Bu Ester, apa pasokan bahan makanan hari ini masih komplit?" tanya Hanna, dia menghampiri Bu Ester yang sedang ada di gudang makanan di bagian belakang dapur.
"Sudah hampir menipis! Memangnya kenapa, Hanna?" tanya Ester yang fokus dengan pekerjaannya.
"Biasanya, siapa yang pergi ke super market untuk belanja?"
"Bahan-bahan pokok dikirim langsung oleh suplier! Kalau bahan-bahan pelengkap biasanya kami belanja satu bulan sekali!"
"Oh, begitu ya!"
'Huh, berarti aku gak bisa pura-pura belanja ke luar untuk bisa melarikan diri dari sini! Gimana ya? Gimana aku pergi dari sini tanpa membuat orang-orang curiga!' batinnya masih berpikir keras.
"Ngapain kamu disini? Tugasmu sudah selesai?" tanya Ester.
"Belum, Bu!"
"Astaga Hanna! Kamu ini pelayan baru lho! Cepat selesaikan pekerjaan kamu!"
"Baik, Bu!" Hanna keluar dari gudang makanan dengan lesu. Sungguh, yang ada di dalam otak Hanna saat ini hanyalah cara untuk melarikan diri.
Hanna tak bisa membayangkan kalau dia harus melayani nafsu tuan mudanya setiap hari, lalu dia hamil, aaarrggghhh, sudahlah! Sudah tak bisa dibayangkan lagi bagaimana nasibnya nanti.
Hanna memutar otak sembari menggerakkan gagang pelnya ke kiri dan ke kanan di teras depan kediaman Jerome, luas teras depannya saja hampir setara dengan 1/3 lapangan bola.
Sebuah supercar tiba-tiba terparkir. Itu bukan mobil Max Jerome, atau mobil Tuan Alex Jerome, mobil siapakah itu?
Hanna curi-curi pandang sembari tetap fokus dengan pekerjaannya.
Itu dia! Seorang pria muda keluar dari dalam mobil itu. Tampan, muda, gagah, hampir serupa Max. Siapa kah dia? Apakah teman Max?
"Selamat siang Tuan Julian ...." Salah satu teman Hanna yang juga sedang membereskan teras rumah menyapa pria itu, namanya Julian.
"Max masih di kantor ya?" tanya Pria itu, Hanna terus curi-curi pandang. Sosok itu memang sedap dipandang mata.
"Iya, Tuan ... Anda bisa menunggu di studio musik Tuan muda, Max!"
"Baiklah!" Pria itu pergi, masuk ke dalam rumah. Hanna jadi penasaran. Tapi, kalau Hanna bertanya pada rekannya itu, pasti Hanna akan kena omel. Dibilang kepo lah, apa lah! Ah, Hanna sedang tak ingin menerima omelan dan hujatan seperti itu.
'Kenapa akhir-akhir ini aku selalu bertemu dengan pria-pria tampan ya? Huh, pria tampan yang kurang ajar, dan entahlah dengan yang satu ini! Sepertinya Tuan Julian terlihat lebih kalem dan gentle ....' batin Hanna sembari melaburkan lamunannya.
"Hey Hanna! Lanjutkan sisanya! Jangan sampai ada lantai yang masih kotor! Saya mau buatkan kopi buat Tuan Julian!" kata rekan Hanna itu semena-mena, lalu dia sendiri malah pergi meninggalkan Hanna dengan pekerjaannya.
"Idiiiih, nyebelin banget deh!" gerutunya kesal. Sampai mobil lainnya menyusul masuk ke kawasan mansion itu. Kini Hanna tahu kalau mobil itu adalah mobil Tuan mudanya. Hanna begidik, setiap bertemu dengan Max Jerome, maka yang ada di pikiran Hanna hanyalah ketakutan. Hanna mempercepat pekerjaannya dan mencoba menyembunyikan wajahnya dari Max yang kini sudah turun juga dari mobilnya.
"Semoga dia gak sadar kalau ini aku ...." gumam Hanna sembari berharap.
"Hey, Hanna!"
Ah, sial! Ternyata Max menyadari kalau pelayan yang sedang belagak fokus mengepel itu adalah pelayan spesialnya.
"Iya, Tuan ...." sahut Hanna tanpa mengangkat wajahnya.
"Bawakan saya es americano! Bawa ke studio musik saya di pojok kanan lantai atas!" perintah Max.
"Baiklah, Tuan!"
Itu saja. Hanya itu perintah Max. Hanna juga berharap kalau perintah Max hanya itu, tak ada layanan plus-plus lagi yang harus ia kerjakan.
Setelah selesai dengan pekerjaannya di teras rumah, Hanna cepat-cepat masuk ke dalam tepatnya ke arah dapur.
"Bu, tuan muda Max minta dibuatkan es americano!" lapor Hanna pada orang dapur.
"Siap!" jawab orang itu sigap. Perintah Max memang prioritas yang harus segera dilaksanakan. Tak lama rekan Hanna yang tadi di teras juga datang membawa pesanan Julian.
"Sekalian, tuan Julian juga ingin es americano!" ucapnya.
"Oh, ada tuan Julian juga?" tanya orang dapur itu.
"Iya, dua cogan cogan sedang kongkow bareng di studio musik milik tuan muda Max! Huh, andai aku yang ada di antara mereka!" jawabnya sembari berkhayal, Hanna yang menertawakannya. Hihi, halu! Lucu! Cibir Hanna dalam hati.
"Apa kamu ketawa-ketawa, huh?"
"Nggak kok!"
"Sana kamu pergi! Pesanan tuan Max sama tuan Julian biar aku yang antarkan!"
"Oke! Terima kasih ya!" Hanna lega. Setidaknya dia tak akan bertatap muka dengan Max lagi walau sebenarnya dia sangat ingin melihat wajah Julian sekali lagi.
Siapakah sebenarnya Julian?
Julian adalah sahabat karib Max. Mereka sama-sama keren dan tampan dan satu lagi, kaya raya pastinya!
Julian adalah putra dari Sanders Grup, salah satu perusahaan besar juga di kota. Max Jerome dan Julian Sanders adalah dua sosok idaman para wanita di luaran sana, bahkan sosok mereka cukup sohor di kalangan para selebritas.
Tapi anehnya, Max malah tertarik dengan gadis desa yang kini telah menjadi candunya. Mungkin Max sudah bosan berhubungan dengan wanita glamour sekelas selebritas.
Julian dan Max duduk bersama di sebuah ruangan yang berupa studio rekaman itu. Itu memang bukan studio resmi, itu hanya tempat Max dan teman-temannya iseng membuat musik. Berbagai instrumen ada di ruangan yang cukup luas itu.
"Ariana udah balik ke Jakarta?" tanya Julian memulai obrolan.
"Ya!" jawab Max singkat.
"Kok lo biasa-biasa aja? Gak senang pujaan hati lo akhirnya balik ke Jakarta?" goda Julian.
"Gue udah gak merasakannya lagi!" kata Max santai.
"Heh, serius?"
"Ya!"
Tok tok, ada yang mengetuk pintu studio! Max pikir itu pasti pelayan kesayangannya, Max bangkit dan membukakan pintu. Ckttt ...
"Minumannya Tuan!" ucap pelayan genit itu.
"Hanna mana? Tadi kan saya minta dia yang antar minumannya?" tanya Max agak marah.
"Oh, heum ... dia ... dia ...."
"Bawa kembali minumannya dan suruh dia yang mengantarnya kesini!" BRUK! Max ngamuk karena perintahnya diabaikan.
Apakah Hanna akan kena marah juga? Julian hanya geleng-geleng kepala, dia sudah tahu kalau sahabat karibnya itu memang sudah biasa bersikap semena-mena seperti itu.
Dan pada akhirnya ....
Hanna lah yang harus kembali mengulangi perintah dari Max. Dengan berat hati dia pergi. Apa yang terjadi ini semakin menguatkan dugaan para rekan-rekan Hanna soal peran Hanna sebagai pelayan spesial Tuan muda Max Jerome.
Hanna datang dengan dua es americano yang baru. Dia sangat deg-degan. Terlebih saat ini, bukan hanya ada Max saja di dalam ruang dengan pencahayaan yang kurang itu. Suasana studio musik Max memang agak temaram dan dingin. Max sengaja membuatnya seperti itu.
'Ya ampun, kok aku deg-degan ya ....' batin Hanna lalu berjalan mendekat ke arah dua cogan itu. Nampan yang dia bawa sampai bergetar hebat.
"Kenapa lo suruh pelayan yang tadi putar balik?" tanya Julian yang penasaran juga dengan tingkah absurd Max yang menyuruh pelayan pertama untuk pergi.
"Sejak awal gue nyuruh pelayan yang ini yang mengantar minumannya!" jawab Max santai, Julian kembali hanya geleng-geleng kepala. Tingkah Max memang ada-ada saja.
"Heh, sejak kapan lo mengenali satu persatu wajah pelayan di rumah lo ini?" tanya Julian agak mencibir.
"Kalau yang ini beda! She is my special maid!" ungkap Max lalu menarik tangan Hanna yang baru selesai menyajikan minumannya di atas meja. Max menarik tangan Hanna dan membiarkan Hanna duduk di atas pangkuannya. Hanna malu dan Julian cukup berdecak kagum.
"Heh, jadi ini pelayan istimewa yang Ariana keluhkan di insta story-nya?" tanya Julian dan sesekali dia juga mengamati wajah Hanna.
"Ya!" tegas Max, dia sudah memperlakukan Hanna seperti sugar baby-nya.
"Heh, gue kira Ariana cuma iseng!" Julian sampai memtertawakan Max beberapa kali. Tapi sungguh, Julian juga sesekali memperhatikan Hanna. Apakah Julian juga tertarik dengan Hanna, si pelayan fenomenal itu?
'Huh, nasib... nasib ....' keluh Hanna dalam hati. Dia bisa apa? Dia hanya bisa membiarkan tubuhnya diperlakukan sesuka hati oleh tuan mudanya itu.
Kriiiing, ponsel Max berdering ....
"Sebentar, bokap gue nelpon!" kata Max lalu dia meminta Hanna untuk turun dari pangkuannya. Max berjalan ke pojok ruangan, mungkin itu adalah panggilan penting tentang bisnis.
Tinggal lah Hanna dan Julain di sofa itu. Julian fokus dengan gawainya walau tadi dia sempat curi-curi pandang pada Hanna. Julian ternyata bersikap lebih dingin lagi.
'Kayaknya tuan muda yang ini bersikap lebih gentle terhadap perempuan! Beda lagi sama yabg satu itu! Huh ... dia menganggapku sebagai boneka nya!' batin Hanna perih.
"Siapa namamu?" tanya Julian tiba-tiba, membuat Hanna kembali berdebar.
"Sa-saya ... Hanna ...." jawabnya pelan.
"Jadi kamu simpanan si Max?" tanya Julian lagi.
"Bukan, Tuan ... saya hanya seorang pelayan!"
"Pelayan yang diistimewakan!" kata Julian, Hanna jadi malu. Apa jangan-jangan Max sudah menceritakan dua kali pengalamannya di atas ranjang pada Julian? Kalau iya, aah, malu sekali rasanya!
"Apa kamu senang?" tanya Julian lagi, dia begitu banyak bertanya.
"Senang?" tanya Hanna tak mengerti.
"Apa kamu senang menjadi simpanan seorang Tuan muda kaya raya seperti si Max?" kali ini Julian bicara agak sinis, pasti Julian sudah menganggap Hanna sebagai perempuan murahan. Hanna jadi sedih. Dia hanya bisa menunduk lugu.
Max kembali ....
"Sorry banget Jul! Gue harus kembali ke kantor bokap gue! Ada masalah kecil yang harus cepat-cepat diselesaikan!" kata Max agak terburu-buru.
"Oh ya udah! Gue juga cabut kalau begitu!" kata Julian.
"Lo tunggu aja lah! Gak akan lama kok!"
"Gue pulang dulu lah sebentar, nanti malam gue kembali!" putuskan Julian.
"Oke kalau begitu!"
Pertemuan singkat itu sudah selesai, bubar. Hanna cukup lega karena tugas ekstranya tak akan berlanjut.
Kini Hanna seolah-olah ada di antara dua cogan, yang satu telah menganggapnya b***k dan yang satu lagi masih terlihat menjaga wibawanya di depan Hanna. Dan jujur saja, Hanna juga terpesona dengan sosok Julian.
“Aah iya Hanna, studio saya ini sepertinya sudah beberapa hari gak dibersihkan! Kamu tetap disini dan bersihkan semuanya!” perintah Max pada Hanna. “Baik, Tuan!” jawabnya, dalam hati Hanna kesal karena dia jadi tak bisa konsentrasi lagi memikirkan cara untuk segera kabur dari belenggu Max.
Dua pria gagah itu pergi meninggalkan Hanna sendiri.
“Kenapa lo tertarik dengan pelayan lo sendiri, heh?” tanya Julian di sepanjang langkah menuju lantai bawah.
“Iseng aja sih! Lumayan kan buat ngilangin bosan!” jawab Max, andai saja Hanna mendengarnya pasti dia akan semakin benci dengan Max.
“Heh, ini bukan kebiasaan lo, Bro!” Julian agak mencibir.
“Entahlah! Pelayan gue yang satu itu emang menggemaskan! Tapi, gue benar-benar jadi betah di rumah! Bokap nyokap gue aja salut gue udah jarang keluyuran malam-malam lagi!”
“Tapi lo harus tetap menghargai dia! Kasian lah kalau lo pake terus! Kalo sampai hamil gimana? Lo mau tanggung jawab?”
“Haha, ya gue suruh balik aja ke kampungnya! Kasih duit! Beres, kan?”
Heh, Julian tersenyum kecut. Kelakuan sahabatnya itu memang gak ada akhlak. Max memang masih suka bertindak sesuka hatinya tanpa memikirkan kerugian orang lain. Max pikir segala hal bisa selalu dibeli dengan uang.
Kasihan pula Hanna, bagaimana kisah Hanna selanjutnya?