STGIAC// 3

1775 Words
Laura bersiap-siap pulang ke rumah setelah menyelesaikan pekerjaannya hari ini. Sebenarnya tidak sepenuhnya selesai juga. Masih ada beberapa pekerjaan. Namun sekarang sudah sore, waktunya pulang dan istirahat. Nanti malam kalau ada waktu senggang baru ia akan pelajari lagi. Takut juga sang nenek khawatir, kalau dirinya pulang telat. Saat membereskan dan memilih berkas yang ada akan dibawa pulang. Ponselnya berbunyi. Di sana ada nama sang sahabat. Maurenne. Laura mengangkat telepon sembari tangannya tetap bekerja. Renne mengingatkan kalau besok siang ada acara reuni teman sekolah dulu di restoran. Ia harus jawab apa selain kata ‘Iya’ dan mengangguk, meskipun Renne tidak mungkin tahu. Tadinya ia tidak mau datang, mengingat sedang sibuk-sibuknya di kantor. Namun bukan Maurenne namanya kalau setengah tidak memaksanya datang. “Iya, Renne bawel.” Laura terkekeh kecil mendengar decakan sang sahabat di seberang sana. “Iya sudah, bye....” Laura mematikan teleponnya, lalu mendesah panjang. Ia menatap wallpaper di layar yang menampilkan foto masa kecilnya dulu dengan bibir tersenyum. Kenangan yang terlalu manis. Setelah berkas yang akan dibawa dirasa cukup, Laura memakai kacamata dan tas selempangnya. Ia mengambil berkas, lalu berjalan ke luar ruangan. “Semangat, Laura!!” ucapnya setelah menutup pintu ruangan. Terlihat dari kaca, sang paman juga sedang beres-beres. Ia pamitan sebentar ke paman, lalu melanjutkan langkahnya. Tadi sang paman menawarkan tumpangan pulang, cuma ia menolak. Tidak mungkin membiarkan sang paman bolak-balik di jalan, karena rumah mereka berlawanan. Ya ... meskipun tidak apa-apa sih. Ia yang segan dan kasihan. Sebab sang paman perlu istirahat juga seperti dirinya. CEO Rahardja GROUP ini cukup aneh. Itu bagi sebagian karyawannya. Karena apa? Uangnya banyak. Namun pulang pergi ke kantor tidak memakai mobil pribadi. Malah lebih memilih naik taksi. Membeli satu mobil mewah pun tidak akan berkurang lho uangnya. Kalah sama pegawainya ada yang pakai mobil pribadi. Cuma ya gitu. Sudahlah. Orang atau tamu yang tidak tahu Laura, pasti akan mengira wanita cantik itu pekerja biasa. Bahkan mungkin ada yang berpikiran sebagai Office Girl di situ. Sangking biasa sekali penampilannya. Beruntung jalanan tidak terlalu macet. Jadi Laura sampai di rumah jam lima sore lebih sedikit. Masih ada waktu buat istirahat sebelum malam berkutat lagi dengan laptop. Soalnya apa? Biasanya ia kadang baru sampai jam enam lebih. Laura masuk ke rumah setelah pintu terbuka dari dalam. “Terima kasih ya, Mbok.” “Sama-sama, Non. Nona?” Laura mengurungkan langkahnya dan berhenti sejenak karena dipanggil sang pengasuh dari kecil. Kemudian ia berbalik badan. “Kenapa, Mbok Jum?” “Anu, Non. Nyonya ada kedatangan Bu Laras sama Den Landi,” ujar Mbok Jum. Raut wajahnya sedikit khawatir. “Sudah lama mereka datang, Mbok? Terus di mana sekarang?” tanya Laura sembari melepaskan tas selempangnya. “Sekitar 15 menitan yang lalu, Non. Mereka di ruangan Nyonya,” jawab Mbok Jum. Ruangan yang dimaksud Mbok Jum adalah tempat Nyonya Laila. Semacam pendopo yang letaknya ada di samping rumah utama. “Ya sudah aku ke sana dulu. Tolong letakkan ini di kamarku ya, Mbok. Terima kasih sebelumnya,” ucap Laura. Ia memberikan tas selempang dan beberapa berkas pada Mbok Jum. Beliau memang sudah dipercaya Laura. Bahkan kamarnya saja hanya boleh dibersihkan oleh Mbok Jum. “Baik, Non.” Laura menarik napas panjang. Sebenarnya ia sudah cukup lelah hari ini, tapi penasaran juga apa yang dibicarakan oleh adik dari sang papa dan neneknya itu. Tadi Mbok Jum bilang, sang bibi datang dengan sepupunya. Lilandi Prasetyo. Entah sejak kapan pria itu pulang. Sebab, mereka tidak terlalu saling mengabari. Larasati melihat ponakannya datang memasang senyum yang menurut Laura cukup mencurigakan dan ya ... jujur, memuakkan. Jika bukan karena sang nenek, Laura tidak mau menganggap bibinya kerabat. Ia terlalu kecewa karena demi harta sampai sering menyakiti sang nenek. Padahal ibunya sendiri lho.... “Baru pulang, Lau? Bagaimana kerjaan kamu?” tanya sang bibi dengan senyum menawan di bibir merah meronanya. Laura memaksakan tersenyum manis. “Iya, Tan. Ya ... Alhamdulillah. Masih adaptasi. Untung saja ada Paman Mahes yang selalu membantu aku.” Larasati menganggukkan kepalanya dan ber-oh ria. Sang ponakan memang masih dibantu adiknya. Sementara di samping Laras, Landi tersenyum miring. Namun sangat tipis. “Bagaimana kabarmu, sepupu?” Kali ini Landi bertanya. Harusnya Laura yang tanya mengingat ia baru pulang dari luar negeri. “Alhamdulillah, baik. Jadi ada apa kalian kesini?” tanya Laura langsung pada intinya. Sebab, ia sedang malas berbasa-basi. “Santai dong, Lau. Kenapa sih terburu-buru?” Laras tidak tersinggung sama sekali. “Maaf, Tante. Soalnya aku mau istirahat. Kebetulan nanti mau lembur juga.” “Astaga. Lembur?” Laras membekap mulutnya. Pura-pura terkejut. Kemudian ia berdehem, melihat Laura malah menaikkan satu alisnya. “Lau. Sebenarnya kamu enak lho. Tanpa kerja, bahkan lembur.” “Maksud Tante apa?” Laura bertanya karena perkataan sang bibi terasa ambigu. “Kan ada Landi. Kamu bisa meminta bantuan ke dia urus perusahaan papa kamu,” usul Laras melirik putranya sebentar. “Maaf, Tante,” jawab Laura singkat. “Kenapa? Padahal enak kan? Kamu tidak usah bersusah payah memikirkan perusahaan. Cukup diam di rumah atau shoping. Kalaupun Landi yang mengurus perusahaan, income-nya kan tetap masuk ke kamu. Kami kurang baik apalagi coba? Kami berniat membantu kamu lho, Lau.” Laura tersenyum tipis. “Terima kasih, Tante. Aku masih ada Paman Mahes kok.” Laras mendengkus kesal. “Paman Mahes kan sudah pernah, jadi harusnya nggak masalah dong, kalau Landi bisa menduduki jabatan juga di perusahaan?” “Tap—” “Perusahaan itu punya almarhum papa Laura, Laras. Biarkan dia yang berhak memilikinya,” pungkas Bu Laila membuka mulutnya, yang sedari tadi diam. Beliau sebenarnya malas dan lelah membahas masalah ini terus. “Bu, sebelum Laura lahir. Aku dan Mas Laksamana sudah dulu ada di dunia ini. Kami sedarah lho. Masa aku nggak boleh turut andil memilikinya?” “Bukan tidak boleh, Laras. Tapi memang bukan hak kalian. Jangankan kamu atau Landi. Ibu saja tidak berhak memilikinya. Perusahaan itu mutlak milik Laura!” ‘Nenek tua ini lah! Selalu saja ikut campur!’ batin Landi menggerutu. “Nek—” Laras mencegah Landi berbicara. Ia menggelengkan kepalanya. “Biar Mama yang ngomong.” “Ibu paham dunia bisnis kan? Banyaknya CEO di perusahaan adalah seorang laki-laki. Biar bisa bersaing agar lebih besar lagi.” “Terus maksud Tante aku nggak cocok gitu?!” tukas Laura kesal. Ia memang kelihatan lemah saat mengerjakan pekerjaan terutama di hadapan sang nenek. Karena beliau paham apa impiannya. Cuma kalau perusahaan papanya jatuh pada sang bibi juga tidak akan ia biarkan. Lebih baik pada Paman Mahes saja daripada pada bibi dan sepupunya. “Bukan begitu maksud Tante, Lau. Kamu masih baru belum paham akan bisnis. Landi kan sudah tahu dunia itu.” “Sebenarnya aku bingung pada Tante. Landi kan bisa mendirikan perusahaan sendiri kalau memang sudah tahu tentang bisnis seperti apa yang Tante bilang. Lantas kenapa masih pengen pegang Rahardja GROUP?” Laras sedikit terkesiap, namun langsung mengembalikan ekspresinya. Tidak menyangka juga bahwa Laura akan bilang seperti itu. “Niat kami baik lho, Lau. Lagipula ada perusahaan yang sudah berdiri dan perlu ditangani ngapain susah-susah bangun lagi? Kan perlu modal banyak juga. Perusahaan Raharja kan sudah besar. Kali saja dipegang Landi semakin bertambah besar 'kan?” Laura masih tersenyum, meskipun sudah tidak tahan dengan sang bibi. “Terima kasih, Tante. Biar aku saja yang pegang. Aku yakin bisa menanganinya. Toh ada Paman Mahes di samping aku.” “Mahes lagi, Mahes lagi. Kalian terlalu pilih kasih dari dulu. Terutama Ibu ke dia.” “Astaghfirullah, Laras. Padahal Ibu tidak pernah lho membeda-bedakan kalian. Kamu dan Mahes sama-sama anak Ibu,” ucap Bu Laila, raut wajahnya terlihat sangat sedih. “Itu menurut Ibu. Kami yang merasakan lho, Bu.” Laras mengatakan itu, seraya menunjuk dirinya sendiri. Laura memejamkan mata sebentar, lalu menarik napas kesal. “Tan, Rahardja GROUP adalah milikku, jadi semua keputusan di tangan aku. Saat ini aku mohon, kami ingin istirahat terutama nenek. Kalau Tante dan Landi tidak ada keperluan lagi boleh kita sudahi percakapan dan pembahasan ini? Sebab, semua tidak ada ujungnya. Percuma.” “Kamu yang keras kepala, Laura! Padahal niat kami baik lho. Ayo Landi! Kita pulang.” Laras berdiri diikuti oleh Landi yang menatap Laura dengan penuh permusuhan. Laura menatap punggung tante dan sang sepupu yang pergi meninggalkan ruangan. Bahkan, ibu dan anak itu tidak berpamitan pada neneknya. Astaghfirullah... Ia pikir orang seperti mereka hanya ada di sinetron saja. Namun ternyata? Kerabatnya juga. Sabar, sabar. Larasati berjalan dengan raut wajah kesal luar biasa. “Anak itu terlalu sombong!” Landi terkekeh kecil. “Iya, Ma. Dukungan Laura si nenek tua itu. Kalau tidak ada, dia bukan apa-apa.” Saat baru sampai di pintu utama, mereka malah berpapasan dengan Mahesswara yang raut wajahnya terlihat gesa-gesa. “Mbak?” sapa Mahes. Laras melengos, lalu pergi begitu saja tanpa menjawab sapaan adiknya. Sementara Landi juga sama. Tidak menghiraukan pamannya. ‘Astaghfirullah...,’ batin Mahes seraya mengurutkan dadanya. Laura mencoba menenangkan sang nenek yang terlihat sangat sedih. Bibi dan sepupunya memang keterlaluan. Di antara adik papa, hanya Paman Mahes yang waras. Menurutnya. “Lau, Bu!” panggil Mahes, kemudian ia bergabung dengan mereka. Berjongkok di depan sang ibunda tercinta. “Bu, maaf, sepertinya aku telat.” “Mahes.” “Em ... Nek, karena Paman ada disini. Aku izin bersih-bersih dulu ya?” “Iya, Sayang,” jawab beliau, seraya mengelus pipi cucunya. Tiga puluh menit kemudian setelah bersih-bersih, Laura kembali keluar kamar. Ia berjalan menuju ruang makan, karena mungkin saja nenek dan pamannya sudah ada di situ. Ternyata malah tidak ada. Jadi ia bertanya pada Mbok Jum. Nenek dan pamannya sedang berada di kamar, katanya. Laura sekarang tepat di pintu kamar sang nenek yang tidak sepenuhnya ditutup. Terbuka sedikit. “Tega sekali Mbak Laras dan Landi berbicara seperti itu pada Ibu.” Laura mengurungkan niatnya untuk membuka pintu. Sebenarnya ini tidak bagus, menguping pembicaraan orang. Cuma ia penasaran apa yang dibicarakan nenek dan pamannya. “Mahes ... berjanjilah pada Ibu. Ketika Ibu pergi dari dunia ini tolong jaga dan sayangi Laura. Dia sudah tidak punya siapa-siapa lagi nanti. Ibu takut Laura nanti terluka.” Jantung Laura berdetak kencang dan tidak karuan mendengar ucapan sang nenek. Matanya mendadak memanas. “Insya Allah, Bu. Mahes akan jaga Laura seperti anak sendiri. Ibu jangan khawatir.” Cukup lama Mahes menjawab. Dari jawaban Laura bisa mendengar bahwa suara sang sedikit gemetar. “Terima kasih, Mahes.” “Ibu harus tetap sehat dan bahagia, jangan kepikiran apa yang diperbuat Mbak Laras. Agar bisa menyaksikan Laura menikah dan punya anak nanti.” “Iya. Ibu harus selalu sehat dan semangat demi kalian. Terutama Laura.” Laura memejamkan mata. Bulir bening luruh di kedua pipinya yang mulus. ‘Lau, ayo lebih semangat lagi!! Buktikan kamu itu pantas menjadi CEO, meskipun seorang wanita!!’ batin Laura. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD