"Dino-kun," panggil Gina untuk kali ketiga. Namun, Dino mengabaikan hal itu. Akhirnya Gina hanya bisa menggeleng pelan. Sebab tak mendapat tanggapan apa pun dari anak kesayangannya, Dino.
Dia benar-benar berbeda setelah kehilanganmu, Mogi. Wanita paruh baya itu membatin dengan raut wajah sendu, teringat dengan almarhum suaminya yang telah tiada beberapa tahun yang lalu.
***
Langkah kaki lebar Dino akhirnya membawa sang pemilik surai hitam pekat itu sampai di ruang pribadinya yang luas. Dino membuka pintu kamarnya dengan perlahan, sehingga menimbulkan bunyi decit yang pelan. Suara decit dari engsel pintu kembali terdengar ketika pemuda itu menutup lagi pintu kamarnya. Dia mencoba menjaga setiap privasi yang ada.
Seluruh sudut kamar dihiasi oleh berbagai perabot dan aksesori berwarna merah dan hitam yang sedikit mencolok. Nuansa kamar seorang anak laki-laki begitu kuat. Kesan yang didapat pertama kali oleh kamar itu adalah rapi dan nyaman.
Kamar itu sangat luas untuk ditempati oleh seorang anak saja, terlebih lagi dia adalah remaja kelas 3 SMA yang selalu bersifat dingin kepada siapa saja.
Yang mendesain kamar Dino adalah ibunya, itulah mengapa kamar anak itu begitu estetik. Gina memang memiliki selera yang menarik dan itu adalah sumber dari daya tariknya. Dino melangkah pelan, masih dengan seragam sekolah yang melekat di tubuh, ia pun melempar tas punggung hitam yang berisi beberapa buku pelajaran miliknya dengan asal ke sisi ranjang.
Tak peduli ketika tas itu miring dan jatuh ke bawah. Toh, hanya ada buku di dalamnya.
Dino pun langsung merebahkan tubuhnya di atas kasur yang besar. Kasur itu tampaknya sanggup menampung tiga orang di atasnya, bahkan mungkin saja lebih. Akan tetapi, dari pada berbagi kamar, Dino lebih senang tidur sendiri. Sebab Dino adalah tipe serigala penyendiri, yang tidak suka berbagi kepada orang lain. Terlebih lagi berbagi ranjang, apalagi berbagi ke kakaknya, Rei. Dino tak suka sekamar dengan kakaknya itu.
Tangannya lantas merogoh-rogoh saku celana sekolahnya yang berwarna hitam selama beberapa saat. Setelan seragam sekolah anak itu memang berusaha mengikuti gaya pendidikan di sekolahan Jepang. Dino langsung meraih ponsel yang sedari tadi terus bergetar di dalam sakunya. Siapa yang menghubunginya sore-sore seperti ini? Apa orang itu tidak tahu waktu istirahat?
Dino mendecih. Setelah ponsel itu berhasil diraih oleh tangannya, Dino mengangkatnya dan menekan tombol pengeras suara. Dia tak perlu menaruh ponsel di depan wajahnya, cukup membiarkan suaranya tersampaikan kepada si penelepon.
Dino selalu seperti itu. Dia adalah tipe orang yang tidak mau repot-repot memastikan atau mengetahui siapa gerangan sang penelpon, dia akan menekan tombol hijau dan mendekatkan smartphone hitamnya ke dekat telinga atau menyalakan mode pengeras suara.
"Moshi-moshi*?" Suara gadis muda terdengar menyapa. Gadis itu kembali bersuara, "Halo, Dino-kun? Apa kau baik-baik saja? Aku dengar kau terjatuh saat pelajaran olahraga tadi. Dino-kun, apa itu benar?" Orang itu bertanya di ujung sana, tidak memberikan kesempatan kepada Dino untuk menjawab pertanyaannya satu per satu.
Suara gadis itu terdengar cemas.
"Hn." Hanya dua huruf konsonan yang keluar dari mulut Dino sebagai perwakilan atas semua pertanyaan dari seseorang di ujung telepon sana. "Aku baik-baik saja."
"Aku khawatir sekali denganmu, Dino-kun. Aku takut kamu terluka." Suara isak tangis seorang perempuan muda mulai terdengar lirih dari seberang telepon. Dino mengangkat ujung bibirnya sedikit, tersenyum tipis.
Tidak bermaksud mengejek, dia tersenyum karena dia senang gadis itu mengkhawatirkan dirinya.
"Ya, aku baik-baik saja, Rosa." Si bungsu dari keluarga Leckner itu menjawab dengan cepat. "Hanya sedikit lecet saja," sahut pemuda itu.
"Ya tuhan, benarkah itu?" tanya sang gadis, yang disusul oleh tarikan napas panjang. "Yokatta na*. Aku senang kau baik-baik saja, Dino-kun." Ucapan lega menyusul dari mulutnya, menggantikan isak tangis kecil seorang gadis dari keluarga Manoban.
Dino lagi-lagi tersenyum mendengar kata-kata gadis itu. Baru saja ia akan mengatakan sesuatu kepada sang gadis, di saat bersamaan terdengar bunyi 'bip' sebagai tanda ada satu pesan yang masuk ke ponsel pintarnya.
Dino lalu menatap ponsel di tangannya, bermaksud melihat siapa yang mengirim pesan di sore hari ini. Sebelum memeriksanya, Dino meminta waktu sejenak kepada Rosa yang langsung disetujui oleh gadis bernama lengkap Rosa Manoban itu.
Dino melihat sebentar kepada siapa yang mengirimkan pesan. Hanya melihat namanya saja, dia sudah tak tertarik. Tanpa berniat membuka dan membaca isi pesan tersebut, Dino kembali melanjutkan obrolannya dengan Rosa.
"Aku sudah selesai," ucap pemuda itu datar.
"Eh? Sudah selesai, Dino-kun? Cepat sekali," ujar Rosa keheranan. Sebelumnya, pemuda Leckner itu meminta izin padanya ingin memeriksa sesuatu, lalu kemudian Dino kembali berbicara padanya seolah tak terjadi apa-apa. Suara gadis Manoban itu tidak terdengar serak lagi seperti sebelumnya, dan hal itu membuat Dino tersenyum tipis.
"Hn, ya, aku sudah selesai, Rosa. Tolong, jangan tanyakan lebih lanjut lagi tentang hal itu," jawab si bungsu Leckner dengan cepat. Ia tidak ingin moodnya rusak karena suatu alasan yang tidak ia sukai. Apalagi tentang siapa orang yang mengirimkan pesan padanya.
"Lebih baik kita bahas hal lain saja."
Mereka kemudian berbicara dengan santai. Keduanya terlihat asyik dengan topik pembicaraan yang sedang mereka bahas. Sesekali si bungsu keluarga Leckner itu akan tertawa pelan saat mendengar guyonan lucu dari sang gadis Manoban.
Rosa adalah anak yang sangat tenang, suaranya terdengar manis di ujung telepon sana. Memang lebih dominan Rosa yang bercerita, tapi itu tidak masalah selama keduanya menikmati pembicaraan.
Dino terlihat ... begitu bahagia. Meskipun dengan cara yang menurut sebagian orang sangat sederhana. Akan tetapi, tetap saja, apa pun hal yang berhubungan dengan orang yang kita cintai, maka hal itu akan terasa sangat spesial.
Mereka sangat menikmati momen itu.
Tanpa mengetahui dan menyadari bahwa di jendela yang berada tepat di seberang jendela kamarnya Dino, terdapat seorang gadis dengan mata cokelat yang senada dengan warna rambutnya. Gadis itu tengah menatap jendela kamar Dino dengan raut wajah sendh.
"Mungkin ... pesanku itu tak terlalu penting. Iya, 'kan, Dino-kun?" gumam sang gadis dengan pilu.
* Pojok kata yang muncul dan akan muncul *
Nii-san : Ini adalah sebutan kakak laki-laki, panggilan dalam bahasa Jepang. Karena mereka bersekolah dengan sistem yang sama seperti di Jepang, mereka pun disuruh membiasakan diri menggunakan panggilan ini sehari-hari.
Ji-san : Ini adalah sebutan untuk seorang paman dalam bahasa Jepang. (Baik paman itu adalah keluarga ataupun laki-laki tua biasa.)
Baa-san : Ini adalah sebutan untuk seorang bibi dalam bahasa Jepang. (Baik bibi itu adalah keluarga ataupun laki-laki tua biasa.)
Imouto : Ini adalah sebutan untuk adik perempuan dalam bahasa Jepang. Mohon diingat panggilan dalam bahasa Jepang ini, ya.
Moshi-moshi : adalah kalimat yang selalu dipakai dalam menyapa seseorang di panggilan telepon. Dilakukan orang Jepang.