bc

Om Jadian, Yuk!

book_age16+
536
FOLLOW
4.5K
READ
friends to lovers
CEO
drama
comedy
sweet
bxg
suger daddy
campus
office/work place
friendship
like
intro-logo
Blurb

Apa yang salah jika jatuh hati pada pria yang umurnya 9 tahun di atas kita? Umur kan hanya sebuah angka. Memangnya kita bisa memilih untuk jatuh cinta pada siapa?

Kira-kira seperti itulah yang ada di benak Aurora sekarang. Ia juga tidak menyangka akan secepat ini menyukai Om dari seorang yang diam-diam menyukainya beberapa tahun terakhir. Satu kata yang terlintas di benak Aurora saat pertama bertemu dengannya, hot. Om-om tampan, tinggi, bertubuh kekar dan terlihat lebih muda di usianya itu. Namanya Billy Wesphal.

Cinta pada pandangan pertama? Ahh mungkin bisa dikatakan seperti itu. Rasanya tidak cukup dengan hubungan baik mereka sekarang. Aurora sangat yakin jika benar Billy mempunyai perasaan yang sama padanya. Bagaimana perlakuan Billy padanya membuat Aurora menginginkan lebih.

Tapi kenapa sikapnya yang hangat, lembut dan manis itu tiba-tiba berubah menjadi cuek, dingin dan kasar? Apa yang terjadi? Apa Aurora membuat kesalahan? Meski tidak ada harapan tapi Aurora tetap menginginkan Billy.

Aurora tidak baik-baik saja. Bagaimana Aurora akan berdamai dengan perasaan baru yang menghampirinya itu?

chap-preview
Free preview
Asep
"Pergi! Sana sama cabe-cabean lo yang bedaknya ngalahin tebel kerak nasi magic-com anak kosan! Gak usah peduliin gue!" Ketus gadis itu sambil melangkahkan kakinya lebih cepat. Pria yang menerima teriakan itu tampak tergesa menyusulnya. "Duh... Lo kenapa deh? Marah-marah mulu perasaan. Cemburu?” Pria itu menaik-turunkan alisnya menggoda gadis yang sedang kesal itu. "Iih si b**o. Ngapain gue cemburu coba!? Mereka mah gak ada apa-apanya dibandingin gue," ujar gadis itu dengan angkuh. Apa yang dikatakannya fakta bukan opini. Wajar sombong karena ada yang bisa disombongkan. Toh menyombongkan milik sendiri, bukan milik orang lain. Cantik, baik, kaya, lucu, ugh... cuma pria jadi-jadian yang tidak tertarik padanya. "Iya deh iya. Ya udah, jangan marah lagi ya wanita paling cantik se kampung durian runtuh kampungnya Upin & Ipin," ujar pria itu dengan suara yang dibuat seimut mungkin membuat gadis itu menghentikan langkahnya. "Asep!! Iih jijikkkk. Sana lo jauh-jauh dari gue," ujarnya sambil memukul-mukul lengan pria yang dipanggilnya ‘Asep’ itu. “Esap Asep Esap Asep. Potong kambing nih buat nama gue,” ujar pria itu tak terima dirinya dipanggil Asep. “Nama lo siapa?” “Joshep Wesphal.” “Nah… kan tuh ada sep sep nya. Gak salah dong gue,” ujar gadis itu lalu memasukan permen miltika rasa strawberry ke dalam mulutnya. Ia memang pecinta permen yang katanya ‘tiga lolipop miltika setara dengan segelas s**u’ itu. "Serah lo deh Aurora Esther yang terhormat. Capek gue ngomong sama lo. Jadi kita udah baikan nih, ya? Lagian lo ini marah-marah kenapa sih?" Tanya Joshep mulai frustasi. Joshep memang selalu mengalah pada Aurora. Ia tak pernah menang melawan gadis itu. Kadang Joshep heran kenapa Aurora bisa berubah seperti sekarang. Saat di bangku SMA dulu Aurora lebih manis, kalem dan lembut. 'Nih anak ngapain natap gue gitu. Kayak ibu kos lagi nagih hutang.' "Lo kan kemaren janji nemenin gue belanja. Gue udah nunggu sampe sore lo gak dateng dateng. Kata Kezie lo pergi sama Xena. Tau gitu gue gak usah nunggu lo," ujar Aurora sambil menghentak-hentakan kakinya karena kesal. Kemarin Aurora seharian menunggu Joshep menjemputnya. Nyatanya pria itu tidak datang-datang. Dihubungipun tidak diangkat. Akhirnya Aurora menghubungi Kezie, sahabat mereka yang mengatakan jika Joshep pergi dengan Xena, salah satu teman kencannya. "Hehe… sorry deh sorry. Gue bener-bener lupa kemaren, Ra. Sekarang aja gimana?" Bujuk Joshep sambil tersenyum. Aurora masih diam menatapnya. Joshep memutar otaknya mencari ide untuk membujuk gadis itu. "Gue bayarin deh. Gratis, semua belanjaan lo. Gimana?" Joshep menghitung dalam hati sambil menahan senyumnya. Detik kemudian kedua mata Aurora berbinar. Dengan cepat ia merangkul lengan Joshep sambil menunjukan senyuman manisnya pada pria itu. Aurora bukan gadis matre. Uang yang dikirimkan orang tuanya lebih dari cukup. Tapi jika ada yang ingin mentraktirnya, kenapa tidak? Uang bulanannya bisa ia simpan untuk keperluan lain. "Tunggu apa lagi? Yuk, Sep." Aurora dengan semangatnya setengah menyeret Joshep hingga pria itu kesulitan mengikuti langkahnya. "Jangan panggil gue Asep, Ara!” *** Joshep dan Aurora mambeli apapun yang menggoda mata mereka ahh... ralat, menggoda mata Aurora. Joshep sudah lelah karena Aurora mengajaknya keliling dari empat jam yang lalu. Aurora dan Joshep mulai berteman saat baru masuk SMA. Sebenarnya ada satu orang lagi, namanya Gaby. Beberapa hari setelah kelulusan, Gaby pindah ke Jepang untuk melanjutkan kuliahnya. Hingga sekarang mereka masih berkomunikasi dengan baik, bahkan Gaby akan ke Indonesia jika ia merindukan sahabatnya meski hanya menghabiskan waktu satu hari bersama. Joshep memang sering mengoda para gadis di kampus, mungkin lebih banyak yang menggoda daripada digoda. Tapi siapa sangka pria blasteran Indonesia-Prancis itu memiliki perasaan yang lebih untuk Aurora, sahabatnya. Aurora yang kekanakan, Aurora yang manja, Aurora yang lembut atau Aurora yang kasar, apapun itu karena gadis itu adalah Aurora. Joshep menyukai semua yang ada pada diri Aurora. Ia tidak tahu apakah perasaan ini benar untuknya, untuk Aurora, untuk persahabatan mereka. Joshep memutuskan mencoba menghilangkan perasaan lebihnya pada Aurora. Ia mengencani beberapa gadis dari SMA hingga kini di kampus tempat kuliah mereka, tapi itu masih belum berhasil untuknya. Perasaan yang ia miliki sangat besar untuk Aurora. Joshep takut untuk merusak persahabatan mereka. Ia tau jika Aurora hanya menganggapnya sahabat, tak lebih. Joshep selalu menekankan pada dirinya tidak ingin hubungan mereka yang kini hangat berubah jadi canggung. Ia tahu jika sebenarnya itu hanya alasan yang aneh. Alasan sebenarnya adalah Joshep takut ditolak dan Aurora menjauhinya jika ia mengatakan perasaan yang sebenarnya. Joshep belum siap untuk itu. "Ara. Gue capek nih, udah ya? Kita udah keliling empat jam loh. Ini juga udah beli banyak. Lo gak laper, Ra?" Tanya Joshep dengan wajah memelasnya. "Yah... padahal baru dikit. Tapi ya udah lah. Yuk cari makan dulu," ujar Aurora sambil berjalan mendahului Joshep yang menatapnya kesal. "Dikit apaan? Tangan gue penuh gini kantong belanjaan, dia cuma bawa satu kantong. Ini semua kan belanjaannya dia. Dikit? Cantik cantik katarak juga tuh mata," gerutu Joshep menatap punggung Aurora yang semakin menjauh. "Cepet iih, Josh!! Katanya tadi laper, ngapain lo bengong di sana?" "Iya iya. Bentar, Nyonya.” Joshep merengut kesal. Ia membenarkan tali sepatunya yang lepas membiarkan Aurora terus melangkah menjauh. Dukk... "Aww," ringis Aurora mundur dua langkah saat tubuhnya menabrak seseorang. "E-eh maaf maaf. Maaf saya gak sengaja," ujar pria yang baru bertabrakan dengan Aurora. Ia menahan pergelangan tangan Aurora agar tidak jatuh. 'oh my god' "Dek?" Panggil pria itu karena Aurora masih saja diam menatapnya. "O-oh, ya?" Aurora merasakan mukanya panas sambil merutuki dirinya yang sempat terpana oleh pria di hadapannya. "Gapapa? Ada yang sakit?" Tanya pria itu pada Aurora. "Gapapa. Kamu gimana?" ‘Kamu?’ Ingin Aurora tertawa dengan keras saat ini yang secara reflek merubah gaya bicaranya. "Gapapa kok. Kalau gitu saya duluan, ya. Sekali lagi maaf," ujar pria itu lalu tersenyum pada Aurora sebelum meninggalkan gadis itu yang masih menatapnya. "Astaga... Apaan tuh tadi? Ganteeng bangeet. Anak kampus mana, ya?" Gumam Aurora masih menatap punggung yang semakin menjauh itu. "Woi! Sehat, Mbak? Ngapain lo senyam senyum begitu? Dih, ngeri gue. Kayaknya otak lo geser gara-gara ditabrak orang tadi.” Aurora hanya menatap malas Joshep yang kini sudah berdiri di hadapannya. “Gak bener nih. Gue harus cari tuh orang buat minta tanggung jawab," ujar Joshep yang melihat kejadian tadi dari jauh. "Iih cerewet banget sih lo jadi cowok, Josh," ujar Aurora lalu masuk ke dalam restoran Jepang meninggalkan Joshep yang tertawa kecil karena lagi-lagi ia menggoda gadis itu. *** Di tempat yang berbeda dua orang tengah menyantap makanan mereka dengan hikmat. Pertemuan dengan klien asing yang akan bekeja sama dengan perusahan cukup menguras tenaga dan pikiran keduanya. "Menurut kamu gimana tadi?" Tanya wanita cantik yang menggunakan setelan kantoran itu setelah selesai dengan makanannya. "Aku yakin mereka bakalan setuju. Kita harus manfaatin situasi ini sebaik mungkin, Jess," ujar pria itu pada wanita yang ia panggil ‘Jess’ "Ya jelas lah mereka setuju. Pemimpinnya menyukai anda Tn. Wesphal." Wanita itu tertawa mengejek pria yang dipanggilnya Tn. Wesphal. "Jangan mengada-ada Jessica Wilson. Umurnya aja mungkin hampir sama dengan bang Edy." "Jaman sekarang pebedaan umur gak jadi masalah lagi, Bill." Jessica mengedipkan sebelah matanya pada pria itu. Lebih tepatnya Billy Weshpal. "Jadi kamu mau kalau aku jodohin sama Pak Joko?" Tanya Billy dengan seringainya. Pak Joko adalah tukang kebun di rumahnya. Umur pria itu sekitar 60 tahun. "Ya gak gitu juga kali. Lagian aku kan udah punya ayang," ujar Jessica membuat Billy tertawa kecil. “Trus ini selanjutnya ngapain?” Tanya Jessica kembali pada pekerjaan mereka. "Mungkin kita harus mengatur jadwal untuk rapat beberapa kali lagi untuk membahas proyek ini. Kamu tau? Masalahnya wanita tua itu meminta pertemuan selanjutnya hanya kami berdua. Ah... Dasar nenek-nenek gak tau diri," keluh Billy. "Makan tuh pesona. Makanya cari pendamping, biar mereka gak ngejar-ngejar kamu terus. Udah tua juga, mau kayak nenek tua itu. Kurang belaian, hah?" Ejek Jessica pada Billy. Teman sekaligus atasannya itu memang belum menemukan pendampingnya. Billy terlalu sibuk bekerja hingga melupakan jika pendamping juga penting. Apalagi di umurnya yang sudah cukup untuk menikah. “Aku masih atasan kamu. Gak sopan,” gerutu Billy. “Ya, baiklah. Tn. Weshpal.” "Ngapain juga pusing-pusing masalah jodoh. Ntar juga dateng sendiri. Mungkin jalanan lagi macet makanya lama," ujar Billy sambil tertawa. "Gimana mau dateng kalau kamu gak usaha. Percuma ganteng otak beku kayaknya," gumam Jessica yang masih didengar Billy “Aku denger ya!” *** "Aahh kenyanggg" Aurora mengabaikan tatapan beberapa orang padanya. Untung cantik. "Astaga, Ra. Umur lo berapa, sih? Kayak anak kecil deh," ujar Joshep sambil menggelang kepala melihat kalakuan Aurora. Bahkan tak jarang Joshep memanggilnya ‘bule sakit’ Wajar saja Aurora mempunyai wajah cantik. Ayahnya berasal dari brazil sedangkan ibunya keturunan indonesia-korea. Jika di deskripsikan Aurora memiliki kulit putih, tinggi, rambut hitam, iris mata bewarna abu-abu gelap, dan pipi kemerahan tanpa make up sekalipun. "Apa sih?" "Lo belepotan, sini." Joshep lalu membersihkan noda yang tinggal di ujung bibir Aurora yang cengengesan menerima perlakuan itu. "Udah," ujar pria itu tersenyum dan beranjak kembali ke tempat duduknya. "Makasih ya, Asep." Aurora tersenyum. Ingin Joshep marah karena lagi-lagi Aurora memanggilnya Asep. Tapi senyum itu, senyum itu lagi lagi membius Joshep hingga ia tidak bisa melakukan apa-apa. "Besok lo ada kelas gak, Ra?" Tanya Joshep berusaha terlihat biasa saja di depan Aurora. "Hm pagi, besok cuma satu." "Ya udah. Besok lo gue jemput." "Ok, sip deh. Jangan telat ya lo,” ujar Aurora kembali tersenyum. ‘Berhenti senyum Ara!’ "Eh... tapi ntar gimana kalau cabe-cabean lo ngeliat kita bareng? Ntar gue dikarungin lagi, trus dibuang di sungai sss," ujar Aurora dangan ekspresi dibuat setakut mungkin. "Lo tenang aja. Mereka kan udah tau kita deket. Lagi pula kalau terjadi sesuatu, hamba akan menyelamatkanmu princess," ujar Joshep dengan kedipan matanya. "Gak usah deh lo sok sok manis ke gue. Gak mempan kali," ujar Aurora dengan wajah malasnya membuat Joshep tertawa. "Dah yuk, pulang. Capek gue. Mau mandi, terus bobok." "Lo anterin gue pulang, kan? Gue gak bawa mobil nih," ujar Aurora sambil mengerucutkan bibirnya "Iyaa." Joshep mengantar Aurora dengan mobil Ferrari putih miliknya. Saat sampai di depan rumah megah itu, Aurora terlihat kerepotan sendiri membawa belanjaannya. "Sini, Ra. Gue bawain ke dalam," tawar Joshep yang dibalas sebuah gelengan oleh Aurora. "Gapapa, gue bisa sendiri. Lo pasti capek. Langsung pulang, jangan keluyuran lagi. Hati-hati di jalan, Josh." Aurora lalu mencubit kedua pipi Joshep sebelum keluar dari mobil. Joshep yang mendapat cubitan itu hanya meringis pelan, namun tersenyum setelahnya. 'Gue gak peduli status kita Aurora, kayak gini aja… udah cukup.'

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

My Secret Little Wife

read
100.3K
bc

Single Man vs Single Mom

read
97.1K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
207.4K
bc

Tentang Cinta Kita

read
191.6K
bc

Siap, Mas Bos!

read
14.2K
bc

Iblis penjajah Wanita

read
3.8K
bc

Suami Cacatku Ternyata Sultan

read
15.8K

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook