20. Terima Kasih Atas Segalanya

1334 Words
Aku yang terbiasa tanpamu bisa apa setelah adanya sekat pemisah di antara kita? *** "Hm, baguslah," balas sang pemuda, dan inilah jawabannya. "Sudah sejak dulu aku ingin berpisah denganmu, terima kasih." Sebuah persetujuan yang akan disesali ke depannya. Persetujuannya akan sebuah perpisahan yang selama ini sudah lama dinanti-nantikannya. Perpisahan dengan gadis pemalu yang selalu mengganggu waktunya. Kini hubungan itu usai sudah, telah selesai. Lisa masih bergeming di tempat, melihat wajah Dino yang seolah sudah lepas dari beban berat. Entah mengapa ... entah mengapa membuatnya ingin tersenyum juga. Seharusnya dia menangis saat ini, tapi sudut-sudut bibirnya justru tertarik ke atas. Lisa tersenyum lebar. Memang hanya sampai di sini. Tidak akan berlanjut lagi. Pipi-pipi chubby Lisa tertarik ke atas. Senyum lepas yang tak terpaksa pun tercipta. Sebuah senyum lega yang terasa begitu ringan, seolah tak ada beban lagi yang ditimpakan padanya. Pada detik itu, sang pemilik rambut cokelat mungkin mengalami keadaan di mana ia mencapai titik tertentu bisa mencintai seseorang dan mampu merelakannya dengan ikhlas untuk berbahagia dengan pilihan hatinya. Bersama gadis lain, gadis yang bukan dirinya. Gadis yang bukan Lisa Hogward yang selama ini mengusik kebahagiaan pemuda itu. Senyuman tulus datang dari gadis pemilik surai cokelat panjang. Ia merasa sudah lega sekali sekarang. Setelah semua ini, dia bisa membiarkan Dino bahagia dengan pilihannya sendiri. Lisa tersenyum semakin lebar, sampai matanya hampir berbentuk garis saja. Perasaan yang terlalu membebaninya pasti akan pergi dan menghilang setelah ini. Sekarang adalah penghabisan, semua pasti akan terasa lebih mudah. Semuanya akan kembali lagi menjadi normal. Lisa yang akan terus menyukai Dino, dan Dino yang akan terus menyukai gadis lain. Lisa yang tak bisa disukai oleh pemuda Leckner itu dan Lisa yang mulai bergerak mengikuti jalannya sendiri. Inilah jalan yang dipilih olehnya dengan kesadaran penuh dan keyakinan yang pasti. Ini mungkin akan menjadi awal yang baik, ketika tak ada lagi air garam yang ditumpahkan ke luka, pikir gadis itu. Lisa merasa senang, hatinya lega dan dia sangat bersyukur. Semoga pilihanku ini benar-benar tepat, dan semoga aku selalu berbahagia, setelah hari ini. Lisa membatin lirih sambil tersenyum tipis. *** Lisa bangun keesokan harinya dengan perasaan senang yang meluap-luap. Perasaannya cukup baik pagi itu dan dia siap menjalani aktivitasnya dengan lebih baik dari hari sebelumnya. Gadis itu bersenandung riang, banyak rencana yang memenuhi otaknya saat ini. Ini ternyata jauh lebih mudah dari apa yang bisa Lisa bayangkan sebelumnya. Tak ada lagi perasaan gelisah yang akan mengganggu pikirannya di setiap pagi hingga malam menyingsing. Dia tak perlu buru-buru ke dapur dan menyiapkan dua kotak bekal yang akan diperuntukkannya kepada seseorang. Lisa merasa dianugerahi sesuatu yang luar biasa. Tuhan memang mengerti apa yang hamba-Nya butuhkan dan Lisa sangat bersyukur karenanya. Jam belum menunjukkan pukul enam saat gadis itu sudah mulai sibuk di dapur. Lisa sedang membuat sarapan untuk ayah dan juga untuk dirinya sendiri, serta menyiapkan bekal yang dulunya selalu dia buat dalam dua kotak makan, namun sekarang berubah menjadi satu buah saja. Bekal ini akan terasa lebih nikmat, karena dia tak perlu lagi memikirkan apakah bekal yang lain dimakan atau tidak. Tinggal di Kalimantan yang jauh dari kota besar membuat tempat tinggal Lisa dan keluarganya begitu sepi. Di kota tempatnya tinggal, stasiun bus hanya ada satu. Tak ada taksi seperti di kota-kota, yang ada hanya segelintir orang yang menyewakan mobilnya dengan harga relatif mahal. Namun ada juga jasa rental mobil yang menawarkan jasanya dengan harga yang cukup terjangkau, meski kendaraannya tidak terlalu bagus, setidaknya masih bisa digunakan jika ingin bepergian bersama keluarga. Di sini, orang-orang lebih senang menggunakan sepeda daripada menaiki motor atau mobil. Selain ramah lingkungan, mereka juga lebih suka jika melihat alam di atas kayuhan sepeda yang mereka miliki. Itu suatu kepuasan tersendiri, ketika kaki mengayuh, mata memandang ke kiri dan kanan bahu jalan. Udara pun masih sangat sejuk. Kebijakan kota kecil ini yaitu meniru sedikit perkembangan kota di Jepang, membuatnya terlihat seperti kota Osaka mini yang damai. Beberapa sudut kampung di kecamatan bernama Basarang itu terdapat pura kecil yang dirawat dengan baik oleh para warga yang beragama Hindu di sana. Kecamatan Basarang merupakan salah satu kecamatan yang berada di Kabupaten Kualakapuas, dengan letak yang strategis yang berada pada jalur jalan trans Kalimantan. Pada tahun 1963, daerah Basarang pertama kali dibuka sebagai salah satu kawasan permukiman transmigrasi. Melalui program transmigrasi inilah, Basarang yang menjadi salah satu daerah tujuan, lambat laun mulai dipadati oleh para pendatang yang berasal dari Pulau Bali sehingga Kecamatan Basarang juga sering disebut dengan nama Kampung Bali karena masyarakat Bali yang juga beragama Hindu membentuk permukiman linier yang berada di samping kiri dan kanan jalan trans Kalimantan. Posisi yang strategis ini menyebabkan budaya Bali yang dibawa oleh masyarakat Bali pun mengalami proses perubahan di dalam permukiman masyarakat Bali. Sehingga tercipta budaya baru yang berbaur di kecamatan Basarang ini. Lisa punya beberapa ekor peliharaan di rumahnya, meski yang dimilikinya hanya beberapa ekor ayam jantan yang selalu membangunkannya di pagi hari, tapi mereka makhluk yang cantik. Ayahnya selalu mengajak bicara ayam-ayam itu, total mereka ada tiga ayam. Terkadang, sebelum membuatkan makanan di dapur, Lisa akan memberi mereka makan dulu berupa beras merah. Meski memelihara ayam, Lisa ingin sekali memelihara seekor kucing yang lucu dan menggemaskan, tapi ayahnya tidak mengizinkan ada kucing di rumah dengan alasan kucing bisa menganggu ayam-ayam milik mereka. Yah, walau terdengar tidak adil, Lisa pun mengalah dan memilih untuk tidak lagi membahas kucing di depan ayahnya yang pecinta ayam. Mungkin di lain waktu, dia bisa memiliki kucingnya sendiri jika tinggal terpisah dengan ayah dan juga ayam-ayamnya. Lisa mengerjakan tugasnya sebagai anak sulung dengan baik. Tangannya dengan cekatan membersihkan piring-piring kotor bekas makan malam sebelumnya. Handuk dan botol yang setiap malam selalu disiapkan olehnya di atas meja belajar sebelum berangkat sekolah, kini sudah tidak ada lagi di sana. Kedua barang itu sudah tersimpan rapi di dalam laci meja belajarnya, tak akan disentuh dan digunakan lagi oleh Lisa yang telah memutuskan untuk melupakan masa lalu yang hanya akan memberikan luka. Barang-barang itu hanya akan menjadi barang yang mengingatkannya tentang betapa pahitnya mencintai seseorang yang tak akan pernah bisa melihat ketulusan hatinya. Ya, mungkin untuk selanjutnya handuk dan botol itu tidak akan pernah lagi ia gunakan untuk menunjukkan rasa pedulinya kepada seseorang, tapi untuk dilenyapkan keberadaannya ... Lisa tak ingin melakukan hal itu. "Selamat pagi, Sayang. Pagi sekali hari ini?" Suara berat Doran yang muncul dari belakang mau tak mau membuat Lisa berbalik dan tersenyum saat mendapati ayahnya yang terlihat masih setengah mengantuk sedang berdiri di anak tangga kedua dari bawah sambil menatap bingung dirinya. "Apa ada yang istimewa kali ini?" Doran kembali bertanya dengan suaranya yang serak, ciri khas setelah bangun tidur. "Oh, ayah sudah bangun?" Lisa bertanya dengan suaranya yang lembut. Sifat Lisa yang penyayang dan pemalu banyak diambil dari ibunya yang telah meninggalkan keluarga kecil mereka karena lebih memilih hidup bersama pria lain. Kini wanita itu tak ada kabar, menghilang bersama matinya cinta anak-anaknya kepada wanita yang menjadi ibu mereka. "Aku sedang membuat sarapan, mau sekalian kubuatkan bekal makan siang nanti?" tawar Lisa sambil kembali melanjutkan kegiatannya, memotong daun bawang. Doran menggeleng pelan, tapi sesaat kemudian mengerutkan keningnya ketika melihat Lisa menepuk dahinya pelan. Seperti seseorang yang baru saja teringat akan sesuatu. "Ada apa?" tanya pria itu kepada anak sulungnya. Lisa tertawa kecil. "Aku lupa, tentu Melly-san sudah membuatkan bekal untuk ayah, kan?" tanya Lisa menggoda. Doran, meski setengah mati berusaha menyembunyikan rasa malunya dengan memasang ekspresi datar, tapi tetap saja rona merah yang muncul samar di pipinya membuat Lisa mau tak mau terkikik geli. Godaannya untuk membuat ekspresi yang jarang ditunjukkan ayahnya itu berakhir sukses. Dia memang sudah lama tak melihat Ayahnya tersenyum karena dipenuhi rasa cinta. Akhirnya ekspresi itu kembali terlihat setelah sekian lama. Lisa saja bahkan sampai lupa, kapan terakhir kali dia tak melihat sang ayah merona pipinya karena salah tingkah seperti ini. Lisa mulai sadar jika kehidupannya sekarang jauh berbeda dengan dulu, ada banyak kebahagiaan yang tuhan berikan padanya. Satu per satu, kebahagiaan itu datang dan membuat roda kehidupannya kembali berputar. Lisa bersyukur, teramat sangat bersyukur. Karena dia melakukan hal yang benar kali ini, sebab sudah melepas sesuatu yang hanya akan menghambat kebahagiaannya sendiri.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD