Dino tersenyum tipis. Gadis ini harus dibuat jera, pikirnya.
Jawaban pemuda yang selalu memiliki ekspresi minim itu adalah perintah—sekaligus ancaman, mengingat apa yang bisa Dino lakukan kepadanya. Terlebih lagi, Dino juga sudah memberikan penekanan pada kata 'segera' dan itu berarti pernyataannya tak bisa diganggu gugat. Bahkan, jika Lisa memohon belas kasihan kepadanya sekalipun, pemuda itu tetap tidak akan berhenti dan menuruti kemauannya.
Apakah ini yang biasa dilakukan oleh sepasang kekasih? Apakah ada pasangan yang tega membiarkan kekasihnya sendirian di jalanan sepi? Hanya Dino lah yang melakukan hal itu.
Sang gadis Hogward menghela napas dari hidung secara perlahan, ia hanya bisa pasrah saat Dino tak menuruti permintaannya. Memangnya dia ini siapa?
Apa dia cukup berarti bagi pemuda itu? Lisa meragu, tidak pada hari ini saja gadis Hogward ini berpikir demikian, tapi hari sebelumnya juga sama.
Gadis itu pun mengangguk kecil sebagai jawaban dan tak beberapa lama kemudian, keheningan yang sama kembali melanda.
Mereka terlalu sering diam, sampai-sampai Lisa lupa jika mereka sedang pulang bersama.
Mereka berdua terdiam, sibuk dengan pikiran masing-masing. Tak ada seorang pun yang ingin memecahkan keheningan yang kembali terasa di antara mereka. Perintah dari Dino itu adalah sesuatu yang mutlak, sesuatu yang harus dilakukan oleh sang gadis Hogward.
Mau tak mau, Lisa hanya bisa menuruti keinginannya dan hari ini pun berakhir sama seperti hari yang telah lewat.
Sepanjang perjalanan pulang ke rumah, Lisa hanya bisa diam sambil menelan pil pahit kekecewaan yang bersarang di tenggorokannya sejak tadi, sebab Dino lagi-lagi enggan mengikuti keinginannya untuk pergi ke tempat yang ia inginkan.
Si sulung dari keluarga Hogward itu pun memilih diam sambil menatap pepohonan, atau tiap-tiap rumah dan bangunan toko yang terlewati dalam perjalanan pulang mereka. Meski jarak rumah satu keluarga antara satu sama lainnya itu agak sedikit berjauhan, ataupun jumlah toko yang bisa dihitung dengan jari, tapi Lisa tetap memandanginya dengan tatapan kosong.
Tak ada minat sama sekali ketika dia menatap semua bangunan itu, karena pikiran gadis itu sedang tak berada di sana.
Pikiran Lisa pun melayang jauh, sibuk memikirkan arti dirinya dan setelahnya ia kembali disibukkan dengan pikiran tentang Dino yang tak pernah berubah menjadi lebih baik kepadanya. Padahal mereka berdua telah kenal lama, sejak keduanya masih kecil.
Di detik-detik selanjutnya, yang hadir di antara mereka hanyalah kesunyian yang sama sekali tak mengenakkan. Terasa menganggu. Keheningan itu mengiringi perjalanan sepasang manusia berbeda jenis yang berstatus sebagai sepasang kekasih itu.
Tak ada gelak tawa, tak ada candaan khas sepasang kekasih pada umumnya.
Yang ada di antara mereka hanyalah kesunyian, tanpa ada seorang pun yang ingin memecahkan kesunyian itu, dan menjadikannya suatu momen kebersamaan yang berharga bagi sang gadis Hogward yang telah lama memendam rasa sesak di antara keheningan ini.
Mereka berdua terdiam, lagi dan lagi. Lisa mencoba menikmati keadaan yang tak pernah berubah menjadi nyaman sedari dulu di antara mereka berdua.
Mungkin memerlukan waktu sekitar empat puluh menit bagi Dino dan Lisa hingga tiba di depan rumah masing-masing. Rumah siswa-siswi kelas tiga Furukawa High School itu memang saling berhadap-hadapan. Keduanya adalah tetangga sejak kecil, sebab alasan itu pulalah, hanya Dino yang Lisa miliki sebagai teman sepermainannya.
Dino yang sudah menghentikan laju sepedanya, memberi gestur kepada Lisa untuk turun. Dia sengaja membawa sepedanya agak sedikit dekat dengan gerbang rumah gadis itu, dan menurunkan Lisa tepat di depan rumahnya. Dia tak melirik gadis bersurai cokelat panjang, meski dia masih menunggu sang gadis turun dari boncengan sepedanya.
Lisa pasti mengerti apa yang dia inginkan.
Benar saja, gadis itu menahan napas sebelum menurunkan kakinya satu per satu ke tanah. Kakinya agak pegal, karena itu dia turun dengan lebih hati-hati.
Selepas Lisa menginjakkan kedua kakinya di tanah, Dino dengan segera memutar sepedanya dan kembali ke rumahnya yang berseberangan dengan rumah sang gadis Hogward. Tanpa berniat sedikit pun berbicara terlebih dahulu dengan sang kekasih, walau hanya sekadar basa-basi.
Memangnya itu penting? Dino bukan tipe orang yang senang berbasa-basi, apalagi jika membahas sesuatu yang dirasa tidak terlalu penting.
Lisa sudah masuk ke dalam pagar, dan berdiri di depan pintu berwarna hitam pekat berukuran besar. Pintu utama yang terbuat dari bahan yang kokoh dan berkualitas, itu adalah pintu depan rumahnya.
Sang gadis Hogward memandang punggung tegap pemuda tambatan hatinya itu sampai sang pemuda masuk ke dalam halaman rumah. Punggung Dino pun hilang terhalangi oleh pagar tinggi rumah kediaman keluarga Leckner yang dibuat tak berjeruji.
Bahkan rumahnya saja seperti tak membiarkan Lisa masuk. Gadis itu lalu menghela napas panjang, rasa sesak masih merongrong dirinya sejak tadi. Perasaan tak enak menggelayuti hatinya. Gadis itu kemudian berbalik memasuki rumahnya yang megah dan menutup pintunya rapat-rapat.
***
"Dino-kun, kau sudah pulang, Nak?" Pertanyaan sang ibu langsung menyapa gendang telinga Dino tepat setelah pemuda itu baru saja menginjakkan kakinya di ruang tamu kediamannya. "Bagaimana harimu hari ini? Menyenangkan?"
Dino tak menoleh, ia masih sibuk melepas sepatu dan kaos kakinya.
"Dino ...." Gina kembali memanggil. Dino bereaksi, ia menggumamkan sesuatu. Tak terdengar jelas, tak terlihat seperti dia sedang mencoba menjawab pertanyaan dari Gina Leckner, ibunya tersayang.
Gina hanya bisa tersenyum kecil melihat anak bungsunya tak menjawab pertanyaannya. Dino memang anak yang sibuk, dia terlihat begitu kelelahan setelah menghabiskan waktu selama berjam-jam di sekolah. Lagi pula, sistem pendidikan sekarang memang agak sedikit membingungkan.
"Oh, ya, Dino-kun," panggil Gina, mencoba menarik perhatian anak laki-lakinya untuk sekali lagi. "Sudah lama sekali sejak Lisa-chan main ke sini. Terakhir dia ke sini itu sekitar ...." Gina terlihat berpikir serius, mengingat waktu di mana Lisa terakhir berkunjung ke rumahnya. "Sekitar tanggal dua bulan kemarin, dan itu berarti ... sudah hampir satu bulan!"
"Padahal Lisa-chan tinggal di depan rumah kita tapi terkadang dia hanya lewat saja di depan gerbang sambil tersenyum manis. Besok, bisa tidak kau ajak Lisa-chan kemari, Dino-kun?" tanya ibunya dengan riang. Ucapan ibunya itu terdengar seperti permintaan besar.
Dino menatap ibunya sesaat, lalu kemudian dengan cepat ia palingkan wajahnya ke samping. Jelas dari gelagatnya itu, dia tak menginginkan permintaan ibunya terealisasikan.
Gina, wanita separuh baya yang masih terlihat cantik itu menatap anak bungsunya penuh harap. Berharap Dino akan mengabulkan keinginan kecilnya.
Dia memang sangat berharap, anaknya akan membawa Lisa lagi ke rumah mereka. Dino harus menuruti permintaan ibunya kali ini. Lagi pula, Gina sudah sangat merindukan Lisa, anak tetangga yang sudah dia anggap seperti anak kandungnya sendiri. Gadis yang tak pernah membuat Gina bosan saat melihat senyum di wajahnya atau menghabiskannya waktu dengan cara berbincang ringan dengannya.
Dia ingin Lisa sendirilah yang datang ke rumahnya. Tentu saja karena dia ingin gadis itu menghabiskan waktunya lebih lama di kediaman keluarga Leckner, mengingat Lisa adalah kekasihnya Dino.
Dulu sekali, saat Dino dan Lisa masih berusia 14 tahun, gadis dari keluarga Hogward itu sering datang ke rumah mereka. Sekadar berbincang ringan dengan Gina, atau menemani Dino yang sedang bermain game di ruang keluarga.
Aktivitas yang terjadi waktu itu sangat menyenangkan. Namun akhir-akhir ini, ketika kedua anak-anaknya telah tumbuh dewasa dan hampir menyelesaikan pendidikan sekolah mereka, Lisa menjadi jarang berkunjung ke rumah keluarga Leckner, dan ini sudah lebih dari dua minggu—hampir satu bulan.
Dino menepuk keningnya, hingga terdengar suara tepukan yang cukup keras. "Selalu saja begini," gumamnya asal sambil terus menggerutu. Ia sangat kesal, sebab ibunya kembali membawa-bawa gadis itu dalam pembicaraan keduanya. Dino memutar bola matanya dan sama sekali tak membalas ucapan sang ibu. Lelah menjawab permintaan yang tak terlalu penting.
Dino justru menuju arah lain dan menaiki anak tangga, pergi menuju kamarnya yang terletak di lantai dua.
Tak pernah berubah.