Seperti biasa. Hari apa pun yang dilalui Re-Na bermula dari pagi hari. Seperti halnya syuting untuk iklan kosmetik L’arch terbaru. Karena ia terpilih menjadi brand ambassador. Memang sangat beruntung mengingat baru satu tahun lebih debut sebagai aktris. Bisa dibilang semua adalah keberuntungan. Setidaknya memerlukan usaha yang tak terhingga untuk mencapai posisi sekarang. Para kru masih terlihat sibuk. Sutradara melihat-lihat ke sekitar seperti sedang mencari seseorang. Kemudian, asisten bertubuh gempal menghampiri.
Jalanan masih sepi. Hanya terlihat beberapa mobil pribadi melintas di kejauhan. Karena setiap kali syuting. Sebagian jalanan dikosongkan, bahkan hanya beberapa kendaraan boleh lewat untuk keperluan syuting. Jika di beberapa drama hanya ada satu atau dua mobil lewat. Itu dikarenakan memang dari pihak produksi mengosongkan tempat tersebut. Untuk menghindari dari kekeliruan di luar skenario.
Terlihat dari tim pencahayaan telah siap pada tempatnya. Begitu juga tim yang mengurus masalah sound sejak tadi sudah berjaga. Re-Na sempat kebingungan mengapa syuting belum juga dimulai. Apalagi cuaca terasa semakin dingin. Ia bisa mati kedinginan!
Seharusnya syuting sekarang dimulai, nantinya Re-Na akan berjalan menuju etalase toko dan melihat-lihat pakaian dari balik kaca. Kemudian partner yang sampai sekarang belum muncul itu datang dan memberikan sekotak make up lengkap dan tersenyum bahagia. Kemudian, mereka berpelukan beberapa detik. Hanya itu adegan yang perlu dilakukan. Tapi, Re-Na tidak menyangka harus menunggu selama ini. Jujur, ia ingin menyerah. Karena pagi yang benar-benar dingin.
Pertengahan bulan Desember menjadi hari yang paling dingin di antara lainnya. Suhu udara bisa mencapai minus lima seperti sekarang. Ia mengigil kedinginan dibalik coat yang digunakan. Semalam hujan salju cukup membuat hari-hari terhambat. Re-Na menunda syuting untuk episode baru dari drama yang diperankan. Ternyata gosip mengenai Re-Na mereda dengan sendirinya hanya dalam beberapa hari. Dua bulan telah berlalu. Semenjak pertemuan terakhir itu. Chan-Hoo tidak berusaha menghubungi. Atau, ada tanda-tanda darinya berniat menemui Re-Na. Syukurlah, karena aktris muda itu benar-benar bisa tenang dan ingin fokus pada karir yang dimiliki.
Lokasi syuting berada di tengah kemegahan dari kota Gangnam. Gedung-gedung pencakar langit yang bentuknya begitu indah. Cahaya-cahaya terpantul dari bangunan megah sungguh membuat Re-Na terkagum. Selain, beberapa toko yang belum buka di pagi hari seperti sekarang. Kecuali K-Mart buka dua puluh empat jam. Di sisi jalan terdapat salju-salju putih menumpuk. Ini sudah kesekian kalinya Re-Na mengagumi kumpulan salju atau pun saat hujan salju turun. Rasanya sangat nyaman melihat keindahan dari butiran yang jatuh ke bumi. Meskipun terasa seperti dihujani ribuan es batu saking dinginnya.
“Re-Na, minumlah.”
“Ah, terima kasih”
Jun Ha mengambil tempat duduk di sebelah Re-Na. Sembari menyeruput secangkir cokelat hangat yang baginya sendiri terasa sangat enak. Apa mungkin karena kedinginan? Entah. Setidaknya cukup membantu mengurangi hawa dingin yang terasa di sekitar. Harusnya syuting sudah mulai sejak tadi. Sepertinya ada yang salah.
“Kau tidak mendengar beritanya?” celetuk Jun-Ha lagi.
Re-Na terdiam. Mencoba berpikir kalau ada yang salah. Seingat Re-Na, syuting sudah dipersiapkan sejak jam lima pagi. Dan, sekarang sudah satu jam berlalu. Baik dari kru atau sutradara tidak mengatakan apa pun kepadanya. Karena masalah teknis, cuaca, atau lainnya.
“Memangnya kenapa?”
“Hmm, kurasa kau memang belum mendengar beritanya. Baiklah, intinya akan kupersingkat. Partner iklan hari ini telah diganti. Karena aktor sombong itu berulang kali dihubungi namun tidak menjawab telepon maupun beritikad baik.”
Kepalanya terasa berdenyut keras. Kalau begitu, syuting bisa terlambat dan membuat kegiatan lain tertunda. Contohnya saja, Re-Na masih ada pemotretan jam sepuluh pagi, di daerah Ilsan. Kenapa justru manajernya terlihat begitu tenang? Ia mulai curiga. Namun, diam-diam mengamati Jun-Ha meminum perlahan cokelat hangat pada gelas plastik di tangan.
“Tidakkah Jun Ha-Oppa terlalu tenang? Aku masih mempunyai jadwal lainnya, kan?”
Padahal kalau terlambat lima menit saja, biasanya manajer adalah orang yang paling repot. Karena harus menjadwal ulang keseluruhan jadwal aktrisnya. Menurut Re-Na hal itu sangat rumit. Sehari-harinya Jun-Ha mengirimkan penawaran dan kontrak untuk jadwal iklan, syuting, atau model majalah, setiap tiga hari sekali melalui email. Jika ada yang berubah. Maka bisa kerepotan mengatur ulang jadwal dengan pihak bersangkutan. Belum lagi pinalti dari pihak sponsor kalau berbuat keonaran.
Jun-Ha bangkit berdiri. Kemudian menyunggingkan senyum yang mencurigakan. “Tunggu saja, nanti kau akan tahu sendiri.”
Re-Na terpaku dibuatnya. Bagaimana mungkin ia tidak mengetahui yang terjadi di sini. Perasaannya bercampur aduk. Antara perasaan kesal dan penasaran menjadi satu. Mengenai siapa yang menjadi partner di dalam iklan kali ini. Mudah-mudahan saja bukan bintang senior. Seringkali Re-Na merasa tidak sebanding jika disandingkan dengan aktor-aktor senior. Biasanya, ia akan mendapat cibiran dari aktris yang kurang menyukainya.
Di dalam dunia hiburan. Mempunyai penggemar dan beberapa orang haters adalah hal wajar. Karena tidak bisa membuat semua orang benar-benar menyukai atau membenci. Dan, prinsipnya pribadi adalah melakukan yang terbaik. Lalu, menjadikan sindiran atau cibiran dari pembenci sebagai penyemangat untuk menjadi lebih baik lagi dan memperbaiki diri.
“Kim Re-Na, lama tidak bertemu.”
Re-Na mencoba mengingat setiap orang yang telah ditemui beberapa waktu terakhir. Mulanya memang belum menyadarinya. Apalagi ingatan yang bisa dibilang sangat payah. Sampai sosok pria yang mengganggu kegiatannya beberapa bulan lalu itu muncul. Memakai coat berwarna hijau lumut tidak dikancingkan dan sweater putih bersih ketat yang membentuk tubuh sempurnanya. Harus diakui kalau Min-Seo membuatnya terpesona.
“Kau di sini?” tanya Re-Na singkat. Hanya itu yang sanggup dikatakan. Karena sangat mustahil untuk memuji penampilan pria di hadapannya.
“Ya, tentu saja. Memangnya siapa partnermu di dalam iklan ini?”
Tunggu. Jadi, pemeran yang menggantikan aktor sombong itu adalah Min-Seo? Ya, Tuhan. Mimpi apa Re-Na semalam bertemu dia lagi? Awalnya, ia memang terkesan. Tapi, ada sebuah keraguan, mengetahui Min-Seo adalah seorang playboy. Re-Na enggan menjadi sasaran media sekali lagi. Apalagi skandal kencan Min-Seo dengan berbagai kalangan aktris bisa dibilang sangat banyak.
“Kenapa tiba-tiba menyetujuinya? Bukankah kau sibuk dengan jadwal comeback grup bandmu?” tanya Re-Na keheranan.
Min-Seo menarik kedua sudut bibirnya lalu berjongkok dan mencubit pipinya gemas. Re-Na sampai kesakitan. Lalu, menautkan kedua alis meminta penjelasan. Entah karena terbiasa melakukan itu atau ingin membuatnya marah. Intinya Re-Na tidak menyukai tindakan Min-Seo sekarang.
“Jadi, diam-diam kau mengetahui kegiatanku? Wah, aku salut padamu, Kim Re-Na.”
Ia mati kutu mendengarnya. Bukan tiba-tiba tahu atau mencari informasi tentangnya. Hampir semua orang membicarakan berita ini. Terutama setelah Min-Seo menggelar wawancara bersama beberapa wartawan, dan sengaja memberikan bocoran kalau sedang menulis salah satu lagu cinta pada album terbaru grupnya. Min-Seo mengaku tiba-tiba mendapat inspirasi ketika bertemu wanita yang menarik perhatian. Re-Na sampai bertanya-tanya. Wanita mana lagi yang sial bertemu dengan playboy sepertinya?
Tiba-tiba Re-Na bangkit berdiri dan hendak pergi. Namun, Min-Seo menahan lengannya. Menatap langsung pada kedua matanya. Jujur, Re-Na bisa saja menghindar tapi memilih menyerah pada kata hatinya. Ya, membiarkan mereka saling berpandangan di tengah dinginnya pagi hari ini.
“Ada apa?” tanya Re-Na benar-benar cuek.
“Kau masih belum menjawabku. Apakah kau diam-diam mencari tahu tentangku?”
Re-Na menepis tangan Min-Seo, menatap sinis. Memangnya, apa untungnya, mencari tahu tentang Min-Seo? Seperti yang tengah ditekankan barusan. Kalau ia tidak berniat menjadi berita utama pada setiap majalah atau berita online mengenai kisah asmara lain yang akan mengganggu karirnya. Sudah cukup permasalahan Chan-Hoo yang menguras waktu dan hati. Re-Na bahkan tidak yakin hari-harinya dapat berjalan seperti biasa. Walaupun sekarang sudah memulai syuting dan pemotretan. Kadang masih merindukan Chan-Hoo. Meskipun sering ditepis jauh-jauh pemikiran itu.
“Aku tidak tertarik mengenai apa pun tentangmu.”
Mendengar sebaris kalimat darinya membuat Min-Seo terdiam. Dan membiarkan Re-Na pergi sewaktu berjalan menjauh. Ia tidak mendengar apa pun lagi. Selain arahan sutradara untuk memulai syuting. Rasanya mungkin ia keterlaluan. Tapi, hal itu sudah terlanjur dikatakan.
.+.+.+.+.+.
Lampu-lampu telah menyorot pada Re-Na. Lalu, microphone di arahkan lebih tinggi di atas kepalanya dan berjarak sedikit jauh. Ia berjalan di depan etalase toko, memandang kagum pada contoh gaun pengantin yang begitu indah. Salah satu model dengan hiasan berupa bunga mawar dan menampilkan keindahan bahu yang memakainya. Rasanya kapan saja Re-Na bisa menangis. Kembali mengingat kalau pernikahan adalah salah satu hal yang didambakan selama ini. Sewaktu menoleh terlihat Min-Seo mendekat membawakan satu set make up lengkap dan tersenyum padanya.
“Untukmu,” ucap Min-Seo lembut. Seolah-olah kejadian tadi tidak mempengaruhi perasaan pria di hadapan Re-Na. Tadi, ia memang keterlaluan. Tapi, kalau harus meminta maaf. Re-Na tidak mempunyai nyali untuk melakukannya.
“Terima kasih. Ini semua untukku?” tanya Re-Na dengan wajah sumringah.
Terlihat sutradara menatap kagum. Selain karena rating drama yang beranjak naik. Nama Re-Na cukup dikenal karena berperan pada iklan secara sungguh-sungguh. Seperti sekarang. Ia berakting seolah-olah sosok di hadapannya adalah orang yang dicintai. Dan, Min-Seo membawakan hal yang paling diinginkan selama ini.
“Tentu. Untuk dewi tercantik.”
Seingat Re-Na tidak membaca dialog ini di dalam naskah. Karena kebingungan, ia pun hanya tersenyum membalasnya. Kamera mendekat ke arah mereka. Dan, tiba-tiba Min-Seo memeluknya. Re-Na balas melengkungkan lengannya pada tubuh lawan mainnya. Rasanya sangat nyaman. Memeluk seseorang tidak pernah terasa begitu nyata baginya. Meskipun kejadian ini hanya terjadi pada saat syuting. Bagaimana tegap tubuhnya. Aroma parfum mint yang terhirup begitu menenangkan. Tidak mengherankan banyak wanita bertekuk lutut padanya. Re-Na tidak menyadari betapa hangat pelukan Min-Seo di hari sedingin sekarang. Min-Seo memeluknya seolah-olah makhluk rapuh yang bisa hancur kapan saja. Padahal semua itu benar adanya. Bahkan untuk menghadapi masa lalu, sama sekali tidak mampu. Hingga membiarkan hal ini begitu saja dan menjadi tanda tanya bagi Re-Na. Mengenai perasaan yang masih tertinggal pada Chan-Hoo. Atau, sebuah perasaan aneh jika bersama Min-Seo.
Setelah pelukan beberapa detik yang rasanya seperti bertahun-tahun. Matanya menangkap sebuah pemandangan tidak menyenangkan. Tiba-tiba membuat lemas seluruh sendi di dalam tubuhnya. Re-Na berharap kalau yang dilihatnya adalah halusinasi. Sosok tinggi menjulang itu adalah Chan-Hoo. Menggandeng mesra tangan sekretarisnya. Di pagi hari seperti sekarang sangat sulit menemukan kendaraan pribadi. Apa mungkin wanita itu menginap? Mata Re-Na mulai berkaca-kaca.
Cut.
Sewaktu mendengar kata itu dari sutradara, Re-Na terburu-buru melepaskan pelukan Min-Seo dan berlari menuju ruang ganti di belakang lokasi syuting. Ia benar-benar yakin ada yang terjadi di antara mereka. Melihat bagaimana wanita itu merangkul lengan Chan-Hoo. Dan, bodohnya Re-Na percaya pada kata-kata pria itu mengenai pernikahan dan hal omong kosong yang dijanjikan untuknya. Seperti ribuan butiran salju yang lembut menghujani hatinya. Begitu pula dirasakan dingin di dalam hati. Hingga rasanya begitu sakit. Dan mampu membuat Re-Na menangis tersedu setelah sekian lamanya.