34. Kembali Bertemu

1270 Words
Hubungan kita telah ditentukan sejak awal, tapi mengapa hati kita tidak? Bisakah aku memintamu menjadi takdirku dan membiarkan hati kita menyatu? Aku hanya tak ingin melupakanmu. *** Jam makan siang adalah saat yang sangat dinantikan oleh Lisa sejak dia bisa mengingat makan siang yang biasanya dia lewati seorang diri. Rasa sukanya terhadap waktu itu melebihi anak-anak yang menantikan jam pulang sekolah ketika berbunyi di penghujung mata pelajaran terakhir. Bukan karena dia kembali menjadi asistennya Dino Leckner dan siap menemani kapten tim sepak bola sekolah itu seperti rumor yang terdengar bahwa dia adalah suruhan sang pemuda, jelas bukan karena itu. Alasan Lisa sangat menantikan jam istirahat adalah karena dia bisa pergi ke suatu tempat yang tak diketahui oleh siapa pun selain hanya dirinya dan Tuhan lah yang tahu. Tempat itu adalah tempat yang ditemukannya secara tidak sengaja ketika dia sedang piket membersihkan kelas. Tempat itu begitu indah dan cocok sebagai pencuci mata dari desa yang minim hiburan ini. Itu adalah sebuah tempat yang dinaungi oleh rimbunnya dedaunan pohon mangga yang di bawahnya terdapat bale bale tua yang tak lagi diperhatikan pemiliknya. Kursi dari kayu jati itu terbuang begitu saja di sana, berharap lapuk dimakan waktu dan rayap. Meskipun begitu, semakin tua barangnya maka akan terlihat semakin kokoh. Bale bale itu memang sudah tua, kayu yang seharusnya mengkilap kekuningan sudah tak lagi menunjukkan kemilaunya. Alas dudukannya sudah tak lagi ada, meski Lisa yakin pada bale bale itu dulunya terdapat alas duduk yang empuk. Ketika gadis itu menemukannya, bale bale itu sudah seperti keadaannya yang sekarang. Di atas bale bale itu terdapat banyak sekali dedaunan basah, juga kotoran burung yang telah kering. Lisa yang awalnya hendak mengasingkan diri dari orang-orang, merasa tempat itu sangat cocok untuknya menghabiskan waktu istirahat makan siang. Lalu tanpa merasa malu dan risih, selama dua hari berturut-turut gadis itu bolak-balik ke tempat rahasianya itu demi membersihkan bale bale temuannya dari kotoran yang menempel. Lisa yang menemukan tempat bersantai yang nyaman itu dengan segera merasa beruntung, tak ada seorang pun yang tahu tempat itu selain dirinya. Letaknya cukup jauh dari lapangan sekolah, tapi masih bisa diakses jika melewati lorong yang terletak di sebelah kantor TU gedung sebelah barat. Setelah melewati lorong yang cukup panjang, Lisa harus belok kiri beberapa meter dan terus melangkah maju hingga menerobos semak-semak tanpa rasa takut. Setelahnya akan terlihat banyak pohon rambutan, kelengkeng dan mangga milik warga setempat. Dan tak jauh dari sana, Lisa menemukan surga impiannya .... "Si-siapa kau?!" Lisa bertanya dengan nada tinggi setelah melihat orang asing berbaring di atas bale-bale. Gadis itu mencoba menggertak pada sosok yang menutupi kepalanya dengan tudung jaket abu-y. Lisa yang merasa kesal tempat bersantainya dipakai orang lain pun segera menaruh kotak bekalnya di bawah, sambil berharap orang itu segera pergi dan membiarkannya makan siang dengan tenang. Gadis itu mendekat dengan hati-hati, takut orang yang dia temui itu adalah penjahat yang melarikan diri dari dalam penjara. "Pergi dari sini!" Lisa kembali menggertak, kali ini lebih tegas. "Berisik! Suaramu jelek! Kau buat gendang telingaku pecah tahu!?" "E-eh?" Lisa merasa familiar dengan situasi ini. Seperti pernah mendengarnya di suatu tempat, tapi di mana, ya? Dia tak bisa mengingatnya. "Turun, ini tempatku." Lisa masih berusaha mempertahankan ketegasannya, meski ekspresinya saat itu lebih terlihat seperti seekor kelinci kecil daripada naga yang marah. Hening yang tercipta membuat Lisa semakin kesal. Dia diburu waktu, karena sebentar lagi bel masuk berbunyi, dan itu berarti jam istirahat akan segera berakhir. Dia tak bisa berlama-lama di sana. "Pe-permisi." Lisa mencoba membangunkan orang yang masih tidur sambil menutupi wajahnya dengan tangan, menghalau sinar matahari yang mengusik tidurnya. "PERMISI!" Lisa mendorong orang itu dengan sekuat tenaga, membuatnya jatuh ke tanah dan meninggalkan bunyi 'buk' yang cukup nyaring. "Hei! Kau itu kenapa!?" Sosok dengan jaket abu-abu itu bangkit dan membalikkan badan dengan cepat, lalu menggerutu, "Padahal lagi enak-enaknya tidur siang——" Begitu dua pasang mata bertemu, Lisa terbelalak di tempat. "Ga-Gavin!?" teriaknya. "Jadi itu kau?!" "Memangnya siapa lagi?!" balas Gavin. "Orang lagi istirahat juga, malah diganggu. Dasar." Pemuda itu lalu sibuk menggerutu, kembali berjalan menghampiri bale-bale yang sebelumnya menjadi tempat berbaringnya, sesaat sebelum datangnya sang pengganggu. "A-aku pikir orang lain, sebab suaramu ...." "Ah, berubah, ya? Sepertinya sakit tenggorokan, karena terlalu banyak minum es. Jadi berubah serak." Gavin lalu batuk dua kali, tapi kemudian kembali memusatkan perhatiannya ke Lisa yang masih diam di tempat. "Sedang apa kau?" Gavin lalu melihat sebuah kotak bekal yang ditaruh begitu saja di tanah, dan dia langsung tahu siapa pemiliknya. "Oh, makan siang, ya? Cepat sini, mau makan, kan? Sebentar lagi bel masuk." Lisa masih terpaku, tak tahu mengapa dia harus kembali bertemu dengan pemuda ini, dan lagi di tempat rahasianya. "Aish, lambannya melebihi kura-kura," sindir Gavin setelah melihat Lisa berjalan sambil membawa bekal yang sebelumnya gadis itu tinggalkan di sana. "Ke sini cepat." Gavin yang duduk di bale-bale segera menarik Lisa begitu gadis itu mendekat, dan dengan cepat pula membuatnya duduk di sampingnya. Lisa tak tahu seperti apa ekspresinya saat ini, yang jelas dia kesal dengan Gavin yang selalu seenaknya. Mereka duduk berdampingan dalam diam. Tetap seperti itu, sampai-sampai Lisa lupa tujuan awalnya, yaitu makan dengan tenang. Dia bahkan tak lagi memiliki nafsu makan ketika melihat kotak bekal makan siangnya. "Kenapa tak makan? Cepat makan!" Lisa diam, tapi tangannya segera membuka bingkisan yang dia bawa dari rumah. "Eh, ini bekalmu?" tanya Gavin saat sudah melihat isi bekal yang Lisa bawa dari rumah. "Kenapa menunya seperti ini? Lisa mengangguk lambat, ragu mengiyakan. Belum sempat menjelaskan alasan mengapa dia hanya bisa makan nasi di siang hari kepada Gavin, pemuda itu sudah lebih dulu angkat bicara. "Makan siang itu cukup makan sayur dan buah! Juga minum air yang banyak! Orang dengan badan yang bugar saja menu makan siangnya seperti itu, tapi kau malah makan nasi goreng dengan campuran telur goreng yang dipenuhi karbohidrat seperti ini? Pantas saja pipimu bengkak, jadinya aku tak heran melihatnya." Lisa berusaha sabar dalam menghadapi Gavin yang mulut pedasnya sudah berfungsi kembali. Dia harus sabar. Lagipula, sudah menjadi risiko Lisa karena sudah berani berhadapan dengan Gavin, si adik kelas yang selalu mengusiknya. Belum lagi dengan tingkahnya yang sering berubah-ubah. Terkadang berhati baik seperti malaikat, kadang juga bisa lebih jahat dari iblis. Lihat bagaimana sekarang Gavin sibuk memarahi Lisa yang tak kunjung menyuap nasi ke dalam mulut, padahal dia harus makan siang tepat waktu. Gavin ternyata memiliki kepribadian yang heboh, dia sibuk mengomentari banyak hal bersama Lisa yang sesekali terlibat dalam pembahasan itu. Sampai kemudian dia menyadari tujuan awalnya mengajak Lisa berbicara. "Hei, ayo lanjut pembicaraan kita yang sempat tertunda tadi." "Silakan," jawab Lisa dengan sopan. "Aku bersungguh-sungguh, Lisa. Aku meminta tolong padamu untuk membantuku agar bisa kencan dengan Rosa." "Bukankah tempo hari kau bertemu dengannya?" Lisa ingat bahwa saat itu dia begitu lancang karena sudah menguping pembicaraan mereka. "Kalau sangat ingin bertemu, kenapa tak temui lagi saja?" Pertanyaan Lisa membuat Gavin berpikir keras, dia sedang memikirkan sesuatu. Mungkin dia sedang menimbang baik dan buruknya ide tentang dia sendirilah yang harus mengajak gadis impiannya pergi kencan ke suatu tempat. Tapi, apa dia bisa melakukannya? Sedangkan Rosa kemarin saja sudah memberikannya peringatan, jika Gavin kembali mengusiknya, maka gadis itu akan membencinya seumur hidup. Andai tak ada ancaman itu, mungkin saja Gavin sudah mengajak gadis itu pergi berdua ke suatu tempat. Sayangnya, ini tak semudah karakter utama yang dicintai banyak orang di drama romantis. Tentu saja suatu keinginan harus didapatkan dengan penuh perjuangan dan pengorbanan yang besar. * Kosa Kata Yang Muncul Dan Akan Muncul * Sensei*: Guru dalam bahasa Jepang. Sumimasen*: Permohonan maaf yang sopan, dalam bahasa Jepang. Kouhai*: Adik tingkat atau adik kelas dalam bahasa Jepang. Senpai : Kakak tingkat atau kakak kelas. Matte* : Ucapan yang artinya adalah 'Tunggu' dalam bahasa Jepang
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD