DB-5-Good or BadBoy?

2358 Words
Saat kesadaran gue kambali, satu hal yang gue ingat saat terakhir gue gak sadarkan diri, yaitu wajahnya Pak Gala. Gue gak tahu gimana bisa wajah pak Gala menjadi objek terakhir dan satu-satunya yang berhasil mata gue tangkap saat itu. Saat ini, mata gue berkedip pelan berusaha menetralkan penglihatan gue terhadap objek yang ada di hadapan gue saat ini. Langit-langit sebuah kamar yang dicat dengan warna biru tua adalah hal pertama yang berhasil mata gue lihat dengan baik. Kepala gue masih terasa sedikit pusing dan berdenyut-denyut. Jangan tanya kenapa gue bisa pingsan. Pasalnya, gue gak sempat sarapan. Bukannya gak sempat sih, lebih tepatnya gue lupa sarapan. Bisa dibilang itu suatu hal yang langka. Why? Sebab, gue paling rajin dan hampir gak pernah yang namanya lupa makan. Karena, bagi gue, makanan adalah hal kedua yang paling gue butuhkan untuk tetap hidup, setelah bernafas. Hidung gue juga rasanya masih nyut-nyutan. Asli, gue masih merasa kalau hidung gue itu hampir patah beneran. Bayangin aja, gue jalannya buru-buru banget bahkan setengah berlari, saat menyusul pak Gala dengan rasa malu dan cemas. Siapa sangka kalau pria itu akan berhenti tiba-tiba atau berjalan dengan begitu lambat seperti tadi. Seumur-umur, gue gak pernah mimisan atau pendarahan hidung. Bisa dibilang, kalau sistem imun gue itu kuat. Selain itu, gue juga bergolongan darah O. Di mana orang-orang dengan golongan darah O ini, dikategorikan orang dengan fisik yang kuat. Gue belum pernah baca jurnal ilmiahnya sih. Kalian bisa cari sendiri aja, soal golongan darah O. Kalian tahu sendiri kan! Kepala gue rasanya udah mau pecah, karena harus baca jurnal buat referensi skripsi gue yang jumlahnya minimal tiga puluh. Minimal itu! Mengingat itu, gue tanpa sadar menghela napas panjang. "Al?!!! Lo udah sadar?!! Alhamdulillah!!" Tiba-tiba saja gue terperanjat kaget saat suara yang tak asing di telinga gue terdengar memekik tertahan. Siapa lagi kalau bukan suara Pony. Gue gak tahu kalau Pony nungguin kesadaran gue. Dari sejak sadar barusan, gue hanya menatap ke langit-langit ruangan seraya memikirkan kejadiaan naas yang menimpa gue hari ini. "Lo gapa-pa kan Al?!" tanya Pony seraya memeriksa muka dan menyentuh lengan gue. Entah memastikan apa. Perasaan, gue gak ditabrak mobil atau motor deh! Kenapa juga Pony sibuk meriksa tubuh gue seolah-ah gue habis ditabrak dan kemungkinan mengalami lecet di tubuh. Jalan pikiran Pony memang kadang gak bisa gue susuri. Terlalu kusut dan absurd. "Alhamdulillah, gue ada apa-apa Pon," balas gue seraya mengedikkan bahu pelan. Pony malah mencebik ke arah gue. "Aaaal!!! Jangan gitu dong! Gue khawatir banget tau gak?" Tiba-tiba saja gue menyesal karena telah menjawab pertanyaan Pony dengan candaan. Pasalnya, sahabat gue ini benar-benar cemas hingga ia menitikkan air mata. Gue merasa bersalah. Pasalnya, hati Pony itu lembut, selembut kapas. "Sorry sorry Pon! Jangan nangis dong! Gue gak pa-pa kok. Udah ya, jangan nangis gitu elah! Gue gak ditabrak mobil Pon! Cuma pingsan doang!," bujuk gue seraya menegakkan punggung dan meraih tubuhnya ke dalam pelukan gue. So sweet banget kan? Namanya juga jomlo, peluk sahabat aja udah bikin tenang. "Abis, seumur-umur gue kenal sama lo, lo gak pernah pingsan Al. Paling lo cuma demam atau flu doang, terus sembuh. Nah ini! Hidung lo berdarah! Terus lo pingsan kayak tadi, mana pingsannya lama lagi! Gimana gue gak cemas setengah mati?!" Pony melepaskan pelukan gue serayang merengut kesal dan mengatakan kalimat barusan dengan tersunggut kesal. "Iyaiya! Gue tahu kok, lo pasti khawatir banget. Makasih ya PonPon! Gue beruntung banget punya elo." Gue berhambur merentangkan tangan dan kembali memeluk Pony sebentar. Jujur saja, gue masih kepikiran soal wajah pak Gala yang terakhir gue liat sebelum gue benar-benar pingsan. Apa mungkin gue cuma salah lihat kali ya? Sebab, mana mungkin pak Gala tiba-tiba datang terus nolongin gue? Sebab, setelah gue bimbingan, pria itu bahkan terlihat begitu sibuk dengan keyboard laptopnya. Tatapan matanya benar-benar hanya fokus pada benda kotak itu seolah ada hal yg luput atau hilang jika ia tak menatapnya. "Lo beneran udah gak pa-pa, kan Al?" tanya Pony yang membuat lamunan gue buyar. Gue mengangguk sebagai balasan dari pertanyaannya. "Ya udah, kita pulang yuk! Agas udah nunggu di bawah. Dia bawa mobil buat antar lo pulang." Gue mengernyit. Kening gue berkerut tanda kalau gue merasa aneh kenapa lelaki itu membawa mobil? Sebab, bukankah mobil berat? Gimana cara Agas membawanya? "Maksud lo, Agas ke kampus dengan mengedarai mobil? Kalau Agas bawa mobil, kayaknya dia gak bisa deh? Mobil kan berat Pon!" Pony mendesis kuat seraya tangannya bergerak menyentuh daging pipi gue dan mencubitnya kuat dengan geram. "ALINA!!! Gemes banget deh, gue sama lo! Sempat-sempatnya lo ngelawak ya?! Herman gue! Udah ah! Hayuk! Gue bantuin lo jalan." Gila sih! Pipi gue terasa habis disengat sesuatu. Pony gak kira-kira kalau nyubit. Dikira pipi gue squishy kali ya. Gue mengalah dan hanya bisa beranjak dari kasur yang tidak begitu empuk yang ada di ruangan khusus layaknya ruangan UKS di SMA gue dulu. Letaknya di dekat gedung DEMAF (Dewan Eksekutif Mahasiswa Fakultas). Kenapa juga gue dibawa ke sini? Gue baru sadar. Sebab, seingat gue, gedung Fakultas sama gedung DEMAF itu bersebrangan dan hanya dihubungkan lewat koridor yang disatukan oleh jembatan penghubung antar gedung. Letaknya di lantai empat. Sedangkan gue, pingsannya saat menuju lantai dua. Jangan-jangan gue diseret kesini? Jaraknya lumayan jauh gaes, dan gue juga sadar betul, kalau massa tubuh gue itu gak bisa dikatakan 'tidak berat' apalagi 'ringan'. Gak! gak! Gue gak boleh seudzon dulu. Siapa tahu yang bawa gue ke ruangan tadi, itu pria dengan tubuh atletis dan dengan tenaga yang super, kan? Kayak di film-film itu kan. "dasar! Korban film lu Al!" suara hati gue mengejek. "Al? Lo mikirin apaan sih?" lagi-lagi Pony mengintrupsi pergelutan gue dengan pikiran gue sendiri. Gue hanya nyengir kuda dan geleng-geleng kepala. "Gak pa-pa kok Pon! Heheh." Langkah kami sudah mencapai lantai dasar kampus. Pony masih saja menuntun gue seolah gue gak bisa berdiri dan berjalan dengan baik. "Pon?" Pony menoleh, "Kenapa Al?" gue menunjuk lingkaran lengannya pada lengan gue. "Perasaan gue gak keseleo atau patah kaki deh Pon. Kenapa juga lo harus nungun gue segitunya," terang gue seraya menunjukkan bahwa gue cukup mampu untuk berdiri dan berjalan tanpa dituntun. "Beneran lo gapa-pa? Gue takut aja, nanti lo tiba-tiba pusing lagi terus gak bisa jaga keseimbangan tubuh lo?" Gue berdecak seraya meyakinkan sahabat gue ini. "Beneran kok! Swear! Gue bisa berdiri dan jalan sendiri Pon." Pony hanya menghela napas pelan seraya mengangguk. Kami melanjutkan langkah yang sempat terhenti. Berjalan menuju parkiran utama kampus. Parkiran utama kampus cukup luas. Rata-rata diisi oleh kendaraan roda empat sih. Kayaknya gak salah deh, kalau kampus gue dijuluki kampusnya anak sultan. Tapi entah kenapa, gue gak terlalu suka dengan fakta itu. Gue malah keberatan dengan peraturan kampus yang memperbolehkan mahasiswanya membawa mobil. Meski dengan syarat kalau penumpang di dalamnya harus lebih dari dua orang. Tetap saja, gue gak setuju. Sebab, itu secara gak langsung, pihak kampus berkontribusi dalam memperbanyak emisi gak berbahaya yang dikeluarkan kendaraan yang dikendarai para mahasiswanya. Meski sudah banyak dikembangkannya energi alternatif pengganti bahan bakar kendaraan yang emisinya lebih ramah lingkungan. Namun, tetap saja. Ilmuwan/saintist hanya manusia, yang memiliki akal yang terbatas. Energi alternatifpun, masih memiliki banyak kekurangan. Emisi gas yang dikeluarkan juga tidak bisa dikatakan sepenuhnya tidak beracun. Sejak gue menimba ilmu di jurusan Kimia, gue semakin aware dengan segala hal yang ada du sekitar gue. Termasuk masalah lingkungan, alam serta kesehatan. Gue hanya mengangguk saat langkah gue dan Pony mencapai mobil Agas yang sudah mengarah untuk ke luar dan Agas bertanya 'apa gue baik-baik saja?'. Mobil Agas melaju meninggalkan parkiran kampus. Bergabung dengan kendaraan lainnya membelah jalanan kota. Langit siang ini nampak begitu indah dipandang mata. Cerah namun sang surya tak bergitu terik. Awan-awan yang bersisik dan bergerak mengikuti arah angin nampak begitu lucu sekaligus menenangkan. Keheningan sempat menggantung di tengah-tengah kami, sebelum akhirnya Agas membuka suara. "Hidung kamu masih sakit, Al?" tanyanya seraya menatap kaca agar dapat melihat gue yang duduk di kursi bagian belakang. Gue mengangguk. "Seumur-umur gue baru kali ini ngerasain hidung gue kayak mau patah. Asli, sakit banget! Tp alhamdulillah sekarang udah mendingan. Cuma masih nyut-nyutan doang sih." Agas nampak mengangguk-anggukan kepala. "Oh iya, gue lupa nanya. Kalian tahu gak? Siapa yang ngangkat tubuh gue yang super berat ini dan bawa gue ke ruangan yang ada di DEMAF?" tanya gue dengan memajukan kepala ke depan. Entah kenapa Pony dan Agas nampak diam sebelum akhirnya menjawab. "Agas! Yang bawa lo ke ruangan tadi, itu Gas Al." jawab Pony tiba-tiba dengan tatapannya mengarah pada Agas, lelaki itu nampak masih diam sebelum akhirnya menganggukkan kepala tanda membenarkan jawaban Pony. Gue mengangguk angguk seraya berterima kasih pada Agas. "Thanks banget ya, Gas! Lo udah berbaik hati mau ngangkat dan bawa tubuh gue yang berat ini. Lo pasti encok? Nanti lo ke tukang urut aja, Gas. Gue bayarin sebagai tanda terima kasih gue." Bukannya menjawab, Agas malah terkekeh. "Kamu itu gak seberat itu kok, Al." Balasnya tidak enakan. "Gak seberat itu, tapi lebih berat lagi?!" timpal gue asal seraya terkekeh. Pony bahkan tergelak mendengar penuturan gue barusan. Dasar! "Serius Alina. Badan lo tuh memang berisi tapi gak seberat yang ada di pikiran elo kok. Jangan insecure gitu deh!" Gue hanya mengedikkan bahu seraya kembali menyandarkan punggung ke belakang. Bararti benar. Gue cuma salah lihat. Sebab, gak mungkin juga, pak Gala tiba-tiba datang sementara dia sedang sibuk di Prodi saat itu. ===== Sesampainya di kontrakan, gue berniat mempersilahkan Pony dan Agas masuk. Meski kontrakan gue gak besar, tapi lumayanlah menampung dua orang tamu. Tapi, sebelum niat gue terealisasikan, tiba-tiba saja seorang perempuan--dengan rambut dicepol dan wajah yang masam--datang dari arah barat jalan depan kontrakan gue memekik ke arah kami bertiga. "Kamu tuh jahat banget ya Gas!!! Kamu bilang ada keperluan penting, makanya kita gak jadi jalan ke kafe yang baru buka di dekat kampus! Tapi ini apa?!! Kamu di sini sama dua orang perempuan?!" pekik perempuan mungil di hadapan Agas saat ini dengan menggebu-gebu. Semantara itu, gue dan Pony hanya bisa mematung. Tak tahu harus merespon seperti apa. Sedangkan Agas hanya bisa menghela napas lemah dan berpamitan untuk menjauh dari gue dan Pony. Sebelum menjelaskan pada perempuan di hadapannya itu. Akan tetapi, gue dan Pony masih bisa mendengar pembicaraan mereka dari tempat kami berdiri saat ini. "Sal? Dari awal, aku udah pernah bilang kan, kalau kamu bukan prioritas aku dan kamu gak mempersalahkan itu. Oke, aku minta maaf karena udah bohong sama kamu." Jelas Agas baik-baik. Namun entah kenapa, gue yang mendengar itu, merasa sedikit tidak suka. Kenapa juga ia menjalin hubungan kalau tidak berniat menjadikan perempuan itu prioritasnya? Bukankah itu jahat? Ah! Jiwa baper gue meronta-ronta rasanya. Gue beralih menatap Pony dan berpamitan sebentar untuk membuka pintu kontrakan gue. Gue sengaja melakukan itu, supaya telinga gue tidak lagi menangkap pembicaraan mereka. Tak lama setelah itu, perempuan bernama Salsa itu nampak pergi dengan mata yang memerah dan pipi yang sedikit basah karena bekas air mata. Entah apa yang mereka bicarakan setelah kalimat yang gue dengar tadi, hingga membuat perempuan itu sampai menangis. "Masuk dulu, Pon, Gas. Gue ada stok marimas. Keknya enak siang-siang minum es marimas." Usul gue seraya melangkah masuk ke kontrakan dan membuka pintunya agar terbuka lebih lebar. Agas hanya tersenyum seraya mengangguk, sedangkan Pony, hanya memutar bola mata malas. "Gak ada yang lain Al? Masa marimas!" Pony protes seraya melangkah masuk. Setelah siap dengan es marimas, kami bertiga duduk di ruang depan yang tersedia tiga kursi rotan berukuran sedang. Serta satu meja kecil yang sudah terhidang es marimas rasa jeruk dan mangga. "Gue tuh bingung samo lo, Gas." Pony membuka suara sekaligus membuka obrolan yang entah akan mengarah ke mana. "Kenapa gitu Put?" balas Agas. Fyi, anak kampus rata-rata manggil Pony itu dengan panggilan 'Put' sebab, nama panjang Pony adalah Pony Putri Pertiwi. Tapi, gue pribadi sih, lebih suka manggil sahabat gue ini dengan panggilan yang beda dari yang lain. Biar spesial, kayak martabak. Heheh. "Gue bingung, sama image elo Gas. Lo itu sebenarnya Good or Bad Boy sih? Di satu sisi lo itu good boy banget. Kayak sekarang, lo rela bela-belain balik ke rumah lo buat nuker motor elo dengan mobil, cuma buat nganterin Alina. Tapi, di sisi lain, lo itu cepet banget ganti pacar dan hampir semuanya lo gak tahan lama." Gue jadi ikut berpikir keras setelah mendengar penjelasan Pony barusan. Gue jadi ikut bingung. "Entahlah Put, orang berhak menilai aku dengan standar yang mereka punya. Entah aku itu buruk atau baik, di mata orang-orang. Rasanya tak ada bedanya. Sebab, aku tak begitu memusingkan itu. Sama dengan kamu dan Alina. Kalian bebas menilaiku seperti apa. Lagian, badboy juga lebih banyak digemari para cewek-cewek di zaman ini." Agas terkekeh setelah mengatakan kata terakhir tadi. Memang benar sih, gak sedikit perempuan yang tergila-gila sama badboy. Apalagi penggemar novel romansa/teenfiction/Young Adult, rasanya di mata mereka seorang badboy adalah cowok yang wajib dijadikan pacar atau sekadar untuk didekati. Karena konon katanya, si badboy ini kadang penuh misteri. Namanya juga novel, sebisa mungkin penulis menarasikan sosok seorang tokoh yang kuat da yang disenangi para pembaca meski seorang badboy sekalipun. Kadang, gue suka cara seorang penulis menarasikan dan menjabarkan sosok tokoh badboy karena bagi gue alasan dibalik kebabdboyannya itu masuk akal dan relate dengan realita dan juga tidak terlalu dipaksakan atau dilebih-lebihkan. Tapi, kadang juga gue males banget kalau baca cerita dengan tokoh utama badboy yang yaa gitulah, khas kesukaan remaja SMA. Gue kan udah kuliah, jadi agak kurang tertarik gitu. ===== Setelah kepulangan Pony dan Agas, gue memutuskan untuk merebahkan tubuh di kasur setelah menunaikan salat zuhur. Berniat ingin tidur siang, namun lagi-lagi pikiran gue terusik saat teringat kalimat Pony. Agas ke kampus dengan motornya, lalu memilih kembali ke rumah dan mengendarai mobilnya setelah tau gue pingsan. Rasanya, naif banget kalau gue gak merasa sedang dispesialkan oleh lelaki itu. Tapi, gue juga gak menapikan bahwa gue merasa aneh dengan semua itu. Selama ini, gue gak pernah merasa bahwa Agas sepeduli itu sama gue. Sudahlah! Gue terlalu banyak memikirkan hal-hal yang seharusnya tidak perlu gue pikirkan. Untuk itu, gue menggelangkan kepala dengan kuat, seolah itu dapat mengusir pikiran-pikiran yang mualu bercabang kayak bagian ujung rambut gue. Ada hal-hal yang gak seharusnya kita ketahui. Maka dari itu, sudah seharusnya, kita tidak memikirkan apalagi sampai mencari tahu hal-hal tersebut. Biar apa? Biar gak nambah beban pikiran hidup. Beban dosa gue, aja, udah banyak dan berat. Makanya Al, istighfar! Astaghfirullahal'adziim. =====
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD