Kalau saja gue gak ingat bahwa dalam agama gue, hari Senin itu adalah hari yang baik. Sudah pasti gue akan merutukki hari ini. Hari di mana gue harus/kudu banget ketemu sama Mr.Gala. Melakukan bimbingan dan mendengar bisik-bisik tetangga-bukan, maksudnya bisik-bisik dosen di Prodi yang diam-diam mengagumi si Mr.G.
Gue gak munafik dengan mengatakan kalau si Mr.G ini gak menarik. Bohong bangey kalau gue bilang begitu. Sebab, harus gue akui kalau wajah kakunya itu memang terbilang tampan bahkan di atas rata-rata.
Gue gak akan menjelaskan detail wajahnya pada kalian. Gue gak akan mengatakan kalau si Mr.G ini memiliki rahang tegas, hidung mancung, bibir seksi atau alis tebal dengan sorot mata yang dingin sekaligus sendu, tidak akan. Karena kalau gue menjelaskan sedetail itu, berarti gue benar-benar memperhatikannya. Padahal faktanya tidak begitu.
Intinya gue gak akan mendustakan ketampanannya. Hanya saja bagi gue, tampan saja gak cukup.
Ah, iya! Mengenai grup chat laknat semalam, di mana gue menjadi anggota grup fansnya si Mr.G. Kalian tahu, siapa dalang dari perbuatan laknat itu? Ya! Pony! Perempuan itu dalangnya.
Gue benar-benar gak habis pikir. Sahabat gue satu itu ternyata memendam kekaguman terhadap Mr.G, si pria batu. Kenapa juga gue baru sadar sekarang? Pantas saja, tuh anak selalu mau kalau gue ajak untuk menemani gue menghadap pria batu itu, sedangkan dia akan menghadap Pak Asep.
Lalu gue ingat malam itu. Malam di mana gue menjemput Pony di warung pecel lele dan di tengah jalannya bertemu dengan si pira batu. Kenapa juga gue gak sadar kalau saat itu Pony menjadi lebih bersemangat meskipun baru saja menangis tersedu-sedu karena putus dari si bawang.
Saat ini, gue sudah stan by duduk di kursi kantin yang biasa menjadi tempat tongkrongan gue sama Pony, dan kadang gue sama Agas. Jarang sih, gue bisa kumpul bertiga sama keduanya.
Melirik jam tangan yang melingkar di lengan gue. Ternyata ini masih pukul enam pagi. Wow sekali bukan?! Gue rela bersiap begitu pagi mengingat hari ini gue harus bimbingan sama si Mr.G pukul tujuh pagi. Beberapa waktu yang lalu, gue mengirimkan pesan singkat pada Pony untuk bertemu di kantin ini. Membicarakan alasan dari perbuatan laknatnya yang telah menjebloskan gue ke dgrup alay itu semalam. Usus gue rasanya ikut bergetar kalau ingat tulisan nama grup itu.
Pak Gala Lovers
Eiuwwwwwh! Yang benar saja! Mereka gak tau aja, gimana dingin, kaku dan ketusnya pria itu. Mereka hanya kagum dengan cara mengajar pria itu saat mengajar mata kuliah pilihan. Keren katanya.
Bahkan kantin pun belum pada buka. Kurang rajin apalagi gue?! Gue mengeluarkan ponsel gue dari dalam saku baju gamis yang gue kenakan. Enah kenapa, akhir-akhir ini gue lebih suka pakai gamis dari pada pakaian potongan yang butuh atasan, bahwan, tengahan. Gue jadi males untuk mencocokkan baju mana yang pas sama rok yang bakalan gue pakai atau sebaliknya.
Sepertinya, menjadi mahasiswa semester akhir tak hanya membuat gue kerjaq lembur bagai kudaq deh, tapi juga malas memikirkan style pakaian gue. Asal gak kusut aja, udah. Apalagi pola makan. Pola makan gue makin absurd dan kacau balau.
Tangan gue bergerak lincah di atas keyboard ponsel. Menngetikkan beberapa kalimat dan mengirimkannya pada Pony. Pasalnya, sahabat gue itu baru selesai mandi! Gila! Padahal beberapa waktu yang lalu dia balas pesan gue dengan kata 'otw'.
Ternyata oh ternyata, dia sedang otw dari kasur ke kamar mandi, bung! Astaghfirullah! Apa gue bilang? Gue dan Pony itu sama-sama saling menstimulasi satu sama lain agar selalu ingat untuk bertobat dalam setiap kesempatan.
Kalau saja Pony tidak menahan gue untuk ke luar dari grup alay bin norak itu, udah pasti gue hengkang dari semalam. Pasalnya, notifikasi di ponsel gue gak henti-hentinya masuk dan membuat berisik. Untuk itu, gue memakai cara alternatif dengan menonaktifkan notifikasi grup tersebut hingga sepuluh tahun yang akan datang.
Detik demi detik berlalu, menit demi menit gue lewati dengan sabar hingga puncaknya gue bosan duduk sendirian di kantin. Meskipun sudah ada beberapa pedagang yg buka stand. Seperti goreng-gorengan dan minuman dingin yang lagi hits di kampus, yaitu capuccino cincau dan beraneka ragam es dengan nama yang sedang hits. Meskipun gue bukan tipikal orang yang mudah suka terhadap hal-hal yang hits atau tren.
Walau sebanyak apapun minuman dingin atau es dengan nama dan rasa yang hits dan hype abis, gue tetap lebih suka es dawet dan es campur. Atau dengan kata lain, gue itu tipikal orang yang setia. Caelah, kurang apalagi gue? Udah setia, rajin menabung, cinta damai dan juga pandai bersyukur.
Sesekali mata gue melirik ke arah jam tangan yang melingkar di lengan kanan. Sudah pukul setengah tujuh pagi. Waktu begitu cepat berlalu. Iseng, gue menatap pantulan wajah gue di layar ponsel yang gue genggam. Awalnya gue kaget. Kaget kenapa muka gue pipi semua.
Saking jarang atau bahkan gak pernahnya gue merawat wajah, jadinya seperti bakpau yang ditaburi kacang. Pasalnya, akhir-akhir ini jerawat seolah begitu jinak di wajah gue terutama di bagian kening dan dagu.
Sejak gue duduk di sekolah menengat pertaman mama sering kali melarang gue untuk menggunakan skin care, semacam facewash atau facialfoam gitu. Katanya, gue hanya perlu rajin rajin cuci muka dan juga berwudu. Keren sih mama gue, kalau gue pikir pikir sekarang.
Tapi, ada tapinya nih. Semanjak itu, gue jadi males dan betul betul hanya membiasakan rajin cuci muka dan berwudu. Hingga gue memasuki sekokah menengah atas, bahkan bisa dihitung dengan jari berapa kali gue memoleskan bedak bayi ke pipi gue. Jarang banget.
Sampai pada gue memasuki dunia kampus. Gue memutuskan untuk hidup mandiri dengan tidak serumah dengan mama dan papa gue. Sebab, selain jarak rumah dari kampus gue yang lumayan jauh, gue juga benar benar kepingin merasakan bagaimana hidup sebagai anak kosan. Akan tetapi, mama menolak ide gue mentah mentah tanpa dikunyah lebih dulu.
Katanya, gue itu susah bangun tidur, gimana kalau nanti gue lebih sering kesiangan daripada masuk kuliah. Lalu, gue itu hobi makan, gimana kalau nanti di kosan gue gak ada makanan yang bisa gue makan, dan pada akhirnya gue sakit dan kurus kering. Memang seperti itulah pemikiran mama gue. Berbanding terbalik dengan papa. Papa bahkan mendukung ide gue sepenuhnya. Sebab, menurut papa, gue sudah seharusnya belajar hidup mandiri. Memanage waktu, keuangan, masalah dan problematika hidup gue tanpa bergelayutan pada lenga papa mama gue terus terusan. Singkat cerita gue diizinkan, dengan syarat, gue harus ngontrak bukan ngekos.
"Assalamu'alaikum Bu Haji!!" Tiba-tiba saja gue terperanjat kaget saat suara sesorang yang tak asing menggelitik indera pendengaran gue.
"Ngelamun aja lo! Gak bagus Al, lo gak tau aja berapa banyak setan yang rebutan pengen ambil alih tubuh dan pikiran lo," cecar Pony seraya meraih kursi yang ada di hadapan gue. Gue lagi-lagi hanya bisa beristighfar ria, tanpa bisa merutuk atau bahkan mengutuknya. Asli, gue kaget woy! Lagi enak enak nostalgia.
"Lo bangsa setan?eh! Maksud gue, lo tau dari mana? setan lagi pada rebutin gue? Lo anak indihome apa gimane?" Balas gue sewot karena nih anak hampir bikin gue jantungan.
"Enak aja! Anak indigo, Alinaaa! Bukan indihome!" Gue hanya memutar bola mata malas seraya mencebik ke arah sahabat gue ini.
"Udah! Buruan Pon! Gue bener bener gak sabar pengen denger penjelasan elo, mengenai grup alay semalam. Kenapa lo nistain gue?hah?" Pony hanya mendesis seraya menatap gue dengan sinis.
"Asal lo tau, ya Al. Bahkan di dalam grup itu ada salah dua dosen kita dan dosen-dosen dari jurusan lain. Lo beruntung bisa masuk ke grup itu. Sebab banyak yang kecewa karena grup itu kepenuhan dan mereka gak bisa jadi member." Papar Pony dengan serius dan entah kenapa gue makin geli-geli pen muntah.
Yang benar saja! Gue rela deh ke luar dari itu grup. Biar fansnya si pria batu itu bisa masuk.
"Gue kasih tau, nih ya Al! Di dalam grup itu, kita gak hanya bahas soal pak Gala, tapi juga tentang ilmu kimia dan segala hal yang berhubungan sama Pak Gala. Kita udah nemu sumber terpercaya yang bakalan kasih kita informasi yang akurat dan valid. No tipu-tipu dan no hoax!" Demi langit dan bumi dan segala isi-isinya, gue benar benar gak habis pikir. Sekuat itukah pesona si pria batu? Atau gue yang gak waras karena sama sekali tidak tertarik dengan dunia pria itu?
"Asal lo tau ya, Pon. Pak Gala itu-,"
"Ehem!!!" Perkataan gue mengambang di awang-awang saat suara berat yang khas itu tiba-tiba hadir di tengah tengah obrolan unfaedah gue dan Pony.
"Saya minta kamu buat bimbingan sama saya di Prodi. Bukan malah membicarakan saya di sini!" Detik itu juga, gue merasa seolah olah gue adalah tersangka yang sedang ketangkap basah. Betapa malunya gue.
Pony hanya meringis seraya mengatakan 'Pa-pagi, pak!' Sedangkan gue? Membuka mulut saja rasanya begitu berat. Alarm di ponsel gue tiba tiba saja terdengar. Sontak, fokus kami bertiga beralih pada benda pipih itu.
Bimbingan with Mr.G
Nama alarm yang gue buat itu terpampang di layar benda persegi yang layarnya kini tengah berkedip. Dalam hati, gue beristighfar ria karena itu artinya ini sudah pukul tujuh pagi. Kenapa juga pria ini lewat di dekat kantin? Kenapa dia tidak menempuh jalan utara saja. Sehingga kami tidak akan bertemu dalam keadaan seperti ini.
"Saya tunggu di Prodi," ucapnya seraya berlalu setelah sempat menatap layar ponsel gue.
Tamatlah riwayatmu Alinaaaa!!!!Pekik gue dalam hati seraya bergegas memasukkan ponsel ke dalam tas dan mulai melangkahkan kaki dengan terburu-buru. Meninggalkan Pony sendirian dengan teriakan tertahan.
Bodo amat! Pony ikut andil dalam kejadian naas yang menimpa gue barusan. Kalau saja itu anak tidak membicarakan grup unfaedah itu, barangkali gue gak akan kedapatan sedang menyebut nama pria batu itu.
Saking malu dan cemasnya, sampai-sampai gue gak memperhatikan jalan sama sekali. Hingga tiba-tiba saja kejadian naas nan memalukan kembali menimpa gue.
Bagaimana tidak, tubuh gue tiba-tiba saja menabrak punggung seseorang dengan kuat. Rasanya hidung gue bakalan patah karena terbentur terlalu kuat. Gue meringis sekaligus mengaduh.
"Kamu tidak apa-apa?" tanya seseorang yang membuat gue mendongak seraya mengusap-usap hidung dan kening gue dengan pelan.
"Eng-gak apa-apa, kok pak." Tolong, kenapa gue jadi gugup setengah mati saat pria batu dengan wajah kaku itu membungkuk di hadapan gue seraya menatap ke dalam mata gue dengan tatapan ce-mas? Ah entahlah!
Untuk pertama kalinya, jantung gue berdegub kencang dan pipi gue terasa panas seketika saat pria itu tiba tiba saja menyentuh hidung gue dengan lembut.
"Hidungmu berdarah! Cepat! Ikut saya!" Sergahnya seraya menempelkan sapu tangan ke hidung gue dengan buru-buru.
Apa?!!! Hidung gue berdarah?! Pantas saja, sejurus setelah tabrakan antara wajah gue dan punggunya itu terjadi, gue merasa seolah ada sesuatu yang terasa dingin mengalir di lubang hidung gue.
Saat itu gue menyadari satu hal. Bahwa, si pria batu yang gue kenal, ternyata tak sepenuhnya menyebalkan dan menyusahkan hidup gue. Atau, sebenarnya gue sama sekali tidak mengenalnya, namun dengan lancangnya menilai dia seperti yang gue pikirkan selama ini.
======
Selama bimbingan berlangsung, gue benar-benar gak fokus. Pasalnya, entah kenapa ada secuil rasa bersalah yang menyelinap di sudut hati gue.
Gue merasa bersalah karena terlalu membenci pria yang ada di hadapan gue saat ini. Sampai sampai gue dibutakan oleh kebencian dan tak dapat melihat kebaikan yang ada pada dirinya.
"Kamu suka baca novel?" tanyanya tiba-tiba dan gue bodohnya hanya mengangguk mengiyakan dengan mudah. Dia tersenyum, senyum sinis yang entah kenapa terasa menyebalkan. Baru saja gue berpikir kalau dia tidak menyebalkan, kenapa seolah dia membantahnya dengan senyumannya itu.
"Kamu tahu? Dalam membangun sebuah cerita utuh, beberapa penulis membutuhkan yang namanya outline. Sama halnya kamu yang butuh tau dan butuh merancang yang namanya kerangka tulisan saat menggarap Skripsi." Gue hanya mengangguk, mengiyakan.
"Kamu harus tau dulu, permasalahan apa yang harus kamu jelaskan terlebih dahulu di dalam latar belakang penitianmu ini. Ingat, isi latar belakang itu adalah,"
"Masalah, problematika dan kegundahan kita sebagai saintist terhadap suatu permasalahan bumi. Entah itu masalah energi, lingkungan atau yang lainnya." Sambung gue dengan mantap. Gue hampir hapal di luar kepala saking seringnya dia cekoki masalah latar belakang ini.
"Satu hal lagi, kamu harus membaca jurnal yang relevan sama peneletian kamu. Setidaknya dua puluh jurnal bahasa Indonesia dan sepuluh jurnal bahasa Inggris." Saat itu juga, gue lupa bahwa gue pernah menganggap pria di hadapan gue ini 'baik' dan tidak memiliki dendam sama gue.
Bayangkan! 20 jurnal bahas Indonesia dan 10 jurnal bahasa Inggris. Totalnya tiga puluh! Gue ulang, TI-GA PU-LUH!!
Asli. Gue rasanya mau nangis aja saat ini. Tapi gue masih waras. Untuk itu, gue menjawab dengan begitu santai dan sopan santun, "baik pak. Saya akan membaca jurnal lebih banyak lagi."
"Saya harap revisiannya bisa saya terima dalam waktu dekat," ucapnya terakhir seraya menyerahkan kertas putih--yang sudah penuh dengan coretan--di tangannya.
"Baik pak. Terima kasih." Gue benar-benar berlalu setelah mengucapkan salam dan menampilkan senyuman tipis.
Padahal, gue benar-benar gak sabar pengen pulang ke rumah. Berlari ke ruang olahraga dan memukul samsak yang tergantung bebas di sana dengan sekuat-kuatnya.
"Gimana Al? Seger gak, abis bimbingan sekaligus cuci mata?" tanya Pony dan Pita secara bersamaan saat langkah kaki gue baru saja mencapai lantai luar prodi Kimia.
Ingin rasanya gue meneriaki dua perempuan-- yang kini menatap gue dengan berbinar--ini keras keras. Bahwa gue baru saja ikut lomba melatih kesabaran dan menahan emosi. Bukannya cuci mata!
Gue menatap mereka dengan malas dan mendesis kuat.
"Cuci mata! Cuci mata! Noh! Ke kamar mandi, ambil sabun cair di lab. Terus lo cuci dah tuh mata," balas gue asal seraya memasukkan lembar proposal gue ke dalam tas.
"Yeee!!! Ngegas amat sih neng! Gas alam lagi mahal lo! Jangan suka ngegas ngegas gitu," tukas Pony seraya mengapit lengan gue.
"Ya udah yuk! Kita ke kontrakan lo aja! Gue barusan abis bimbingan sama pak Asep dan.... gue seneng banget! Karena pak revisian gue jadi lebih sedikit dari yang kemaren." Meski mood gue lagi terjun bebas, tetap saja gue tersenyum karena merasa bahagia dengan kebahagiaan sahabat gue ini.
"Pit? Lo gak mau ikut nih?! tanya Pony pada Pita, teman sekelas kami, namun tak begitu sering menghabiskan waktu bersama. Pasalnya, Pita adalah tipikal perempuan nerd meski tidak dengan kacamata tebal di hidung macungnya. Dia lebih suka menghabiskan waktu di perpustakaan fakultas daripada tidur-tiduran di kosan atau kontrakan teman kita yang lainnya.
"Dia mah hantu perpus, Pon! Lebih suka mangkal di perpus daripada hijrah ke kontrakan gue," tukas gue dengan diakhiri kekehan kecil. Pita hanya tersenyum seraya mencebikkan bibirnya ke arah gue.
"Bisa aja lo Al! Maaf ya gak bisa ikut." ringisnya seraya melambaikan tangan.
Kami berdua berlalu setelah mengucapkan salam dan membalas lambaian tangan Pita.
Lalu, saat menuruni anak tangga, tiba-tiba saja gue merasa pusing, berkunang-kunang. Bintang-bintang kecil berotasi di depan mata gue.
Penglihatan gue perlahan-lahan menghitam , lalu, sedetik kemudian tubuh gue ambruk di dalam pangkuan Pony.
Kejadian naas yang menimpa gue menjadi kuadrat saat mata gue menangkap sosok pria itu yang begitu dekat dengan wajah gue. Gue pengen teriak saat itu juga, namun kesadaran gue gak bisa gue pertahankan barang beberapa detik saja.
Kemudian, semuanya hitam dan gelap.
mati lampu?
Bukan! Gue pingsan!
======