Bukan hal mudah menciptakan sebuah lagu. Menemukan nada seirama dan lirik yang pas mengiringinya. Karena keberhasilan seorang penyanyi. Baik solo atau band ditentukan oleh kualitas dari lagu yang diciptakan. Sebelumnya, Lee Min-Seo telah membocorkan kepada wartawan kalau sedang menulis sebuah lagu cinta. Sampai sekarang pun hal itu masih terasa mustahil. Kertasnya putih bersih tanpa adanya sedikit atau banyaknya coretan seperti yang biasa dilakukan. Untuk sekarang pikirannya tidak dapat berfokus menciptakan nada atau lirik yang indah. Semua karena perasaan aneh yang entah sejak kapan merasuki hati terdalamnya. Mengganggu waktu-waktu tenang dengan sekilas pemikiran aneh.
Contohnya saja, mencoba menghubungi Re-Na lebih dari sekali. Hanya sekadar menyapa atau mengarang hal tidak masuk akal lainnya. Agar bisa berbicara di tengah malam seperti sekarang. Karena jadwalnya sangat padat. Bukan hal tidak mungkin kalau wanita muda itu masih terjaga.
Mungkin saking gugupnya. Tanpa sadar jemarinya menyentuh tombol hijau hingga panggilan tersambung. Min-Seo sangat berdebar-debar menunggu Re-Na mengangkat telepon. Setelah sepuluh detik berlalu. Hanya terdengar suara operator. Untunglah. Ia segera memutuskan sambungan telepon.
“Bodoh,” gerutunya pelan.
Harusnya Min-Seo bisa menahan hasrat itu. Bagaimana sangat merindukan suara merdu wanita yang mengganggu keseharian dan segala macam pemikiran aneh tentangnya. Khas tawa dan indah senyumnya. Kadang Min-Seo tidak mengerti apa yang membuatnya menjadi aneh seperti ini. Sekarang ia mempunyai alasan untuk melalaikan tugasnya menciptakan lagu. Tinggal satu lagu utama yang menjadi khas dari album baru mereka. Entah mengapa sangat sulit memikirkan satu bait tangga nada.
Ruangan ini sudah tidak berbentuk seperti studio rekaman. Bekas kertas tersebar dimana-mana. Beberapa kaleng minuman soda telah kosong berserakan di sudut sofa berwarna biru. Akan lebih pas jika dikatakan kapal pecah daripada tempat menemukan inspirasi. Apalagi tanpa adanya jendela menjadikan tempat ini begitu pengap.
Selain itu terdapat komputer dan seperangkat alat-alat yang membantu selama rekaman lagu berada di hadapannya. Persis di sebelahnya adalah studio rekaman pribadi milik perusahaan GH Entertainment. Karena menjadi satu-satunya grup band di sini. Ia diperbolehkan menggunakan ruangan sesering mungkin. Min-Seo membenci suasana yang begitu sepi dari apartemen miliknya. Dalam seminggu hanya sekali atau dua kali menginap di tempat tinggalnya. Dan lebih banyak menghabiskan waktu di sini. Kecuali sewaktu mereka harus comeback album baru. Min-Seo tinggal di sana hanya sebagai tempat untuk berisitirahat. Ia bahkan lupa kapan terakhir kalinya membeli keperluan isehari-hari.
Matanya menatap malas. Kemudian menaruh ponsel layar sentuh pada meja komputer. Mematikan seluruh perangkat yang sehari-harinya membantu menciptakan nada dan lirik sempurna. Setidaknya hari ini Min-Seo ingin tidur lebih awal. Selain karena perasaan aneh yang mengganggu sedari tadi.
Padahal dulu ia hanya memerlukan waktu dua minggu untuk menciptakan musik dan menambahkan lirik dalam waktu seminggu. Sekarang deadline sudah di depan mata. Harus segera menyerahkan contoh dari lagu andalan yang menjadi lagu utama album baru band Sketch.
Setelah komputer mati. Ia mulai mengambil selimut di dalam lemari di sebelah sofa. Setidaknya cukup tebal untuk memberi kehangatan. Entah cuma perasaannya. Atau penghangat ruangan tidak berfungsi dengan baik? Min-Seo membaringkan tubuh di sofa yang ukurannya kekecilan. Namun cukup memberikan kenyamanan. Pukul satu lebih lima belas menit pagi baru terdengar dengkuran kecil. Sepertinya besok ada banyak hal-hal yang menguras tenaganya. Selain terlalu sibuk menepis perasaan yang telah muncul di dalam hati.
.+.+.+.+.+.
Pagi hari, Min-Seo sepertinya mendapat mimpi indah. Karena baru terbangun pukul sepuluh pagi. Cukup siang untuk bermalas-malasan di hari kerja. Walaupun hari ini adalah hari jumat. Kalau biasanya orang-orang dengan senang hati bekerja satu hari sebelum weekend. Berbeda halnya jika aktris atau public figure lain. Jika memang diijinkan oleh perusahaan. Barulah mereka mendapat libur satu atau dua hari. Apalagi terikat kontrak tahunan yang telah tertera berapa banyak mendapatkan hari libur dalam setahun.
Dengan terburu-buru Min-Seo bangkit. Merasakan sedikit pening karena tiba-tiba bangun dan membuat bumi seolah goyah. Atau mungkin hatinya? Entahlah. Kini, ia bersandar pada tembok sebelum melirik ponsel yang terus berdering nyaring. Min-Seo tahu siapa yang tengah menerornya sekarang. Tadi, ia sempat terbangun sebentar. Namun sayangnya efek mengantuk yang teramat sangat mengalahkan berisiknya suara dari ponsel. Beberapa detik berlalu. Hingga tidak terdengar suara apa pun lagi. Sedangkan Min-Seo bergegas untuk mandi dan bertemu orang yang selama ini sangat dipercaya olehnya.
Tidak perlu menunggu waktu lama. Karena jarak kafe tempatnya bertemu hanya perlu lima belas menit menggunakan mobil. Min-Seo termasuk personil dari jejeran band papan atas. Selama lima tahun berkarir bisa membuatnya memiliki apartemen mewah di daerah elit, Gangnam. Maka bukan hal mengherankan ia memiliki Porsche keluaran terbaru. Yang membuat orang-orang memandang kagum ketika memarkirkan mobilnya.
Sewaktu membuka pintu. Hampir semua orang menoleh, mengetahui personil Sketch karena ketenarannya. Meskipun kejadian dikejar-kejar oleh penggemar tidak termasuk di dalamnya. Berbeda dengan idol girlband atau boyband di sini. Harus memerlukan perlindungan khusus. Ia pernah mendengar cerita dari salah satu temannya. Kalau sewaktu berbelanja di minimarket pada malam hari tiba-tiba diikuti oleh salah satu penguntit. Mendengar itu saja sudah membuatnya bergidik ngeri.
Kafenya terletak di dekat jalan utama Gangnam. Selain makanan khas eropa. Hal terkenal dari kafe ini adalah makanan penutupnya yang menggugah selera. Baru membuka pintu saja sudah tercium aroma manis kue yang baru keluar dari oven. Suara musik klasik terdengar dari speaker dan sebagian meja telah dipenuhi oleh tamu-tamu. Sweet cukup terkenal di antara penikmat makanan manis. Selain sofa empuk dan unik sebagai tempat duduk. Ruangannya luas dan memiliki banyak hiasan wallpaper pada dinding. Bukan hanya satu negara. Melainkan macam-macam tempat wisata pada setiap negara. Akses internet yang cepat. Dan juga makanan manis yang menjadi andalan.
“Sudah lama menunggu?”
Sosok yang ditanyakan menggeleng pelan lalu bangkit berdiri dan menepuk pundak sahabatnya sejak debut. Ya, sosok ini merupakan personil band Sketch juga. Yaitu anggota paling populer di antara para wanita. Karena termasuk ramah dan menghargai setiap wanita. Layaknya seorang pria tanpa cacat sedikit pun. Ia adalah drummer band Sketch.
Matanya sipit dengan lesung pipit pada kedua pipinya. Kulitnya kecoklatan, bibir atas lebih tipis dari bibir bawahnya dan memiliki tinggi setara Min-Seo. Yang membedakan keduanya adalah citra di masyarakat. Jika Min-Seo terkenal sebagai seorang playboy maka Park Jae-Han adalah kebalikannya.
“Aku baru lima menit duduk di sini. Kenapa kau tiba-tiba mengajak bertemu? Apakah sudah menyelesaikan lagu utama dari album baru kita?”
“Hei, biarkan aku duduk dan bernapas sebentar. Tadi buru-buru kesini. Kukira kau datang pukul delapan pagi seperti yang kujanjikan kemarin.”
Min-Seo menarik kursi sedangkan temannya menyilangkan tangan dan menatap seakan meremehkan.
“Aku tidak akan tertipu lagi. Asal kau tahu saja, aku paham sekali kebiasaanmu yang suka terlambat. Jadi, aku memutuskan datang dua jam dari waktu yang dijanjikan.”
Min-Seo tertawa kecil. Ternyata orang-orang sekitarnya sudah paham betul sifatnya. Bahkan sewaktu syuting pun termasuk personil yang selalu datang terakhir. Untunglah manajemen tidak memecatnya. Apalagi mengganti posisinya sebagai leader. Yang seharusnya lebih baik dari segala aspek dan ketepatan waktu.
“Hei, aku tidak menipu siapa pun. Kau kira aku bermalas-malasan? Semalaman aku mencoba menulis lirik lagu.”
Raut wajahnya berubah drastis. Menjadi penuh harap dan senang. Dalam lima tahun debut yang selalu menciptakan lagu adalah Min-Seo. Karena posisinya adalah vokalis sekaligus leader. Jadi, ia diberi tanggung jawab besar oleh rekan satu band.
Bisa dibilang lagu-lagu Min-Seo selalu merajai tangga lagu terpopuler di Korea Selatan. Entah lagu ballad atau jenis pop rock menjadi warna musik dari band yang membesarkan namanya. Dan, setiap kali manggung. Akan hadir lebih dari ribuan orang mengabadikan momen itu. Bagaimana suara beratnya mampu menghipnotis siapa saja yang mendengarnya. Kekuatannya bukan hanya pada wajah melainkan suara khas yang disukai banyak orang.
“Kau menulis lagu baru? Bagaimana perkembangannya?”
“Aku belum menulis satu lirik atau nada pun. Hanya saja semua bisa kubayangkan di pikiranku.”
Tiba-tiba pelayan menginterupsi pembicaraan mereka. Menghidangkan satu porsi puding cokelat beserta fla di atasnya. Sedangkan satu lagi adalah es krim vanila ditambah beberapa toping seperti bola-bola coklat dan serpihan kue kering. Min-Seo buru-buru mengambil pudingnya. Dan tersenyum setelah mencoba rasanya.
“Kapan memesan? Bahkan bisa mengetahui kesukaanku di sini.”
“Tadi aku langsung memesan sewaktu sampai di sini. Kau itu mudah ditebak. Dan, alasan mengapa belum juga menyelesaikan lagu utama dari album kita.”
Min-Seo terdiam. Setahunya, ia tidak pernah menceritakan perihal Re-Na terhadap siapa pun. Karena termasuk orang yang berhati-hati menaruh kepercayaan pada seseorang. Itulah mengapa dalam waktu lama belum memiliki kekasih. Baginya tidak ada yang bisa dipercayai. Termasuk, perasaannya sendiri.
Pernah terbesit di dalam pikirannya untuk menjalin hubungan. Mencoba mengesampingkan perasaan yang belum bisa dilupakan untuk wanitanya dulu. Setelah berulang kali mencoba. Hal itu tidak kunjung menjadi nyata. Dan hal terburuknya adalah lebih sering dicap mempermainkan hati wanita. Padahal Min-Seo hanya belum bisa menolak setiap ajakan untuk makan malam. Hingga disalahartikan oleh wanita yang pergi dengannya.
Tapi, hal ini berbeda dari kejadian-kejadian lalu. Jauh di lubuk hatinya memikirkan wanita itu ribuan kali di luar kebiasaannya. Menyisakan sedikit rasa percaya pada apa yang dirasakan. Meski pun awalnya ragu. Semalaman ia berpikir. Bagaimana mungkin perasaan ini bisa muncul begitu tiba-tiba. Sampai akhirnya mengetahui alasan di balik kebingungan beberapa hari terakhir. Setelah berulang kali berdecak, merasa kesal, dan frustasi pada perasaan yang begitu berat. Seakan-akan ada sebongkah batu di rongga d**a, tiap kali melihat wanita itu di televisi.
“Menurutmu karena apa?” Tiba-tiba ada rasa penasaran. Mungkinkah rekan seperjuangannya tahu yang sebenarnya terjadi?
“Pasti karena seorang wanita. Seorang pria bisa melupakan segalanya. Bahkan, kehilangan konsentrasi dalam pekerjaan jika menaruh perasaan terhadap seseorang. Dan, setahuku kau bukan orang yang mudah dikacaukan. Siapa wanita itu, huh?”
Min-Seo mendorong piring kosong. Kemudian, memandang jauh ke depan. Ia ingin menceritakan tentang wanita yang tengah disukainya. Dan mampu membuyarkan konsentrasi serta menghilangkan segala niat untuk makan seporsi penuh ramyun dengan tambahan telur dan nasi. Kali ini ia baru merasakan apa yang dikatakan oleh teman-temannya.
Akan ada masanya sewaktu Min-Seo mendapat perasaan tidak enak hanya karena memikirkan wanita pujaannya. Membuang waktu menatap layar ponsel. Entah untuk menghubungi atau mengingatkan makan. Sekarang, ia mengetahui bagaimana rasanya. Karena terlalu banyak pengunjung di sini dan sangat berbahaya jika ada yang mendengar. Ia memutuskan menulis pada secarik tisu di meja. Mengambil pena dan menggoreskan nama wanita itu disana.
Kim Re-Na.
Sewaktu menyodorkan kepada temannya. Yang tertangkap oleh raut wajahnya adalah keterkejutan. Karena aktris itu baru merintis karir dan bisa dibilang masih baru.
“Kau serius?”
“Aku tidak pernah merasakan hal aneh ini sebelumnya. Kurasa tidak ada waktu bercanda mengenai perasaan,” jawabnya disertai senyum tipis.
Mungkin Min-Seo belum memahami betul bagaimana maksud dari perkataan temannya. Semua bukan lagi tentang perasaan yang dirasakan. Melainkan sebuah skandal baru yang mungkin akan membuat karir Re-Na terancam. Juga, bagaimana jika penggemar mereka tidak bisa menerima semuanya. Tapi, permasalahan terbesar bagi Min-Seo adalah mendekati wanita yang telah memiliki seseorang di hatinya.