27. Ketulusan Yang Mengundang Simpati

1354 Words
Tak bisakah kau menyadari hadirku yang selalu ada untukmu? *** "KAU!" Rosa menunjuk tepat di depan wajah Gavin. Matanya berkaca-kaca menahan amarah yang bergejolak di hatinya. "Berhenti menggangguku!" jeritnya putus asa. Teriakan gadis itu menggema di lorong. "Tolong berhenti mencampuri urusanku! Ini hidupku! Memangnya kau siapa?! Berani berkomentar tentang apa yang aku lakukan!" Rosa berteriak, melampiaskan segala kekesalan yang ia rasakan dari dulu kepada pemuda yang terus mengejar-ngejar dirinya. Napasnya tersengal-sengal. Dia terlalu bersemangat mengeluarkan isi hati, sehingga tak menyadari batas yang ia miliki. Namun Rosa tak peduli, ini jauh lebih baik daripada tidak mengeluarkan pendapatnya kepada siapa pun. Memangnya adik kelasnya ini tahu apa tentangnya? Dia bukan siapa-siapa, dia tak berhak ikut campur urusannya. Kenapa pemuda itu berani sekali mengomentari hidup seseorang serta menentukan apa yang harus mereka lakukan? Rosa marah, dia tak pernah sekesal ini sejak berteman dengan Gavin di masa lalu. Pemuda ini juga sempat mengatainya sebagai sosok yang egois. Rosa selama ini masih bisa menahan diri, lagipula dia sendirilah yang menjalani hidupnya selama ini. Dia tak melakukan sesuatu yang salah sehingga pantas dibenci orang lain, tapi kenapa ada orang yang berani berkomentar tentang apa yang harus dan tidak boleh dia lakukan? Apalagi ucapan itu keluar dari orang asing yang merupakan adik kelasnya di sekolah. Ya, asing, Rosa tak ingin lagi menganggap kejadian pemuda itu. Gavin, pemuda yang mengatakan bahwa dia menyukainya itu, malah menyebutnya sebagai perusak hubungan orang. Jangan bercanda! Geram Rosa sambil mengepalkan tangan, ia menggigit bibir bawahnya kuat-kuat sambil berusaha keras menahan air mata yang hendak tumpah ruah dan membuatnya terlihat semakin menyedihkan. Jangan bercanda ... Rosa kembali membatin dalam hati. Dia sudah hidup dengan baik selama ini. Lalu dia kenapa? Memangnya dia salah apa sehingga pemuda ini membuat lukanya semakin bertambah? Gavin menatap Rosa dengan tatapan tak percaya. Rosa dan dirinya dulu adalah teman semasa kecil, keduanya sempat akrab satu sama lain. Namun begitu Rosa masuk SMP, semuanya berubah. "Sebaiknya kau pergi!" Rosa kembali berteriak sambil mengentakkan kakinya di lantai. Suara nyaring yang berasal dari salah satu kakinya yang dientakkan dengan kuat di lantai membuat seseorang yang menguping pembicaraan mereka tersentak kaget. "Kau tak tahu apa-apa tentangku! Kau hanya orang asing yang sok peduli denganku!" Rosa sangat marah, ia menatap tajam Gavin. "JANGAN ganggu aku! Usik saja orang lain! Tapi JANGAN AKU!" Kali ini, teriakan Rosa membahana di lorong yang sepi. Beruntung pada saat itu siswa-siswi tak banyak yang berada di gedung, jika tidak maka sudah bisa dipastikan keduanya akan jadi pusat perhatian. Lisa yang bersembunyi di tempat persembunyiannya bisa melihat dengan jelas seperti apa wajah Gavin yang kaget setelah diteriaki dengan kata-k********r oleh Rosa yang biasanya ramah. Mungkin pemuda itu tak menyangka gadis yang ia sukai sejak masuk SD itu akan berteriak kencang dengan emosi yang memenuhi pita suaranya. Dari reaksi yang gadis keluarga Manoban itu perlihatkan, bisa disimpulkan bahwa Rosa saat ini sedang sangat murka karena ulahnya. Tapi ... mengapa? Gavin hanya ingin yang terbaik untuk gadis yang ia sukai. "Kenapa tak pergi juga?" Rosa bertanya dengan sinis, tangannya bersedekap di d**a. "Kau ini tak tahu diri ya rupanya?" Rosa melangkah maju, mempersempit jarak antara dirinya dan Gavin. "Kau mau tau suatu hal?" Gadis itu berjalan sambil memperlihatkan tatapan dan aura yang mengintimidasi. "Kau adalah orang menyebalkan yang tak pantas dicintai siapa pun!" Tiba-tiba saja Rosa berteriak, suaranya begitu lantang, dan tak merasa bersalah sedikit pun meski kata-kata yang ia ucapkan itu terdengar menyakitkan. Rosa berhasil menghancurkan hati seorang pemuda yang mencintainya dengan tulus, menjadikan hati kecil dan rapuh bak kaca itu pecah berkeping-keping. Gadis bersurai hitam itu lantas berbalik pergi menuju tangga, melewati Lisa tanpa menyadari keberadaan si gadis bermata cokelat yang tengah berdiri canggung di tempat persembunyiannya. "Aku akan tetap mencintai Rosa-senpai!" Teriakan Gavin menggema di lorong sekolah yang sepi, memantul dari dinding-dinding bercat putih yang membisu menyaksikan, dan kesunyian yang tercipta itu seakan mengolok Gavin dengan telak, bahwa cintanya tak terbalas. "Aku akan terus mencintaimu," bisiknya lagi dengan lirih. Tatapan matanya begitu sendu, menunjukkan betapa sedih dirinya kini. Hening yang sepi tak pernah bisa membuat keadaan seseorang menjadi nyaman, sama sekali tidak bisa, tapi setidaknya keheningan itu bisa membuat seseorang berpikir lebih jernih lagi daripada sebelum keheningan itu tercipta. Lisa menarik napas perlahan, dia sudah beragumen dengan dirinya sendiri untuk segera pergi dari tempat persembunyiannya, lalu berjalan melewati Gavin yang menundukkan kepala seolah tak pernah melihat kejadian antara sang pemuda dan Rosa. Dia akan berjalan senatural mungkin di lorong, seperti tujuan sebelumnya yaitu mengikuti kegiatan organisasi berkebun, dan setelahnya pulang ke rumah dengan damai. Tangga persembunyiannya ini merupakan penghubung dengan gedung barat juga, tapi akan lebih cepat jika melewati lorong di sebelah kanan tangga ini untuk mencapai ruang pertemuan mereka. Dan di lorong itulah Gavin masih berdiri mematung, memahami perasaannya. Yah, Lisa hanya ingin menghindari seorang adik kelas yang menyebalkan. Apalagi pemuda bersurai merah itu sepertinya tak menyadari kehadirannya, untuk itulah melewatinya adalah prioritas utama Lisa saat ini. Dia akan berjalan santai—tidak, dia akan mengendap-endap saja—, berjalan di belakang sang pemuda tanpa mengeluarkan suara sedikit pun, dan kemudian berhasil melewatinya tanpa bersinggungan dengan dia yang ingin sekali Lisa hindari. Benar-benar rencana yang sempurna. "Aku tahu kau ada di situ," ucap pemuda dengan warna rambut yang mencolok itu secara tiba-tiba. "Aku tahu sejak tadi kau ada di sana, dua kali berpindah posisi dan mengamatiku dari tempat persembunyianmu." Suara Gavin yang terdengar berat berhasil membuat Lisa berdebar-debar di balik tangga. Apa dia mengetahui bahwa sejak tadi ada seseorang yang melihat pertengkaran mereka? Padahal Lisa sudah sangat berhati-hati! "Kau melihat semuanya 'kan, Lisa?" Pertanyaan Gavin yang ditujukan untuknya itu membuat Lisa sedikit menegang. Rupanya Gavin tahu siapa yang telah mengawasi mereka. Baiklah, sepertinya dia memang sudah ketahuan sejak tadi, bahkan sebelum dia sempat melarikan diri dari tempat itu. "Kau tahu, Lisa? Sejak kau putus dengan Dino si kapten berambut jelek itu, hubunganku dengan Rosa terasa semakin mustahil untuk menjadi sebuah kenyataan," jelas Gavin dengan nada geram. "Lihat betapa gigihnya dia mengejar Dino." Lisa diam tak bersuara. Dia tak berani keluar dari tempatnya bersembunyi. Dia yang tadinya hanya berdiri bak tertanam di lantai, akhirnya bergerak perlahan mendekati Gavin yang tak mengubah posisinya sedari tadi. Pemuda itu masih nyaman dengan posisinya, menunduk dan mengamati ujung sepatu pantofel hitam yang dibelikan oleh sang ayah. Dengan mata yang dipaksakan fokus, dipandanginya lama pemuda yang berstatus sebagai adik kelasnya itu. Sejujurnya Lisa mengerti apa yang dirasakan oleh Gavin saat ini. Dia pun menatap sang pemuda dengan tatapan miris, pemuda itu mengingatkannya pada dirinya dulu. Sadar bahwa dia dulu juga tak bisa menghentikan dirinya sendiri untuk menyerah pada Dino, dan berhenti bertahan dari sebuah hubungan yang abnormal bagi sebagian orang. Sesak, rasanya dadanya menjadi sesak ketika tiba-tiba saja semua bayangan masa lalu membayanginya yang sedang berjuang lepas dari apa yang telah terjadi dahulu. Lisa menarik napas, dia ingat sekarang, bahwa dia selalu menyemangati dirinya sendiri dengan mencoba bersabar sedikit lagi dalam hubungan sepihak,, berkata bahwa dia bisa menahannya seraya berharap Dino mungkin saja akan membalas perasaannya setelah melihat usahanya selama ini. Tapi mencintai seseorang begitu lama ternyata juga bisa sesakit ini. Terlebih lagi, ini adalah cinta tak terbalas. Segalanya akan menjadi lebih mudah jika perasaannya bersambut sejak awal. Namun, kisah cinta sepihak yang Lisa rasakan ini memang sudah sewajarnya berakhir sampai di titik di mana dia tak lagi ingin mengingat masa lalunya. Semua telah usai sudah. Mungkin memang hanya beberapa kalimat pedas saja yang dilontarkan Rosa kepada Gavin, disertai teriakan penuh emosi sang gadis yang kesal mendapat nasihat dari pemuda yang tak tahu apa-apa tentang kehidupannya. Tapi bagi orang yang mencintainya setulus hati, kata-kata itu bahkan lebih menyakitkan daripada ditampar seratus kali. Kata-kata pedas yang seketika mematahkan hati seseorang yang telah mencintainya terlalu dalam. Kalimat yang menghancurkan segala harapan yang sudah dibangun selama ini, semua itu menghilang hanya karena beberapa buah kalimat saja. Terutama kalimat tentang tak pantas untuk dicintai oleh siapa pun. Mungkin remeh bagi sebagian orang, tapi sangat menyakitkan bagi yang merasakannya langsung. Melihat pancaran di kedua mata Gavin yang seolah memuja Rosa melebihi alam semesta, menunjukkan bahwa pemuda itu bersungguh-sungguh dengan perasaan di hatinya. Betapa merananya pecinta yang bertepuk sebelah tangan ini, berharap rasanya bersambut tapi justru dihancurkan dengan serangkai kalimat penuh emosi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD