28. Cinta Tak Terbalas

1154 Words
Inilah risiko menyukai seseorang, meski tahu dia telah mencintai orang lain, tapi sang pecinta akan memilih bertahan sampai hatinya tak berbentuk lagi. Kini hatinya akan mati rasa, disebabkan penolakan yang telah didapatnya berulangkali dari orang yang sama. Kini dia tak mau lagi menghitung berapa banyak penolakan yang ia dapatkan, sebab itu hanya akan menambah luka di hatinya yang patah. Inilah yang bisa dilakukan sang pecinta yang cintanya tak berbalas, berusaha menumpulkan rasa agar tidak bertambah dalam luka yang ditoreh. Pasti seperti inilah keadaannya dulu ketika bersikeras bertahan dalam sebuah hubungan yang sama sekali tak menguntungkannya. Justru hubungan itu membuatnya semakin mundur dan menyisakan kenangan pahit yang mau tak mau harus segera dihilangkan agar tak bertambah perih luka yang diderita. Keadaan di mana Lisa menyadari bahwa betapa tak beruntungnya dia dulu. Kini semua tak lagi sama, sebab roda yang sempat berhenti, kini perlahan memutar kembali. Entah pikiran dari mana, dan ide yang muncul karena hal apa, Lisa pun merogoh isi tasnya, mengambil sebotol air mineral yang dia beli dari kantin sekolah, lalu berjalan lambat menuju seorang pemuda yang kini sudah menengadahkan wajah untuk menatapnya. "Ini," Lisa menyodorkan botol minuman itu kepada Gavin. "Ambillah." Dan dibalas dengan tatapan bingung dari Gavin yang diajak bicara, lalu gadis itu pun menambahkan, "Memang ini hanya air minum biasa, tak bisa membuat amarahmu reda atau membuat hatimu tenang, tapi setidaknya ini dapat membantu mendinginkan pikiranmu." Gavin masih belum menerima botol minum yang Lisa sodorkan padanya, dia masih diam mematung di tempatnya semula. Menatap Lisa tanpa kedip, lalu beralih menatap air minum yang masih terdapat segel pada tutupnya. Hampir beberapa menit tak kunjung diambil, Lisa pun menurunkan tangannya yang mengapung di udara. Gavin mendengkus sambil menatapnya dengan ekspresi tak suka. "Kau itu jangan jadi orang yang sok tahu seputar kondisi cinta orang lain." Gavin memicingkan mata, lantas melanjutkan, "Jangan bersikap seolah kau tahu segalanya." Bukannya itu kau? Lisa ingin sekali berkata seperti itu dan membalas ucapan sang pemuda, tapi dia tak ingin berdebat lebih jauh dengan pemuda yang sampai akhir pun tetap bersikap menyebalkan. Lisa mengangkat bahu, berusaha tak menggubris kalimat yang dilayangkan Gavin padanya. Dia lalu meletakkan begitu saja botol minuman di lantai tepat di depan Gavin yang masih menatapnya dengan tatapan tak suka. Sang gadis bermarga Hogward pun bergegas pergi, meninggalkan pemuda dengan rambut merahnya yang ternyata melanjutkan lamunannya di sana. Lisa semakin mempercepat langkah kakinya tanpa menoleh sedikit pun ke belakang. Jika terus meladeni si rambut merah ini, bisa-bisa dia akan terlambat pergi ke kegiatan organisasi. *** Seandainya saja dia juga memiliki seseorang yang mencintainya dengan begitu besar, pastilah dia kini menjadi gadis yang paling beruntung di dunia. Lisa tersenyum kecil dengan pemikirannya. Ah, semua jadi terasa benar-benar berbeda, bukan? Tak akan ada lagi dirinya yang berjuang sendirian, dia akan selalu ditemani oleh seseorang yang mencintainya, dan mereka akan melewati banyak hal bersama-sama. Lisa tertawa, sepertinya dia akan terlambat mengikuti kegiatan organisasinya jika masih saja sibuk berlari-lari kecil sambil memikirkan hal lain. Oleh karena itu, gadis manis bermarga Hogward itu pun mempercepat derap langkahnya—sambil berlari kecil sesekali—dan akhirnya setelah beberapa menit, tiba juga di ruangan di mana semua anggota klub berkumpul. "Kau darimana saja sih?" tanya Sarah dengan cepat begitu Lisa memasuki ruang organisasi dengan penampilan yang sedikit berantakan. "Kau terlambat hampir lima menit!" Lisa yang masih mengatur napasnya pun menggumam asal, bermaksud menyampaikan alasan sebenarnya. Walau tak terdengar oleh Sarah, tapi dia adalah tipe gadis yang tak mau mempermasalahkan sesuatu yang menurutnya sepele, jadi dia pun membiarkan alasan Lisa menguap ditelan udara. "Kami baru saja mau ke kebun sekolah untuk merawat tanaman yang beberapa hari lalu kita tanam, tapi untung saja kau datang sebelum kami pergi ke sana. Tadi Reza bilang, ada tunas yang sudah tumbuh." Lisa yang telah bernapas dengan normal pun mengangguk saat mendengar keterangan dari Sarah. Mereka akan kembali beraktivitas di kebun seperti sebelumnya. Kebun yang merupakan sepetak tanah kecil yang berdekatan dengan lapangan sekolah, juga tempat di mana Dino pasti akan menjadi pusat perhatian yang akan dia amati nanti. Tapi Lisa sudah berjanji pada dirinya, bahwa dia akan berdamai dengan masa lalu. Bukan berarti dia akan kembali mengemis perhatian pemuda itu, dia hanya akan bersikap biasa di depan teman masa kecilnya, bertingkah seolah tak pernah terjadi apa-apa di antara mereka. Sebab Lisa juga tak ingin menyakiti perasaan Gina Leckner yang sangat mengharapkan hubungan anaknya berjalan mulus hingga menuju status yang lebih tinggi lagi. Tentu wanita baik hati itu akan kecewa terhadap keputusan yang Lisa ambil, juga pasti akan syok begitu tahu kabar retaknya hubungan dua orang yang dikasihi. Lisa tentu tak mau hal itu sampai terjadi, dia jelas tak ingin melihat gurat kesedihan tampak di wajah orang yang sudah dia anggap ibunya itu. Kini keenam orang anggota klub berkebun sudah tiba di sepetak tanah milik organisasi mereka. Mereka lalu mengamati satu per satu pot dan gundukan tanah yang mereka tanam beberapa hari yang lalu. Kemarin Rio menugaskan Dani untuk memasang label nama sayuran yang mereka tanam. "Baguslah, pertumbuhannya berjalan baik sesuai harapanku. Jika kita terus merawatnya dengan baik, maka tanaman-tanaman ini tak akan layu dan tumbuh dengan subur serta menghasilkan rasa yang enak." Reza yang berdiri di antara anggota klub lainnya kemudian berjongkok dan menyentuh gundukan tanah dengan label 'Pohon Kelengkeng'. Dia lalu mengusap keningnya yang mengeluarkan peluh, seolah benar-benar telah melakukan suatu hal yang melelahkan. Padahal sedari tadi dia hanya berdiri di sudut, sambil memandangi anggota lain mengecek tanaman mereka satu per satu. Seolah tak tahu apa-apa, Reza kembali berkata, "Pertemuan kita cukup sampai di sini. Ayo, kita pulang sekarang." Lisa mengernyit keheranan, pertemuan kali ini bahkan tidak berlangsung lebih dari lima menit dan mendadak berakhir begitu saja? Apa Reza ada keperluan mendesak saat ini? "Aku harus pulang dan membantu Nenekku," jelas Reza tanpa diminta. Akhirnya beberapa anggota klub berkebun pun meninggalkan lapangan dan kembali ke gedung masing-masing. Lisa, Dani, Sarah dan Rio berjalan beriringan. "Dani-kun," panggil Sarah dengan suara manja yang dibuat-buat. "Apa kau bisa menemaniku pulang ke rumah? Sudah hampir pukul lima sore. Tak baik bagi gadis seusiaku untuk pulang sendirian menjelang magrib. Ya, 'kan?" Lisa melirik gadis dengan bentuk tubuh ideal seperti boneka yang berjalan di sampingnya. Melihat Sarah yang berparas rupawan sama halnya dengan melihat sebuah boneka Barbie yang disukai banyak anak-anak. Begitu menggemaskan, terutama dandanannya yang meniru para selebriti Korea. Ujung rambut yang sengaja diwarnai biru tua itu membuat kesan gaul terhadap sosoknya. Di sekolah memang tidak boleh mewarnai rambut, tapi Sarah tetap nekat dengan alasan dia bisa menghilangkan warna rambutnya dalam sekejap. "Ayolah, Dani-kun. Sekali ini saja. Mau ya. Ya, ya?" Sarah membujuk pemuda yang dia sukai. Lisa memperhatikan Sarah yang sedang merajuk pada Dani, si pecandu game online. Gadis itu lalu tertawa kecil saat tak sengaja menangkap raut wajah penuh bahagia terpancar di wajah Sarah ketika Dani akhirnya mau menuruti permintaannya, meski pemuda itu memasang ekspresi kesal, tapi Lisa yakin Dani juga menyukai Sarah. Lisa tersenyum getir, betapa beruntungnya orang-orang yang perasaannya terbalas. Tak seperti dirinya yang hanya bertepuk sebelah tangan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD