Brakk!!!
Genta kaget luar biasa karena gebrakan Arsen pada meja di depan mereka. Sedari tadi datang sampai sekarang pria tampan itu terlihat emosi. Entah apa penyebabnya.
Apa semalam tidak jadi bersenang-senang? Apa mungkin karena ditolak oleh wanita itu? Ia pun tak paham. Namun setahunya Arsen jarang, bahkan kayanya tidak pernah ditolak wanita. Terkadang ada beberapa wanita yang malah melemparkan diri pada sang sahabat.
Sangking apanya coba? Sangking pengen tidur di pelukan seorang Arsen. Meskipun cuma semalam saja, yang penting sudah terlaksana. Murah!!
“Lho kenapa sih, Sen?”
Arsen ini jarang marah, apalagi semalam baru saja dapat jatah dari wanita. Kalau pria itu lagi emosi berarti sedang ada yang memancingnya.
“Lo sudah lama di sini 'kan?”
Kening Genta mendadak berkerut karena malah ditanya balik oleh Arsen. Namun tak urung ia menganggukkan kepalanya. Iya sih. Ia cukup lama duduk di restoran. Mungkin sekitar satu jam yang lalu. Berhubung ia pesan banyak makanan jadi tidak dilirik sinis oleh pelayan restoran. Karena duduk cukup lama di situ. Atau mungkin sudah tahu akan ada orang lagi yang datang bergabung. Begitu kira-kira.
“Lo beberapa sempat tahu ada beberapa wanita yang tadi makan di sini juga, nggak?” Arsen bertanya lagi. Kali ini sedikit menggebu-gebu.
“Yang mana? Banyak di sini.” Genta sambil melirik-lirik sekitarnya. Pengen tahu mana yang dimaksud sang sahabat.
“Itu lho wanita-wanita yang keluar saat gue baru masuk.”
“Oh iya, gue tahu.” Lagi-lagi Genta mengangguk. Setelah berpikir-pikir sesaat tadi. Kebetulan ia memang tahu ada beberapa wanita yang dimaksud Arsen lewat di sampingnya. Berlawanan dengan sang sahabat masuk ke restoran.
“Lo tahu nggak?”
“Apa?” Genta cukup antusias. Bahkan tubuhnya sedikit condong ke depan, karena tidak mau melewatkan sedikit pun apa yang membuat Arsen kesal bukan main. Apalagi menyebut beberapa wanita.
“Gue bertabrakan sama salah satu di antara para wanita itu.”
“Secara sengaja?!” Genta memotong ucapan Arsen. Sementara lawan bicaranya langsung berdecak kesal.
“Enggak lah! Enak aja!” elak Arsen.
Genta terkekeh geli. “Kirain kan?”
Sebab, di mana ada wanita apalagi cantik sesuai kriteria Arsen, pasti cowok itu akan tebar pesona. Tidak peduli punya pacar atau tidak, yang penting coba saja dulu. Moto Arsen kan begitu.
Apalagi tadi ia sempat melihat beberapa wanita itu cantik-cantik lho.
“Gue masih tahu batasan, Bro. Kapan saatnya harus beraksi atau tidak. Lagipula ini siang hari, enggak enak. Kurang syahdu. Restoran juga bukan tempat pancingan gue.”
“Terus, kenapa? Why?”
“Posisi gue lagi ngirim pesan ke lo, Gen.” Arsen menekankan kata ‘posisi’ agar Genta tidak salah tangkap lagi perkataannya.
“Iya.”
“Bertabrakan lah kami. Secara nggak sengaja. Catat, nggak sengaja. Terus gue sedikit panik, minta maaf lah ke dia 'kan?”
“Lalu?” Genta semakin tidak sabar mendengar curhatan Arsen selanjutnya.
“Responnya dia nggak apa-apa. Mereka lanjut pergi ‘Mari, Pak’ gitu. Cuma ada yang membuat gue tersinggung luar biasa, Gen.”
“Apa? Dia manggil lo ‘Pak’, gitu?” Genta berusaha menahan tawanya. Sebab, Arsen kan belum menikah. Mungkin kalau dipanggil Mas, Abang, atau semacamnya ok lah. Tapi ... Pak?
Arsen geleng-geleng kepala, dengan jari telunjuk di depan wajahnya. “Bukan itu. Dia menyeka tubuh yang habis bertubrukan dengan gue, Genta.”
Kedua alis Genta bertaut. “Terus apa masalahnya? Kan biasa saja. Menurut gue sih,” ucapnya sembari menghedikan bahu.
Arsen menghembuskan napas kesal. “Tapi raut mukanya kaya terkesan jijik setelah tertabrak gue, Genta. Memangnya gue apaan coba?”
Cukup. Akhirnya Genta menyemburkan tawanya. Tidak peduli lirikan setajam elang sang sahabat.
“Seorang Arsen Sukamuljo? Tidak mungkin.” Lagi-lagi Genta tertawa terbahak-bahak. Seakan-akan apa yang diceritakan Arsen adalah kebohongan.
“Pak, tolong ketawanya!” tegur salah satu pelayan, membuat Genta langsung menghentikan tawanya. Lalu berdehem kecil.
“Maaf, maaf semuanya.”
“Kenapa lo ketawa? Ada yang lucu?”
“Gini lho, Sen. Muka lo itu tampan pakai banget, banget. Ada banyak wanita yang sampai tergila-gila ke lo. Masa dia seperti itu? Ya gue nggak percaya lah. Lo pasti ngarang 'kan?” tanya Genta dengan tatapan menyelidik.
“Kalau ngarang gue nggak akan emosi seperti ini, Genta!”
Genta yang tadi lagi nyengir, mengatupkan bibirnya seketika. “I see, i see.”
“Iya! Makanya gue emosi. Apa yang salah pada diri gue coba? Gue ini bukan kotoran atau binatang yang menjijikan.”
“Kayanya bukan masalah itu deh.” Genta mengelus-elus dagunya seraya menelisik penampilan Arsen.
“Apa coba?”
“Mungkin dia memang punya radar, Sen.”
“Radar apa lagi coba?”
“Radar, kalau lo pria yang suka main perempuan alias player kelas kakap, bukan teri lagi. Jadi dia sangat berhati-hati.” Genta menahan tawanya, karena takut menganggu pengunjung yang lain. Pokoknya jangan sampai gara-gara terus mentertawakan Arsen mereka diusir dari restoran. Kan enggak lucu.
“b******k lo,” umpat Arsen, tapi suaranya sengaja pelan.
“Sudah, sudah. Gue capek menertawakan lo. Kayanya lo cuma salah paham saja sama dia, Sen. Mungkin tidak seperti yang lo pikirkan. Ya ... mencoba berpikir positif sih.”
“Gue nggak kaya lo yang bisa berpikir positif, Bro. Secara gue mengalaminya langsung.”
“Okay. Itu sih terserah lo saja.”
“Kalau mengingat wajahnya, seketika emosi gue kek mau meledak saat itu tahu nggak.”
“Cantik orangnya?”
“Cantik sih. Bola matanya berwarna beda dari kita. Warnanya cantik. Entah pakai softlens, mungkin,” jawab Arsen seraya menghedikan bahu. Ia berkata jujur dalam hati ini.
“Sempat-sempatnya lo berkata begitu. Awas lho jadi jatuh cinta.” Genta mengingatkan.
Arsen mendengkus sebal. Jatuh cinta? Hahaha. “Enggak akan. Never!! Apalagi wanita kaya dia. Enggak akan pernah, Genta!”
Genta mengangguk-anggukkan kepalanya. “Ok, ok. Gue pegang omongan lo.”
“Sudahlah, nggak usah bahas itu lagi. Muak gue kalau mengingat-ingat itu.”
‘Suruh siapa lo mengingatnya, Arsen!!’ teriak Genta dalam hati.
“Malam ini kita pergi lagi, Gen. Biasa.”
Genta berdecak kesal. Paham maksud sang sahabat pergi kemana. Sampai kapan Arsen bakal berubah, Ya Tuhan? Seperti itu terus. Ia juga kenapa mau-mau saja menemani Arsen. Heran 'kan?
Sial!
Setelah pulang dari reuni, Laura kembali ke kantor. Ia tidak bisa lama-lama berkumpul dengan teman-temannya. Beruntung sebagian dari mereka pekerja kantoran juga. Jadi ya ... setelah makan siang ikut pergi. Meninggalkan beberapa teman yang sudah menikah dan punya anak di situ. Agar punya waktu senang-senang. Setidaknya tidak berkutat di rumah terus katanya.
Toh Laura sendiri tidak terlalu akrab dengan mereka. Ia ikut bergabung karena diajak—ralat, dipaksa Maurenne. Sang sahabat.
“Jadi, Lau. Tindakan lo hanya mengusir? Itu pun masih tergolong halus menurut aku,” ujar Renne setelah mendengarkan cerita Laura tentang keluarganya semalam.
“Iya, Ren.”
Renne berdecak sebal. “Harusnya kamu seret saja mereka, Laura. Orang seperti itu nggak perlu dihormati. Mana kata kamu nenek sampai sedih. Kalau aku sudah berang-berang di situ.”
Renne lupa sejenak bagian sang bibi datang bersama anaknya. Kalau Laura berbuat seperti itu, kayaknya percuma. Karena kalah tenaga.
“Aku melihat mereka karena nenek, Ren. Selebihnya enggak. Neneklah yang membuat aku masih menghormati mereka, tapi sangat disayangkan ke nenek malah tidak menaruh rasa hormat dan bakti.”
“Iya. Dipikirkannya cuma jabatan, padahal mereka tidak ada kontribusi apapun saat papa kamu membangun perusahaan ini.” Renne melanjutkan ucapan sang sahabat, dengan perasaan kesal luar biasa. Bahkan kanvas putih yang sudah ada beberapa coretan menjadi korban kekesalannya.
“Cukup, Maurenne!! Kamu bisa membuat kanvas itu terbelah menjadi dua nanti!” Laura cepat-cepat mencegah Renne. Sang sahabat memang sekalian melukis sembari menemaninya di kantor. Eh malah emosi. Sayang kanvasnya dan juga ... ia tidak mau ruangannya kotor.
“Aku kesal banget soalnya, Lau.”
“Tapi nggak kanvas juga yang jadi korbannya, Renne!” tukas Laura kesal seraya mengambil dan menyingkirkan kanvas, lalu diletakkan di pojokan. Ia menatap lukisan yang tidak jadi itu dengan pandangan prihatin. ‘Kasihan sekali kamu, Nak.’
Padahal ya, sebelum mereka ke kantor. Laura menyuruh Renne tinggal bersama teman-teman di restoran. Toh gadis cantik itu tidak terlalu sibuk dengan pekerjaannya. Namun Renne yang tidak mau, lebih memilih pergi dengannya ke kantor. Alasannya, ia belum menikah jadi ya ... begitu. Tidak usah bertanya lagi kenapa, katanya.
Iya, beberapa teman ada yang belum menikah termasuk sang sahabat. Bukan tidak laku, tapi memang belum saatnya saja. Renne ini teman yang selalu ada dalam suka maupun duka. Mereka bersekolah di tempat yang sama. Keluar negeri sama-sama. Hobby pun sama.
Hanya saja di pekerjaan tidak sama. Hampir lah sepertinya. Laura CEO, sementara Renne mengelola galeri milik keluarganya. Lukisan milik Laura bahkan dipajang di situ. Namun dengan nama yang disamarkan. Jadi bisa dibilang, meskipun Laura tidak menjabat di perusahaan, ia masih bisa berkarya dan menghasilkan uang dari tempat lain.
Beruntung mereka tidak saling bersaing karena sama-sama seorang pelukis. Moto Renne adalah, ‘Kalau bisa saling menguntungkan, ngapain kita bersaing?’ simbiosis mutualisme, begitu lah kira-kira.
“Jujur, aku masih tidak mengerti dengan keluarga kamu, Lau?”
“Sudahlah mungkin memang nasibku seperti ini, Ren! Jadi aku saja yang memikirkannya. Semoga saja aku tetap bisa menjalani ini dengan semangat.”
“Semangat, Laura. Kamu teman Renne, pasti bisa dan kuat. Kalahkan siaLandi itu.”
Laura dan Renne tertawa bareng. Beban di hati Laura agak sedikit berkurang setelah bercerita ke Renne.
“What girls? Sepertinya ada yang menyebut nama aku.”
Dua gadis tadi tertawa, langsung beralih melihat Landi yang tidak tahu sopan santun sudah membuka pintu ruangan Laura.
“Mau apa kamu kesini?”
***