24. Kegelisahan Gavin

1153 Words
Mengapa pemilik cinta yang bertepuk sebelah tangan harus selalu tersakiti? *** Doran berharap jika dugaan sebelumnya tentang Dino yang tak mencintai anaknya itu tidaklah benar. Toh, Lisa tak selemah yang orang lain katakan, gadis itu kuat dan tegar dalam berbagai kondisi yang dihadapi olehnya. Kini, ketika lelaki dewasa itu tahu hubungan anaknya dengan Dino telah berakhir, Lisa tetap menjalani hidupnya seperti biasa, seolah tak pernah mengalami kegagalan dalam kisah cinta masa SMA. Gadis itu justru terlihat lebih bersemangat ketimbang dulu. Entah ini hanya perasaan Doran saja atau memang begitulah adanya, yang jelas dia begitu senang dengan setiap perubahan yang terlihat pada sang anak. Manik cokelat sang kepala keluarga Hogward itu akan selalu mengamati gerak-gerik sang anak yang kini sedang berlari kesana kemari di dalam rumah karena bangun kesiangan. Doran sedikit menyunggingkan senyum, sereal gandum kemasan yang jarang menjadi menu makan paginya terhidang di meja akibat Lisa yang telat bangun pagi. "Maafkan Lisa, Ayah," ucap sang gadis penuh sesal. Doran mengiakan dan tersenyum kepada anak sulungnya. "Baiklah, aku pamit dulu ya, Tou-san," pamit Lisa sebelum gadis itu berangkat ke sekolah. Lisa lalu berlalu dari ruang makan, dan pergi dari jarak pandang sang ayah, meski Doran masih bisa melihat punggung kecilnya sepintas saat melewati jendela. Dulu, Lisa tak mungkin bisa seperti ini. Dia tak pernah bangun kesiangan karena selalu standby menyiapkan bekal untuk seseorang. Dia akan sibuk di dapur, padahal masih terlampau pagi (bahkan masih subuh) baginya untuk mulai beraktivitas dan berakhir dengan menunggu di depan rumah seseorang sembari membawa handuk dan botol air mineral yang tersimpan di kantong plastik berukuran sedang. Doran tahu kebiasaan itu, dan tak bisa berbuat apa-apa selain mengharapkan kebahagiaan selalu menyertai anak-anak kesayangannya. Terutama bagi Lisa, gadis yang selalu menunggu walau entah berapa lama waktu berlalu untuk seorang pemuda yang akan menyambutnya dengan wajah tak rela. Kini Doran sadar, jika anaknya tentu akan lebih bahagia jika dibiarkan berpisah seperti ini. *** Lisa tiba di sekolahnya setelah 10 menit bel berdentang dengan nyaring, gadis itu terlambat dan hari itu ada pelajaran olahraga di kelasnya. Lisa masih merasakan dadanya yang terasa sesak karena dipaksa berlari dengan kecepatan penuh. Gadis itu terpaksa berlari, tak peduli pada napasnya yang tersengal, tak peduli pada rasa sakit yang menyerang ulu hatinya jika dia terus memaksakan kedua kakinya berlari. Yang jadi fokus utamanya hanyalah satu, masuk ke kelas secepatnya atau dia akan terlambat, dan dia tak mau dihukum karena itu. Lisa adalah murid tepat waktu yang tidak pernah dihukum karena datang terlambat ke sekolah. Mungkin akan lebih cepat sampai jika dia naik sepeda, seperti yang dulu sering dia lakukan bersama seseorang. Pergi ke sekolah itu memiliki banyak hal yang bisa dikenang, ada dua kata kunci tentangnya. Sepeda dan Dino. Gadis bersurai cokelat panjang langsung menggeleng gusar, bayangan sang pemuda memenuhi otaknya lagi dan lagi. Perlahan-lahan. Membiarkannya sekarat dalam kesakitan karena perasaan semu, tanpa bisa memilih untuk membuatnya langsung mati saja atau menerima keadaan Detik ketika Lisa sendiri, ketika tak ada kegiatan yang bisa menyibukkan diri, akan menjadi waktu yang paling dia sesali. Keadaan yang paling dia benci. Lisa tahu bahwa dia akan tetap mencintai Dino, tak bisa melupakannya, tak mungkin berhenti mencintai pemuda itu. Akan tetapi, kehidupan yang berat seringkali mengajarkan kita bahwa tak harus berakhir dengan orang yang kita cintai, sementara dia tak mencintai kita. Hidup memang seperti itu, dan protes serta mengeluh tentang takdir hanya akan membuat daftar orang bodoh semakin bertambah banyak saja di dunia ini. *** "Hei, Vin! Kau mau ikut tanding di Futsal 88 bersamaku? Kami kekurangan satu orang dalam tim, dan kami rasa mengajakmu bukan hal buruk. Bagaimana? Mau ikut kah?" Pemuda bersurai merah yang sedang duduk di pinggir lapangan sembari bersandar pada pohon buah nangka menatap dedaunan yang gugur mengenai wajahnya. Sambil menimbang-nimbang tawaran teman sekelasnya, si Adit, Gavin pun menepuk-nepuk seragam sekolahnya. Ada serangga yang masuk ke dalam bajunya dan mengigiti kulitnya! Rasanya sakit dan gatal! "Sialan!" rutuk Gavin tanpa sadar. Adit yang mendengar Adit menyumpah seketika menolehkan kepalanya ke sang pemuda berambut merah alami. "Heh, kalau tak mau ikut kau tak perlu memaki-maki seperti itu!" Gavin menoleh ke Adit dan menatapnya bingung. Alisnya naik sebelah dan ekspresi merendahkan terlihat di wajah mungilnya. "Kapan aku memakimu, sialan!? Cih, tadi aku digigit serangga! Bukan menjawab tawaranmu!" Adit sudah terlanjur kesal, padahal dia sengaja mendatangi pemuda yang terkenal tak sopan itu dan duduk di dekatnya agar pemuda itu bisa diajak bekerja sama dalam pertandingan futsal yang merupakan pertandingan persahabatan dengan tim sepak bola sekolah lain. Baru datang, tapi sudah dimarahin! Sialan, Adit menggerutu dan kesal dengannya. "Sudahlah! Aku kembali ke kelas saja!" Begitu Adit beranjak pergi, Gavin kembali memaki serangga yang mengigit tengkuk lehernya. "Astaga! Kapan perginya hewan-hewan ini? Ah, aku benci serangga!" Gavin menepuk-nepuk dan menekan satu per satu hewan yang mirip semut itu ke permukaan kulitnya, membunuh serangga itu dalam sekali serangan. Betapa malangnya serangga itu, tapi dia sudah salah memilih lawan. Ketika sedang asyik bertarung dengan serangga yang terus saja berjalan-jalan di atas kulitnya dan membuat ruam merah di sana, Gavin tak sengaja melihat sosok gadis yang dikenalnya, sedang berlari dari gerbang masuk menuju gedung sekolah. Penampilannya sedikit berantakan, rambut cokelatnya berkibar mengikuti langkah kaki gadis itu yang begitu cepat. Gavin mendesah pelan melihatnya. Dia tahu gadis itu, dan gadis itu tahu siapa dia. Dia gadis yang membuat Gavin tak lagi memiliki kesempatan untuk bisa bersama dengan Rosa Manoban, gadis yang disukainya sejak masuk ke sekolah itu. Dialah Lisa Hogward, gadis yang sebelumnya merupakan kekasih kapten sepak bola tim Furukawa High School, si Dino Leckner. Dan juga gadis bodoh yang telah melepas sang kapten sehingga Rosa yang diincar olehnya pun tak bisa diraih lagi olehnya. Gavin memasang ekspresi tidak suka ketika melihat gadis itu telah menghilang dari pandangannya. Fakta di mana gadis itulah yang membuat Rosa semakin gencar mengejar Dino yang juga menaruh hati kepada gadis itu, membuat Gavin tak bisa diam begitu saja. Kesempatannya untuk dekat dengan sang pujaan hati yang sejak awal sudah terlihat tipis, kini menghilang karena perbuatan seorang gadis yang dilema dengan perasaannya sendiri. Membuatnya kesal, membuatnya muak saja. "Lihat saja, kelak kau akan kubuat menyesal, kau akan kembali lagi ke sisi Dino dan akan kurebut kembali Rosa dari tangan pemuda menyebalkan itu." Gavin tersenyum tipis dan menjauh dari sisi lapangan. Pemikiran ini membuatnya jadi lebih bersemangat, membayangkan dia bisa memisahkan Rosa dari pemuda yang tak pantas untuk gadis itu membuat Gavin merasa sangat bahagia. Waktu sudah menunjukkan pukul 7 lewat 15 menit, dia harus segera ke kelas. Kini saatnya masuk ke pelajaran yang paling disenangi olehnya, ekonomi. Ah, membayangkan tentang mata pelajaran itu saja sudah membuatnya senang! Belajar ekonomi sangat berguna untuk kehidupannya di masa depan nanti, dia bisa belajar jadi pengusaha atau pedagang yang baik. Impian Gavin adalah bekerja di sebuah perusahaan, bahkan membuat salah satu perusahaan nanti. Semoga saja terwujud. Namun tiba-tiba pemuda itu teringat dengan seseorang. "Hm, gadis aneh itu sedang apa, ya?" gumamnya, ia kemudian mendengkus kesal. Untuk apa juga memikirkan gadis aneh yang menjadi penyebab Rosa menjauh darinya?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD