Betapa merindunya cinta yang bertepuk sebelah tangan seperti ini, menumpulkan rasa agar tidak bertambah dalam luka yang tertoreh.
***
Sebuah perubahan dimulai dari diri sendiri, setidaknya itulah yang ingin Lisa percaya dan akan dilakukannya di masa depan. Jika bukan dia yang berubah, maka tak akan ada hal baru yang akan dilihatnya nanti. Keputusan yang mendasari Lisa untuk menghampiri salah seorang teman laki-lakinya di kelas.
"Aku ingin ikut organisasi berkebun." Lisa memandang penuh harap pada Reza, ketua organisasi berkebun di sekolahnya yang kebetulan satu kelas dengan si gadis Hogward.
Lisa telah memperhatikan pemuda itu selama seharian, dan dari apa yang didapatkannya dari temannya yang lain, bahwa Reza itu adalah ketua organisasi berkebun. Organisasi yang hanya berisi orang-orang yang senang tanaman, atau orang yang tak mau capek mengikuti kegiatan klub lainnya.
Reza mendongak dari posisi tidurnya di atas meja, memandang Lisa yang berdiri di sebelah mejanya sejenak. Seolah menilai kebenaran dari apa yang gadis itu ucapkan. "Kau berminat pada organisasi yang hanya mempunyai lima orang anggota saja?" tanya Reza kebingungan.
Reza jelas ingin organisasi yang dipimpinnya ini bertambah anggotanya, agar semakin terlihat ramai, tapi jika ada yang masuk tak serius dan kemudian meninggalkan organisasi di tengah jalan, itu adalah hal merepotkan yang ingin Reza hindari. Dia tak ingin seseorang masuk dan pergi sesuka hatinya, meski organisasi ini tak besar dan tak sepopuler organisasi pramuka, cheerleader, basket dan sepak bola di sekolah mereka, namun dia sudah menyayangi kegiatan klubnya.
Sebuah organisasi yang tak dilirik oleh orang-orang, tapi berisi beberapa orang dengan minat yang sama.
Lisa mengangguk mantap, dia benar-benar yakin dengan keinginannya untuk bergabung ke klub. Dari sekian organisasi yang ada di sekolahnya, klub berkebun adalah yang paling mudah dan tak melelahkan. Sejujurnya, gadis itu merasa sedikit bersalah karena tujuan sebenarnya dia masuk ke organisasi berkebun itu adalah untuk menyibukkan diri, sebagai penghibur bagi dia yang belum bisa melepaskan perasaannya pada si bungsu Leckner.
Seperti kata orang bijak, "Sibukkan dirimu, agar beban di pundakmu terlupakan." Lisa menjadikan kata-kata bijak ini sebagai acuannya untuk bisa melupakan Dino.
"Klub kami tidak menyenangkan." Reza mengatakan kelemahan dari organisasi berkebun miliknya, memastikan apakah Lisa akan tetap bergabung atau justru berubah pikiran setelah mendengar organisasi yang hanya tahu merawat tanaman sekolah.
"Tidak apa-apa," jawab Lisa sambil menggeleng lemah.
"Klub ini tak pernah berpartisipasi dalam perlombaan yang diadakan oleh sekolah."
"Sungguh tidak apa-apa, Reza-san," ucap Lisa pelan, masih berusaha menunjukkan keteguhan hatinya untuk bergabung.
"Tak pernah menerima penghargaan dari kepala sekolah."
"Tidak apa-apa, aku akan tetap bergabung." Lisa masih mempertahankan senyumnya.
"Kalah populer dengan organisasi pemandu sorak itu," ucap Reza sekali lagi, seperti ingin menguji kesabaran Lisa, meski dia tahu jika Lisa tidak terlihat seperti gadis yang tak sabaran.
Lisa tersenyum kecil dan menjawab, "Sungguh, tidak apa-apa, Reza-san. Meski kau mengatakan lagi kelemahan organisasi ini, aku akan tetap bergabung."
Melihat gadis itu yang tetap dengan pendiriannya, Reza pun menghela napas panjang, kemudian mengangguk, "Baiklah, kalau begitu maumu. Sore ini, datanglah ke kelas geografi yang sudah tak terpakai lagi di gedung timur. Kami selalu berkumpul di sana."
"Apa aku perlu mengisi formulir pendaftaran?"
Reza menggeleng. "Untuk apa? Kami hanya klub yang beranggotakan lima orang. Enam, jika ditambah dengan kau nanti. Kau tinggal gabung saja dan berbaurlah dengan yang lain."
Setelah mengucapkan apa yang ingin dikatakannya, Reza kembali menelungkupkan kepalanya di atas meja, tak lagi menghiraukan tatapan berbinar-binar yang Lisa tujukan padanya.
"Terima kasih banyak, Reza-san. Aku akan berjuang."
***
Lisa merasa ada yang berbeda dengan Rosa, seakan gadis itu sedang menghindar darinya. Lisa rasanya ingin bertanya saja pada sahabatnya itu, sebab kejadian serupa pernah terjadi dulu, ketika Rosa menjauh darinya selama beberapa waktu, dan penyebab semua itu adalah Dino.
Apakah ini juga karena hal yang sama? Apa Rosa berpikir Lisa akan marah karena Dino lebih memilih dirinya daripada gadis yang selalu bersama dengannya setiap hari?
Sekarang, bukankah semuanya sudah jelas? Lisa tak lagi bersama dengan pemuda minim ekspresi itu, tapi kenapa Rosa masih saja bersikap aneh di depannya padahal Dino dan dia tak lagi bersama? Seperti yang lagi-lagi gadis itu lakukan, Rosa akan mengemas peralatan sekolahnya dengan tergesa-gesa setelah bel pulang sekolah dibunyikan, dia benar-benar mencoba untuk tidak berkomunikasi dengan Lisa.
Terlihat jelas jika dia sedang menghindar dari gadis berwajah polos yang telah dijauhinya selama dua hari ke belakang.
Mungkin hanya perasaanku saja, pikir Lisa mencoba berpikir positif. Semoga saja kelakuan Rosa ini tidak berlangsung lama.
Setelah memperhatikan gelagat gadis itu, Lisa pun memutuskan mengemasi barang-barangnya juga. Dia ada janji dengan organisasi barunya hari itu, dan dia tidak mau terlambat di pertemuan perdananya. Gadis itu berjalan dengan langkah yang bersemangat. Dia terlalu antusias untuk mengikuti kegiatan klub. Sejak kelas satu, baru kali ini dia masuk ke sebuah organisasi sekolah, perasaan senangnya benar-benar sulit didefinisikan.
Dia akan berusaha.
***
Lisa lagi-lagi tersenyum, entah sudah yang keberapa kalinya dia mengembangkan senyuman. Kegugupan awal yang menyerangnya ketika memperkenalkan diri di depan teman-teman seorganisasinya hilang begitu saja saat sambutan baiklah yang ia terima.
Lisa sangat senang, sebab dia diterima dengan hangat di organisasi itu.
Di organisasi berkebun yang sudah ada sejak Lisa duduk di kelas 2, Reza adalah ketua sekaligus pendirinya. Selain dia, masih ada empat orang anggota lainnya. Lisa bersyukur karena dia menemukan anggota perempuan lain di klub itu. Dia tak ingin menjadi satu-satunya gadis di klub, karena dia tak pandai berkomunikasi.
Nama gadis itu adalah Sarah, dia cukup ahli dalam urusan merawat bunga dan tanaman yang ada di klub. Kalau Lisa tak salah ingat, Sarah adalah primadona kelas sebelah yang diisukan tergila-gila dengan seorang pemuda bernama Dani, si pecandu game online. Entah kebetulan atau tidak, Dani adalah anggota ketiga yang masuk ke organisasi itu setelah Sarah, alasannya masuk karena ingin menghindar dari organisasi pramuka atau PMR (Palang Merah Remaja) yang diwajibkan sekolah.
Anggota keempat organisasi ini adalah si penggila botani yang juga berasal dari kelas sebelah, namanya Rio Herlambang. Rio, Sarah dan Dani adalah teman sekelas, dan mereka juga sekelas dengan kapten sepak bola sekolah itu.
Lisa pernah mendengar gosip yang mengatakan bahwa Rio pernah melakukan eksperimen di laboratorium sekolah dan hampir meledakkan laboratorium itu karena kegagalannya dalam memicu zat.
Terakhir, ada si tukang makan yang bernama Jino. Pertama kali bertemu dengannya, Lisa langsung ditawari sebungkus cemilan pedas yang dibawa olehnya. Teman yang juga berbeda kelas dengan Lisa ini menjadi anggota di organisasi itu setelah diajak oleh Dani.
Jino tersenyum dengan mulut penuh keripik kentang sebagai salam penyambutannya pada Lisa, si gadis pemalu. Seolah menemukan dunia baru, Lisa membungkukkan tubuhnya berkali-kali, berterima kasih karena sudah diterima masuk ke dalam organisasi itu.
Reza menanggapi Lisa dengan lambaian tangan yang terlampau malas, tapi senyum tipis tersungging di bibirnya, setelah itu dia menguap karena kelelahan. Reza selalu tertidur pada saat istirahat makan siang, karena pada malam harinya dia harus pergi bekerja menjaga gudang beras milik neneknya. Upahnya cukup untuk membantu biaya pendidikannya nanti.
Oleh karena itu, Reza punya kebiasaan menguap, seolah dia lelah sekali.
Berbeda dengan sambutan yang lain, Sarah lah yang paling membuat Lisa terkesan. Gadis itu bersorak kegirangan dan berkata, "Akhirnya ada anak perempuan juga di klub ini selain aku!"
Lisa tertawa kecil dan bersalaman dengan Sarah, gadis itu melangkah sedikit lebih dekat dan memeluk Lisad dengan dekapan hangat. Lalu membisikkan satu kalimat tak terduga, "Ehm, Lisa. Karena kau gadis lain di klub ini, kumohon jangan dekat-dekat dengan Dani, ya?"
Lisa meringis, rupanya isu yang pernah didengarnya itu benar adanya.
Dani hanya diam, tak mengatakan apa-apa. Sebab dia tahu jika Sarah mulai menunjukkan taringnya kepada gadis yang terlihat bisa mengancam keberadaannya itu.
Sedangkan Rio dan Jino sibuk dengan urusan masing-masing.
Jino yang masih menyunggingkan senyum lebarnya, memasukkan keripik kentang yang banyak dalam mulutnya. Terlihat seperti sebuah robot yang hanya tahu makan dan makan. Sedangkan Rio, dia tampak sedang berkonsentrasi dengan sebuah pot berisikan tanaman Janda Bolong yang dibelinya di kota besar di provinsi lain. Dia berencana membuat pot khusus untuk tanaman itu, pot yang bisa menyiram airnya sendiri.
Lisa jadi takut jika tanaman hias yang kabarnya mahal itu layu dan mati, pastilah itu akan membuat Rio yang mencintai tanaman hias itu merasa frustrasi. Memanf ada baiknya untuk tidak menyukai sesuatu secara berlebihan.
Namun Lisa tak menyadari bahwa dirinya juga telah melakukan sesuatu yang berlebihan, yaitu mencintai Dino sementara dirinya sudah dibenci pemuda itu.