Aku tak bisa berhenti, karena aku menginginkanmu terlalu dalam.
****
Pergi ke ruang klub setelah pulang sekolah adalah kegiatan yang kini sedang Lisa lakukan. Dia membawa tas juga botol minum yang dibelinya di kantin. Seperti yang dikatakan oleh Reza, ketua klub, setelah sekolah selesai, anggota klub itu akan mengadakan pertemuan di tempat biasa. Sore hari itu tampak sedikit mendung, setidaknya itu lebih baik daripada sore dengan panas menyengat. Lagipula belum terlalu sore, masih terhitung siang hari karena masih pukul 3.
Agustus adalah waktunya musim kemarau di Kalimantan. Panas dan keringnya tak jauh berbeda dengan pulau Jawa, di sana akan tetap terasa panas jika berada di dalam rumah, apalagi ketika keluar rumah dan berdiri di bawah terik matahari selama sepuluh menit.
Akan dipastikan, kulit akan memerah dan akhirnya berubah warna keesokan harinya.
Meski berada dalam ruangan, Lisa selalu dipesankan oleh Wina untuk selalu memakai sunscreen agar kulitnya tak terkena paparan cahaya matahari yang negatif. Wina cukup perhatian, Lisa senang mengenal gadis yang mengidolakan BTS itu. Semakin senang setelah ada murid pindahan yang merupakan anak berdarah campuran Korea di kelas mereka, si Lee Na.
Lisa berjalan lambat, terlihat santai menikmati kesendiriannya berjalan di tengah ruangan panjang lantai dua. Toh, sepanjang koridor menuju kelas geografi di gedung timur ini, sudah sepi. Hanya beberapa anak saja yang masih terlihat mondar-mandir di depan kelas bersama peralatan organisasi miliknyam
Hampir semua siswa Furukawa High School sudah pulang ke rumah masing-masing. Tentu saja pengecualian bagi mereka yang mengikuti kegiatan organisasi seperti yang akan Lisa lakukan nanti.
Sekolah ini dulunya bernama Sekolah Menengah Atas Bahasa Jepang. Seperti namanya, sekolah ini khusus untuk mereka yang ingin memperdalam bahasa Jepang atau bahasa Asia Timur lainnya, tapi lebih dikhususkan pada bahasa Jepang saja. Sebab pengaruh luar semakin tinggi di kecamatan Basarang, di samping pengaruh Bali di sana. Oleh karena itu, didirikanlah bangunan yang semula hanya merupakan satu buah bangunan yang luasnya bahkan tak lebih besar dari setengah lapangan Stadion Panunjung Tarung, stadion kebanggaan orang Kapuas yang dijuluki Kota Air ini.
Langkah kaki kecil milik Lisa Hogward hampir mendekati lorong penghubung gedung barat dan timur, sekarang sekolah ini bertambah semakin luas dan memiliki dua gedung dan lapangan parkir yang cakup menampung puluhan kendaraan. Meski sekolah ini dikelilingi pepohonan yang terlihat menyeramkan ketika menjelang senja, hal itu tak menyurutkan semangat anak muda untuk mengikuti kegiatan bersama teman-temannya.
Lisa sering mendengar cerita mengenai para 'penghuni' SMA Bahasa Jepang—sebelum diganti menjadi Furukawa High School—dari mulut teman-teman sekelasnya. Kabarnya, ada hantu yang tinggal di pohon beringin yang berada di tengah-tengah lapangan parkir sepeda.
"Uh." Lisa mengeratkan pelukannya pada tas jinjingnya. "Kenapa juga harus lewat sini?"
Mengingat cerita hantu dengan sosok terkenal di sekolahnya saja, sudah membuat gadis itu merinding ketakutan. Apalagi, dia hanya berjalan seorang diri di koridor.
Konon, pohon itu sudah ada jauh sebelum lapangan parkir itu dibuat, dan ada sosok legenda yang mendiami pohon besar yang tidak bisa ditebang itu. Bahkan atap parkiran itu sengaja tidak dipasang, tepat di bagian di mana pohon itu berada, demi menjaga agar penghuni pohon tersebut tidak marah dan berakhir menganggu kenyamanan siswa-siswi di sekolah.
Ketika manik cokelat Lisa yang senada dengan warna rambut panjangnya melihat dua sosok yang dikenalnya tengah beradu mulut di tengah koridor kelas, mereka adalah Rosa dan seorang pemuda yang beberapa hari lalu diketahui Lisa namanya, yaitu Gavin. Gadis itu sontak menghentikan langkahnya dan berjalan mundur, bersembunyi di balik sebuah lemari yang fungsinya merupakan loker menaruh barang siswa-siswi.
Gadis itu hampir berbalik pergi, tapi langsung dia urungkan niatnya. Jalan satu-satunya menuju gedung barat adalah jalan penghubung di mana ada Rosa dan Gavin yang sedang bertengkar, tepat berada beberapa meter dari tempat Lisa bersembunyi sekarang.
Jadilah gadis itu memilih diam di tempat, sembari menunggu pertengkaran dua orang itu berhenti dan mereka mau membuka jalan untuknya. Syukur-syukur jika mereka mau beranjak dari sana, dan Lisa bisa lewat dengan mudah tanpa merasa tak enak sama sekali.
"Kubilang berhenti menggangguku!" Rosa berteriak di depan wajah Gavin, Lisa yang menyaksikan secara diam-diam tersentak di tempat, apalagi pemuda yang menjadi pelampiasan amarah Rosa, pastilah terkejut karenanya.
Merasa bahwa Gavin tak akan menyusulnya, Rosa pun melanjutkan langkahnya dengan terburu-buru. Belum sampai beberapa meter dia berjalan, Gavin dengan cepat berlari dan menyamai langkahnya. Kembali menghentikan Rosa dan membuat gadis itu bertambah kesal padanya.
Lisa tak tahu apa yang merasukinya, tiba-tiba saja dia ingin melihat mereka lebih dekat. Oleh karena itu, dia pun berjalan mengendap-endap, sampai akhirnya tiba di tangga.
"Berhenti mengusikku!"
Lisa langsung bersembunyi di balik tangga, kebetulan itu adalah tangga yang akan membawanya menuju gedung tempat anggota organisasi berkebun berkumpul. Lisa sebenarnya tak mau melihat dan tak bermaksud menguping pembicaraan mereka, tapi rasa penasarannya malah membuatnya memutuskan untuk melihat kedua orang ini sampai selesai.
Setidaknya itu adalah pilihan paling cerdas yang bisa Lisa pikirkan untuk saat ini. Dia juga tak punya maksud buruk, dia hanya kebetulan mendengar mereka bertengkar saja.
"Kau bodoh, Kak! Berhenti mencintai kapten jelek yang menyebalkan itu! Kau tak tahu saja dia itu aslinya seperti apa di luar sekolah!"
Gavin mengepalkan tangan kanannya dengan kuat. "Apa kau tak merasa bersalah karena sudah membuat hubungan seseorang berantakan karenamu?"
"Jangan menggodanya, Kak! Perhatikan dirimu sendiri! Kau tak lihat akibatnya untukmu!? Apa kau puas merusak hubungan orang lain?! Berhentilah bersikap egois!"
Pemuda itu terengah-engah setelah berteriak kencang, matanya menatap kedua mata berwarna pekat yang sedang menatapnya tajam. Meski Lisa tak pernah berniat untuk menguping pembicaraan mereka, suara Gavin yang bergema di lorong sampai juga ke gendang telinganya.
Rosa menatap nyalang adik kelas di depannya, menyampaikan rasa tidak suka yang begitu dalam pada sang pemuda melalui mata yang seakan bisa menelan apa saja.
Dia benci pemuda ini. Dia benci dengan si surai merah yang pemaksa. Benci karena dituduh menjadi perusak hubungan orang, padahal dia tak tahu apa-apa tentangnya!
Dia memang benar mencintai Dino, dan pemuda itu juga membalas perasaannya. Mereka saling mencintai, tapi dia tak pernah sekalipun membujuk Dino untuk meninggalkan Lisa—sahabatnya—demi dirinya sendiri. Rosa bahkan berani bersumpah, bahwa dia tak pernah melakukan perbuatan seperti itu, berniat saja dia tak pernah.
Namun sekarang, dengan mudahnya pemuda yang lebih muda setahun darinya ini, pemuda yang telah berkali-kali dia tolak atas pernyataan cintanya, justru menuduhnya melakukan sesuatu yang jelas tidak dia lakukan. Rosa benci dengan sang adik kelas, dia benci Gavin Owens.
"AKU TAK PERNAH BERNIAT MERUSAK HUBUNGAN SIAPA PUN!" Nada suara Rosa semakin tinggi, memberi tekanan pada setiap kata. Itu sudah cukup menjadi bukti yang membuat Lisa yakin jika gadis Manoban itu sudah pada batas kesabaran yang ia miliki.
Pemuda bersurai merah yang semula tersulut emosi, kini memandang wajah Rosa dengan sendu. Lisa terbelalak di tempat persembunyiannya, dia ... tahu arti dari tatapan itu.
Tatapan Gavin saat ini, sama dengan tatapan penuh harap yang selalu dia berikan kepada Dino dulu. Perasaan Gavin yang selama ini terus makan hati, yang jantungnya mengering sebab menahan sakit yang tak terperi, juga sorot mata yang mengemis simpati dari orang yang dikasihi, itu semua seperti sebuah cerminan tentang dirinya sendiri. Lisa merasakan betapa sakitnya berada di posisi itu.
"Aku mengkhawatirkanmu, Senpai*," ucap Gavin dengan lirih. Keadaan pemuda itu saat ini, persis sama dengan apa yang dulu Lisa lakukan kepada Dino. Menatap sang pujaan dengan penuh perasaan yang bercampur aduk menjadi satu, berusaha menyampaikan segenap perasaan ke dalam satu tatapan yang sama. Ah, semakin dilihat pemuda berambut merah ini persis dengan dirinya dulu.
Gavin menundukkan kepala. "Maaf," sesalnya dengan rasa bersalah. Matanya bergerak-gerak tak nyaman. "Aku hanya ingin melihatmu bahagia bersama pilihanmu."
Hening sesaat, sebelum akhirnya Gavin kembali bersuara. "Tapi jujur saja, aku tak suka melihatmu dengan si kapten sepak bola sekolah kita itu. Aku tak akan pernah setuju, juga tak akan pernah membiarkanmu menghabiskan waktu bersama pemuda sejenis Dino." Sebuah ketegasan terpancar di kedua mata Gavin.
"Kak Rosa, tolong ... pilihlah orang yang tepat." Kalimat itu diucapkan Gavin pada Rosa dengan penuh kelembutan yang menyertai.
Tentu tak akan bisa dilihat dan dirasakan oleh gadis yang diajak bicara, sebab Rosa sengaja menulikan pendengarannya dari setiap perkataan Gavin yang berdiri di hadapannya.
Padahal bagi Lisa yang adalah orang lain, melihat Gavin saat ini seperti memberinya sebuah kesimpulan; sudah bisa dipastikan bahwa Rosa dilimpahi cinta yang besar oleh sang adik kelas.
Sikap pemuda itu berbeda jauh ketika bersama orang lain. Selama ini dia terkenal bermulut kasar dan jail, kata-kata pedas selalu keluar dari mulutnya, tapi begitu bersama dengan Rosa—gadis yang ia sukai—maka Gavin akan bersikap lembut pada gadis itu. Dia menunjukkan sifat yang berbeda dari apa yang orang lain pikirkan.
Lisa diam seribu bahasa dan merenung di tempat persembunyiannya, sibuk memikirkan tentang betapa beruntungnya Rosa yang disukai oleh banyak orang. Berbeda dengannya yang bahkan rasa cintanya saja sudah bertepuk sebelah tangan.
Seharusnya Rosa bersyukur karena memiliki seseorang yang mencintainya dengan begitu besar.