempat. Dino memalingkan wajah, enggan menatap sang ibu. "Dino," panggil Gina lembut. "Baik-baiklah dengan Lisa-chan, dia anak yang baik, kau pasti juga akan menyukainya."
Nyonya Leckner kemudian mengelus wajah anak bungsunya dengan lembut. "Jangan menyakiti hati Lisa dan membuat ibumu ini bersedih, kau mengerti?"
Dino diam, tak menghiraukan wanita dewasa yang berdiri di depannya. Ibunya berkata seolah semua ini begitu mudah, seakan dia bisa luluh hanya karena gadis itu mempunyai sifat yang baik di matanya, tapi masalahnya adalah; baik saja tidak cukup untuk membuatnya jatuh cinta.