Tidak terasa malam hari di tempat berbeda.
Hingar bingar, berisik karena musik keras memenuhi ruangan. Beberapa botol minuman hampir ada di setiap meja. Banyaknya manusia yang berjoget ria sampai tidak kelihatan wajahnya. Campur aduk, antara pria dan wanita. Ketika sedang menikmati semua ini, mereka lupa hidup hanya sekali.
“Sen! Kenapa lo nggak gabung saja sama mereka!?” ucap seseorang sedikit keras pada pria di sampingnya yang sudah setengah mabuk, tapi kepalanya terus-terusan bergoyang.
“Santai saja dulu, minuman traktiran lo masih banyak soalnya,” jawabnya asal. Ia sedang mengamati pengunjung malam ini yang semakin malam tambah ramai. Wih ... mantap kan?
Pria sahabatnya berdecak kesal. “Kenapa hidup lo kaya nggak ada beban sih, Sen?!”
Lawan bicaranya. Arsen Sukamuljo melirik sang sahabat. “Emang lo ada beban?”
“Arsen! Emang bangke lo ya!!”
Arsen tertawa, lalu kembali menatap ke depan. Mencari seseorang yang bisa diajaknya bersenang-senang malam ini.
“Sen, ingat! Hidup itu cuma sekali!”
“Genta, Genta, lo sudah tahu hidup hanya sekali, kenapa nggak menikmati saja semua ini?” Arsen menenggak minuman dengan sekali tenggak. Kemudian ia berdiri, dan menaikkan celananya.
“Eh, eh, lo mau kemana?! Lo sudah mabuk, Arsen!! Lo di sini saja!” cegah Genta mencekal tangan Arsen, raut wajahnya sedikit cemas.
Arsen menunduk menatap Genta dengan mata memicing. “Kenapa nggak boleh? Lama-lama gue curiga deh sama lo, Bro. Jangan-jangan lo nyimpan perasaan ke gue.”
“Cuih, Najis!!” tukas Genta, sembari meludah ke samping. “Gue cuma nggak mau lo berbuat rusuh di sana, Arsen!! Lo itu lagi mabok.”
“Santai saja, Bro. Gue, Arsen Sukamuljo! Meskipun gue lagi mabok, nggak akan merugikan hidup lo. Lepas! Ada cewek cantik di situ.” Arsen melepaskan cekalan tangan Genta, lalu pergi meninggalkan sahabatnya.
“Arsen sialan!! Awas lo sampai menyusahkan gue! Gue nggak akan tanggung jawab nanti!!” pekik Genta. Sangat kesal.
“Gue nggak hamil, Genta gila! Ngapain lo bertanggung jawab atas gue?!!” balas Arsen sedikit berteriak.
Genta menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah Arsen. Kenapa juga ia harus mempunyai sahabat seperti Arsen? Tadi sang sahabat bilang, ia menyukainya. Gila! Arsen lupa kalau ia sudah mempunyai seorang kekasih dan berencana menikah. Jadi buat apa ia suka dengan Arsen. Kalau pun ia seorang cewek, tidak mungkin menyukai Arsen yang mempunyai sifat seperti itu dengan tingkah gilanya. Lebih baik tidak menikah seumur hidup daripada harus jatuh di pelukan seorang Arsen Sukamuljo.
“Hai, Cantik. Sendirian saja malam ini?” tanya Arsen tiba-tiba pada wanita cantik yang sedang di duduk di depan meja bartender. Di tangan kirinya memegang segelas minuman.
Sang wanita beralih menatap Arsen. Ia memandangi seorang Arsen dari bawah sampai atas, begitu sebaliknya. Sempurna! Kemudian ia tersenyum sangat manis.
“Kenapa?” tanyanya dengan suara lembut.
Arsen menaikkan sudut bibirnya. “Mau aku temani malam ini?”
“Silahkan. Kebetulan aku memang lagi sendiri.”
“Arsen.” Arsen mengulurkan tangan, mengajak berkenalan.
“Arabella. Panggil saja Bella,” jawabnya dengan senyuman manis terpampang nyata, sembari menyambut uluran tangan Arsen.
“Ah ... Bella. Ok, ok.” Arsen menganggukkan kepalanya beberapa kali.
Sementara Genta yang terus melihat Arsen menepuk dahinya. Astaga ... Cewek baru lagi.
Sebenarnya, tidak heran melihat Arsen dengan para wanita berbeda. Pemandangan itu sudah biasa baginya. Arsen berkenalan, entah bagaimana ceritanya pria itu berhasil membawa sang wanita ke hotel. Tidak perlu ditanyakan mereka akan berbuat apa. Yang pasti tidak mungkin bermain dadu, apalagi kelereng.
Sering kali ia menasehati Arsen, tapi tidak didengarkan oleh pria itu. Katanya, ‘Kami bermain aman. Tidak mungkin mengambil resiko.’
Sang wanita juga lucu, mau-maunya diajak Arsen. Apa sahabatnya itu punya mantra pengikat? Kan tidak mungkin.
Sudahlah. Semoga saja, kali ini juga Arsen tetap berjaga-jaga. Jangan sampai menyesal di kemudian hari nanti.
Daripada ia di sini terus, lebih pulang bukan? Arsen tidak mungkin kembali bersamanya. Pasti lebih memilih dengan wanita itu. Yang terpenting minuman sudah ia bayar.
Perkenalan Arsen dan Bella, membuat mereka sampai di titik gairah nan penuh hasrat. Tidak perlu waktu yang lama setelah mereka berjoget, keduanya dalam keadaan setengah tidak sadar.
Di koridor tempat itu, Arsen mencium Bella secara menggebu-gebu. Bella sampai dibuat terlena dengan ciuman maut Arsen.
Arsen menyingkap rok pendek Bella, namun dicegah sang punya.
“Jangan di sini. Ayo ke tempat lain,” ucap Bella, napasnya tersengal-sengal. Kemudian ia menggeret tangan Arsen agar pergi dari situ.
Arsen menyeringai setan. “Dengan senang hati, Sayang.”
Mereka pergi ke hotel tidak jauh dari tempat sebelumnya. Setelah masuk ke kamar dan menutup pintu, Bella mendorong tubuh Arsen ke tembok. Kali ini Arsen yang dibuat Bella melayang. Bahkan adik kecil di dalam celananya sudah meronta-ronta ingin di keluarkan.
“Tunggu dulu, Arsen. Jangan terburu-buru. Aku ada sesuatu untuk kamu.” Bella pergi meninggalkan Arsen yang sudah setengah waras. Kemudian ia kembali dengan membawa dua gelas cairan berwarna merah.
“Wine?” kening Arsen berkerut.
“Ya, minumlah. Ini gratis dari hotel. Sayang kalau tidak diminum dulu sebelum kita pergi menggapai surga dunia,” ujar Bella dengan senyuman manisnya.
Arsen ikut tersenyum, lalu menenggak habis minuman itu. Ia tidak curiga. Toh ia sendiri sudah terbiasa minum. Apalagi ditemani seorang wanita cantik dan akan berakhir di ranjang.
Nikmat mana lagi yang ia dustakan, coba?
Pertarungan peluh pesah pun itu kembali terjadi.
Tring!!!
Arsen terbangun dengan kepalanya berdenyut pusing. Di sampingnya ada seorang wanita yang masih tertidur pulas tidak memakai apapun, hanya selimut menutupi tubuhnya.
“Sial!! Semalam pakai pengaman tidak?” Arsen membuka selimut mengecek punyanya. Sebab ia tidak ingat sama sekali.
“Tenang saja, semalam kamu membuangnya di kloset. Padahal aku tidak masalah kalau kamu keluar di dalam. Aku juga sudah meminum pil, kok. Jadi santai,” jawab Bella dengan suara khas orang bangun tidur.
“Oh iya kah?”
“Iya. Masa kamu lupa sih?”
Arsen tertawa kaku, lalu mendesah lega. Dalam hati ia bersyukur. Pokoknya wanita yang pernah tidur dengannya tidak boleh hamil. Titik!
Setelah berbicara dengan Bella, Arsen bersih-bersih sebentar sebelum pergi. Hari ini ia ada janji dengan sang sahabat, Genta.
Untuk sekelas pengacara, ‘Pengangguran banyak acara’ Arsen cukup menghidupi dirinya sendiri. Ia juga punya mobil, meskipun tidak mewah sekali pun.
Setelah mobilnya terparkir di halaman restoran tempat janjian. Arsen turun, lalu menyugar rambutnya sebentar. Ia berjalan sambil bersiul.
Ia mengirim pesan pesan pada Genta sudah sampai di restoran. Dalam posisi menunduk, tanpa disengaja ia menabrak tubuh seseorang yang datang dari arah berlawanan. Beberapa wanita.
“Maaf, maaf. Anda tidak apa-apa 'kan?” tanya Arsen sedikit panik. Bahkan ia mengabaikan ponselnya yang jatuh mengenaskan di lantai.
“Its okay. Saya juga minta maaf. Saya sedang bercanda tadi, tidak tahu ada orang berjalan di depan,” jawabnya, sembari menyeka tubuh yang bertabrakan dengan Arsen. Seakan-akan yang ditabraknya adalah semacam debu. “Mari, Pak.”
Kening Arsen berkerut seraya melihat langkah beberapa wanita itu keluar dari restoran. Why? Ia merasa terhina dengan wanita itu. Bukan karena memanggil ‘Pak’ padahal wajahnya masih muda, bukan. Tapi, menyeka tubuhnya. Dan lagi. Tatapan datar— ralat, terkesan jijik itu membuatnya tersinggung.
“Dasar wanita aneh. Jangan sampai deh gue bertemu wanita-wanita seperti itu lagi,” gumam Arsen sedikit kesal.
***