19. Berakhir Semudah Ini

1250 Words
Rasanya hatiku akan menjadi tumpul, hangus terbakar, lalu berubah menjadi abu .... Ini baik, atau justru sebaliknya? *** Hari Senin datang dengan cepat, dan liburan satu hari yang menyenangkan bagi semua orang pun telah berlalu. Tak ada yang istimewa, tak ada yang aneh sejauh ini. Semua tetap sama. Mungkin bedanya hanya satu, ada jarak yang ingin diberikan Lisa pada Dino Leckner. Dia tidak lagi berangkat bersama, tidak mengirimkan pesan singkat, dan juga tidak membawa handuk serta botol minum yang biasanya ia bawa ketika Dino tengah berlatih sepak bola. Walau kadang Lisa masih sering kedapatan memandangi Dino secara diam-diam yang sedang bermain bola di lapangan pada saat jam istirahat makan siang. Perkataan pemuda bersurai merah pada waktu itu sedikit mempengaruhi pikiran Lisa yang bingung dengan perasaannya sendiri. Ah, dia sadar sepenuhnya, cinta tak pernah ada di hati seseorang hanya untuk membuatnya bodoh. Cinta hadir tidak sebagai pembodohan. Sama sekali tak baik jika perasaan yang seharusnya membahagiakan itu justru membuat hatinya lemah. Dia tak perlu menjadi orang yang perlu dikasihani hanya karena ini, terutama jika bisa terbaca dengan jelas oleh orang yang tak tahu apa-apa mengenai hidupnya. Lisa merenung kembali, apa caranya mencintai Dino yang salah? Tak ada lagi yang bisa ia pertahankan? Tetapi, untuk apa pula dia harus bertahan? Untuk kebahagiaan dirinya kah? Atau karena perasaan egois yang telah disalahartikan olehnya? Lisa tak tahu harus bagaimana lagi bersikap mengenai pertanyaan-pertanyaan yang muncul ini. Sudah cukup berperan menjadi tokoh antagonis dalam kisah cintanya sendiri, kini dia layak bahagia. Mungkin dengan melepas perasaannya terhadap pemuda dingin keluarga Leckner itu dapat membuatnya merasa jauh lebih baik dari semua ini. Melepaskan Dino serta membuat Rosa dan pemuda itu bersama mungkin akan membuat ia sakit pada awalnya, tetapi pastilah itu jalan terbaik yang menjadi pilihannya untuk saat ini. Juga, janji untuk terus bertahan pada hubungannya dengan Dino yang dulu pernah ia ucapkan di depan pusara Mogi Leckner—ayahnya Dino, sudah pasti tak akan terpenuhi. Sebab, dia akan menyerah mulai sekarang. *** Sampai menyerah sendiri, aku tak akan berhenti. Lagipula, aku sudah berjuang sejauh ini, masih ada hari esok. Aku akan melihat sejauh mana batu itu terkikis dan luluh terhadap ketulusan seorang yang penuh cinta. *** Mengajak Dino untuk berbicara berdua saja itu sangat sulit, dan sekalinya sudah bisa bertemu seperti yang dilakukan oleh Lisa pada waktu makan siang beberapa tahun lalu, kalimat yang jauh-jauh hari sudah dipersiapkan olehnya dengan matang langsung menghilang dari kepala sang gadis Hogward. Meninggalkan Lisa sendiri dengan kegugupan tinggi yang selalu membuatnya terlihat seperti orang aneh di mata Dino. Lisa dan kecanggungannya adalah kombinasi yang paling tidak Dino senangi selama hidupnya. Lisa menarik napas panjang, lalu memainkan jari tangannya. Matanya terus bergerak ke sana kemari seolah menghindar dari pertanyaan yang akan diajukan Dino padanya. "Untuk apa kau mengajakku kemari?" Nada suara Dino begitu datar ketika dia angkat suara. Pemuda itu sedikit mendengkus melalui hidung mancungnya, bosan. Sebab lagi-lagi Lisa kembali mengajaknya berdiri diam di jembatan arah rumahnya hanya untuk melihat matahari yang pulang ke peraduan. Apa tak ada hal yang lebih menarik dari ini? Apa gadis itu ketularan anak-anak zaman sekarang yang sering mengelukan hal indie yang indah? Pemuda dingin itu memutar bola matanya sekali lagi, seolah muak dengan segala hal. Lagi-lagi ia harus mendengkus karena terlalu sebal menghadapi Lisa. "K-kita sudah terlalu lama bersama." Awal kata yang terbentuk sebagai kalimat pertama kacau, sangat kacau. Ini tak baik untuk sebuah awalan, tapi Lisa tak bisa berhenti tiba-tiba, ia tak bisa menghentikan mulutnya yang bergetar ingin melanjutkan semua ini. "Ya, lalu?" respons Dino begitu singkat, dan dingin, tetap mempertahankan nada datarnya. Mata sehitam jelaganya melirik sekilas pada gadis yang berdiri di dekatnya itu dengan rasa kesal. "Bisakah kita pulang? Aku lelah." Kalimat selanjutnya yang akan dikatakan oleh Lisa adalah kalimat yang pendek, hanya terdiri dari beberapa kata saja. Bagi orang lain, mungkin akan sangat mudah mengucapkannya, tapi tidak untuk gadis bermarga Hogward yang sedang meremas rok sekolah di bawah lututnya. Lidahnya kendadak kelu, tak bisa bergerak dan mengeluarkan kata. Apakah ada kram pada lidah? Jika ada, mungkin sekarang Lisa sedang mengalami hal itu. Gadis itu menghirup napas perlahan-lahan, mencoba mencari ketenangan dari hal yang dilakukannya itu. "S-sebaiknya ... sebaiknya kita berhenti. Ma-maksudku ... ki-kita berdua sampai di sini saja," ucap Lisa mengakhiri kalimatnya yang terbata-bata. Merasa kalimatnya belum pas, Lisa kembali menambahkan, "A-ayo, kita putus saja." Lisa yang menunduk dan terus mencengkeram rok seragam sekolah miliknya tak tahu ekspresi seperti apa yang Dino perlihatkan. Dia yakin Dino pasti tahu apa yang dia maksud. Tentu mudah mengartikan apa yang Lisa katakan tadi, pastilah si bungsu genius dari keluarga Leckner itu tak akan kesulitan. Lalu, seperti tak pernah dikehendaki, rasa sesal menggerogoti hati sang gadis, seperti ulat yang menghabisi sehelai daun di atas pohon. Gadis itu ingin menarik kembali kata-katanya, lalu memutar waktu dan kemudian bertahan seperti sebelumnya. Tak apa-apa jika tak ada cinta di antara mereka, tak apa-apa jika hanya dia yang mempunyai perasaan dalam hubungan ini. Sungguh dia tak akan mempermasalahkan hal itu, selama Dino masih bersamanya, hanya saja semua itu tidak mungkin 'kan? Ini semua sudah telanjur. Kalimat itu sudah ia utarakan kepada Dino, terang-terangan. Ah, tentu saja itu semua tidak bisa dibatalkan dengan mudah. Keduanya tak menyuarakan suara apa pun selama beberapa saat, dan selama itu berlangsung rasanya waktu berjalan sangat lama bagi Lisa. Jantung gadis pemalu itu berdetak kencang. Kesunyian yang menyergap membuatnya sedikit merasakan sakit pada kepalanya, dia gugup luar biasa. Darah seolah berjalan kembali ke otaknya, dan ia merasa ingin muntah saat itu juga. Ini parah, benar-benar parah, tapi Lisa harus bisa bertahan sedikit lagi. Setidaknya sampai ia bisa mendengar sesuatu yang akan meluncur keluar dari mulut Dino. Hampir satu menit lamanya dan tak ada jawaban apa pun dari Dino, Lisa yang mengigit bibir bawahnya mencoba mengumpulkan keberanian dan menengadahkan wajahnya, menatap pada teman masa kecilnya itu. Dino yang Lisa kenal sebagai pemuda paling apatis selama mereka bersama, pemuda yang jarang menunjukkan perasaannya lewat ekspresi di wajahnya, kini terlihat berbeda. Sudut bibirnya naik sedikit, tak terlihat jelas, tapi Lisa yakin bahwa pemuda dengan surai hitam itu sedang tersenyum miring. Terlalu tipis untuk disebut sebuah senyuman, tetapi bagi Lisa, itu menjadi pemandangan paling indah dalam hidupnya, melebihi matahari terbenam yang menjadi objek favorit si gadis Hogward ketika senja hari menyapa. Satu momen yang pasti akan Lisa kenang selalu dalam hidupnya. Momen di mana ia bisa melihat Dino tersenyum di depannya, meski senyum itu tak ditujukan untuknya. Gadis itu tetap tertegun di tempat, memandangi Dino yang terlihat sangat bahagia. Sang gadis menatap pemuda itu dengan mata yang tak berkedip. Beberapa tahun ke belakang, sejak keduanya menjadi sepasang kekasih, sejak Lisa menyatakan cintanya, tak pernah sekalipun dia melihat Dino menunjukkan senyum bahagia seperti itu. Sama sekali tak pernah, bahkan mungkin sepertinya sejak Lisa mengenal Dino, tak pernah sekalipun ia melihat pemuda itu tersenyum padanya. Andai saja senyum itu muncul di saat yang berbeda, kini semuanya jelas sudah. Dino bahagia ... karena akhirnya bisa berpisah dengannya. Ini tak baik. Sama sekali tidak. Bukan ini yang Lisa harapkan sebenarnya, ia tak ingin berpisah dengan pemuda itu, tapi entah kenapa ia hanya diam saja. Lisa terlalu sibuk memandang wajah tampan yang tengah menatap matahari tenggelam hingga tak menyadari tatapan lembutnya pada pemuda dingin itu. Ah, jika boleh jujur, dia masih sangat mencintai pemuda ini, tapi justru ada perasaan ganjil yang membuat d**a gadis bersurai cokelat itu penuh dengan perasaan aneh, seperti ada gelombang naik yang mendesak untuk keluar, tapi tak sakit. Tidak membuatnya merasa baik, dan tidak membuatnya merasa buruk juga. Setidaknya, ini akan menjadi sebuah keputusan yang akan membuatnya dilema ke depannya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD