STGIAC// 1

1293 Words
Laura terus memainkan mulutnya, menggelembung lalu menghembuskannya. Ia sedang berada di dalam ruangan kebesaran dan paling tinggi di gedungnya. Yes! CEO! Entah kenapa posisi ini diberikan kepadanya, padahal masih ada sang paman yang siap membantu dan mengurusi perusahaan milik orang tuanya. Ini bukan style dan bukan keahliannya lho. Namun sang nenek terus menyuruh agar ia yang memegang kendali atas perusahaan ini. Bukannya apa. Ia ini jago memainkan kuas di yang siap menari di atas kanvas, bukan bolpoin di berkas. “Kenapa, Sayang. Kamu sepertinya kelihatan bosan sekarang?” tanya wanita yang sedang duduk manis di sofa, sementara di samping beliau ada sang paman dan orang kepercayaannya berada di belakang berdiri. Laura menatap sang nenek, Laila Rahardja usianya sudah senja, namun masih cantik dengan rambut putihnya yang disanggul rapi. Kemudian ia mendesah panjang. “Tanpa aku bilang, Nenek pasti sudah paham 'kan?” “I know,” jawab sang nenek dengan senyuman. “Terus kena—” “Karena ini milikmu!” kata Bu Laila, menekankan ‘Ini milikmu!’ seakan-akan beliau sendiri pun tidak berhak memilikinya. “But, Nenek kan tahu sendiri. Passion aku bukan di bidang ini. Aku suka—” “Nenek tahu, Lau. Cuma mau bagaimana lagi? Ini amanah dari papamu. Kamu tahu kan, perusahaan ini dibangun dan dipertahankan mati-matian oleh papamu?” Lagi-lagi beliau memotong ucapan sang cucu, kali ini disertai wajah sendu. Laura menarik napas panjang, kemudian kembali mendesah. Selalu seperti itu, ketika ia mencoba memberi sang nenek pengertian akan keinginannya yang tidak mau duduk di perusahaan. “Masih ada paman, Nek, yang bisa diandalkan di sini. Aku tidak mahir di sini.” “Belum mahir! Bukan tidak mahir, Laura!” tukas sang nenek, sembari menatap tajam Laura. “Paman di sini akan membantumu sampai bisa memimpin perusahaan ini.” “Lagipula kamu tahu alasannya, bukan?” lanjut sang nenek. “Iya, Laura, Paman yakin kamu pasti bisa. Paman janji akan berada di samping kamu terus.” Sang paman ikut bicara, karena melihat situasi ini mulai tegang. Antara ibu dan ponakannya. Laura mengatupkan bibir, dan memejamkan matanya. Kalau seperti ini terus, yang ada nanti ia akan berdebat panjang dengan sang nenek dan tidak akan ada ujungnya. Sebab, mereka berdua sama-sama keras kepala. “Sudahlah, Nenek pulang dulu.” Bu Laila mengambil tongkat, kemudian bangun dari duduk dibantu putra bungsunya alias paman Laura. Laura berdiri dari kursi, dan menghampiri sang nenek juga. Kemudian memegang tangan di sisi lain sang nenek. Meskipun neneknya keras kepala, padahal sudah tua masih memikirkan perusahaan. Namun tetap saja, Laura sangat menyayanginya. “Harusnya Ibu di rumah saja. Kan lebih enak, Bu,” ucap Mahesswara lembut kepada sang ibunda. “Tidak apa, Nak. Ibu ke sini agar Laura bisa semangat kerjanya,” jawab beliau dengan senyuman seraya melirik sang cucu, yang dibalas wajah cemberut Laura. “Nenek ini lah. Benar kata Paman lho, Nek. Lebih baik Nenek di rumah duduk santai sambil merajut dan minum teh kan enak.” Sang nenek terkekeh. “Sudah, sudah. Ini Nenek mau pulang. Ingat pesan Nenek, Sayang. Semangat kerjanya.” Kali ini Laura tersenyum. “Iya, Nek. Nenek baik-baik di rumah. Tunggu aku pulang. Aku antar Nenek ke bawah.” “Tidak usah, Lau. Biar Paman saja yang antar Nenek,” intrupsi sang paman. “Ayo, Rojak! Antar Ibu pulang ke rumah.” “Baik, Pak. Kalau begitu saya pamit dulu, Bu Laura.” Rojak memunggukan badannya ke Laura. “Hati-hati, Pak Rojak. Pelan-pelan bawa mobilnya.” “Iya, Bu.” “Laura!” panggil sang nenek, padahal pintu ruangan Laura sudah dibuka dan tinggal keluar. “Iya, Nek.” “Kamu tuh cantik, cobalah berdandan sedikit, Sayang. Masa kalah sama pegawai kamu di sini,” saran sang nenek membuat Laura langsung cemberut bukan main. “Nenek....” Sang nenek tertawa renyah karena berhasil membuat Laura kesal. “Ayo pulang!” Setelah sang nenek sudah pergi dari ruangan, Laura berjalan menuju kaca besar yang berdiri di samping meja kebesarannya. Kemudian ia memindai tubuhnya dari atas ke bawah. Sebab, hampir setiap selesai obrolan dengan sang nenek, selalu menyuruhnya berdandan dan merubah sedikit penampilan agar semakin menarik, katanya. Tidak ada yang salah dengan penampilannya saat ini. Masih sangat wajar kok. Wajah putih bersih, pipinya sedikit memerah meskipun tidak menggunakan makeup tebal. Alis terbentuk sempurna. Four your information ... alisnya diturunkan oleh sang mama. Bibir tipis merah alami. Hidung? Mancung kecil seperti Barbie. Baginya. Hehehe. Rambut? Lebat, berwarna cokelat dan lurus. Mata? Bulat disertai bulu mata lentik. Ditambah pupil matanya berwarna hazel. Sangat jarang ada orang mempunyai warna mata seperti dirinya. So ... perfect! Terus apa yang kurang? Kadang suka aneh saja dengan perkataan sang nenek. Mesti dirubah apa coba? Jadi tidak perlu dandan lagi, bukan? Laura menghembuskan napas panjang, kemudian berbalik badan untuk menyelesaikan sebagian tugasnya. Namun, belum sampai melangkah, ia kembali menatap ke cermin dan kembali memindai tubuhnya. Untuk memastikan. I'ts fine. Tidak perlu ada yang dirubah baginya. Laura menghempaskan tubuhnya di kursi. Menatap berkas yang harus dipelajari satu persatu, kemudian akan ditandatangani yang perlu di tanda tangan. “Lau?” “Ya,” jawab Laura dipanggil sang paman yang masuk ke ruangannya. “Paman ada di ruangan. Kalau ada yang perlu ditanyakan, kamu bisa memanggil Paman, ok?” “Ok. Terima kasih atas semuanya, Paman,” ucap Laura tulus, sembari tersenyum. “Its okay, ini memang tugas Paman.” Laura menatap punggung sang paman, yang berjalan ke luar ruangan. Sebenarnya, bisa saja perusahaan sang papa dipegang oleh Mahesswara Rahardja. Pamannya. Namun, meskipun mereka sekandung, nenek tidak membiarkan itu terjadi. Sebab, ada adik papa yang lain memberontak meminta jabatan di perusahaan. Papa adalah anak pertama, dan memiliki tiga orang adik salah satunya sang paman. Anak bungsu neneknya. Sementara yang dua. Ada sedikit bentrok perkara Paman Mahes memimpin perusahaan. Padahal cuma memimpin, bukan memiliki. Namun mereka tidak peduli dan tidak mau tahu. Pokoknya, kalau Mahes bisa duduk di perusahaan kenapa mereka tidak? Makanya sang nenek keukeh agar Laura yang duduk di posisi Mahes terdahulu. Menghindari bentrok antar keluarga, juga ia adalah pewaris sah perusahaan sang papa. Kenapa cuma milik sang papa? Karena beliau lah yang mendirikan. Jatuh bangun merintis dari bawah, tanpa bantuan saudaranya yang lain. Kecuali Mahesswara. Itu pun bukan finansial, melainkan tenaga. Nenek saksi hidupnya, bagaimana sang papa mempertahankan sekuat tenaga dan diteruskan pamannya hingga saat ini. Sebelum sang papa meninggal memang sudah besar. Lalu tetap dijalankan dan dijaga pamannya. Kata Paman Mahes, ini adalah amanah terberat baginya. Menjaga agar tetap seperti ini, tidak sampai jatuh supaya bisa diberikan langsung pada sang pemilik sah. Laura Ambar Rahardja. Kalau ada yang tanya, apa sang paman tidak ada bagian? Ada. Tentu saja ada. Alih-alih saham, paman membuka toko emas, yang selama beliau di perusahaan dibantu istrinya. Kata sang paman, tempat ini akan menjadi kenang-kenangan dari kakak sulungnya alias papa Laura. Nenek tadinya tidak memaksa Laura untuk duduk di kursi CEO. Namun, ketika dua saudara itu datang, semua menjadi kacau. Setiap kali ada acara kumpul keluarga selalu membahas perusahaan, padahal beliau hanya ingin berkumpul dengan anak dan cucunya. Sangking tidak bisa terkontrol lagi, sembari meneteskan air mata kekecewaan akhirnya sang nenek meminta Laura sendiri yang memimpin perusahaan Rahardja. Mereka tentu saja tidak berani menentang lagi, mengingat Laura si pemilik sah perusahaan ini. Pernah ia dengar tanpa sengaja. Dua adik papanya iri karena cuma Paman Mahes yang boleh tinggal di perusahaan. Padahal bukan itu cerita sebenarnya. Namun, ketika seseorang sudah ditutupi kebencian dan keserakahan tidak peduli apapun itu, meski pada adik kandungnya sendiri. Mereka iri karena Paman Mahes yang kelihatan disayang oleh sang nenek. Nyatanya.... Lagi-lagi Laura menghembuskan napas panjang. Seandainya sang papa masih ada di sini. Mungkin tidak akan seperti ini jalan hidupnya sekarang. Ia bisa menjadi seorang pelukis sesuai impiannya. Bukan ini. Ia CEO Rahardja GROUP. Semoga saja, demi rela duduk di kursi CEO, kehidupan keluarganya akan kembali normal. Semoga saja.... ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD