22. Kalimat Yang Seharusnya Dilupakan

1021 Words
Ketika memutuskan untuk berhenti, maka selesaikanlah dengan baik. Terkadang, meski sudah menumpulkan rasa, akan tetap ada penyesalan kecil karena belum menghapus semua kenangan seutuhnya. *** Ternyata pertemuan kali ini langsung membawa Lisa ke kegiatan organisasi. Apalagi kalau bukan menanam aneka macam tumbuhan. Kebanyakan bibitnya dibeli langsung oleh Jino, karena orang tuanya bekerja di pasar dan dia bisa memilih bibit apa yang akan dibawanya ke sekolah. "Kita akan menanam sayuran kali ini. Organisasi tata boga meminta bantuan kita untuk menyediakan beberapa macam jenis sayuran yang rencananya akan digunakan pada lomba masak pada hari peringatan ulang tahun sekolah kita nanti." Lisa tak ingat persis suasana ulang tahun sekolahnya, sebab dia selalu menghabiskan waktunya di lapangan sepak bola, menunggu seseorang berlatih untuk pertandingan antar kelas. Reza menjelaskan rencananya sambil membagikan beberapa kantong benih sayuran kepada masing-masing anggota klubnya. "Kita harus menanamnya dengan serius, tak boleh mengecewakan organisasi tata boga. Kita akan menghasilkan sayuran yang enak untuk lomba nanti." Mereka langsung terjun ke halaman yang disediakan khusus untuk menanami benih-benih sayuran itu, semuanya memilih lokasi yang cocok dan mulai menanam bibit yang mereka miliki. Sayangnya Lisa lupa jika tanah yang digunakan untuk berkebun itu berada tak jauh dari lapangan sepak bola, tempat di mana hatinya masih berada. Tidak ada yang salah dengan itu semua. Yang jadi masalah utamanya adalah yang sedang berlatih saat itu di tengah lapangan. Tim sepak bola sekolah dengan sang kapten yang menjadi penjaga gawangnya, Dino Leckner. Lisa tak menampik fakta bahwa dia masih menyukai pemuda itu. Apalagi ketika melihat pemuda dengan mata obsidian itu dari jarak kurang dari 20 meter, sesuatu yang tak membantunya sama sekali untuk melancarkan misi melupakan pemuda itu. Gadis itu beberapa kali mendesah pelan, mencoba dengan keyakinan di dalam dirinya untuk tidak bersifat lemah. Mereka tak lagi memiliki hubungan apa-apa, itu berarti Lisa tidak boleh lagi memperhatikan pemuda itu. "Hei, hei, lihat ke sana, Dani-kun. Kau lihat adik kelas kita yang rambutnya berwarna merah? Dia tampan sekali, tapi kau jauh lebih tampan." Sarah yang berbicara dengan suara yang tak bisa dikatakan pelan itu, mau tak mau membuat perhatian Lisa menjadi terbagi antara hatinya dan lapangaj sepak bola. Pandangan matanya yang sedari tadi mencuri-curi kesempatan untuk memperhatikan Dino, kini teralihkan pada satu sosok yang Sarah bicarakan. Rambut merah yang tertiup angin, tampilan yang berantakan, muka menyebalkan yang bagi Lisa terlihat mirip preman. Itu ... adalah pemuda menjengkelkan yang sok tahu tentang kehidupan percintaan yang Lisa miliki bersama Dino. Gadis itu hanya tak menyangka jika pemuda bersurai merah itu ternyata adalah adik kelasnya. "Namanya Gavin. Dia striker baru di tim kita loh, Dani-kun. Hebat sekali 'kan dia?" Sarah melirik Dani, mencoba menarik perhatian pemuda itu. Lisa yang berdiri tak jauh dari kedua pasangan itu tahu jika Sarah sedang berusaha membuat Dani menunjukkan rasa tidak suka atau setidaknya cemburu pada apa yang diucapkan oleh gadis cantik di sebelahnya, tapi sepertinya kurang berhasil. Dani tetap fokus pada ponselnya. Miris. "Huh, dasar! Akan kubuat kau jatuh cinta." Sarah yang sadar jika Dani lebih memperhatikan ponsel yang selalu dibawa kemana-mana olehnya itu, akhirnya memilih untuk mendekat ke Lisa, mulai bergosip dengan gadis anggota baru di klubnya. "Kudengar dia menyukai Rosa, si penggila pink yang satu kelas denganmu itu." "Em, maksudmu Gavin?" Lisa mencoba bertanya. Sarah menganggukkan kepala, membenarkan. "Ya, bukan hal aneh jika melihatnya selalu membicarakan dan menebak gadis itu, tapi bodohnya dia selalu ditolak oleh gadis dengan selera norak itu. Uh, kupikir wajar jika dia ditolak, karena kau tentu pasti sudah tahu bahwa si Rosa itu tergila-gila dengan kapten sepak bola kita." "Si Dino." Lisa mencoba tersenyum. Bahkan setelah keduanya berakhir, tak ada seorang pun yang sadar jika mereka adalah sepasang kekasih dan bukan sekadar tetangga seberang rumah saja. Gadis itu mengangguk dan tersenyum singkat. Semua tahu jika Lisa dan Dino sudah tak lagi memiliki hubungan apa-apa. Jadi, tak akan ada yang perlu menjaga perasaan Lisa sekarang. "Omong-omong, si Gavin itu benar-benar baby face sekali! Lihat wajah mungilnya! Andai ini bukan kota kecil, dia pasti sudah masuk agensi rekaman di Jakarta! Pasti dia itu tipe adik kelas yang menyenangkan." Sarah berkata dengan mata yang berbinar cerah. Sepertinya dia akan menjadi salah satu fans dari anak bernama Gavin itu. Lisa yang berada di samping Sarah hanya bisa meringis pelan, sebab Sarah tak tahu saja betapa menyebalkannya pemuda berambut merah itu. *** Ini salah, terlalu tiba-tiba. Pemuda itu datang dan mengancam Lisa. "Kau harusnya tak boleh berpisah dengan Dino! Rosa jelas-jelas tak akan menoleh padaku jika kalian berakhir seperti ini!" Gavin menatap tajam kedua mata Lisa, menyampaikan kekesalan yang tak pernah diperlihatkannya pada siapa pun, kecuali pada gadis yang telah merusak segala usahanya selama ini. "Bisakah kau bertahan terus saja? Kau mencintainya, 'kan?" Gavin mendengkus, terlihat tidak sabaran dan wajahnya yang putih memerah karena amarah. Padahal dia sendiri yang seolah menyemangati Lisa untuk berpisah dengan Dino (setidaknya itulah yang Lisa tangkap saat pertemuan mereka pada insiden bola itu) tapi sekarang Gavin malah menyuruh hal sebaliknya. Plin plan sekali, menyebalkan sekali, gerutu Lisa dalam hati. "Balikan saja, sana kembali lagi ke Dino!" Kenapa dengan pemuda ini? Memaksa Lisa untuk kembali ke seseorang yang tak menginginkan keberadaannya. Lalu, ada apa dengannya? Ada suatu getaran aneh yang membuatnya sakit ketika mengingat tentang apa yang dibicarakannya dengan Dino hari itu. Padahal Lisa baru saja pulang dari sekolah dan dalam perjalanannya itu sang adik kelas mencegat langkahnya, kemudian berbicara hal aneh dan marah-marah tanpa sebab padanya. Ada urusan apa pemuda itu dengan Lisa? Kenapa Lisa yang harus dia beri kata-kata pedas yang terdengar tak menyenangkan itu? Mereka sama sekali tak punya urusan, mereka sama sekali bukan teman atau kenalan. Lisa tak memiliki salah apa pun pada pemuda bernama Gavin ini. Adik kelas sok tahu ini tak punya hak apa pun untuk memarahinya. "Heh, kenapa diam saja? Cih, kau ini menyebalkan, ya? Pantas saja kapten tak pernah sekalipun menyukaimu." Itu juga benar, lalu apa? Lisa yang semula menundukkan wajah, kini mengangkat perlahan kepalanya, memperlihatkan wajah yang dihiasi senyum manis yang terlihat sendu. "Terima kasih atas segala pujiannya." Gadis itu membungkuk sedikit, kemudian melangkah pergi. Lisa meninggalkan Gavin seperti yang sudah sering ia lakukan kepada pemuda dengan surai merah menyala itu, berjalan terus tanpa menolehkan lagi kepalanya dan melihat ke belakang.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD