25. Yang Mengundang Perhatian

1256 Words
Wanita yang apabila dilanda kesusahan mereka tidak mengeluh, tetap sabar menerima keadaan, serta tetap berusaha mencari solusi. Ketahuilah wanita seperti itu, harus diperlakukan seperti ratu, sebab keberadaannya akan sulit didapat. Seharusnya wanita seperti itu tidak mudah dilepaskan, bukan? *** Lisa pikir, hanya untuk kali itu saja dia datang terlambat ke sekolah, setelahnya dia pastikan tak akan terlambat lagi. Namun, nyatanya pada keesokan harinya, gadis itu kembali bangun kesiangan. Sebuah kebiasaan yang sangat jarang dilakukan olehnya yang tak pernah tidur lewat di atas pukul 11 malam. "Aku terlambat!" pekik Lisa ketika melihat jam di atas meja kayu kecil di samping tempat tidurnya. Gadis itu bahkan hampir menangis di tempat jika saja tak ingat menangis tidak akan membuat waktu berhenti atau bergerak mundur. Oleh karena itu, Liea tak lagi memedulikan tatanan rambutnya, juga tak peduki dengan seragam sekolahnya yang sedikit basah karena selesai mandi ia langsung memakai dalaman dan seragam. Lisa hanya ingin segera berangkat ke sekolah. Dia tak sempat sarapan, bahkan membuat bekal. Sungguh hari yang menyebalkan. Tapi setidaknya, dia bisa melihat gerbang yang dicat warna biru muda dari kejauhan. Gerbang sekolahnya. "Ah, hampir sampai!" Lisa terus berlari dengan mata yang berbinar cerah. Gadis dengan surai panjang sepinggang itu terlalu fokus berlari, sampai-sampai tak menyadari bahwa ada seseorang yang mengendarai sepeda, sedang singgah tak jauh di depannya. Menatap sang gadis yang lagi-lagi datang terlambat ke sekolah, untuk yang kedua kalinya. Entah mengapa dia malah menghitung keterlambatan sang gadis yang bahkan jarak mengusik atensinya. *** "Kau terlihat berantakan sekali. Terlambat lagi, ya?" Pertanyaan pertama di pagi hari yang mendung kali ini diajukan oleh Wina, si gadis penggila Korea, yang duduk di depan meja Lisa. Wina menatap sahabatnya yang terengah-engah di depan pintu kelas dengan tatapan bertanya-tanya. Bukan sebuah kebiasaan seorang Lisa Hogward terlambat masuk kelas selama 10 menit lamanya, beruntung guru pelajaran Matematika belum masuk ke kelas. "Ya-ya, a-aku sedikit terlambat tadi, tapi tak apa-apa. A-aku beruntung karena bisa masuk ke gerbang dengan mudah," jawab Lisa yang masih sibuk mengatur pernapasannya yang terputus-putus. Peluh sebesar biji jagung terlihat di leher sang gadis, terhalang sedikit oleh rambut cokelatnya yang lebat. Lisa tak sanggup lagi jika setiap hari datang ke sekolah dengan kondisi seperti ini, sebab dia sangat payah dalam bidang olahraga, dan dia benci lari. "Ya, baiklah, cepat duduk ke kursi sana. Sebentar lagi Pak Burhan datang, aku ke toilet dulu." Selesai berbicara, Wina tersenyum sambil berlalu meninggalkan Lisa yang masih bersandar pada dinding di sebelah pintu kelas. Koridor saat itu sudah cukup sepi dan dengan sisa tenaga yang ada pada kakinya, Lisa pun melangkah memasuki pintu belakang kelas. Lisa bukan tipe gadis yang bisa berbaur dengan mudah dengan orang lain. Dia cenderung menutup diri dari teman-teman sekelasnya. Contohnya saja, ketika dia baru saja memasuki ruang kelas, tak ada seorang pun yang menoleh ke arahnya. Mereka seperti tak menyadari kehadiran Lisa yang masuk lewat pintu belakang. Gadis itu berjalan menuju bangkunya, kemudian mengeryitkan wajah saat menyadari bangku yang ada di sebelahnya yang seharusnya diduduki oleh Rosa itu masih terlihat kosong. "Eng, Rosa hari ini tidak sekolah, ya?" tanyanya dengan suara pelan pada Lee Na yang duduk tepat di kursi sebelah Wina, gadis pecinta Korea tadi. Mereka memang duduk berdekatan. Lee Na menggelengkan kepalanya perlahan sebagai bantahan, rambutnya yang diikat ekor kuda bergoyang mengikuti gerak kepalanya. "Entahlah, aku juga tak mengerti kenapa Rosa ingin pindah tempat duduk. Pagi ini tadi dia pindah ke bangku paling depan sendirian, apa kalian berdua lagi ada masalah?" Lisa menatap kedua mata Lee Na, cokelat muda yang cantik, hampir menyerupai warna amber, dengan penuh keraguan. Dia juga tak tahu alasan mengapa Rosa tiba-tiba saja minggat dari tempat duduknya semula, yaitu di sebelahnya. Daripada membuat pertanyaan baru karena lama menjawab, akhirnya Lisa mengangkat bahunya tanda tak tahu. Seingatnya, dia memang tak ada masalah apa pun dengan Rosa, bertengkar dengan adanya konflik pun tidak, pengecualian tentang perasaan rumit mereka yang sama-sama melabuhkan perasaan pada seorang pemuda yang sama. Tapi, itu semua sudah berlalu sejak beberapa waktu yang lalu. Laksana api yang dengan cepat menghanguskan daun kering. Bukankah sekarang itu semua tidak menjadi permasalahan mereka lagi? Kini Rosa bebas mencintai Dino, dan Dino pun bebas mencintai gadis itu. Mereka sekarang bisa lebih sering menghabiskan waktu bersama-sama. Tak ada lagi yang akan menghalangi kisah cinta mereka, tak akan ada lagi pemeran jahat yang mencoba menahan perasaan keduanya. Jika diibaratkan dengan sebuah kisah dalam dunia teater, maka seharusnya mereka sudah berbahagia sekarang, happy ending, sebab sang antagonis yang selalu memisahkan mereka kini sudah menyerah, sebab gadis bernama Lisa Hogward telah berhenti mengejar sang pemuda. Mereka tak perlu lagi cemas dengan adanya gadis yang bisa menjadi penghalang kisah cinta mereka, Lisa kini bukan lagi menjadi gangguan. Lantas mengapa Rosa masih tetap menjauh darinya? "Mungkin ... Rosa ingin suasana baru." Lisa menjawab pertanyaan Lee Na sambil menundukkan wajah, mana bisa dia mengangkat wajahnya tinggi-tinggi dan memperlihatkan betapa menyedihkannya raut wajahnya kini? Untuk apa aku bahagia bersamanya jika pada akhirnya dia lebih bahagia ketika tak bersamaku? Lisa bergumam lirih, terdengar menyedihkan, dan tak ada seorang pun yang bisa mendengarnya kecuali dirinya sendiri. Gumamannya terdengar seperti angin yang menyapu dedaunan kering. Terbang cepat lalu menghilang terbawa semilir angin. Gadis bersurai panjang itu lalu memilih duduk di kursinya sembari menunggu pelajaran dimulai, dia mengeluarkan buku catatan dan segala peralatan sekolah untuk pelajaran pertama nanti. Meski ada sesuatu yang dipikirkan olehnya, dia tak boleh gentar. Harus selalu bersemangat menjalani hari. Kotak pensil baru saja akan diletakkan di atas meja ketika pundaknya ditepuk pelan oleh seseorang secara tiba-tiba. Lisa pun menoleh, dan yang dilihatnya saat itu adalah wajah lesu dari ketua organisasi yang dia ikuti beberapa hari terakhir. "Ah, Reza. Ada apa?" Gadis bersenyum manis itu bertanya dengan sopan. "Sore nanti organisasi kita mengadakan pertemuan kedua sejak kau bergabung bersama kami. Karena hari peringatan ulang tahun sekolah sudah semakin dekat, kita harus bekerja sama menanam sayuran yang diinginkan oleh klub memasak. Kita tidak boleh menyia-nyiakan kepercayaan yang telah mereka berikan pada organisasi kita," jelas Reza menyampaikan maksudnya. "Lalu apa yang harus kita siapkan?" Lisa tahu jika Reza adalah pemuda yang to the point. Oleh karena itu, dia langsung tahu jika Reza akan mengatakan tujuannya begitu perhatian Lisa tertuju padanya. "Jadi, rencananya nanti seperti ini ...." Lisa berusaha menyimak penjelasan Reza dalam diam, tak mengeluarkan sepatah kata pun karena menyela pembicaraan seseorang termasuk tindakan yang kurang sopan. Baru setelah Reza selesai menjelaskan apa saja yang akan mereka lakukan nanti, gadis itu pun mengangguk mantap. Baginya, Reza yang selalu terlihat malas melakukan segala sesuatu, tapi sekarang terlihat antusias menjelaskan semua yang diperlukan untuk hari peringatan ulang tahun sekolah nanti, menandakan bahwa semua orang ingin yang terbaik untuk festival nanti. Dia juga harus lebih bersemangat dari hari ini. "Karena itu, kau tak boleh langsung pulang," ujar Reza sekali lagi. Dia berdeham pelan. "Pertemuannya tak akan lama kok, kupastikan sebelum maghrib tahap satu dalam rencana tadi sudah selesai kita lakukan." "Bagaimana menurutmu?" Lisa tersenyum dan sekali lagi menganggukkan kepalanya. "Tentu saja, kupastikan aku akan menghadiri pertemuan klub kita nanti, Za," jawab Lisa dengan mantap. "Semoga rencana kita berjalan lancar, dan tanaman kita tumbuh dengan subur." Reza yang memiliki kantong mata seperti panda itu mengangguk dan tersenyum sekilas. "Kalau begitu, aku permisi dulu," ucapnya, kemudian kembali ke tempat duduknya yang berada di tempat ternyaman. Lisa tersenyum kecil pada ketua organisasi yang ia ikuti. Gadis itu merasa senang, sebab semua yang dia lakukan beberapa waktu ini berjalan cukup baik. Walau masih belum bisa sepenuhnya melupakan mantan kekasihnya—Dino, tapi dia rasa hari-hari selanjutnya akan lebih cerah. Yah, sesuatu yang berarti sedang menunggunya di depan. Semoga dia bisa bergerak lebih maju dari ini.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD