32. Permintaan Sang Adik Kelas

1160 Words
Ketika melupakanmu begitu sulit kulakukan, yang bisa kulakukan kini hanyalah tegar dan belajar merelakan. *** Lisa yang cepat memahami arti dari tatapan Dino yang menusuk itu pun segera mendekat, dan duduk di boncengan sang pemuda dengan hati-hati. Gadis itu sudah mempersiapkan hati jika di perjalanan mereka nanti Dino memutuskan untuk menurunkannya di tengah jalan. Sungguh, dia tak apa, tapi untuk berjaga-jaga Lisa akan bersikap baik kali ini, dia bisa saja langsung pergi tanpa harus merengek kepada Dino untuk diantarkan ke sekolah, tapi dia tak enak dengan Gina yang masih memperhatikan mereka di atas sepeda. Ketika sepeda sudah menjauh dari perkarangan, Dino akan menurunkan Lisa di pinggir jalan yang sepi. Tentu saja Dino akan melakukan hal itu, sebab sudah tak ada lagi Gina Leckner yang akan melihat dan mengawasi mereka. "Kami berangkat dulu, Tante," pamit Lisa setelah kembali dari menyalami tangan Gina. Sebelumnya gadis itu sempat meminta izin kepada Dino untuk memberi salam kepada wanita yang sudah dianggap sebagai ibunya sendiri, tapi hanya dijawab dengan kalimat kasar oleh pemuda itu, tentu tanpa sepengetahuan Gina. Jadilah Lisa buru-buru turun dan menyalami tangan Gina dengan cepat, kemudian kembali ke boncengan sepeda Dino. Dino yang marah adalah hal yang ingin Lisa hindari saat keduanya sudah resmi berpisah. "Kami pergi dulu, Kaa-san," pamit Dino sambil bersiap mengayuh sepeda dan membawanya pergi dari depan rumah, namun suara ibunya langsung membuatnya berhenti. "Tunggu, Dino!" seru Gina tiba-tiba, demi menghentikan kepergian Lisa dan Dino. "Tolong tunggu sebentar." Gina Leckner sengaja menyudahi kegiatan menyiram tanaman yang sejak tadi tidak dilanjutkan olehnya, berlari kecil ke gerbang dan berusaha mencapai Lisa yang masih setia duduk di boncengan belakang. "Setelah pulang sekolah nanti, tolong temani Tante ke toko kue Haji Idah, ya, Lisa-chan," pinta wanita berkulit pucat itu dengan wajah ceria. Lisa sempat ragu untuk mengiakan, tapi karena dia tidak ingin membuat orang yang sudah dianggapnya sebagai ibunya sendiri sedih dan kecewa karena penolakannya, akhirnya Lisa pun memilih setuju. Gina Leckner tersenyum cerah ketika mendengarnya. "Terima kasih!" ucapnya. Keduanya pun kembali pamit dan melanjutkan keberangkatan mereka yang sempat tertunda. Sepanjang perjalanan yang tidak bisa dikatakan singkat itu, iris cokelat Lisa si gadis pemalu hanya berpusat pada pemandangan yang berkelebat cepat di matanya. Mereka harus melewati jembatan kayu yang dulu 'selalu' dia minta pada Dino untuk singgah sebentar di sana hanya untuk melihat matahari terbenam, yang akan ditolak mentah-mentah oleh pemuda itu karena jaraknya cukup jauh dari desa. Itu adalah tempat yang jarang Lisa lewati ketika berangkat ke sekolah, tapi pada hari itu semuanya terasa berbeda. Entah karena apa, Dino yang selalu menghindar tiap kali Lisa memintanya pulang lewat jalan jembatan, kini malah melewati jalan itu atas kehendaknya sendiri. Lisa sampai tercengang melihat hal itu, tapi karena tak ingin memulai pembicaraan yang berujung sepihak saja, sang gadis akhirnya memilih untuk diam seribu bahasa. Melewati jembatan yang selalu ingin dilewatinya bersama Dino, mau tak mau memaksa Lisa untuk teringat kembali dengan kenangan semu tentang dirinya dan Dino di sana. "Ahh!" Lisa hampir saja memeluk pinggang Dino ketika merasa sepeda yang pemuda Leckner itu kendarai semakin cepat, tapi peringatan keras dari otaknya tentang janjinya langsung mencegah perbuatan itu. Janji tentang Lisa yang tak boleh lagi bawa perasaan saat ada di depan Dino .... Sebuah janji yang diucapkannya sesaat sebelum memilih menyerah terhadap Dino Leckner yang telah sekian lama dicintai olehnya. Janji harus ditepati, bukan? Karena itu menyangkut jalinan tali kepercayaan antar umat manusia. Maka, dengan alasan itu pulalah, jari jemari Lisa si pemalu itu hanya menggenggam erat besi yang ada pada dudukan sepeda. Berpegangan pada apa pun yang ada di dekatnya, kecuali pada satu hal, Dino Leckner, jelas dia tak ingin mau melakukannya. Sebab dia tak ingin tambah dibenci lagi lebih dari ini oleh pemuda itu. Lisa hanya ingin hubungan mereka berdua kembali seperti dulu, jauh sebelum mereka menjadi sepasang kekasih. Sebab Lisa sendiri pun tahu diri jika mereka kini tak bisa lagi menjalin hubungan semacam itu. Perjalanan terasa lebih lama karena keduanya melewati jalan jembatan yang membuat Dino harus mengayuh sepedanya lebih kuat lagi. Jarak yang akhirnya terkikis menyelamatkan sang gadis dari kecanggungan tak nyaman selama perjalanan mereka. Butuh waktu dua puluh menit lebih sedikit bagi mereka berdua untuk tiba di Furukawa High School. Tak seperti dugaannya di awal, ternyata Dino tak menurunkannya di tengah jalan. Lisa sedikit merasa lega akan hal ini. Di tempat parkir khusus sepeda yang berada di belakang sekolah, Lisa turun dari boncengan sepeda Dino tanpa disuruh. Gadis itu melirik Dino takut-takut, membuatnya salah tingkah sendiri. Lisa bingung memutuskan, antara memilih berbasa-basi dahulu atau langsung berterima kasih dan pergi meninggalkan sang mantan kekasih sendirian di tempat parkir. Sang gadis Hogward hampir saja memilih opsi pertama saat telinganya menangkap teriakan nyaring seseorang yang memanggil namanya. "KAK LISAAA!!" Sang gadis menoleh dengan cepat, dan mendapati Gavin—adik kelasnya yang berambut merah menyala—sedang berlari ke arahnya. Kening Lisa mengerut, bingung dengan kemunculan Gavin yang tiba-tiba. Kemudian sang gadis menyadari satu hal, sejak kapan adik kelasnya itu memanggilnya dengan embel-embel 'Kak'? Tidak seperti dia yang biasanya. Gavin telah tiba di depan Lisa dengan napas memburu dan peluh membasahi pelipis. Pemuda yang setingkat di bawah Lisa seperti sudah tahu bahwa Lisa tak sendiri saat itu. "Yo, Dino-senpai, sedang apa?" sapanya ramah. Lisa memutar kembali badannya menghadap belakang, ternyata Dino—pemuda itu—masih di tempatnya semula, tak beranjak dari sana meski tak disuruh. Padahal dulu, tanpa diminta pun Dino akan segera pergi meninggalkan Lisa, meski gadis itu selalu memberi banyak alasan untuk mencegah kepergiannya dari sana, agar bisa sedikit lebih lama lagi bersama pemuda itu, tapi Dino tetap menggubrisnya. Yang dipanggil namanya hanya memandangi Gavin dengan muka datar, seakan risih dengan ekspresi menyebalkan milik sang adik kelas sekaligus gelandang sayap kiri berbakat dalam timnya. Meski begitu, Dino tetap memberi respons dengan anggukan yang samar. Hal sekecil itu tak luput dari Lisa yang sedari tadi memperhatikan keduanya. "Dino-senpai yang baik hati, boleh kupinjam Kak Lisa dulu sebentar?" Lisa hampir tertawa mendengar nada bicara Gavin yang terdengar lucu baginya. Toh, untuk apa meminta izin? Tanpa izin pun, Dino pasti akan mempersilakan Gavin membawa gadis bermata cokelat itu pergi dari hadapannya. Dino tak menjawab, ekspresinya bahkan tidak berubah, hampir sama dengan dugaan Lisa sebelumnya. Pemuda itu menatap datar mereka berdua, seakan tak pernah mengganggap mereka nyata. Tak mengapa dibuat kecewa oleh seorang Dino Leckner, karena Lisa sudah biasa mendapat perlakuan semacam ini. Lagipula, untuk apa berharap lagi? "A-aku duluan, Dino-kun," pamit Lisa pada pemuda yang hanya meliriknya sekilas. Lisa membungkuk sopan kepadanya, sikap yang terlalu formal untuk gadis yang berniat kembali seperti sedia kala di depan seorang teman lama. Lisa memperpendek jaraknya dengan Gavin, lalu melayangkan tatapan mata yang seakan bertanya, 'Ada perlu apa kemari?' Gavin tertawa, seperti tak peduli jika Dino masih berada di tempat itu. Sang Bara Api yang Penuh Glora—julukan Gavin di sekolah—dengan segera membawa Lisa menjauh dari parkiran, begitu dirasa aman, Gavin pun berbicara seakan tak pernah bersikap menyebalkan di depan sang kakak kelas. "Hei, aku butuh bantuanmu. Hanya kau yang bisa melakukannya." Apa maksud Gavin?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD