Akhir bulan Desember menjadi hari berkesan untuk Kim Re-Na. Dalam waktu dua minggu rating drama yang diperankan naik beberapa persen. Sebuah pesta syukuran sudah diadakan kemarin malam di perusahaan. Hari ini ia diperbolehkan libur. Tujuannya adalah beristirahat sebelum besok mendapat beberapa jadwal syuting iklan baru.
Wanita itu masih tertidur lelap pada kamar tidur penuh warna merah muda. Banyak boneka dipajang pada meja kayu. Lampu tidur berwarna senada dengan dinding dan benda lainnya di sini. Lemari berisi penuh oleh pakaian yang banyaknya tidak tanggung-tanggung. Juga sebuah rak sepatu dipenuhi sepatu kets, heels berbagai jenis dan warna di dekat pintu. Bisa dibilang Re-Na adalah sosok paling girly yang dikenal sangat menyukai benda atau hal-hal lucu berwarna merah muda.
Ia terdengar mengigau pelan. Lalu, perlahan membuka matanya. Menatap ke arah jam dinding yang menunjukkan pukul delapan pagi. Tidak biasanya bangun terlambat. Biasanya Re-Na cukup rajin saat bekerja. Entah untuk syuting atau pemotretan. Sebelum jam lima pagi sudah bersiap-siap menunggu jemputan dari manajernya. Berhubung sekarang diberikan waktu untuk libur. Jadi, Re-Na akan memanfaatkannya dengan baik.
Setelah sepenuhnya tersadar. Ia beranjak turun dari tempat tidur dan mengenakan sandal kelinci lucu berwarna merah muda. Bisa dibilang sedikit kekanakan meski pun usianya sudah dewasa –karena masih menyukai hal semacam ini.
“Hausnya..” gumam Re-Na kemudian berjalan menuju dapur. Membuka kulkas dan mengambil sebotol jus jeruk. Menuangkan separuh gelas kemudian terburu-buru meminumnya.
Ting Tong
Re-Na jarang mendapatkan tamu di hari libur kerja. Dan, manajernya tadi memberitahu kalau pagi ini tidak datang. Jadi, siapa yang pagi-pagi begini mengganggunya? Dengan mata setengah terpejam Re-Na menaruh botol jus jeruk di meja makan dan berjalan menuju pintu. Ia berharap kalau itu bukanlah beberapa penguntit yang diberitahukan oleh manajernya.
“Selamat pagi, Re-Na.”
Tangannya hendak menutup pintu namun buru-buru pria itu menerobos masuk apartemen dan melepaskan sepatunya. Mengganti dengan sandal tamu. Re-Na menatap kesal. Namun membiarkannya duduk di sofa. Ada satu hal yang terlupakan. Pria ini tahu dari mana tempat tinggalnya? Jika dibilang dekat, hal itu mustahil. Pertemuan mereka terakhir adalah dua minggu lalu di lokasi syuting.
“Dari mana tahu alamatku?”
“Itu tidaklah sulit. Hyung memberikannya secara cuma-cuma sewaktu aku menanyakannya,” jawab Min-Seo dengan tampang polos. Tangannya mengambil remote televisi lalu menyalakannya. Benar-benar bersikap seakan berada di rumah sendiri.
Hyung katanya? Re-Na bingung dan merasa kesal sekarang. Bagaimana bisa dekat dengan manajernya? Padahal dulu disuruh menjauhinya. Karena Min-Seo selalu disebut playboy keren sepanjang masa. Siapa saja mungkin berpikir menjadikannya kekasih. Pengecualian bagi Re-Na. Setidaknya seburuk apa pun selera dalam memilih pasangan. Playboy tidak termasuk kriteria di dalamnya.
Re-Na malas meladeni. Lalu, beranjak menuju dapur. Bukannya memiliki pikiran membuatkan Min-Seo sarapan. Ia tidak terlalu baik. Apalagi pada sosok yang kurang dekat. Dua minggu lalu Min-Seo memang membantunya mengarang alasan kalau Re-Na tiba-tiba sakit perut hingga bergegas pergi setelah sutradara menyatakan adegan mereka cukup baik. Padahal hanya percobaan pertama tanpa mengulangnya lagi. Tapi, bukan berarti Min-Seo dapat bertindak seenaknya.
“Tunggu.”
Telapak tangannya menahan lengan Re-Na. Kemudian, menatap matanya lekat-lekat. Re-Na mencoba membaca tindakannya sekarang. Apa yang sesungguhnya membuat Min-Seo pagi-pagi datang ke tempat ini? Jika menargetkan Re-Na sebagai wanita lain yang muncul di dalam gosip terbarunya. Ia benar-benar tidak segan untuk menunjukkan penolakan.
“Ada apa lagi?”
Tanya Re-Na ketus. Ia sebenarnya hanya ingin beristirahat hari ini. Tanpa adanya gangguan dari banyak pihak. Termasuk kehadirannya di sini sekarang. Dan sejujurnya keberatan kalau Min-Seo lama bertamu.
“Selamat atas keberhasilan dramamu,” ucapnya menyerahkan sebuket bunga lavender cantik. Pasti Min-Seo bertanya pada manajernya. Karena tidak semua orang mengetahui kesukaan Re-Na terhadap bunga lavender. Selain itu, ia tidak menyadari kalau tadi Min-Seo membawa sebuah tas kanvas berukuran cukup besar.
Baginya bunga lavender memiliki arti begitu dalam. Selain warna ungu yang cantik. Bunga ini begitu sederhana namun dapat membuat siapa pun terpukau. Harumnya juga khas. Dan, hal terpenting adalah almarhum ibunya menyukai bunga ini. Sama halnya dengan Re-Na. Ia jadi merasa bersalah karena berpikir Min-Seo adalah orang menyebalkan yang mengganggu di pagi hari.
Tanpa sadar ia menangis sesenggukan di hadapan Min-Seo. Merasakan benar-benar rindu pada orang yang telah melahirkannya ke dunia. Re-Na selama ini memang berpura-pura tegar. Bagaimana menerima kepergian Ibu yang belum pernah dilihatnya. Ayah Re-Na berkata kalau ibunya menderita penyakit parah sewaktu usianya dua tahun. Itulah alasan mengapa sama sekali tidak mengingat apa pun mengenai ibunya. Selain foto-foto yang masih disimpan rapi di dalam rak lemari kamar.
Padahal ayahnya bisa saja menikah lagi. Tapi, setiap kali menanyakan hal tersebut jawaban sama selalu didapatkannya. Bagaimana sosok wanita yang pernah hadir di hati ayahnya tidak tergantikan. Sejak hari itu, Re-Na enggan menanyakan perihal ibunya yang pasti menimbulkan sendu di wajah tampan ayahnya.
“Kenapa menangis?”
“Maaf, aku kembali teringat oleh almarhum ibuku.”
“Jangan bersedih lagi. Kurasa ia akan keberatan melihat anaknya bermurung hati seperti sekarang. Maka dari itu, kau harus tersenyum seperti biasanya.”
Re-Na tidak tahu datang dari mana pemikiran yang dimiliki oleh Min-Seo. Namun perasaannya menjadi lebih lega sekarang. Tidak ada lagi perasaan kacau dirasakan tadi pagi. Sebelumnya Re-Na memimpikan sosok ibunya. Padahal selama ini belum pernah sekali pun bermimpi. Di dalam mimpi, Re-Na memeluknya sangat erat. Pada waktu itu, ia berharap ibunya tidak pergi meninggalkan lagi. Sayangnya semua hanya bunga tidur yang semakin diingat membuatnya sedih.
“Terima kasih, Min-Seo. Tunggu sebentar, aku akan membuatkanmu teh hangat.”
“Baiklah.”
Sembari menunggu Re-Na yang tengah sibuk di dapur. Min-Seo melihat-lihat ke sekitar. Apartemen miliknya tidak terlalu besar. Tetapi cukup untuk ukuran seorang wanita lajang yang tinggal sendiri. Balkonnya luas dengan beberapa tanaman pada pot ukuran sedang. Seperti kaktus dan bonsai.
Di ruang tengah hanya terdapat perabot seperti televisi, tiga buah sofa, dan meja. Selain itu ada beberapa penghargaan ditaruh di atas meja. Sepengetahuan Min-Seo penghargaan ini diberikan tidak lama setelah Re-Na debut sebagai aktris pendatang baru. Sedangkan di dapur terdapat perabotan kitchen set. Di sebelah meja makan terdapat lemari makan berisi piring, sendok, sumpit, dan hal lainnya. Setidaknya menurut Min-Seo apartemen ini tidak terlalu buruk.
Re-Na masih terlihat sibuk menyendokkan teh citrus ke dalam cangkir. Terdengar suara air mendidih. Lalu, ia menuangkan sebagian dan mengaduknya sampai larut. Kemudian, mengambil air di dalam kulkas. Dan, kembali menuangkan sedikit untuk mengurangi panas.
“Maaf menunggu lama,” ucapnya membawa nampan beserta dua cangkir teh citrus dan beberapa kue almond kering.
“Ah, tidak apa-apa.”
Mereka berdua masih tersenyum canggung. Bahkan sewaktu Re-Na sudah meminum tehnya. Min-Seo hanya mengawasi gerak-geriknya. Bagaimana wanita cantik itu begitu menawan jika sedang malu. Awalnya, ia ingin menggoda namun enggan dilakukannya.
Meski pun rasanya mereka baru saling mengenal. Setidaknya Min-Seo mendapatkan tempat yang cukup berarti di hati Re-Na. Ia telah menjadi salah satu teman terdekatnya sekarang. Selain karena memberikan sebuket bunga lavender sebagai hadiah. Pria itu mengetahui kalau Re-Na sangat menyukai bunga daripada hadiah lainnya. Itulah mengapa walaupun tidak memiliki taman, sengaja menaruh beberapa pot tanaman di apartemen. Menurut cerita ayahnya, almarhum ibunya dulu suka melakukannya.
“Kau sudah mendingan sekarang?” tiba-tiba satu kalimat tanya itu diucapkan Min-Seo setelah menghabiskan tehnya.
Re-Na mencoba memahami perkataan dari orang yang baru saja mendapat tempat di sudut hatinya sebagai teman yang baik. Kalau bisa menceritakan semua keluh kesahnya. Pasti sudah dilakukannya dari tadi. Selain permasalahan menjadi aktris dan segala resiko di dalamnya. Ia memiliki sedikit perasaan bersalah pada ayahnya. Kenyataan kalau anak perempuannya mengikuti jejak almarhum istrinya. Hal ini membuat kerinduan yang tak terbendung. Itulah mengapa ayah Re-Na tidak pernah menonton setiap drama yang diperankan olehnya.
Atau pun, setiap kali Re-Na muncul pada layar televisi entah untuk acara reality show, atau lainnya. Maka ayahnya akan mengganti siaran televisi. Hal ini juga berlaku sewaktu melihat putrinya di salah satu iklan kosmetik. Ia sosok ayah yang baik meski pun sebenarnya tidak mengijinkan Re-Na menjalani kehidupan aktris seperti istrinya dulu. Tapi, tetap membiarkan karena putri satu-satunya bersikeras mengikuti audisi.
“Aku baik-baik saja. Meski pun terkadang masih memikirkan Eomma,” jawabnya disertai senyuman tipis. “Kau tahu, bagian paling menyedihkan di dalam hidupku?”
Min-Seo menggeleng lemah. “Tidak ada hal paling menyedihkan. Yang ada hanyalah sebuah perasaan bersalah mengendap di hati kita.”
“Aku tidak sependapat denganmu, Min-Seo.”
Ia menatap kedua mata Re-Na lekat-lekat kemudian tersenyum tipis. “Kau boleh tidak sependapat atau memukulku setelah pendapat yang menurutmu tidak masuk akal. Namun, bagiku pribadi. Tidak ada hal paling menyedihkan di dalam hidup. Kau hanya perlu merelakan apa yang telah terjadi. Memandangnya dari sudut berbeda. Bukannya mengendapkan perasaan bersalah di dalam hati.”
Kalau dipikir-pikir perkataan Min-Seo ada benarnya. Bagaimana perasaan bersalah itu mengendap dan menganggap kalau yang terjadi di waktu lalu bisa berubah seandainya kita melakukan tindakan lain. Contohnya saja, ibu dari Re-Na. Ia sangat menyesal karena tidak dapat mengingat dengan baik sosok wanita yang membuatnya hadir ke dunia. Memberikan perlindungan selama sembilan bulan di dalam perutnya. Merawatnya penuh kasih sayang. Re-Na juga menyayangkan kenapa penyakitnya baru diketahui setelah benar-benar parah. Rasanya ingin menyalahkan siapa saja. Termasuk dirinya sendiri.
“Aku hanya belum bisa merelakannya.”
Min-Seo bangkit berdiri. Duduk persis di sebelah Re-Na. Tangannya menyentuh telapak tangan wanita muda itu. Mulanya, ia menolak. Sebelum membiarkan kontak fisik pertama di kehidupan nyata bukanlah syuting di balik layar.
“Kau hanya perlu membiarkan waktu berjalan. Dan, harus melakukannya. Hal itu yang harus dilakukan terhadap Chan-Hoo.”
Re-Na tidak menjawab lalu menunduk lesu. Dan membiarkan lelehan air mata menuruni wajahnya. Kemudian berakhir pada telapak tangan mereka yang bertautan. Terdengar isakan kecil. Lalu, tanpa disengaja membiarkan kepalanya bersandar pada bahu Min-Seo. Pria itu tidak melakukan apa pun selain menatap helaian rambut Re-Na yang berantakan. Dan, mencoba menenangkan hati yang entah mengapa terasa sesak melihatnya menangis.