Ketika telah hadir seseorang untuk menggantikanmu, bisakah aku mengenangmu lebih lama untuk terakhir kalinya? Aku hanya ingin menyimpan memori yang begitu membekas ini.
***
"Ha-hah? Apa maksudmu? Kenapa tiba-tiba?" Lisa yang sedari awal diam saja saat tangannya ditarik tiba-tiba oleh Gavin akhirnya buka suara. Gadis itu mundur dua langkah dan mengelus pergelangan tangannya yang memerah karena cengkeraman tangan yang kuat. Sepertinya Gavin sendiri tak sadar jika terlalu kuat menarik tangan gadis itu.
"Aduh, tidak perlu kujelaskan kau seharusnya sudah mengerti!" sahut Gavin sambil merotasikan matanya.
"Tapi aku tidak mengerti ...." Lisa menggeleng lemah.
"Gavin, tolong jelaskan padaku, bantuan apa yang kau maksud?" tanya Lisa sekali lagi dengan mata yang memancarkan rasa ingin tahu.
Gavin berdecak lidah. "Buatkan aku puisi!" ucapnya asal.
Lisa semakin kebingungan, tapi dia segera menuruti permintaan sang adik kelas. "Saat purnama terik di angkasa, kau menjelma matahari yang kelam di wajah malam. Lepas topengmu sejenak, belajarlah pada langit yang ikhlas menimang dan membiarkan bintang berserak sesuka hati di cakrawala tanpa penopang, tanpa keluhan." Lisa mengakhiri sajaknya sambil tersenyum lega. Apa ini yang Gavin maksud?
"Aduh, bodoh! Kau tak tahu aku tadi hanya bercanda?!" umpat Gavin kesal.
"Aku tak mengerti apa yang kau katakan," sahut Lisa dengan polosnya. Sang gadis kemudian mengedarkan pandangan ke sekitar, kenapa pemuda itu harus mencari tempat yang sepi?
Sebenarnya jika Gavin tak membawanya ke tempat yang sepi, mungkin Lisa akan berpikir bahwa Gavin ingin membuat pembicaraan ini terdengar oleh Dino, untuk mempertegas suatu hal yang dirasa penting. Namun, sepertinya tidak seperti itu, sebab Gavin sengaja berpindah ke tempat yang jauh dari posisi awal saat bersama Dini, dan itu berarti ini adalah pembicaraan rahasia yang hanya boleh diketahui oleh mereka berdua.
"Aduh, kukira kau ini pintar, ternyata masih harus dijelaskan lagi, ya?"
Sejak kapan aku tahu tanpa perlu diberitahu, sahut Lisa dalam hati. Tapi dia memilih diam dan menatap Gavin dengan kesal.
"Iya, aku memanggilmu ke sini karena aku membutuhkan bantuanmu," jelas Gavin dengan serius. "Dan lagi, aku memintamu secara khusus untuk melakukannya, karena hanya kau yang bisa, bukan orang lain."
Lisa bisa saja langsung menolak permintaan Gavin yang bahkan belum mengatakan apa yang dia minta, karena seperti kata Gavin sebelumnya, hanya Lisa lah yang bisa melakukannya, tapi setelah melihat tatapan Gavin yang terlihat bersungguh-sungguh, Lisa jadi tak ingin membuat adik kelasnya ini kecewa.
Entahlah, mungkin Lisa merasa akan ada hal buruk jika ia menolak keinginan yang belum disampaikan itu. Gavin membuat dirinya lemah akan sebuah permintaan tak terucap.
"Bagaimana, Lisa-senpai? Kau mau menolongku? Aku menanyakan ini terlebih dahulu karena ingin memastikan. Dan ini juga bukan pekerjaan yang aneh dan sulit kok, aku akan membimbingmu dari jauh." Gavin berlagak seperti seorang penjual yang sedang menawarkan produk hematnya kepada sang pelanggan, membuat pelanggannya tak berkutik dan lebih memilih melakukan transaksi setelah melihat kepercayaan diri sang penjual.
Lisa mengernyitkan dahinya ketika melihat tingkah laku sang adik kelas di pagi hari yang cerah itu. Setelah memanggilnya dengan embel-embel 'senpai', Gavin kemudian bersikap sok kenal sok dekat dengannya.
Yah, bukan hal baru memang, sebab seseorang jika mempunyai maksud tertentu pun bisa menjadikan musuh sebagai sekutunya.
Sebenarnya aku tak mengerti apa yang Gavin inginkan, tapi aku akan membantunya. Kira-kira begitulah cara Lisa mempertimbangkan jawaban untuk membantu adik kelasnya itu.
"Baiklah, baik, aku sudah lebih mengerti. Jadi, bantuan seperti apa yang kauinginkan dan bagaimana cara kerjanya?" tanya Lisa sambil terus memperhatikan Gavin. Dia tahu, pilihan ini tidaklah salah.
"Uh, aku pernah dengar pepatah mengatakan menjadi orang bodoh itu buruk, tapi menjadi orang pintar yang disalahgunakan dan dimanfaatkan orang lain itu jauh lebih buruk." Tiba-tiba Gavin mengatakan sesuatu yang aneh dan tidak ada hubungannya dengan situasi saat itu. "Jadi aku ingin kau melakukan hal ini, lalu kemudian seperti ini, jadi begini, lalu kau harus ke sini ...."
Gavin mencontohkan apa yang dia ingin Lisa lakukan dengan tangannya. Ekspresi pemuda itu berubah-ubah. Tindakannya itu malah membuat permintaannya terlihat semakin membingungkan, Lisa tentu saja tak paham dengan tindakan yang sangat ambigu itu.
"Dengar, katakan saja apa yang kau mau, jangan melakukan gerakan tak perlu seperti itu." Lisa menjelaskan dengan cara seorang kakak menasehati adiknya untuk tidak makan permen sembarangan. "Dan lagi, aku tak setuju kau berkata dan menyebutku bodoh. Tak ada orang bodoh di dunia ini, yang ada hanya orang yang tak mau memulai usahanya dari awal, dan berusaha keras untuk mencapai tujuannya."
Gavin mengerjapkan mata beberapa kali, terkejut mendengar Lisa yang menceramahinya tanpa sedikitpun tergagap. Dia baru tahu sisi lain gadis ini saat marah, ternyata tidak buruk juga.
"Hee, kau jadi terlihat pintar dibandingkan sebelumnya," puji Gavin, yang lebih terdengar seperti sebuah ejekan. "Baiklah, baik, kutarik kata-kataku yang menyebutmu bodoh tadi."
Lisa mengembungkan pipi, masih kesal dengan Gavin yang sok tahu. Kalau dia marah, adiknya Mila saja bisa jadi sangat takut. "Ya, jadi cepat katakan saja apa yang kau mau sebenarnya," tegas sang gadis. "Atau aku batal membantumu dan kembali ke kelas sekarang juga."
"Yah, baiklah." Gavin mengelus tengkuknya selama berbicara, sorot matanya terlihat tak tenang, dia sibuk mengedarkan pandangan ke sekeliling tempat mereka berada, seperti sungkan mengatakan sesuatu yang dia inginkan. "Jadi, sebenarnya aku ingin kau membantuku untuk ...."
"Ya, untuk apa?" sela Lisa.
"Dengarkan aku dulu!" timpal Gavin dengan kesal. "Apa kau mau membantuku untuk ...." Gavin kembali menggantungkan kalimatnya, membuat Lisa yang sudah lama mendengarkan menjadi tak sabaran. Ini bukan sekali dua kali.
"Ya, ya, membantumu dalam hal apa?" Lisa mencoba sedikit lebih sabar, menunggu Gavin mengakhiri kalimatnya yang belum selesai.
"Kau ini menyebalkan, berhenti menyela ucapanku!" Gavin menunjuk Lisa dengan wajah yang memerah.
Lisa terdiam. "Sendirinya kau pun sering begitu."
Hening, Gavin tak mendengarkan gumaman snag gadis. "Aku ingin kau membantuku kencan dengan Rosa minggu ini! Ah, sial, ini memalukan." Gavin buru-buru memalingkan wajah dan menutupinya dengan telapak tangan.
Jelas saja pemuda itu merasa malu. Bagaimanapun juga, hal seperti meminta gadis lain untuk membantunya kencan tak bisa diucapkan secara sembarangan, perlu keberanian untuk mengutarakannya di depan orang yang dimaksud. Apalagi memintanya kepada gadis yang hubungannya tak terlalu baik dengan gadis incarannya. Huh, ini sangat rumit.
Lisa terbelalak selama seperkian detik, tapi segera kembali lagi seperti semula. "Kencan ... dengan siapa tadi?" tanyanya memastikan.
"Huh, kau ini memang bodoh, ya!" ejek Gavin sekali lagi. Dia sudah lupa dengan nasihat yang Lisa sampaikan sebelumnya. "Aku bilang, bantu aku kencan dengan Rosa," desisnya dengan muka masam.
Sifat jeleknya Gavin akhirnya muncul ke permukaan, dan dia kembali mengejek Lisa dengan ekspresi di wajahnya yang menyebalkan. "Apa bisa aku mempercayakan rencana ini padamu?" tanya pemuda itu lagi.
"Berhenti mengejekku," sahut Lisa dengan kesal. Gavin terlihat tak peduli dengan permintaan gadis itu, justru ia kembali lagi ke sifat aslinya yang bermulut kasar dan suka mengejek.
"Kenapa kau tidak melakukannya sendiri saja? Kenapa aku harus repot-repot membantumu?" Lisa bertanya dengan nada yang tegas. Gadis itu lalu melirik arloji yang melingkari pergelangan tangan kirinya, berharap bel pelajaran segera dimulai dan dia bisa pergi dari tempat itu secepatnya.
Dia tak bisa terus-terusan berbicara dengan Gavin ketika semua teman-temannya sudah berada di kelas, sedangkan dia masih berada di halaman sekolah bersama dengan anak yang sangat menyebalkan dan suka mengatainya bodoh.
"Yah, aku bisa saja melakukannya sendirian, karena itu terlalu mudah untuk kulakukan sendiri tanpa bantuan orang lain." Gavin memulai deklarasinya.
"Tapi apa kau tahu, Lisa? Tentang ucapan orang bijak dulu yang mengatakan hidup adalah cara kamu berjuang dan berjuang adalah cara kamu bertahan hidup? Jika masih hidup, teruslah berjuang. Kira-kira begitu katanya."
Tiba-tiba saja pemuda berambut merah itu terlihat seperti orang bijak yang siap menasehati. "Jadi, intinya, karena aku masih hidup dan aku membutuhkan orang lain, maka aku akan terus berjuang untuk bisa mendapatkan gadis yang kuinginkan, yaitu Rosa. Sampai sini, kau paham maksudku?"
Lisa mengangguk, lebih cepat ia menjawab akan lebih baik.
Gavin berdecak melihat respons sang gadis. "Kau itu berniat membantuku atau tidak? Cepat bantu aku!"
"Ya, tapi bagaimana caranya!?" Lisa tanpa sadar meninggikan suara. "Ah, maaf, tapi kau tadi terus saja——"
"Bukankah Rosa itu teman dekatmu?" Gavin bertanya, seolah tak mendengar permintaan maaf Lisa sebelumnya.
Lisa diam seketika. Teman dekat, ya ... tentu saja mereka masih tetap berteman, tapi entah mengapa dia merasa sedikit ragu untuk menjawab pertanyaan itu di situasi yang sebenarnya tak ada hubungannya ini. Sebentar lagi bel masuk berbunyi dan dia harus segera ke kelas. Tapi Gavin terus saja menahan dirinya pergi dari tempat itu.
"Kenapa kau diam saja? Apa kau tak berniat menjawab permintaan adik kelasmu yang imut ini?" Gavin mengibaskan rambutnya penuh percaya diri.
Dan kini giliran Lisa mengabaikan pemuda itu. Dia bahkan tak memperhatikan bagaimana Gavin membanggakan diri sendiri.
"Kenapa kau diam terus dari tadi?" Gavin kembali mendesaknya dengan pertanyaan. "Lisa? Hei! Kau mengabaikan aku, ya!"
Lihat senyum culas yang menyebalkan itu, batin Lisa geram sebelum membuang napas perlahan dari mulut. Ah, dia merasa lelah sekali hari itu. Padahal masih terlalu pagi untuk kehilangan semangat dan sebagian besar energi yang dimiliki. Salahkan dia yang tak sengaja harus berurusan dengan orang yang sangat menyebalkan terlalu dini seperti ini.
"Aku tak punya waktu berlama-lama di sini, Gavin, ucap Lisa. "A-aku harus segera masuk ke kelas." Lisa merapikan penampilannya dengan cepat, kemudian menatap Gavin dengan tatapan memohon. Kemudian berkata, "Sa-sampai jumpa."
Sebelum Gavin sempat menghentikannya, Lisa sudah lebih dulu berlari masuk ke gedung dan meninggalkan Gavin seorang diri.
"Hei ... hei, Lisa, tunggu!" cegah Gavin, pemuda itu setengah berteriak karena gusar, tapi gadis yang dipanggil namanya sudah menghilang dari pandangan mata, menyisakan kekesalan karena ditinggal sendirian di sana.
"Lisa ... jadi kau mempermainkanku, huh? Awas saja kau." Gavin menggeram tertahan. "Akan kubuat kau menuruti permintaanku!"