09. Permintaan Masa Lalu

1618 Words
Hari demi hari pun berlalu. Tak terasa, sudah tiga bulan lebih Lisa tinggal di kawasan baru bersama keluarga kecilnya. Semenjak pindah ke rumah yang jauh lebih besar, Lisa merasakan beberapa perubahan yang telah terjadi di depan matanya. Perubahan yang begitu besar, dan terasa menyenangkan. Ayah dan ibunya tak lagi bertengkar seperti dulu. Tak ada lagi pertengkaran di setiap saat seperti yang sering mereka lakukan di depan anaknya. Bahkan, tatapan ayahnya yang semula menatap tidak suka, kini menjadi tatapan lembut setiap kali dia melihat kepada sang istri, yang itu berarti ibunya Lisa. Tak ada lagi sorot kebencian ataupun rasa tidak suka yang terpancar di kedua bola matanya. Yang ada di sana hanyalah kekuatan perasaan yang baru saja tumbuh dan berkembang. Benar-benar sebuah tatapan yang tulus dari hati. Sama seperti ayah, ibunya juga sering menampakkan raut muka tersipu yang begitu manis. Ketika Lisa memuji betapa enaknya masakan buatannya. Padahal sebelumnya, tidak pernah sekalipun ia memperlihatkan senyum seperti itu. Jika pernah pun, mungkin hanya terjadi di dalam mimpi saja. Sebab, dulu ketika ibunya bukan yang sekarang, setiap kali Lisa dan adiknya Mira memuji keahlian sang ibu memasak, yang mereka dapatkan hanyalah raut muka datar dengan pandangan yang hampa. Seolah ia hanya boneka yang digerakkan dengan kata-kata, tanpa keinginan yang berarti. Sama sekali tak ada kebahagiaan yang terpancar di sana. Waktu itu, suasana rumah lama mereka memang sangat mengkhawatirkan. Rumah lama mereka dekat dengan halaman kosong yang dipenuhi pohon pisang dan pohon sawo yang besar. Tinggal di sebuah desa kecil dengan rumah penduduk yang jarang-jarang memang membuat kepribadian seseorang bisa berubah-ubah. Terutama karena tanah tempat rumah didirikan dahulunya adalah hutan yang lebat. Itulah mengapa Kalimantan menyimpan banyak misteri. Mungkin itu sebabnya orang tuanya selalu bertengkar dan tidak akur satu sama lain, meski keduanya sepasang suami-istri dan telah dikaruniai dua orang anak. Lisa dan Mira pun menjadi takut, jika ibu yang mereka sayangi membenci mereka begitu dalam. Namun, setelah melihat perubahan orang tua mereka yang jauh lebih baik dari sebelumnya, rasanya kedua anak perempuan itu menemukan sebuah harapan. Bahwa mereka bisa seperti keluarga lainnya, harmonis dan bahagia. Ini lebih manis daripada istilah kejatuhan durian runtuh. Lisa juga akhirnya tahu nama anak laki-laki yang dijumpainya sepekan yang lalu. Ia merupakan putra bungsu keluarga Leckner, keluarga yang tinggal di depan rumah barunya. Nama anak laki-laki itu adalah Dino, lengkapnya yaitu Dino Leckner. Anak itu tidak satu sekolah dengannya, dia di sekolah lain yang lebih jauh, tapi jalan yang sering dilalui oleh laki-laki itu sama seperti jalan yang Lisa tempuh menuju sekolahnya. Oleh karena itu, Lisa akan mengikuti setiap langkah kaki Dino di pagi hari dengan perasaan yang riang sebelum berhenti di sekolahnya. Sebab, dia senang melihat Dino yang selalu memberikan tatapan penuh arti padanya (dia tak tahu jika tatapan Dino itu adalah tatapan tidak suka), dan karena pemikiran itulah Lisa selalu memberikan perhatian berlebih padanya. Ayah dan ibu Dino sangatlah baik. Mereka adalah tipe manusia yang rela membantu sesama, dan tak memedulikan keadaan mereka sendiri. Bagi mereka, menolong orang lain adalah perbuatan yang bisa menjadi kebaikan yang akan selalu terkenang selamanya. Semua kemurahan hati mereka dibuktikan dengan adanya klinik kesehatan cuma-cuma yang berada di samping rumah keluarga Leckner. Ya, keluarga itu tak memungut biaya sepeser pun untuk orang-orang yang kesusahan, bahkan obat pun mereka berikan gratis. Di saat Lisa memasuki usia delapan tahun, keadaan yang telah berubah menjadi membaik itu tiba-tiba saja memburuk seperti dahulu. Bahkan lebih buruk lagi. Ayah dan ibunya kembali bertengkar hebat, lagi dan lagi. Bahkan pertengkaran di rumah baru mereka ini jauh lebih hebat dan terdengar sangat memuakkan di telinga anak-anaknya. Sampai akhirnya, karena tak tahan lagi berdebat dengan Doran, wanita yang merupakan ibu biologis dari Mira dan Lisa pun kabur dari rumah, meninggalkan Doran beserta keluarga kecilnya. Alasannya hanya karena pria masa lalu yang sering ibunya sebut dalam catatan hariannya kembali datang dan memintanya untuk tinggal bersamanya. Otomatis, ibu yang pada dasarnya menikah tanpa pernah mencintai ayah pun tak berpikir panjang lagi dan langsung pergi menjauh dari rumah, serta menghilang untuk selamanya dalam pandangan kedua anak perempuannya. Dia lebih memilih pria itu, daripada keluarga yang sudah bertahun-tahun menemani hela napas dan mereka yang bersamanya melalui suka duka. Wanita itu memilih cinta masa lalunya dan mencampakkan apa yang dia miliki sekarang. Doran menyadari kesalahannya membiarkan istrinya pergi. Fakta bahwa dia mulai mencintai sang istri membuatnya terpuruk, dan menderita. Pria itu terlihat sangat terpukul karena kepergian istrinya itu. Lisa yang tak tahu kenyataannya pun kebingungan, bukankah ayahnya tak pernah mencintai ibunya sama seperti ibunya yang tak bisa mencintai ayahnya? Mengapa Doran malah bersedih dan tak bersemangat seperti ini? Apakah ayahnya menyesal terhadap sikapnya selama ini yang gagal menunjukkan perasaannya kepada sang istri? Apa cinta di antara mereka tak bisa tumbuh dan subur seperti di keluarga orang lain? Pertanyaan-pertanyaan ini menjadi sering bermunculan di benak Lisa dan mengganggunya di setiap paginya kala dia membuka mata menyambut hari baru. Dia masih terlalu muda kala itu, tapi dia hanya ingin tahu jawaban dari semua pertanyaan rumit ini. Dia ingin tahu alasan mengapa ayahnya menangis hebat. Dia ingin tahu awal mula alasan perubahan sikap orang tuanya dulu yang membuat Lisa sempat berekspektasi tinggi terhadap kehidupan keluarga yang bahagia. Padahal, Lisa dan adiknya sudah melihat harapan yang seperti angin sejuk di Padang gersang, tapi kenyataannya semua hancur tak bersisa setelah ibunya memilih pergi dari keluarga mereka. Entahlah, Lisa kalut sendiri dengan kejadian yang menimpa mereka. Pertanyaan ini terlalu sulit untuk dijawab sendiri. Ah, umurnya memang baru delapan tahun kala itu, tapi Lisa sudah terlihat lebih dewasa dalam berpikir daripada anak-anak seumurannya. Meski sedikit pemalu, dia cerdas juga berprestasi dalam akademik. Semua guru dan teman-temannya di sekolah merasa bangga terhadap pencapaian Lisa, tapi dia tidak merasa demikian. Lisa hanyalah anak perempuan biasa, yang masih mengharapkan kasih sayang yang melimpah dalam hidupnya. Dari luar dia baik-baik saja, tapi di dalam, Lisa begitu kesepian tanpa sosok seorang ibu. Hari berlalu seperti biasa, Lisa mengawali harinya dengan menyiapkan sarapan sederhana di atas meja makan. Tiga buah piring berisi nasi beserta telur dadar yang diletakkan di atas meja. Semua berjalan normal, hingga insiden naas itu terjadi pada keluarganya. Lisa yang berniat memanggil Doran untuk makan pagi bersama, mendadak berteriak histeris saat mendapati ayahnya terbujur lemah di lantai. Dengan tubuh bersimbah darah dan terlihat menyedihkan di atas genangan cairan merah kental. "Tou-san! Tou-san!" Lisa menghambur ke Doran, mendekat dan bersimpuh di depan ayahnya. "Tou-san ... kenapa bisa seperti ini?" Lisa membungkam mulutnya, takut. Ketakutan yang hebat seketika menguasai pikiran dan jiwanya. Dia akan kehilangan lagi seseorang yang berarti baginya. Pikirannya bertambah kalut seiring bertambahnya rasa gelisah yang ia rasakan saat itu, karena tak tahu apa yang harus dia lakukan untuk menolong sang ayah. Napas Doran masih ada di badan, meski tersengal-sengal. Ia merintih kesakitan dengan posisi badan yang meringkuk seperti bayi, tangannya lunglai di samping tubuhnya beserta pisau yang dijadikannya sebagai sarana pencabut nyawa. Apa yang harus Lisa lakukan ketika dihadapi peristiwa tak terduga seperti ini? Lisa hampir terisak dan meneteskan air mata, sampai matanya bertemu dengan pandangan penuh rasa sakit sang ayah, keduanya saling bertatapan selama sekian detik. Saat itulah, Lisa tahu apa yang harus dia lakukan, yaitu bergegas mencari pertolongan kepada siapa pun yang bisa menolongnya. Lisa tidak terlalu memikirkan keadaannya sendiri yang tampak mengerikan dengan kaki yang berlumuran darah. Seseorang yang bisa dimintai pertolongan, dan yang muncul di benaknya adalah Paman Mogi, ayahnya Dino. Pria yang bekerja sebagai dokter itu pasti bisa menolong ayahnya yang hampir kehilangan nyawa. Tetapi sebelumnya, Lisa belum pernah bertandang ke rumah Dino, anak lelaki yang dikaguminya. Lebih tepatnya rumah orang tua anak itu, dan ia merasa sedikit canggung. Apalagi semenjak keluarga Lisa pindah, tak pernah sekalipun orang tuanya mengundang tetangga seberang rumah mereka itu untuk mampir makan malam di kediaman mereka. Namun, setiap kali berpapasan, mereka selalu tersenyum ramah kepada Lisa dan anggota keluarganya yang lain. Orang tua Lisa hanya tahu pekerjaan dan marga dari tetangga seberang rumah mereka. Termasuk nama lengkap dan berapa jumlah anggota keluarga Leckner. Namun, walau tak pernah berkunjung ke rumah masing-masing, mereka tetap saling menyapa ketika kebetulan berpapasan di luar rumah dan cukup akrab. Inilah realita tetangga di masa sekarang, pikir Lisa ketika selesai mengingat hubungan keluarganya dan keluarga Dino. Meskipun begitu, dia telah membulatkan tekadnya. Yang terpenting sekarang adalah menyelamatkan nyawa ayahnya yang tengah sekarat. "Ayah, tunggu di sini! Lisa cari bantuan. Mira! Mira!" Lisa memanggil adik perempuannya dan anak kecil itu tertegun melihat keadaan sang ayah, sesaat kemudian gadis itu menangis sesenggukan sambil memeluk kaki sang ayah. Lisa dengan cepat berlari ke rumah keluarga Leckner, lalu menanyakan kepada anak laki-laki di depannya, di mana keberadaan paman dokter yang bisa membantunya menyelamatkan nyawa sang ayah. Penampilannya saat itu benar-benar kacau, wajahnya basah karena air mata. Anak laki-laki itu bergeming, menatapnya bingung. Sejurus kemudian ia masuk sebentar ke dalam rumah. Tak berapa lama orang yang dicari Lisa pun muncul. Begitu melihat sang penolong, Lisa begitu bahasa dan segera menarik baju kerja Mogi, menuntun sang dokter untuk segera pergi ke rumahnya dengan air mata yang masih berderai di pipi. Doran mendapat pertolongan dan dibawa ke rumah sakit dengan mobil pribadi Mogi, lelaki itu sudah kehilangan banyak darah, tapi Tuhan masih menyelamatkan nyawanya. Semenjak kejadian itu, Lisa pun menjadi sering berkunjung ke rumah Dino karena nyonya rumah keluarga Leckner selalu ingin gadis itu ada di rumah mereka. Karena itu jugalah semakin lama, Lisa semakin jatuh hati kepada si bungsu Leckner yang selalu bersikap dingin padnaya. Lisa tak peduli jika Dino tak banyak bicara, dia terlanjur menginginkannya, selalu mendambakan Dino di setiap hela napasnya. Berada di dekat laki-laki itu mampu menenangkan perasaannya. Walau gadis itu juga semakin menyadari satu hal, bahwa Dino tak pernah merasakan hal yang sama ketika bersamanya. Dino tak pernah bahagia, dia tak menginginkan Lisa. Lisa pun sadar jika hanya dia yang menjadi pecinta dalam hubungan yang berjalan sepihak ini.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD