Pergulatan di Atas Ranjang

1488 Words
Hanna tak bisa melepaskan diri. Max menyeret langkahnya masuk ke dalam istana besar itu. Belasan pelayan yang masih stand by berdiri berderet-deret dan memberi hormat saat Max melewati mereka. Mereka tak berani bertanya, siapa gadis yang Max seret dengan paksa saat ini, karena mereka sangat segan dengan sosok Max. "Tuan ...." gumam Hanna kembali ketakutan. Langkahnya sangat berat tapi tenaga Max masih cukup kuat, dia masih kuat menarik langkah Hanna. "Diam! Dan turuti semua titah saya!" kata Max tegas. Kini dia menjelma menjadi seperti seorang otoriter. "Ba-baik lah, tapi tolong jangan sakiti saya!" ucapnya masih pelan. "Diam, dan layani saya! Atau saya kirim lagi kamu ke club itu!" ancam Max, akhirnya Hanna diam dan menikmati ketegangan yang menggerus setiap waktu yang terus berjalan. Sepertinya sudah sampai di kamar Max. Max memasukinya dengan menggesek kartu akses masuk khusus ke kamarnya itu. Rumah mewah ini memang dilengkapi dengan sistem keamanan luar biasa. BRUK! Sesampainya di dalam, Max menghempas tubuh Hanna ke atas tempat tidurnya yang luas dan rapi itu. Hanna sangat ketakutan. Walau tak bisa dipungkiri, dia jatuh hati pada sosok Max pada pandangan pertamanya, tapi tetap saja, sikap kasar Max membuat Hanna semakin takut lagi. "Kita bisa bicara baik-baik, Tuan!" gumamnya sambil merekatkan jari-jarinya di kain seprai. "Layani saya!" pinta Max lalu dia mulai menanggalkan jas serta melepaskan dasi yang menggantung di lehernya, Max juga membuka dua kancing teratas dari kemeja hitamnya itu. Dia berjalan mendekat pada Hanna yang sudah semakin terpenjara. "Tapi ... setelah ini ... kamu akan melepaskan saya kan, Tuan?" "Ya!" Max mulai menerjang. Dia semakin mendekat lalu menopang tubuhnya dengan kedua tangannya tepat di atas tubuh lemah Hanna. Jarak wajah keduanya begitu dekat, hanya berjarak beberapa inci saja. Hanna bisa melihat wajah sempurna Max, begitu pun sebaliknya. "Berapa umurmu sekarang, Hanna?" tanya Max masih melanjutkan interview singkatnya. "Du-dua puluh satu tahun, Tuan!" jawabnya gugup, teramat gugup. "Heum, jadi kamu masih perawan, huh?" tanya Max dengan agak sinis, mungkin Max tak percaya kalau masih ada gadis perawan di usia itu. "Ya ... saya gak pernah melakukannya, kalau kamu mau berbaik hati, tolong jangan lakukan itu pada saya, Tuan! Saya bisa membayarnya dengan cara yang lain!" harap Hanna. Kiss, Max malah menyerang Hanna dengan kecupan liarnya. Max memagut bibir ranum Hanna dengan penuh gairah. Max merasakan manis yang luar biasa, dengan nyaman, lidahnya bermain-main di dalam mulut Hanna yang tak bisa apa-apa. Max ketagihan, sudah lewat 60 detik dan french kiss penuh gairah itu belum jua berakhir. Max begitu menikmatinya. Huh huh huh, deru nafas kembali berpacu, Max benar-benar tak membiarkan Hanna bernafas lega. Max agak menegakkan tubuhnya, lalu dia menurunkan tali temali tipis yang ada di pundak Hanna. Max semakin menurunkannya sampai dua buah keindahan yang Hanna miliki nampak jelas di depan kedua matanya saat ini. Heum, bulat dan penuh. Pucuknya yang berwarna agak kecoklatan begitu menggoda untuk dimainkan. Hanna begitu mempesona malam ini sampai membuat sang Tuan muda semakin dan semakin tenggelam dalam deburan nafsu. "Apa ... belum pernah ada yang menyentuhnya?" tanya Max, dan tangannya yang semakin nakal mulai beraksi. Dua jari dengan asyik memilin pucuk keindahan si gadis perawan sampai dia tak bisa menahan desahan manja, antara kesakitan dan kenikmatan. Sentuhan Max begitu luar biasa, membuat Hanna tak ingin memberontak. "Be-belum, Tuan! Ouchh!" desahnya, netranya yang indah terbuka tertutup dengan teratur membuat Max semakin gemas saja. "Kebetulan sekali ya saya menemukan kamu malam ini!" kata Max puas. Dua jari di tangan kanan dan dua jari di tangan kiri bekerja semakin baik. Pilinan lembut membuat si mpunya meronta-ronya macam cacing kepanasan. Max menikmati permainan walau wajahnya lebam dan ada beberapa bercak darah disana. Max lupa akan rasa sakit yang tak seberapa itu, kenikmatan yang Hanna suguhkan yang paling dominan ia rasakan saat ini. Apalagi saat lidahnya tergoda untuk menggelitikinya lagi. Max menurunkan wajahnya lagi lalu menggantikan tugas jarinya. Kini dia mencumbu salah satu area sensitif itu sampai Hanna semakin meronta-ronta. "Ouch ... ouch!" Dan desahan seperti itu semakin memicu nafsu Max untuk semakin menggila lagi. Max menghisapnya beberapa kali diselingi dengan gelitikan lidah yang luar biasa nikmat. "Astaga ... Tuan ... cukup! Cukup, Tuan!" Hanna meracau, dia tampak sangat tak kuasa, mungkin Hanna ingin segera menuntaskan permainan panas itu. "Belum cukup, sayang! Kamu begitu luar biasa, saya harus mencicipi setiap inci dari tubuhmu ini!" suara Max yang sedikit growling dan rendah semakin membuat malam ini terasa begitu erotis untuk si gadis perawan yang tengah dimabuk cinta itu. Pasti Hanna tak membayangkan, masuk perangkap harimau bisa se-fantastis ini. Selama ini banyak gadis lain yang ingin mendapat sentuhan seperti ini dari Max, tapi Max adalah termasuk orang yang selektif. Dia tak pernah sembarangan memilih partner dalam bergulat di atas ranjang. "Milikmu masih sangat kencang sayang! Kamu benar-benar belum terjamah, lakukan yang terbaik! Besok pagi saya akan memberikan bayaran setimpal untukmu!" Max meracau lagi sembari meremas dua buah keindahan yang bahkan tak bisa ia genggam semuanya. Hanna memiliki bentuk yang indah, bulat sempurna membuat Max tak ingin melepaskannya cepat-cepat. "Kamu menggelitiki saya, Tuan! Kamu membuat saya geli! Ouch!" desahnya lagi sembari meremas kemeja Max. Max juga semakin tak tahan. Dia segera melepaskan kemejanya, lalu dia juga membuka paksa mini dress Hanna yang tertinggal di bagian bawah tubuhnya sampai akhirnya Hanna benar-benar telanjang bulat. Hanna setengah bangkit dan menyaksikan seluruh tubuhnya audah tak terlindungi sehelai benang pun. "Tuan ...." panggilnya. "Heum," sahut Max yang bersiap untuk melakukan permainan lainnya. "Besok pagi, biarkan saya pergi! Saya akan memberikannya malam ini, tapi setelahnya biarkan saya pergi!" pinta Hanna. "Oke!" kata Max lalu dia membuka paksa gerbang menuju surga tersembunyi yang terletak di antara kedua pangkal paha mulus Hanna. Hanna semakin berdebar saja. Sebentar lagi, pria tampan penuh pesona di hadapannya akan segera merobek keperawanan yang ia jaga selama 21 tahun ini. Hanna pasrah saja, melawan pun tak akan ada gunanya! Tapi setidaknya, Hanna bisa lepas dari club malam itu. Karena jika Hanna tetap di dalam club itu, mungkin dia akan terus dipaksa untuk melayani pria yang berbeda-beda setiap harinya. Itu lah yang ada di pikiran Hanna saat ini. Tangan Max yang putih mulus yang memperlihatkan aliran urat-urat di atasnya mengusap lembut paha yang sudah terbuka itu, Hanna masih dalam posisi duduk, dia ingin melihat semuanya, dia ingin melihat bagaimana Max melakukannya. Max pandangi penampakan itu, dia menjilat ujung bibirnya tanda ia juga tak tahan ingin mencicipinya. Hanna masih gemetar, tapi tak bisa dipungkiri kalau dia juga terpesona dengan ketampanan Max. OUCH! jari-jari Max semakin nakal. Dia melakukan penjelajahan dengan jarinya terlebih dulu. Hanna sampai memekik, baru kali ini dia membiarkan benda asing masuk ke dalam miliknya itu. Sudah setengah jari telunjuk Max yang masuk. "Tuan ...." gumam Hanna lalu berpegangan di pundak kokoh Max. "Ya ...." sahut Max dengan wajah santainya. "Lakukan!" kata Hanna, tapi Max malam menyapu bibir Hanna dengan ciumannya lagi. Sungguh malam yang luar biasa untuk Hanna. "Maafkan aku Tuhan, ini adalah dosa! Aku tahu ini dosa! Tapi sungguh aku tak ingin ada berada di tempat itu lagi," Hanna berdo'a dalam hatinya sementara Max semakin liar menggerakkan jarinya di dalam sana. "Sudah cukup main-mainnya, bersiaplah!" kata Max lalu dia setengah bangkit dan melepas gesper serta celana yang sejak tadi masih melekat di kakinya. Itu dia, keperkasaan seorang lelaki yang baru pertama kali ini Hanna saksikan. Ada perasaan takut dan ada juga rasa ingin merasainya. Hanna hanyalah gadis biasa yang sudah jatuh begitu dalam dalam permainan hebat yang Max berikan. "Apa ini akan sakit, Tuan?" tanya Hanna pelan, dia tampak ketakutan. "Mungkin sakit untukmu! Tapi kenikmatan luar biasa untuk saya!" jawab Max dengan nada penuh kelicikan. Tentu saja itu benar, Hanna akan kesakitan merasakan selaput daranya robek sementara Max akan merasakan kenikmatan karena menggagahi gadis perawanan adalah salah satu nikmat yang nyata bagi seorang lelaki. "Berbaring lah!" perintah Max. Hanna pasrah, dia membaringkan lagi tubuhnya yang sudah tegang itu. "Jangan tegang! Lemaskan tubuhmu!" seru Max, dia benar-benar sudah seperti seorang otoriter saja. Memperlakukan Hanna dengan sesuka hatinya. Satu, dua, tiga .... Max tak melakukan ancang-ancang lagi! Krrkk, saking sempitnya, Max sampai harus mendorongnya dengan sedikit tenaga lebih, Hanna kesakitan, dia bahkan menitikan air mata. Dia hanya bisa mencengkram bagian pundak Max yang saat ini tepat ada di atas tubuh lemahnya. "Sakiit, sakiit sekali Tuan ...." gumamnya lirih. "Diam! Mendesahlah! Jangan meracau!" kata Max dan dia sudah menyempurnakan posisinya, sudah siap untuk melakukan hip trust untuk menuntaskan hasrat yang sudah naik ke ubun-ubun itu. Hanna diam saja, menikmati rasa sakitnya sementara Max melayang menikmati suguhan terbaik dari Hanna. Maju mundur dengan gerakan yang semakin lama ssmakin intens, gerakan itu pasti telah mengoyak Hanna. Hanna tak mampu protes. "Sebentar lagi, akan segera selesai!" bisik Max dan dia menghentikan gerakannya, sejurus dengan itu, rasa hangat terasa di dalam bagian Hanna yang sakit itu. Basah dan lengket. Itu pasti sel-sel milik Max yang berhasil keluar setelah hampir tiga menit menyakiti Hanna. "Aaah, kamu melakukannya dengan sangat baik, Hanna!" Kiss! kata Max lalu ia tuntaskan dengan sebuah kecupan hangat di kening Hanna. Apakah perkenalan Hanna dan Max akan berakhir begitu saja malam ini?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD